A Barbaric Proposal Side Story 32
- Crystal Zee

- 20 Des 2025
- 6 menit membaca
Usia Tanpa Kata Menyerah
[Dief] “Aku sudah selesai, Shellan.”
Dief yang baru kembali ke ruang istirahat di samping ruang belajar, berkata dengan suara pelan dan nyaris tak terdengar.
[Shellan] “Apa maksudmu ‘sudah selesai’?”
[Dief] “Kita tidak perlu pergi ke Kastil Bellisa.”
[Shellan] “Apa katamu?”
Shellan ternganga mendengar pernyataan Dief yang terdengar pasrah.
Kenyataannya, peran Dief sangat besar dalam membuat Shellan bersikap nekat. Dief sosok yang selalu bersama Shellan; mereka melakukan segalanya bersama, kecuali beberapa sesi pelajaran.
Dief orang yang akan membenarkan apa pun yang diucapkannya, bahkan yang paling tidak masuk akal sekalipun.
Dan yang terpenting, Shellan percaya bahwa usia delapan tahun terlalu dini untuk mengenal kata menyerah.
[Shellan] “Tiba-tiba bicara apa kau ini? Setelah Ayah, kau juga akan meninggalkanku, Dief?”
[Dief] “Aku tidak meninggalkanmu. Kau juga tidak perlu pergi ke Kastil Bellisa.”
[Shellan] “Itu maksudku! Kenapa kita tidak pergi?!”
[Dief] “Bagaimana kalau Ayah dan Ibu benar-benar tidak menyukai kita?”
[Shellan] “Mana mungkin tidak suka.”
[Dief] “Ayah. Kepada kita.”
[Shellan] “Apa itu masuk akal?”
[Dief] “Tapi, kita juga mengusir Ayah karena kesal.”
[Shellan] “Itu karena Ayah yang melakukan kesalahan lebih dulu.”
[Dief] “Tidak peduli siapa yang benar atau salah, ayah dan kita sama-sama terluka.”
[Shellan] “...Apa?”
Shellan tersentak mendengar ucapan itu.
[Dief] “Shellan sendiri yang bilang bahwa perasaan hal yang tidak logis. Makanya rumit dan menyebalkan.”
[Shellan] “...Benar. Ternyata kau mengingatnya, Dief.”
Bruuk, Shellan menjatuhkan diri ke kursi di samping Dief.
Setelah beberapa saat memandangi Dief yang murung, Shellan mengulurkan tangan dan mengusap-usap bagian belakang kepala kakak kembarnya.
Namun, menghibur Dief sangat mudah bagi Shellan.
[Shellan] “Kau khawatir, Dief?”
[Dief] “Iya... Bagaimana kalau mereka benar-benar tidak menginginkan kita?”
[Dief] “Sejujurnya aku sendiri... tidak tahu mengapa aku bisa semarah ini.”
Itu sudah jelas karena Shellan diam-diam memancingnya untuk marah.
Ketika Shellan menangis keras dan memprotes rasa pengkhianatan, Dief juga secara otomatis merasakan emosi serupa.
Karena kecepatan berbagi emosi di antara kembar, dan juga karena Dief cenderung secara tidak sadar membenarkan apa pun perkataan Shellan.
Jadi, Dief menangis tanpa berpikir panjang, tetapi ketika menyadari bahwa kedua pria tua mereka pergi berlibur tanpa membawa mereka, rasanya dunia menjadi gelap.
Memang benar bahwa di masa lalu ada kekasih lain dan Ayah bahkan memberinya cincin, itu kesalahan. Kesalahan yang sangat besar. Dief yakin dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.
Tetapi, Dief juga belajar bahwa keluarga harus saling memaafkan kesalahan.
Shellan dan dirinya selalu membuat masalah, tetapi setelah memarahi dan memberi hukuman, kedua pria tua mereka selalu memaafkan.
Dengan kata lain, Dief sudah siap memaafkan Ayah malam itu, saat dia mengusirnya dari kamar tidur.
Seandainya Dief tidak ketiduran karena kelelahan menangis, dia pasti sudah memaafkannya.
Mungkin, keluarga yang sudah berdamai akan menjadi semakin dekat dan tidur berempat di satu ranjang, seperti ketika mereka masih sangat kecil.
Kesempatan itu hilang karena Dief tertidur pulas.
Akibatnya, kedua pria tua mereka pergi ke Kastil Bellisa dan mereka ditinggalkan sendirian di Kastil Nauk.
Ini pengalaman pertama Dief merasa sepi dan terasingkan dalam hidupnya.
Kesadaran bahwa dia bisa terputus dari kedua pria tua yang dia kira akan selalu ada, adalah kejutan yang luar biasa.
[Shellan] “Kau tidak perlu marah. Ibu bilang itu bukan pengkhianatan, berarti memang bukan pengkhianatan.”
Jika Shellan terus bersikeras bahwa perbuatan Ayah adalah pengkhianatan, berarti dia menyangkal perkataan Ibu. Dief mungkin tidak percaya, tetapi Shellan juga tidak mau terang-terangan menentang perkataan Ibu.
[Dief] “Tapi aku merasa bodoh sekali... Mengapa aku bersikap kurang ajar? Bahkan rasanya wajar jika sekarang Ayah bilang dia tidak suka pada kita.”
Dan yang terburuk adalah fakta bahwa mereka tidak tahu kapan kedua pria tua mereka akan kembali.
Tentu saja, di baliknya ada jalinan kepentingan rumit orang dewasa yang membuat masalah ini berlarut-larut, tetapi anak-anak tidak mengetahuinya.
Shellan hanya bisa menebak bahwa mengingat kepribadian Ibu, perpisahan mereka tidak akan terlalu lama.
[Dief] “Jika Ayah bersikap begitu, aku akan merasa... sangat sedih dan terasingkan.”
Dief memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Shellan harus mengakui. Sejak menginjak usia delapan tahun, Dief memang mulai menggunakan bahasa yang sedikit lebih dewasa. Shellan sangat menghargainya.
[Shellan] “Makanya, kita harus tetap pergi.”
[Shellan] “Kau pasti mengerti perkataanku sekarang.”
[Dief] “Ke mana?”
[Shellan] “Ke Bellisa.”
Mata Dief yang menatap Shellan seakan diguncang gempa.
[Dief] “Jangan, Shellan. Mereka bilang jangan datang, dan kita akan pergi diam-diam sendirian? Itu jelas akan membuat mereka semakin marah!”
[Shellan] “Kalau begitu, kau akan diam di sini sambil menunggu? Padahal kita tidak tahu kapan mereka akan kembali.”
[Dief] “Itu... huu. Haa.”
Dief menghela napas panjang.
Helaan napasnya terdengar seperti milik pria berusia 58 tahun, bukan delapan tahun.
[Dief] “Ini hukuman, Shellan. Walaupun tidak adil, kita harus menerimanya.”
[Shellan] “Ini hukuman yang tidak adil.”
[Dief] “Apa gunanya? Kedua pria tua kita tidak ada di sini. Kita tidak bisa protes karena mereka tidak akan mendengarkan.”
Mendengarnya, Shellan merasa air matanya hampir menetes.
[Shellan] “Tidak, maksudku, itu tidak boleh terjadi. Tidak ada hak asasi manusia jika kita bahkan tidak bisa memprotes ketidakadilan. Jadi, kita harus semakin keras memprotes.”
[Dief] “Aku tidak mengerti maksudmu, Shellan.”
[Shellan] “Sederhananya, kita harus pergi ke Kastil Bellisa.”
[Dief] “Sudah kubilang ini hukuman. Hukuman yang harus diterima.”
[Shellan] “Hah. Dasar tidak bisa diajak bicara!”
Shellan bangkit berdiri.
[Shellan] “Kalau begitu kau menangislah di sini. Aku akan pergi sendirian.”
[Dief] “Apa? Benarkah? Kau akan pergi ke Bellisa?”
[Shellan] “Ya.”
[Dief] “Tidak boleh!”
[Shellan] “Mungkin hanya kau yang tidak diizinkan.”
Shellan dengan percaya diri mencibir, lalu menutup pintu dengan keras sebelum melangkah keluar.
[Dief] “...Hah. Sungguh kertelaluan...”
Dief memukuli sofa karena tidak tahu harus berbuat apa.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa Shellan mungkin salah.
Kemudian, dia teringat pesan Ayah.
―Jika Shellan akan bertndak melewati batas, kau harus mencegahnya.
[Dief] “Apakah ini yang Ayah maksud?”
Sepertinya memang begitu.
Dief, yang memasang wajah cemberut sambil memiringkan kepala, bergegas menyusul Shellan.
Shellan naik ke Menara Utara. Sebelumnya, dia mampir sebentar ke kantor Fermos.
Di kantornya selalu ada banyak barang menarik, dan Fermos senang menjelaskan kegunaan barang-barang itu.
Sampai usia sekitar tiga tahun, bermain di kantor Fermos adalah hal paling menyenangkan dalam rutinitas harian Shellan.
Karenanya, dia dengan mudah menemukan teleskop. Dia sudah memastikan Fermos tidak ada di kantornya.
Menghafal pergerakan para pelayan kastil sangat berguna. Misalnya, jika pekerja kebun—yang seharusnya tidak masuk ke dalam kastil—kebetulan terlihat, biasanya itu salah satu dari tiga kemungkinan.
Ayah mengirim bunga kepada Ibu, atau Ayah mencoba mengirim bunga tetapi gagal, atau sebentar lagi akan ada tamu dari negara lain.
Jika ada tamu, mereka harus mengadakan perjamuan, dan perjamuan pasti membutuhkan banyak bunga.
Kasus pertama terlalu sering terjadi sehingga tidak bisa dipastikan, tetapi pada kasus kedua, pekerja dapur akan sibuk.
Dia mengetahui kantor Fermos kosong hari ini karena adanya perubahan pergerakan para pekerja dapur.
Fermos biasanya makan siang di kantor satu jam lebih lambat dari yang lain.
Ketika sudah waktunya jadwal makan siangnya tetapi tidak ada pekerja yang membawa piring ke sana, Shellan langsung masuk ke kantor yang kosong itu dengan percaya diri tanpa perlu mengamati lebih jauh.
Setelah itu, dia membawa teleskop dan naik ke Menara Utara.
Menara Utara adalah yang paling tinggi dan curam di antara keempat menara. Tangganya sulit didaki untuk ukuran kaki anak berusia delapan tahun.
Syukurlah dia tidak perlu naik sampai ke puncak. Di tengah menara ada jendela kecil yang menghadap ke luar.
Shellan yang cerdas berhenti di depan jendela dan mengamatinya. Dengan menaikan penyangga jendela sampai ke ujung, dia memastikan jendela itu terbuka selebar mungkin dan stabil.
Di bawah jendela, ada sebuah pegangan tangan dari besi, dia bisa mencabutnya dari dinding karena bautnya terlepas dan menjadikannya pijakan. Dia menjejakkan kakinya pada pijakan itu, bersiap untuk merangkak keluar melalui jendela.
Dia sudah melakukannya berkali-kali bersama Dief.
Sekarang, tubuhnya sedikit lebih besar, bahu dan perutnya terasa sedikit sesak saat melewati ambang jendela, tetapi dia tetap bisa keluar ke atap tanpa kesulitan.
Atap Kastil Nauk tidak terlalu curam. Selain itu, dengan merangkak sebentar, ada cerobong asap tempat dia bisa bersandar dengan nyaman, sehingga dia tidak merasa takut.
[Shellan] “...Mencurigakan.”
Kata Shellan setelah lama mengamati sekeliling kastil dengan teleskop.
[Shellan] “Sir Renfel tidak ada di tempatnya.”
Klima orang yang selalu ada di tempatnya. Untuk menemukannya, Shellan hanya perlu memeriksa salah satu dari tiga tempat: lapangan latihan Ksatria, barak Ksatria, atau kantin Ksatria.
Saat ini, dia tidak dapat menemukan Klima di lapangan latihan.
Hanya Klima yang bisa menyelundupkannya ke Kastil Bellisa. Sayangnya, tidak mungkin para Ksatria Nauk tidak mengetahui fakta itu, sehingga Shellan selama dua hari itu dia tidak bisa bertemu Klima.
[Shellan] “Ini bahkan bukan jam makan siang Ksatria.”
Shellan memiringkan kepala dan mengalihkan teleskop.
Dia memeriksa kandang kuda, lalu jika tidak ada, dia memeriksa taman belakang. Jika tidak ada juga, dia melihat ke arah barak Ksatria, lalu kembali ke lapangan latihan.
Waktu berlalu cukup lama.
[Shellan] “Hah... benar-benar tidak ada.”
Dan Shellan mengetahui fakta yang mengejutkan. Klima tidak ada.
Dia tampaknya sama sekali tidak berada di Kastil.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar