Bastian Chapter 141
- Crystal Zee

- 22 Jan
- 5 menit membaca
Titah
Malam ini, Odette kembali terlelap sangat dalam. Bastian menutup pintu tanpa suara, lalu melangkah jinjit melintasi ruangan. Pelayan yang sedari tadi menjaga kamar Odette segera bangkit dan undur diri dengan tenang. Setelah menyampirkan mantel di sandaran kursi, ia mengambil alih tugas sang pelayan—menjaga istrinya.
Di bawah remang lampu nakas, wajah Odette tampak lebih tenang dibandingkan tadi pagi. Ia sudah tertidur sejak mereka kembali ke mansion; Bastian sendiri yang menggendong tubuh ringkihnya ke ranjang. Odette sempat terjaga sebentar saat dokter datang memeriksa, namun setelahnya ia langsung tenggelam kembali ke alam mimpi.
Beruntung, tidak ada trauma fisik yang fatal. Hanya beberapa luka gores akibat hantaman mobil ke pohon, namun yang menjadi kekhawatiran utama adalah kondisi tubuhnya yang kian melemah. Meski dokter menyatakan masa kritis telah lewat, kewaspadaan tetap menjadi harga mati.
Dokter Kramer mengibaratkan Odette bagai boneka porselen yang sudah retak. Sedikit saja guncangan bisa menghancurkannya berkeping-keping. Karena itu, ia membutuhkan istirahat total.
Bastian meredupkan lampu, lalu dengan lembut menyisir helai rambut yang menutupi wajah pucatnya. Goresan di leher istrinya tersingkap. Tak pelak lagi, itu adalah bekas pisau yang juga bersarang di bahunya. Bastian menghela napas lega menyadari luka itu tidak dalam.
Ia menyandarkan punggung di kursi, mengawasi tidur istrinya.
Margrethe menggeliat. Bukannya menggeram galak seperti biasa, anjing itu malah mendekat malas dan meringkuk di atas kaki Bastian. Balutan perban di kakinya tampak seperti lencana kehormatan yang ia peroleh demi melindungi sang majikan.
Bastian membungkuk, mengusap belakang telinga Margrethe. Anjing itu sempat memamerkan taring, namun segera luluh saat merasakan usapan lembut Bastian.
Saat mengamati lebih dekat, ia melihat perban di punggung dan pinggang si anjing. Ia harus menarik kembali anggapannya bahwa Margrethe adalah anjing yang tidak berguna.
Tubuh mungil Margrethe menegang dan gemetar saat Bastian mengangkatnya ke pangkuan. Dari sana, Margrethe bisa melihat majikannya tertidur, dan ia mulai menggonggong kecil karena bersemangat.
“Ssst...”
Bastian memperingatkan, namun terlambat. Margrethe sudah melompat ke ranjang dan menerjang lengan Odette. Ia segera bangkit untuk mengambilnya, namun saat itulah Odette membuka mata.
“Meg...?” gumam Odette parau.
Bastian mengurungkan niatnya dan mundur selangkah, membiarkan Odette memanjakan anjing kesayangannya. Ia berdiri di dekat jendela, mengamati momen penuh kasih itu dalam diam.
Saat merenungkan tindakan nekat yang ia ambil hari ini, kehampaan kembali menyapu batinnya.
Bastian telah memutus putaran terakhir negosiasi dan menolak mentah-mentah keinginan Duke Laviere untuk melanjutkan kerja sama. Perusahaan Illis harus bersiap menanggung kerugian finansial yang masif akibat pembatalan kerja sama tersebut.
Ia terancam kehilangan tumpukan harta demi menentang dewan direksi. Meski gurunya sudah memperingatkan, Bastian tetap teguh pada pilihannya. Ia menutup kerugian itu dengan dana pribadi, semata-mata karena ia tak ingin lagi memiliki kaitan apa pun dengan Sandrine.
Ia telah melepaskan segalanya, membuat pilihan yang egois, mengabaikan tanggung jawab, bahkan mengkhianati wasiat terakhir kakeknya—hanya demi wanita ini.
“Bastian?” Suara lembut Odette membuyarkan lamunan Bastian.
Ia menghela napas, kembali ke realitas. Saat mata mereka bertemu, Odette tersenyum—senyum formal yang asing, seolah mereka adalah dua orang asing yang baru bertemu.
“Terima kasih sudah mengembalikan Meg padaku,” ujar Odette sambil mendekap erat anjingnya, seakan takut kehilangan untuk kedua kali. “Lukamu cukup parah, apa kau baik-baik saja?”
Bastian hanya mengangguk, sembari merasakan rasa gatal yang menusuk di bahu belakangnya.
Begitu sisa-sisa rona senja terakhir menghilang, kamar itu jatuh dalam kegelapan total.
Odette menatapnya sembari menahan napas. Meski tanpa seragam, aura prajurit yang pantang mengeluh tetap melekat kuat pada sosoknya.
Odette memilih untuk tidak mendesak, dan terutama, tidak menyebut nama Franz di depannya. Mansion ini sedang berada dalam ketenangan yang rapuh, yang bisa hancur hanya dengan satu gerakan salah.
“Tuan, Dokter Kramer sudah tiba,” lapor Lovis dari balik pintu.
Odette mengawasi Bastian saat pria itu melangkah menuju pintu. Posturnya tetap tegak dan kaku, masih sosok pria kejam yang sama yang ia kenal selama ini.
Saat pintu akhirnya terbuka, saat-saat mereka saling menatap tadi mulai terasa seperti mimpi yang jauh. Hingga pintu tertutup rapat, Bastian tak pernah sekalipun menoleh ke belakang.
Dokter Kramer mengerutkan kening saat membuka perban Bastian yang bersimbah darah. Lukanya jauh lebih buruk dari dugaan awalnya.
“Seingat saya, saya sudah melarang Anda untuk berlebihan,” ujar Dokter Kramer sembari membersihkan luka tersebut.
Bahu kiri Bastian terluka dalam akibat tikaman pisau Franz. Beruntung, pisau itu tidak mengenai tulang atau otot besar, namun kondisinya tetap serius.
Bastian meringis saat luka itu didisinfeksi. Ia merasa sang dokter sengaja tidak bersikap lembut sebagai hukuman karena ia tidak memedulikan dirinya sendiri. Meski rasa sakitnya luar biasa, ia tetap bergeming dalam diam.
“Terima kasih, Dokter,” ujarnya setelah perban baru terpasang. Ia bangkit dengan tenang dan mengenakan kemeja bersih, menyembunyikan tubuhnya yang penuh luka di balik kain mewah dalam sekejap.
“Tolong pertimbangkan untuk mengambil cuti selama beberapa hari.”
“Ya, akan saya lakukan,” jawabnya dengan senyum tipis yang dingin.
Dokter Kramer meresepkan obat pereda nyeri dan baru beranjak setelah memastikan Bastian menelan pil tersebut—seolah ia tak lagi memercayai pria itu.
Bastian tampak sekuat biasanya, namun garis-garis kelelahan terukir dalam di wajahnya.
Dokter Kramer memahami dedikasi Bastian yang tanpa henti; pria ini tak pernah membiarkan tubuhnya beristirahat di saat-saat genting seperti sekarang.
Reputasi keluarga Klauswitz sedang berada di titik nadir. Nama Bastian Klauswitz, yang selama ini merepresentasikan kekuatan baru di kekaisaran kapitalis, kini terseret dalam skandal yang dipicu oleh Franz.
Bastian nyaris tak punya ruang untuk bernapas. Jika terus berlanjut, segalanya hanya akan bertambah buruk baginya.
Skandal itu menyebar luas ke penjuru kota. Sementara publik lebih menyoroti aksi penculikan Franz, beberapa kalangan elite mulai menggunakan skandal itu sebagai alasan untuk mencabut keanggotaan Bastian dari perkumpulan mereka.
Namun, ia tetap tidak bisa mengabaikan istri dan anaknya. Mereka tidak bersalah dalam kekacauan ini. Bastian mulai merasa terpojok, dan musuh-musuhnya tentu menyadari hal itu. Itulah sebabnya mereka menyerangnya tanpa ampun.
“Tuan, ada tamu,” ujar seorang pelayan yang kehadirannya tak disadari Bastian.
Bastian tidak menjawab. Ia menyelesaikan kancing rompinya dan melangkah menuju ruang tamu, meninggalkan Dokter Kramer yang sedang merapikan peralatannya.
“Countess Trier sudah menunggu, Tuan,” lapor Lovis sembari mengikuti langkah Bastian. “Beliau datang untuk menyampaikan pesan dari Kaisar.”
Countess Trier menyambut Bastian dengan kaku. Fakta bahwa ia tidak melepaskan topi atau sarung tangannya menyiratkan bahwa ia tidak berniat bertamu lama-lama.
Bastian menyapanya dengan sopan, namun Countess hanya membalas dengan tatapan tajam. Matanya tak mampu menyembunyikan permusuhan—sebuah sikap yang sangat kontras dibandingkan pertemuan terakhir mereka.
“Saya tidak ingin membuang-buang waktu Anda,” ujar Countess Trier sembari menyerahkan selembar surat.
Bastian menerima surat itu seolah-olah surat itu diberikan langsung oleh Kaisar sendiri. Kebencian dingin di mata Countess tak pernah lepas darinya. Ia masih terguncang oleh kabar bahwa Odette selama ini "dikurung" oleh suaminya sendiri.
Countess seolah tak percaya saat mendengar berita itu. Ia tahu hubungan mereka tidak biasa, dan apa yang tampak di depan publik belum tentu terjadi di balik pintu tertutup, namun ia selalu berasumsi mereka saling mencintai. Ia tak menyangka Bastian begitu tak berperasaan hingga menyiksa istrinya yang sedang mengandung.
Bastian membaca surat itu, yang secara eksplisit memerintahkannya untuk menceraikan Odette. Countess Trier berusaha mati-matian menahan amarah di hadapan pria yang ia anggap tak bermoral ini.
Countess telah pergi ke istana tepat setelah berita tentang keributan kakak-beradik Klauswitz menggemparkan kota. Ia memohon kepada Kaisar. Ia sempat mengira Kaisar akan bersikap netral atau lebih peduli pada kehormatan sang pahlawan perang daripada nasib keponakannya, namun ia salah. Kaisar secara mengejutkan setuju untuk bekerja sama.
Di dalam hatinya, Countess ingin seluruh keluarga Klauswitz dihukum, namun Kaisar punya niat lain. Bastian adalah pahlawan, simbol kejayaan Angkatan Laut Berg. Kaisar tak ingin pahlawan sepertinya jatuh dan mencoreng reputasi bangsa. Berkat inilah, Bastian berhasil lolos dari tuntutan hukum yang seharusnya.
“Anda mengerti? Saya rasa Anda paham. Jadi, biarkan saya menjemput Odette. Kami akan pergi sekarang,” ujar Countess Trier.
“Maaf, tapi sepertinya agak sulit,” jawab Bastian. Ia melangkah mendekat, berdiri tegak bagai tembok besar yang menghalangi jalan sang Countess.
Countess Trier menatap Bastian; keterkejutan di matanya berkilat bagai api. “Apakah Anda serius ingin membangkang pada titah kekaisaran?”
Bastian tetap tenang mendengarkan kata-kata pedas itu. Senyum sopan yang masih tersungging di bibirnya justru membuatnya tampak kian tak sopan.
“Benar, Countess,” jawab Bastian lembut. Ia menundukkan pandangannya, sepekat kegelapan malam saat ia membalas tatapan wanita itu. “Saya akan mengajukan keberatan.”
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar