Bastian Chapter 140
- Crystal Zee

- 21 Jan
- 6 menit membaca
Satu-satunya Hal Indah
Franz bahkan tak sadar kapan pisau berpindah tangan. Saat menyadarinya, segalanya sudah terlambat. Ia terjerembap telentang dengan Bastian menindihnya, menggenggam pisau itu dengan tatapan mematikan. Segalanya terjadi secepat kedipan mata.
Franz meledak dalam tawa histeris, meski punggungnya terasa terbakar rasa sakit. Ia tahu tak akan pernah bisa menang melawan Bastian, namun ia pikir serangan mendadak akan berhasil. Ternyata, ia salah besar.
“Lihatlah bagaimana hakikat asli binatang rendah muncul ke permukaan,” desis Franz, mencoba memprovokasi Bastian sembari menatap langit malam. Bahkan setelah serangan itu, Bastian tak bergeming sedikit pun.
Franz menyadari ia tak akan pernah bisa mengalahkan monster ini sejak tembakan Odette menghancurkan kaca mobil tadi.
Hidup Franz Klauswitz telah berakhir; sebuah kenyataan yang sudah lama ia terima. Ia akan selamanya mendekam di bawah bayang-bayang saudara tirinya—mungkin sejak hari ia dilahirkan dan gagal menjadi sosok Bastian Klauswitz yang lain.
“Kau mau tahu kenapa aku selama ini puas hanya dengan mengawasimu?” Bastian berucap dingin. “Kau tak lebih dari sekadar aksesori bagi ibumu. Tak ada alasan bagiku untuk menganggapmu sebagai ancaman. Namun kini, kau berani memamerkan taringmu padaku, demi keserakahan yang tak ada hubungannya dengan ibumu. Sekarang, ceritanya berbeda.” Bastian menatap Franz dengan pandangan menghina.
Ia menelan ludah dengan susah payah. Bastian tak pernah menganggapnya serius, bahkan tidak sedetik pun. Namun kini, saat Bastian mulai memandangnya sebagai lawan, kengerian datang menyapu, mencengkeram jantungnya dengan rasa takut yang murni.
Ia sudah muak dan lelah menjalani hidup yang terasa seperti hukuman mati tanpa akhir; selalu hidup di bawah bayang-bayang orang lain, selalu dituntut untuk melampaui tandingannya. Ia ingin ini berakhir. Ia ingin mati, dan ia tak peduli jika Bastian yang harus menjadi algojonya.
Entah bagaimana, rasa takutnya pada Bastian menguap. Meski ia tak akan pernah bisa mencapai posisi Bastian di atas sana, ia punya kekuatan untuk menyeret kakaknya turun ke level yang sama dengannya, ke tanah yang kotor. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Franz merasa mereka setara.
“Apa kau benar-benar mencintainya?” Franz terkekeh, napasnya tersengal sembari bertepuk tangan pelan. “Apa kau merindukan pengkhianat busuk yang tidak membalas cintamu? Itulah yang dilakukan anjingmu dulu, bukan?”
Franz teringat rahasia kecil Bastian tentang seekor anjing liar. Suatu hari, saat ia melarikan diri dari latihan berkuda yang ia benci, ia menemukan seekor anjing liar besar yang menyerupai serigala di dalam hutan. Di sana, ia melihat saudara tirinya sedang memberi makan hewan itu.
Usai makan, anjing itu mendekat ke pangkal pohon tempat Bastian duduk termenung menatap langit. Franz tak bisa mengalihkan pandangan dari pemandangan damai itu.
Anjing itu menguap lebar, lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Bastian, menerima usapan lembut di kepalanya. Angin sepoi merayap di antara hutan yang tengah bermekaran, dan cahaya mentari musim semi menyelinap di sela dedaunan, membasuh wajah Bastian yang tengah tersenyum dengan rona hangat. Itu pertama kalinya Franz melihat kakaknya tampak seperti remaja biasa yang bahagia.
Didorong rasa penasaran, Franz berlari pulang menemui ibunya dan menceritakan apa yang ia lihat. Beberapa hari kemudian, anjing liar itu menemui ajal yang tragis. Kabar yang beredar adalah bahwa anjing itu menjadi agresif setelah tak sengaja tertembak peluru bius saat latihan berburu, dan menyerang Bastian.
Terpojok, Bastian dipaksa menghabisi nyawa anjing itu dengan tangannya sendiri. Sejak saat itu, masa depan keluarga mereka berubah arah. Bastian meninggalkan rumah dan menjadi cucu seorang pedagang barang rongsokan.
“Kau mencintai anjing yang menggigitmu hanya karena dia buta oleh sepotong daging. Sekarang, kau mencintai wanita yang menikammu dari belakang demi melindungi adiknya. Cinta yang sungguh mengharu biru.” Franz tersenyum, persis seperti senyum ibunya saat mengetahui rahasia Bastian. “Jadi sekarang, kau hanya perlu membunuhnya, bukan?”
Melalui retakan kecil pada ekspresi kaku Bastian, Franz tahu serangannya berhasil. Ia telah mendaratkan pukulan yang jauh lebih menyakitkan daripada serangan fisik apa pun.
“Itulah caramu mencintai, bukan?”
Itulah puncaknya; retakan terakhir pada keteguhan hati Bastian yang dingin. Franz bahkan tak sempat melihat serangan itu datang. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit luar biasa dan dunia yang berputar dalam kabur warna dan cahaya.
Wajahnya bersimbah darah yang mengalir dari hidung dan bibirnya.
Oh, perih sekali. Namun Franz tetap tertawa; ia merasa akhirnya menang melawan Bastian.
Ada yang salah. Odette bisa merasakannya saat matanya bertemu dengan Franz yang sedang menyeringai di balik darah dan lebam. Bahkan di saat Bastian menghajarnya habis-habisan, pria itu tampak bahagia—seolah ia memang menginginkan akhir seperti ini sejak ia menculiknya.
“Jangan, Nyonya, terlalu berbahaya!” Dora menahan langkah Odette. “Tolong, masuklah ke mobil agar kita bisa pergi dari sini. Anda harus memikirkan bayi Anda!”
Odette tahu Dora benar, namun ia tak bisa berpaling begitu saja. Para pelayan berjuang keras menarik Bastian agar menjauh dari Franz, namun Bastian dengan mudah melepaskan diri dari tangan-tangan lemah mereka untuk mendaratkan satu pukulan lagi. Dingin dan tenang, seperti seorang ahli bedah yang sedang mengoperasi pasiennya, ia terus menghajar Franz tanpa ampun.
Jika dibiarkan, Franz akan mati di tangan saudara tirinya sendiri. Bastian begitu dikuasai amarah hingga ia tak sadar bahwa dialah yang sebenarnya sedang terpojok.
Odette melepaskan diri dari Dora dan berlari kencang menuju Bastian. Sebelum sadar apa yang dilakukannya, ia menghambur dan memeluk punggung Bastian erat-erat.
“Kumohon hentikan, Bastian,” rintih Odette penuh permohonan.
Bastian terdiam saat hendak mendekati Franz yang sudah terkapar di tengah jalan. Saat fokusnya kembali pada dunia di sekelilingnya, ia menatap Odette.
“Kumohon hentikan, kau mempertaruhkan nyawamu sendiri.”
Lengan Odette yang melingkar di pinggangnya perlahan mendinginkan bara amarah di hati Bastian dan membangkitkan kembali rasionalistasnyaya. Meski gemetar ketakutan, Odette tidak melepaskan pelukannya.
“Kau harus melindungi bayi kita, jadi tolong, hentikan.”
Bayi kita.
Sebuah tawa getir lolos dari sela napas Bastian yang memburu setiap kali ia mengulang alasan yang ditemukan Odette. Hal itu mengingatkannya pada pantulan dirinya sendiri di mata wanita itu. Seorang monster dengan keinginan untuk membalas dendam dengan merebut anaknya.
Bastian tahu apa niat Franz, namun ia tetap membiarkan dirinya terjebak dalam emosi rendah itu. Niat membunuh yang sama seperti saat Sandrine menyodorkan lukisan vulgar Odette padanya.
“Bastian...” Odette membisikkan namanya, suara merdunya terbawa embusan angin.
Bastian menatapnya, menutup dunia hingga yang tersisa hanya wanita itu.
Kelemahan akan selalu menjadi sasaran serangan. Bastian tahu benar hal itu; sebuah taktik yang sering ia gunakan sendiri. Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa kelemahan itu adalah sesuatu yang selama ini tak ia sadari.
Odette...
Matanya menatap dalam bak jurang yang gelap saat ia memandang kelemahannya—kelemahan yang berhasil dieksploitasi oleh Franz dan Sandrine.
Saat itulah, Theodora muncul dengan suara decit ban yang memekakkan telinga.
“Franz? Ya Tuhan, Franz!” teriak wanita itu histeris.
Franz tergeletak di tengah jalan seperti mayat. Satu-satunya tanda kehidupan hanyalah napas mengi yang lolos dari sela giginya yang patah. Namun, ia menepis bantuan ibunya, mendorongnya menjauh.
“Ayo, Bastian,” Franz terbatuk. “Habisi aku, bunuh aku... BUNUH AKU!” teriaknya.
Franz berjuang bangkit, berteriak histeris pada Bastian.
Theodora berusaha mati-matian menenangkan putranya, duduk di jalan sembari mendekap Franz, namun usahanya hanya berakhir dengan tangisan pilu.
Bastian mengabaikan semuanya. Ia hanya terpaku pada Odette. Ia melihatnya dengan sangat jelas; mata besar yang terang itu hanya menatapnya.
Di mata Odette, ia seolah melihat wajah ayahnya—satu hal yang paling ia benci, monster buruk rupa yang diciptakan sang ayah, sosok yang menjalani hidup yang sangat ia benci.
Umpatan meluncur dari mulut Theodora, bersahutan dengan teriakan berdarah Franz dan kasak-kusuk para pelayan. Kebisingan memenuhi udara, mengusiknya, dan Bastian tak menginginkan apa pun selain menghentikan semua itu.
Saat cahaya mulai meredup dalam penglihatan yang kian gelap, saat ia merasa jebakan kembali mengurungnya, napasnya mulai tak teratur. Dunia kembali terasa seperti mimpi buruk, dan tepat saat ia nyaris kehilangan kendali lagi, sebuah tangan hangat yang mungil menyentuh pipinya.
“Bastian?” Suara itu terdengar bagai jalinan benang perak di bawah cahaya bulan.
Bastian fokus pada cahaya bulan, dan kebisingan dunia perlahan memudar menjadi latar belakang yang hampa. Hidupnya yang ternoda lumpur, sia-sia, dan penuh kekecewaan, memenuhi pikirannya. Dan kemudian, pada saat itu juga, ia merasakan sentuhan lembut di wajahnya.
“Aku tidak apa-apa sekarang,” ujar Odette saat Bastian mengalihkan perhatian padanya.
Napas Bastian memburu bagai binatang buruan, namun perlahan mulai stabil berkat belaian tangan Odette di pipinya.
“Ayo kita pulang bersama,” Odette tersenyum di balik pipi yang basah oleh air mata—sebuah perpaduan antara cahaya dan kegelapan di wajahnya.
Odette...
Wanita ini adalah kelemahan yang akan selalu diserang oleh musuh-musuhnya. Anjing liar yang ia bunuh dulu telah memberinya pelajaran hidup yang akan terus terpatri dalam ingatan.
Ia tahu ia harus melepaskan Odette, namun setelah menyadari semua ini, bagaimana mungkin ia sanggup? Ia tak akan pernah bisa membiarkan wanita yang mampu meruntuhkan pertahanannya hanya dengan ujung jari ini pergi.
Seluruh dunianya, yang telah dibangun dengan perhitungan matang dan presisi, kini runtuh lebih cepat daripada kemampuannya untuk membangunnya kembali.
Bastian mendekap erat satu-satunya hal indah yang tersisa di tengah puing-puing hidupnya—sebuah penyelamatan yang mustahil.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar