top of page

A Barbaric Proposal Side Story 33

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 5 menit membaca

Kesunyian dan Mentega Aprikot

[Flambard] “Shellan! Anda dari mana saja!”

[Pelayan] “Ya, Putri! Tahukah Anda betapa cemasnya kami semua? Anda ada di mana dan melakukan apa? Sampai-sampai melupakan waktu camilan!”

Ketika Shellan kembali ke ruang belajar setelah meletakkan kembali teleskop ke tempatnya semula, dia disambut oleh keributan.

Dia hanya meninggalkan ruang istirahat sekitar satu jam. Selama waktu itu, Dief terlihat berkeringat dengan wajah memerah karena lelah mencarinya, dan Nyonya Flambard beserta beberapa pelayan lain menunjukkan ekspresi khawatir yang mendalam.

Shellan sudah menduganya.

[Shellan] “Dalam kesendirian, batas waktu dunia nyata seringkali mudah terlupakan, Nyonya.”

Shellan berusaha menutupi keengganannya untuk menjawab dengan kalimat terselubung.

Namun, seperti biasa, Nyonya Flambard, yang terbiasa dengan metafora dan gaya bicara Shellan yang terkesan filosofis, dengan cepat memahaminya.

[Flambard] “Rupanya Anda bersembunyi sendirian di suatu tempat karena sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Apakah Anda sedang membaca?”

[Shellan] “Tidak. Bukan. Aku hanya pergi mencari udara segar.”

[Flambard] “Di mana?”

Shellan berharap Nyonya Flambard tidak bertanya lebih jauh. Dia belum mau rahasia tempat persembunyiannya di Menara Utara terungkap.

[Shellan] “Aku sedang dalam perjalanan menemui Sir Renfel. Ngomong-ngomong, kapan dia akan kembali?”

Shellan buru-buru mengalihkan pembicaraan, dan Nyonya Flambard, yang sibuk memikirkan jawaban, tidak bisa lagi mendesak Shellan untuk menanyakan tempat persembunyiannya.

[Flambard] “Ah, hmm... Apakah dia sedang tidak ada di kastil? Astaga, kalau dipikir-pikir, saya sepertinya pernah mendengar kalau dia akan pergi.”

[Shellan] “Kau dengar dari siapa? Ah, pasti dari Nyonya Renfel, ya.”

[Flambard] “Astaga, betul sekali. Jadi, hmm... Ah, katanya dia diutus untuk menjalankan tugas yang cukup jauh.”

[Shellan] “Begitu. Apakah dia mengatakan kapan akan kembali?”

[Flambard] “Sayang sekali, saya tidak mendengarnya.”

[Shellan] “Baik. Kalau dia sudah kembali, tolong beri tahu aku.”

[Flambard] “Ehem. Baik, Putri. Jika ada kabar yang sampai ke telinga saya, pasti akan saya sampaikan.”

[Shellan] “Terima kasih, Nyonya Flambard.”

Shellan tersenyum cerah.

[Shellan] “Ngomong-ngomong, aku ingin pai telur.”

[Flambard] “Karena Anda melewatkan waktu camilan, wajar saja jika Anda lapar. Tunggu sebentar. Akan segera saya siapkan.”

Nyonya Flambard pergi sambil meninggalkan senyum ramah.

Setelah itu, Shellan segera mencengkeram lengan Dief dan menyeretnya pergi.

[Dief] “Shellan? Ada apa ini?”

[Shellan] “Nanti kuberitahu. Sekarang, ikuti aku dulu.”

[Dief] “Kita mau ke mana?”

[Shellan] “Ke kamar.”

Shellan keluar dari ruang istirahat dan berjalan melintasi aula utama menuju kamar tidur Ibu dan Ayah.

[Dief] “Mau tidur siang?”

[Shellan] “Tidak.”

[Dief] “Lalu kenapa kita pergi ke kamar tidur?”

[Shellan] “Karena Nyonya Renfel pasti ada di sana pada jam ini.”

Ternyata tebakannya benar.

Pintu kamar tidur kedua pria tua mereka sudah terbuka, dan di dalamnya, Nyonya Renfel bersama dua pelayan istana sedang membersihkan debu di sana.

[Renfel] “Oh, mengapa Anda berdua kemari?”

Nyonya Renfel lebih dulu menyadari kehadiran mereka. Shellan, sambil menggenggam tangan Dief erat-erat, melangkah masuk ke dalam kamar.

[Shellan] “Selamat sore, Nyonya. Tiba-tiba aku ingin makan aprikot. Aprikot yang tumbuh di lembah atas Sungai Evert itu, lho. Di musim ini, aprikot sedang enak-enaknya.”

Nyonya Renfel mengangguk.

[Renfel] “Oh ya? Kalau begitu, saya akan mengirim seseorang.”

[Shellan] “Sir Renfel tahu tempat di mana aprikot tumbuh subur! Orang lain tidak akan tahu.”

[Renfel] “Ah, kalau begitu saya harus memberi tahunya.”

[Shellan] “Aku ingin memakannya saat ini juga! Bisakah Anda meminta Sir Renfel untuk menyelesaikan latihannya lebih cepat hari ini dan pergi mengambilnya?”

[Renfel] “Akan saya lakukan.”

[Dief] “Eut, Ren—fel,”

Ketika Dief di sampingnya hendak mengatakan sesuatu, Shellan segera menarik ujung pakaian Dief.

[Shellan] “Terima kasih, Nyonya. Ngomong-ngomong, bisakah aprikot dibuat menjadi mentega?”

[Renfel] “Hmm... sepertinya saya belum pernah melihat mentega aprikot, Putri.”

[Shellan] “Sepertinya rasanya pasti enak. Bisakah Anda membuatnya?”

[Renfel] “Saya akan berbicara dengan juru masak kepala. Ada lagi yang Anda ingin makan?”

[Shellan] “Jika tidak bisa dibuat mentega, keju aprikot juga boleh. Aku suka sekali aprikot.”

Nyonya Renfel tersenyum kecil.

Shellan, yang biasanya berbicara dengan bahasa yang sangat dewasa dan rumit, akan kembali menjadi anak seusianya saat berbicara tentang camilan.

Perubahan ekspresinya yang mendadak sungguh menggemaskan. Sisi menggemaskan yang tidak sering dilihat orang lain; sebuah pesona yang paling dipahami Nyonya Renfel.

Terkadang Kanselir berkacamata itu suka menyombongkan diri bahwa dialah yang paling disukai oleh Putri Shellan, tetapi itu omong kosong belaka.

Jika dia ingin menyombongkan diri, setidaknya dia harus tahu wajah Putri Shellan yang menelan ludah saat membicarakan aprikot dan krim telur.

[Renfel] “Baiklah, Putri.”

[Shellan] “Kalau begitu, aku mengandalkanmu, Nyonya.”

Shellan memberi salam hormat dengan sopan. Etiket Kerajaan otentik, yakni dia memegang ujung roknya dan menyilangkan pergelangan kaki.

Nyonya Renfel tahu itu kebiasaan Shellan ketika dia benar-benar merasa berterima kasih.

Benar. Kanselir mungkin bisa bermain catur dengannya, tetapi dia tidak akan pernah mendapatkan salam seperti itu dari Putri. Tentu saja.

Setelah selesai memberi salam kepada Nyonya Renfel yang merasa bangga, Shellan menarik Dief dan menuju tempat lain lagi.

[Dief] “Aneh, Shellan.”

[Shellan] “Aku kan sudah bilang...”

Keduanya kini sudah berada di kamar tidur mereka.

Fakta bahwa Nyonya Renfel sedang membersihkan kamar tidur Ibu dan Ayah berarti kamar tidur mereka sendiri sudah selesai dibersihkan. Jadi, tidak perlu khawatir pembicaraan mereka akan didengar orang lain.

Namun, untuk berjaga-jaga, Shellan berjongkok di balik tirai ranjang, menyembunyikan diri sepenuhnya.

Selama tidak ada yang sengaja masuk dan mengintip di balik tirai yang terlihat agak menggembung, mereka tidak akan ketahuan bersembunyi di sana.

[Shellan] “Sir Renfel menghilang. Nyonya Flambard bilang Nyonya Renfel yang mengutusnya bertugas. Tapi, Nyonya Renfel berbicara seolah dia sama sekali tidak tahu fakta itu.”

[Dief] “Iya... Memang.”

[Shellan] “Itu artinya apa, Dief?”

[Dief] “Eh, itu... Nyonya Flambard salah dengar, atau Sir Renfel berbohong... Tidak, tapi kenapa? Sir Renfel tidak pernah berbohong.”

[Shellan] “Jawabannya yang benar adalah: semuanya berbohong.”

[Dief] “Hah?”

Mata hijau Dief terbelalak.

[Dief] “Semua? Kepada siapa?”

[Shellan] “Kepada kita.”

[Dief] “Kenapa?”

[Shellan] “Untuk mencegah kita bertemu Sir Renfel.”

Jika ada orang yang bisa menyelundupkan kedua anak ini ke Kastil Bellisa, itu pasti Sir Renfel. Tidak ada seorang pun di Kastil Nauk yang tidak mengetahuinya.

Karena itu, keberadaan Sir Renfel sangat berbahaya. Seberapa pun dia sudah berjanji, jika Shellan memegang ujung lengan bajunya dan memohon, dia pasti akan melakukan apa pun yang Shellan minta, bahkan jika harus menembus badai salju.

Oleh karena itu, Fermos dan Randall mengeluarkan Sir Renfel dari kastil. Dia ditugaskan untuk berpatroli di Benteng Selatan selama seminggu. Fermos merahasiakan jadwal resmi Sir Renfel dengan sangat ketat.

Nyonya Flambard, Nyonya Renfel, dan para pelayan lainnya telah diberitahu bahwa Putri Shellan dan Pangeran Dief tidak boleh bertemu dengannya, dan alasannya karena mereka mungkin akan pergi diam-diam ke Bellisa.

Dengan kata lain, mereka harus mencari alasan yang tepat jika kedua anak itu bertanya tentang keberadaan Sir Renfel.

Namun, mereka tidak diberi tahu secara pasti bagaimana cara berbohong. Itulah mengapa terjadi sedikit miskomunikasi.

Sebuah celah yang tidak mungkin dilewatkan oleh Shellan.

Selain itu, Shellan tidak hanya menyadari ketidakhadiran Sir Renfel melalui teleskop.

[Shellan] “Dan Sir Fermos serta Sir Randall sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan.”

[Dief] “Hmm... Mereka melakukan apa?”

[Shellan] “Dua orang itu sibuk berbisik-bisik. Dan ketika orang lain mendekat, mereka bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Apa maknanya?”

Dief menggelengkan kepalanya.

[Dief] “Aku tidak tahu. Bukankah berbisik-bisik bisa dilakukan kapan saja?”

[Shellan] “Memang bisa. Tapi, ksatria berbisik saat membicarakan rahasia, kan?”

[Dief] “Untuk membicarakan rahasia, bukankah biasanya begitu?”

[Shellan] “Pernahkah kau melihat para para Ksatria melakukannya?”

[Dief] “Eum...”

Tidak pernah.

[Shellan] “Jadi, yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari tahu rahasia Sir Fermos.”

[Dief] “Ini rahasia, kan? Bukankah mereka akan menyembunyikannya?”

[Shellan] “Tentu saja. Makanya itu informasi berharga.”

[Dief] “Apa yang akan kau lakukan setelah tahu rahasianya? Sengaja mengetahui apa yang ingin mereka sembunyikan terasa seperti perbuatan buruk.”

Shellan dengan cepat memutar otak. Dief terkadang menjadi kaku dan jujur, tidak peduli usianya. Sepertinya sekarang adalah saatnya.

[Shellan] “Kau benar juga. Tapi, kita tidak harus tahu rahasianya. Fakta bahwa mereka memiliki rahasia saja sudah cukup untuk dijadikan dasar negosiasi.”

[Dief] “Negosiasi... Eum... Maksudmu kita akan berbicara dengan mereka?”

[Shellan] “Tepat.”

[Dief] “Apa yang akan kita bicarakan?”

Tentu saja, Shellan berencana mengancam keduanya agar mau mengantar mereka ke Kastil Bellisa.

Namun, Dief sudah mengatakan bahwa dia tidak akan pergi ke Kastil Bellisa. Sedikit penyesuaian diperlukan.

[Shellan] “Paling tidak, kita bisa menanyakan kapan Ayah dan Ibu akan kembali, kan? Sir Fermos pasti tahu.”

Tentu saja itu hal yang mustahil, tetapi Dief tetap setuju.

[Dief] “Kalau itu, aku juga mau.”

[Shellan] “Ya.”

Shellan mengangguk.

Karena permulaan merupakan separuh dari perjuangan, saat ini mereka hampir setengah jalan menuju Kastil Bellisa.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page