A Barbaric Proposal Side Story 28
- Crystal Zee

- 20 Des 2025
- 6 menit membaca
Lubang Kelinci dan Katak
[Liene] “Kalian berdua, apakah kalian benar-benar harus bersikap seperti ini?”
[Shellan] “Ya.”
[Dief] “Kami tidak punya pilihan.”
Dief, yang menyembunyikan wajahnya di balik ujung rok Liene, mengeluarkan suara sengau karena hidungnya mampet.
Alasan Liene tidak bisa memarahi anak-anak sama seperti sebelumnya, karena mereka datang ke kamarnya secara tiba-tiba dan air mata kembali menggenang di mata mereka.
Mengapa mereka begitu sedih?
Bagi Liene, kejadian ini masalah yang sudah dia pahami dan lupakan sejak lama, sehingga dia sulit mengerti mengapa anak-anak perlu menangis dan meratap begitu lama.
Namun, dia mengerti bahwa anak-anak telah terluka. Oleh karena itu, dia tidak bisa langsung membela Black.
[Liene] “Hmm... bukankah mengatakan ‘tidak punya pilihan’ agak tidak adil bagi Ayah?”
[Shellan] “Tidak adil? Tidak sama sekali.”
Shellan mengangguk mantap.
[Shellan] “Kami sangat kecewa dan terluka. Kami tidak ingin melihat wajah Ayah untuk sementara waktu.”
[Dief] “Benar. Kami tidak mau melihatnya.”
Ya ampun. Bagaimana ini bisa terjadi?
Liene merentangkan tangan ke arah anak-anak.
Shellan, yang duduk di tepi tempat tidur, dan Dief, yang membenamkan wajah di roknya, merangkak menghampirinya dan memeluknya. Liene mencium kening mereka satu per satu.
[Liene] “Ada hal yang harus kalian ketahui.”
[Shellan] “Ibu mau membela Ayah, ‘kan? Kami tidak mau dengar.”
[Dief] “Ya. Jangan membelanya.”
[Liene] “Tapi sepertinya aku harus melakukannya. Jika aku tidak membela Ayah, dia akan sendirian.”
[Shellan] “Karena dia telah berbuat salah.”
[Liene] “Itu memang bukan hal baik. Tapi, Shellan, semua orang membuat kesalahan dan kekeliruan dalam hidupnya. Itu wajar.”
Shellan mencebikkan bibirnya.
[Shellan] “Tapi itu kesalahan yang terlalu besar. Ayah melakukan kesalahan terhadap Ibu.”
[Liene] “Tidak seperti itu.”
[Shellan] “Kenapa?”
[Liene] “Itu terjadi sebelum dia bertemu denganku.”
[Shellan] “Itu... hanyalah alasan.”
Anak-anak tampaknya tidak berniat memaafkan semudah itu.
Liene tersenyum pahit.
Sebenarnya dia belum ingin menceritakan hal ini kepada mereka, tetapi dia tidak bisa menundanya lagi. Anak-anak memang selalu tumbuh terlalu cepat.
Liene mengeratkan pelukannya pada anak-anak.
[Liene] “Kalian ingat cerita yang kubagikan tahun lalu? Mengapa Ayah, yang adalah Pangeran dari Kerajaan Gainers, hidup dengan nama Tiwakan?”
[Shellan] “Hmm, ya.”
[Shellan] “Tapi itu tidak bisa menjadi pembelaan. Kekasih adalah masalah yang berbeda.”
[Dief] “Aku juga berpikir begitu.”
Liene menatap anak-anak dengan hangat.
Anak-anak ini belum mengenal kesepian. Mungkin karena mereka saling memiliki, mereka tidak akan memahaminya bahkan ketika mereka sudah dewasa.
Sama seperti mereka tidak tahu kesepian, mereka juga tidak tahu rasa kurang atau kerinduan yang mendalam.
Liene bersyukur. Dia tahu suatu hari nanti mereka harus mempelajari emosi-emosi itu, tetapi sebagai seorang ibu, dia berharap saatnya masih sangat jauh.
[Liene] “Saat itu, Ayah tidak berniat kembali ke Nauk.”
[Dief] “Eum... kenapa?”
[Liene] “Karena dia berpikir tidak ada tempat untuknya di Nauk.”
Untungnya, anak-anak memahami ucapannya. Namun, ekspresi mereka menjadi sedikit muram.
[Liene] “Beliau bertemu Putri Blini di masa-masa itu.”
Ketika Black merasa tidak ada tempat untuk kembali. Saat itulah Black mencoba mencari tempat yang mirip dengan rumahnya yang hilang.
[Liene] “Ketika seseorang mencari sesuatu terlalu keras, terkadang dia bisa tersesat. Hal ini yang terjadi pada Ayah.”
Dief menggelengkan kepalanya sebentar.
[Dief] “Aneh. Kalau kita berusaha keras, kita seharusnya berhasil, kan?”
Kali ini, Shellan menggelengkan kepala.
[Shellan] “Dief. Sudah dua kali aku memberitahumu, sepanjang hidupku, bahwa ada lebih banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dicapai hanya dengan usaha. Sekali saat Festival Pembuangan Sepatu Bekas musim dingin tahun lalu, dan sekali lagi tiga tahun lalu di musim semi ketika kau bertanya cara memakai kemeja berkancing di punggung sendirian.”
[Dief] “Ah...? Oh, sepertinya begitu. Tapi apa hubungannya dengan tersesat?”
[Shellan] “Ada. Coba ingat ulang tahunmu yang keempat. Kau kehilangan katak kuning yang kuberikan sebagai hadiah, ‘kan? Kau mencarinya selama empat jam, lalu menangis selama dua jam.”
[Dief] “Aha. Benar. Itu pernah terjadi. Kataknya tidak pernah ditemukan.”
[Shellan] “Ya. Kau berkeliaran di kebun sambil menangis, masuk ke lubang kelinci, dan tertidur di sana. Itulah contoh sempurna dari kasus di mana kau tersesat karena mencari terlalu keras.”
[Dief] “Aku mengerti. Jadi, bagi Ayah, Putri Blini adalah lubang kelinci.”
[Shellan] “Meskipun tidak disengaja, analogi itu sangat tepat untuk kecelakaan yang tidak menyenangkan, yang diciptakan oleh kebutuhan dan kebetulan. Aku memujimu, Dief.”
[Dief] “Aku tidak begitu mengerti apa yang kau katakan, tapi terima kasih, Shellan.”
[Shellan] “Bukan masalah.”
Liene merasa lega karena anak-anak memahaminya.
[Liene] “Kau benar, Shellan. Jadi, tidak bisakah kalian memaafkan Ayah? Dia masih sangat menyesali perbuatannya.”
Shellan, yang sempat mengernyitkan hidungnya ke sana kemari, kembali meringkuk ke dalam pelukan Liene seolah sedang bermanja-manja.
[Shellan] “Kalau begitu, kami akan memaafkannya besok pagi. Sekarang tidak bisa.”
[Liene] “Kenapa? Apakah kalian masih butuh waktu?”
[Shellan] “Tidak. Kesalahan masa lalu bisa kami maafkan, tetapi kesalahan yang lain belum bisa kami maafkan.”
[Liene] “Kesalahan apa?”
Sebenarnya, kesalahan tentang mantan kekasih yang membuat mereka menangis dan memperbesar masalah bisa diterima, tetapi ada hal lain yang benar-benar membuat Shellan marah.
Yaitu fakta bahwa Ayah dan Ibu berencana pergi berlibur berdua tanpa mereka. Bukan hanya berencana pergi, tetapi juga memaksanya untuk menangani tamu yang merepotkan.
Kertak.
Shellan menggertakkan giginya perlahan.
Padahal Ayah bisa mengusir para tamu kapan saja. Hal tersebut masih membuatnya sangat marah.
Seperti yang Ayah lakukan hari ini, dia bisa saja mengusir tamu-tamu merepotkan dari Alito, tetapi dia sengaja membebankan tugas itu padanya.
Kenapa? Karena dengan begitu, Ayah bisa pergi berlibur berdua saja dengan Ibu.
[Shellan] “Aku tidak ingin mengatakannya sekarang. Aku akan memberitahu Ibu setelah kemarahanku mereda.”
Liene menyembunyikan rasa canggungnya dengan senyum tipis sambil membelai rambut Shellan.
[Liene] “Baiklah. Setelah kemarahanku mereda, pastikan untuk memberitahuku.”
[Shellan] “Ya.”
Akhirnya, kemarahan sirna dari wajah Shellan. Dia tersenyum cerah sambil memeluk Liene erat dengan kedua tangannya.
[Shellan] “Hari ini aku mau tidur di sini, boleh ‘kan?”
Dief, tak ingin kalah, mengambil tempat di sisi yang berlawanan.
[Dief] “Aku juga, Ibu! Biarkan aku tidur di sini.”
Kenapa anak-anak ini...
[Liene] “Sepertinya tidak bisa. Kalau begitu, Ayah akan tidur di mana?”
[Shellan] “Ayah bisa tidur di kamarku.”
[Dief] “Kamarku juga ada!”
Liene terkekeh pelan.
Anak-anak bersikap manis hari ini.
Mereka sangat lucu hingga aku ingin mencubit mereka.
[Liene] “Tempat tidur kalian terlalu kecil untuk Ayah.”
[Shellan] “Tidak. Tidak terlalu kecil.”
[Dief] “Walaupun kecil, tidak masalah untuk satu hari.”
Shellan menjawab dengan ekspresi yang tiba-tiba menjadi angkuh.
[Shellan] “Dibandingkan dengan kesalahan Ayah, tidur di tempat tidur yang sedikit lebih kecil dari biasanya adalah hukuman yang sangat ringan. Iya ‘kan, Dief?”
[Dief] “Aku setuju denganmu, Shellan.”
Dalam situasi ini, Liene benar-benar bisa merasakan mengapa si kembar disebut kembar.
[Liene] “Aku mengerti kalian berpikir begitu. Tapi sepertinya Ayah tidak akan setuju. Bukankah kita harus berunding dengannya?”
[Shellan] “Itu tidak adil. Pertama, Ayah tidak akan pernah setuju, jadi berunding tidak mungkin sejak awal. Kedua, ini sudah waktunya kami tidur.”
Memang sudah lewat waktu tidur anak-anak.
[Dief] “Ah, benar. Pantas aku mengantuk.”
Dief menggesekkan dahinya ke lengan baju Liene.
[Dief] “Aku rasa aku akan langsung tertidur. Ibu huaa...”
[Liene] “Dief. Belum boleh tidur. Aku belum mengizinkan kalian tidur di kamar ini.”
[Dief] “Ya, tapi...?”
Sementara itu, suara Dief semakin mengecil karena diselimuti rasa kantuk.
Saat Liene mencoba mengguncang Dief untuk membangunkannya sedikit, suara napas menguap terdengar dari sisi berlawanan, dari Shellan.
[Shellan] “Haam.”
[Liene] “... Shellan. Jangan berpura-pura tidur. Aku tidak akan tertipu.”
Shellan jelas-jelas hanya berpura-pura tidur. Liene menggunakan jarinya untuk mengetuk-nuk ujung bulu mata Shellan. Shellan mulai mengedipkan matanya, berusaha menahan rasa geli.
[Liene] “Shellan. Kubilang hentikan.”
[Shellan] “Heh, tidak, aku berpura-pura tidur... haam.”
[Liene] “Shellan.”
Suara Liene menjadi tegas. Namun, pada saat itu, Dief yang sudah tertidur pulas mulai mendengkur.
[Liene] "Hah... Sudah kuduga."
Dief tipe yang cepat tidur. Sejak kecil, Shellan memiliki kebiasaan buruk menunda waktu tidur untuk membaca buku, sedangkan Dief, begitu berbaring, akan langsung tertidur tanpa sadar.
Begitu menyadari Dief sudah terlelap, Shellan pun benar-benar menutup matanya.
[Liene] “Sungguh, mereka mewarisi sifat siapa?”
Liene mengulum senyum.
Sifat keras kepala yang terkadang muncul pada anak-anak yang baik, yang bahkan tidak bisa Liene patahkan, kemungkinan besar diwarisi dari Black.
[Liene] “Padahal aku tidak seperti itu.”
Liene mendecakkan lidah tanpa terdengar oleh anak-anak, lalu akhirnya menyelimuti mereka.
Bagaimanapun juga, Liene selalu luluh pada anak-anaknya.
[Liene] “Ini semua karena mereka terlalu mirip.”
Liene mencium rambut Shellan yang sangat mirip Black dan kening Dief secara bergantian.
Penampilan anak-anak adalah alasan terbesar mengapa Liene selalu mengalah pada mereka.
[Liene] "Aku harus tidur seperti ini malam ini."
Liene tersenyum getir sambil merebahkan tubuhnya dengan hati-hati.
Di luar jendela, cahaya bulan musim panas yang terang dan hangat menyeruak masuk.
Seharusnya aku menutup tirai jika ingin tidur.
Namun, sudah terlambat. Liene juga tidak ingin repot-repot memanggil pelayan hanya untuk urusan sepele ini.
[Liene] "Aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini."
Berlawanan dengan gumamannya, senyum merekah di wajahnya saat dia menatap anak-anak yang meringkuk di sisinya.
Liene memejamkan mata dengan senyum di wajah.
Namun, malam tampaknya tidak ingin berakhir begitu saja.
Srek.
Pada saat napas mendengkur anak-anak mulai memanggil mimpi seperti lagu pengantar tidur, Liene melihat bayangan di luar jendela yang sedikit menutupi cahaya bulan.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar