Bastian Chapter 142
- Crystal Zee

- 22 Jan
- 5 menit membaca
Tembok Baja
Anjing peliharaan Kaisar baru saja menggigit tangan tuannya sendiri.
“Dengar, Mayor Klauswitz…”
“Saya akan mematuhi perintah apa pun yang dikeluarkan oleh Kaisar dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin militer kekaisaran. Namun, istri saya berada di luar yurisdiksi militer, sehingga saya tidak berkewajiban untuk patuh buta,” ucapnya, menegaskan pembangkangan dengan nada yang tetap santun dan penuh loyalitas.
Countess Trier menahan napas. Bastian saat ini bagaikan bilah pedang tajam yang siap menebas apa pun yang merintangi jalannya. Sang Countess kian mencemaskan keselamatan Odette.
“Kaisar adalah Paman Odette, sebuah ikatan yang melampaui pangkat militer mana pun. Hanya itu yang perlu Anda pikirkan saat ini,” ujar Countess Trier, berusaha menahan agar suaranya tidak terdengar terlalu tajam.
“Begini, Countess,” Bastian menghela napas pendek. “Jika Kaisar benar-benar menganggap serius statusnya sebagai seorang Paman, beliau tidak akan menyerahkan Odette begitu saja sejak awal. Saya rasa Anda lebih memahaminya dari siapa pun.”
“Astaga, Mayor Klauswitz! Anda benar-benar merasa punya hak untuk menghina keluarga kekaisaran seperti itu?” Wajah Countess Trier memerah padam karena amarah.
“Saya minta maaf. Saya tidak menyangka kebenaran akan membuat Anda begitu tidak nyaman, Countess. Mohon ampuni saya.” Bastian menunjukkan penyesalan dengan kesopanan yang sempurna. “Saya memiliki hak yang sah atas istri saya. Sampaikan pada Kaisar; hanya karena beliau dianugerahi mandat kekaisaran, bukan berarti beliau bisa merampas apa pun menggunakan mandat itu.” Ia berbalik, memunggungi Countess Trier.
Sang Countess limbung akibat penghinaannya hingga harus berpegangan pada sandaran kursi.
“Odette tidak bisa memberimu keuntungan apa-apa lagi. Kau tidak bisa lagi menggunakannya sebagai perisai dari apa yang akan menimpamu, Bastian!” Countess Trier meledak, suaranya meninggi.
“Kaisar tidak buta akan kerja kerasmu. Beliau bersedia membiarkanmu mempertahankan segala kemewahan yang kau nikmati sekarang dan masa depan, sebagai bentuk penghormatan atas gelar dan jasa-jasamu. Syaratnya hanya satu: lepaskan Odette.”
Langkah Bastian terhenti tepat saat tangannya menyentuh kenop pintu. Tampaknya, monster kecil yang serakah ini hanya akan mau bekerja sama jika ia tahu pundi-pundi keuntungannya tetap utuh.
Bastian melirik melalui bahunya dan tersenyum tipis. “Saya sadar betul Yang Mulia telah menawarkan persyaratan dagang yang sangat menggiurkan.”
“Kalau begitu, buang harga diri konyolmu. Ini yang terbaik untukmu.”
“Omong kosong. Masalah ini bisa diselesaikan dengan cara lain,” tegas Bastian penuh percaya diri. Sang Countess terpaku, kehilangan kata-kata. “Sudah larut. Semoga perjalanan pulang Anda aman, Countess.” Ia melangkah pergi tanpa sepatah kata lagi.
Gemetar oleh amarah dan kejengkelan, Countess Trier menjatuhkan diri ke sofa. Berbicara dengan Bastian Klauswitz tak ubahnya bicara dengan tembok bata. Negosiasi lebih lanjut hanya akan sia-sia; mereka harus mencari jalan lain.
“Tolong, makanlah sedikit lagi, Nyonya,” bujuk si pelayan dengan lembut.
Odette menggeleng pelan, lalu meletakkan serbet setelah menepuk sudut bibirnya.
Sudah lima hari berlalu sejak malam mengerikan itu, namun nafsu makannya belum juga kembali.
“Apakah Anda sudah lupa instruksi dokter? Anda harus makan demi kesehatan bayi Anda.”
“Terdengar akrab,” sahut Odette, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Apa maksud Anda, Nyonya?”
“Mengingatkanku pada roti tangkup timun dan limun.”
Dora kebingungan, namun tetap mendesak. “Jika Anda menyisakan sup tomat ini, saya akan sangat kecewa.”
Dora merapikan hidangan yang hanya dimakan separuh itu dan menyiapkan menu berikutnya.
Dokter Kramer bersikeras agar Odette mendapat asupan nutrisi yang cukup agar bayinya tumbuh sehat. Meski Bastian tidak pernah bicara sepatah kata pun, ia tahu pria itu merasakan hal yang sama.
“Nah, makanlah sebanyak yang Anda bisa,” ujarnya sembari menyodorkan semangkuk sup hangat lengkap dengan roti yang baru matang.
Dalam waktu singkat saat Dora menyiapkan sup, Odette sempat jatuh terlelap di bawah siraman hangat matahari sore. Ia tersentak bangun saat Dora meletakkan mangkuk di depannya. Setelah sedikit memaksa diri, Odette akhirnya meraih sendok itu.
Makan kedua Odette baru selesai menjelang sore. Saat Dora selesai membantu Odette mandi dan mengganti pakaian dengan gaun tidur, matahari sudah nyaris tenggelam.
Setelah menyelimutinya di tempat tidur, Dora membawa Margrethe masuk ke kamar seperti biasanya. Biasanya Bastian sudah pulang jam segini, namun keheningan Margrethe menandakan pria itu belum tiba.
Waktu kepulangan Bastian tak pernah pasti. Terkadang sore hari, tengah malam, atau bahkan baru keesokan paginya.
Dalam setiap kesempatan, ia hanya akan mampir sejenak untuk memastikan segalanya baik-baik saja, lalu pergi lagi. Ia bahkan tidak repot-repot mengucap salam atau berpamitan pada Odette.
Mungkin itulah sebabnya semua ini terasa seperti mimpi. Wajahnya yang disinari fajar kebiruan. Langkah kakinya yang sunyi saat matahari terbenam. Sosoknya yang pergi dengan cahaya bulan di punggungnya.
Segalanya. Jika bukan karena kehangatan Margrethe dalam dekapannya, Odette mungkin akan percaya bahwa percakapan mereka di hari pertama hanyalah mimpi belaka.
“Jangan terlalu sedih,” hibur Dora. “Tuan sangat sibuk karena beliau sedang berjuang sekuat tenaga untuk melindungi Anda.”
“Iya...” jawab Odette mengawang.
“Meski begitu, alangkah baiknya jika beliau pulang lebih awal di hari ulang tahun Anda nanti. Sudah tiga tahun pernikahan, dan belum pernah sekalipun kalian merayakan ulang tahun bersama.”
“Benar...” Ia membiarkan matanya terpejam. Ia sadar hari ulang tahunnya kian dekat, namun tak ada sedikit pun rasa antusias di hatinya.
Dora tetap setia di sisi ranjang hingga Odette benar-benar terlelap.
Odette pun bermimpi.
Bastian mengembalikan Margrethe padanya, dan ia merasa bahagia.
Bastian mengembalikan anaknya, dan ia merasa bahagia.
Bastian mengucapkan selamat tinggal, dan ia hanya bisa menatap punggung pria itu untuk memastikan ia benar-benar pergi. Ia melihat Bastian ditelan oleh cahaya matahari siang yang benderang.
Sebenarnya, ada banyak alasan untuk merayakan sesuatu.
Berdirinya perusahaan baja terbesar di benua, penawaran saham yang meraup keuntungan tak terduga, hingga keberhasilan memenangkan kembali tender jalur kereta api yang menghubungkan Felia dengan Belov.
Ini tahun penuh kesuksesan monumental, namun atmosfer di sana tetap kaku dan terkendali, menghormati sang pemilik yang sedang tidak ingin berpesta.
Upacara penutupan berakhir dengan pidato singkat dari Bastian. Saat ia turun dari podium diiringi tepuk tangan penuh hormat, Thomas Muller mendekat untuk menjabat tangannya.
“Ini semua berkat Anda, Tuan Direktur,” Bastian tersenyum sembari membalas jabat tangannya.
Kejatuhan ayahnya terjadi jauh lebih cepat dari prediksi siapa pun. Jeff Klauswitz pontang-panting ke seluruh penjuru kota, mencoba memadamkan api yang bermunculan, namun ia mencapai batasnya dan segalanya hancur berantakan.
Reputasinya hancur lebur, dan para pewarisnya menanggung kebencian dunia. Bastian telah mendapatkan balas dendamnya.
Tujuan hidup yang selama ini ia kejar kini berada di genggaman, namun ia kesulitan menemukan sukacita dalam kemenangannya. Ia hanya merasa... sangat lelah.
“Kudengar ayahmu melepas saham pelayarannya.”
“Ya. Beliau mencoba mengumpulkan dana untuk menyelamatkan jalur kereta api, tapi semuanya sudah terlambat.”
“Kalau begitu kita bisa menuntaskannya segera setelah ini berakhir. Kenapa kau tidak memberinya pukulan penutup yang telak?” tanya Thomas Muller.
Bastian menggeleng dan tersenyum tipis. “Tidak, ini sudah cukup untuk memenuhi ambisi Kakek.”
“Tentu saja, jika itu maumu, aku akan mengikutinya,” ujar Thomas dengan nada sedikit menyesal.
Bastian merasa akan jauh lebih menguntungkan bagi reputasinya jika ia berhenti sekarang, daripada terus menekan hingga batas akhir yang hanya akan memicu simpati publik bagi sang taipan yang sedang sekarat. Apalagi mengingat betapa plin-plan opini publik.
“Nah, kalau begitu cerialah sedikit. Segalanya berjalan lancar,” ucap Thomas tulus.
Sejak Bastian mengambil alih industri baja, situasi sempat memanas. Namun berkat aksi penghancuran diri yang dilakukan Franz, tekanan itu mereda karena semua musuh mereka kini mengalihkan perhatian pada Bastian secara pribadi, bukan pada perusahaan.
Tuduhan palsu bahwa ia menyiksa istrinya kembali mencuat, begitu pula julukan sebagai anak yang "memakan" ayahnya sendiri. Bastian merasa ini kesempatan terakhirnya; jika ia bisa melewati krisis ini, ia akan melesat jauh melampaui jangkauan rasa iri mereka.
“Tampaknya kasus ini akan selesai tanpa kerumitan. Aku sudah bicara dengan kepala polisi siang tadi, dan ia mengonfirmasi bahwa kasus itu diklasifikasikan sebagai pembelaan diri, tanpa rencana penyelidikan lebih lanjut.”
“Terima kasih, Tuan Direktur. Sampai jumpa di tahun yang baru.”
Bastian meninggalkan perayaan lebih awal dan melangkah keluar gedung menuju mobil yang sudah menunggunya. Sang sopir segera membukakan pintu penumpang. Kecil kemungkinan ia bisa menyetir sendiri dalam waktu dekat.
Ia segera masuk ke kursi belakang, menyandarkan kepalanya, dan memejamkan mata. Kepalanya mulai berdenyut sakit, mungkin akibat kurang tidur.
Teramat lelah, saat ia kembali membuka mata, mobilnya sudah memasuki kawasan Preve Boulevard. Kota itu diselimuti suasana pesta dan dekorasi. Lampu warna-warni, musik yang membahana, dan aroma kacang panggang memenuhi udara.
Sembari menatap dunia dengan mata lelah, ia menyadari betapa waktu berlalu begitu cepat. Sebentar lagi ulang tahun Odette tiba.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar