top of page


A Barbaric Proposal Side Story 33
[Flambard] “Shellan! Anda dari mana saja!”
[Pelayan] “Ya, Putri! Tahukah Anda betapa cemasnya kami semua? Anda ada di mana dan melakukan apa? Sampai-sampai melupakan waktu camilan!”
Ketika Shellan kembali ke ruang belajar setelah meletakkan kembali teleskop ke tempatnya semula, dia disambut oleh keributan.
Dia hanya meninggalkan ruang istirahat sekitar satu jam. Selama waktu itu, Dief terlihat berkeringat dengan wajah memerah karena lelah mencarinya,
20 Des 2025


A Barbaric Proposal Side Story 32
[Dief] “Aku sudah selesai, Shellan.”
Dief yang baru kembali ke ruang istirahat di samping ruang belajar, berkata dengan suara pelan dan nyaris tak terdengar.
[Shellan] “Apa maksudmu ‘sudah selesai’?”
[Dief] “Kita tidak perlu pergi ke Kastil Bellisa.”
[Shellan] “Apa katamu?”
Shellan ternganga mendengar pernyataan Dief yang terdengar pasrah.
Kenyataannya, peran Dief sangat besar dalam membuat Shellan bersikap nekat. Dief sosok yang selalu bersama Shellan;
20 Des 2025


A Barbaric Proposal Side Story 31
Sesuai dugaan, anak-anak tidak tinggal diam.
[Randall] “Astaga, hendak ke mana, Putri?”
Randall-lah yang kali ini memergoki anak-anak yang berusaha keluar dari Kastil. Sebenarnya, lebih tepat disebut dia sedang berpatroli.
Sudah jelas bahwa anak-anak akan mencari cara untuk pergi ke Kastil Bellisa.
Putri Shellan sangat mirip dengan Black, dari penampilan hingga kepribadian, termasuk sifatnya yang nekat dan tak terkendali saat marah.
20 Des 2025


A Barbaric Proposal Side Story 30
Untuk sesekali, pagi itu terasa sempurna.
Udara pantai yang berbeda mengalir masuk dengan tenang melalui celah jendela yang Liene buka sedikit karena dia merasa panas semalam.
Bayangan yang tercipta dari tirai musim panas yang melambai tampak menari dengan lembut. Suara deburan ombak dari kejauhan berpadu merdu.
Sungguh omong kosong jika Black mengatakan tak akan pernah menyukai laut dalam hidupnya. Laut tempat yang paling sempurna.
20 Des 2025


A Barbaric Proposal Side Story 29
Awalnya, dia mengira itu hanyalah mimpi.
Karena mimpi, dia mengira Black bisa bersikap setenang itu, masuk ke kamar melalui jendela tanpa suara, seperti pencuri yang terampil.
[Black] “Tolong diam. Jangan sampai anak-anak bangun.”
Black menjawab hanya dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara.
Liene mengangguk kebingungan. Black mengulurkan tangan.
[Black] “Kalau begitu, ayo kita keluar.”
Liene tidak segera menyambut tangannya. Dia hanya berkedip dan
20 Des 2025


A Barbaric Proposal Side Story 28
[Liene] “Kalian berdua, apakah kalian benar-benar harus bersikap seperti ini?”
[Shellan] “Ya.”
[Dief] “Kami tidak punya pilihan.”
Dief, yang menyembunyikan wajahnya di balik ujung rok Liene, mengeluarkan suara sengau karena hidungnya mampet.
Alasan Liene tidak bisa memarahi anak-anak sama seperti sebelumnya, karena mereka datang ke kamarnya secara tiba-tiba dan air mata kembali menggenang di mata mereka.
Mengapa mereka begitu sedih?
Bagi Liene, kejadian in
20 Des 2025


A Barbaric Proposal Side Story 27
[Dieren] “Tolong, bisakah kau memikirkannya lagi? Kita ini bersaudara, ‘kan?”
Dieren nyaris terseret, lengannya dicekal, tetapi dia tidak bisa melepaskan sisa harapannya dan rengekan memohonnya.
[Black] “Diam dan pergilah.”
Black hanya memegang lengan Dieren.
Setiap kali melangkah, dia mendorong Dieren menggunakan gerakan paha dan lututnya—sebuah teknik tingkat tinggi yang membuat tindakan Black nyaris tak terlihat.
Di mata orang lain, mereka terlihat seperti sepasang
20 Des 2025


Bastian Chapter 132
Odette membeli tiket untuk kereta pertama yang meninggalkan stasiun. Kereta yang menuju Lechen.
Desakan untuk segera pergi mendorongnya masuk ke dalam gerbong tanpa sempat melirik tiketnya untuk kedua kali. Kesadaran bahwa ia tengah menuju negara asing mengirimkan rasa dingin yang menjalar di punggungnya, namun ia tidak punya pilihan lain.
Dan pria itu ada di sana.
Luka parut di pipinya tampak sangat mencolok. Odette pernah berpapasan dengannya di
20 Des 2025


Bastian Chapter 131
Odette melangkah keluar dari sesi wawancara dengan senyum lebar yang merekah di wajahnya. Suasananya sangat kontras dibandingkan saat ia pertama kali datang dan menekan bel pintu dengan perasaan serba cemas dan khawatir.
Langkah pertama telah ia ambil, dan selagi ia melamunkan prospek masa depan di hadapannya, ia tidak menyadari bahwa ia telah melangkah jauh ke jalanan.
Ibu kosnya yang ketat telah menyarankan seorang kenalan yang ingin anak perempuannya belajar
20 Des 2025


Bastian Chapter 130
Odette pindah ke akomodasi ketiganya—sebuah pemondokan tenang di kawasan perumahan yang sunyi, dikelola oleh seorang ibu kos yang sangat ketat.
Setelah membongkar sedikit barang miliknya, ia duduk di tepi ranjang untuk mengatur napas. Kamarnya berada di lantai paling atas dan menghadap ke arah utara.
Perapian di sana berjuang menghalau malam yang dingin dan menusuk.
Odette tidak terlalu peduli di mana ia berada, asalkan tempat itu menyenangkan, hangat, dan nyaman.
20 Des 2025
bottom of page