top of page

A Barbaric Proposal Side Story 29

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 6 menit membaca

Perjalanan ala Pencuri

Awalnya, dia mengira itu hanyalah mimpi.

Karena mimpi, dia mengira Black bisa bersikap setenang itu, masuk ke kamar melalui jendela tanpa suara, seperti pencuri yang terampil.

[Black] “Tolong diam. Jangan sampai anak-anak bangun.”

Black menjawab hanya dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara.

Liene mengangguk kebingungan. Black mengulurkan tangan.

[Black] “Kalau begitu, ayo kita keluar.”

Liene tidak segera menyambut tangannya. Dia hanya berkedip dan menatap Black.

[Liene] “Keluar? Ke mana?”

[Black] “Entahlah... Tapi bukan tempat yang buruk.”

Liene menoleh ke belakang, menatap anak-anak yang terlelap sebentar, lalu menggenggam tangan Black.

Sejujurnya, dia merasa sedikit terlambat.

Sejak anak-anak menolak Black tanpa alasan yang jelas, dia seharusnya memberitahu mereka bahwa tindakan itu salah, tetapi dia tidak melakukannya.

Ini pertama kalinya anak-anak bersikap seperti itu, dan dia sendiri merasa terkejut.

Black pasti merasa tidak enak. Dia pasti menganggap itu kesalahannya, jadi Liene tidak repot-repot membela diri.

Liene yang kini menggenggam tangan Black, menggerakkan bibirnya.

[Liene] “Maafkan aku.”

Liene yang kini menggenggam tangan Black, menggerakkan bibirnya.

[Black] “Apa yang harus dimaafkan?”

[Liene] “Karena tidak menghentikan anak-anak.”

[Black] “Itu bukan salahmu....”

Black tersenyum sejenak. Lalu dia berkata,

[Black] “Kalau kau merasa bersalah, turuti permintaanku.”

[Liene] “Kau mau minta apa?”

[Black] “Turuti saja. Boleh, kan?”

Kali ini Liene tersenyum. Tentu saja tidak bisa ditolak.

Senjata anak-anak yang selalu meluluhkan Liene adalah penampilan mereka yang sangat mirip Black. Jadi, pada akhirnya, Black-lah alasannya.

[Liene] "Kau cerdik sekali. Kau tahu betul aku akan mengalah dan menuruti permintaanmu, 'kan?"

Saat Liene menggenggam tangan Black, dia mencium ujung jarinya, lalu menariknya.

[Liene] “Hati-hati, jangan sampai kau menyenggol atau mengenai Dief.”

Liene menghentikan gerakannya karena terkejut.

Black mengangguk.

[Black] “Benar. Ini akan lebih baik.”

Tanpa suara, dia menggendong Liene yang masih di atas tempat tidur.

Liene melingkarkan lengan di lehernya dan berbisik di telinganya.

[Liene] “Bagaimana kau bisa melakukannya tanpa suara?”

[Black] “Maksudmu apa?”

[Liene] “Tidak membuat suara. Padahal kau jauh lebih berat dariku.”

[Black] “Itu masih terasa aneh bagimu?”

[Liene] “Ya. Kau selalu menjadi orang yang selalu membuatku tercengang.”

Black mengangguk.

[Black] “Kalau begitu, aku mengerti. Karena bagiku, kau juga seperti itu.”

[Liene] “Apa yang mencengangkan dariku?”

[Black] “Caramu tersenyum.”

[Liene] “Memangnya aku tersenyum bagaimana?”

[Black] “Begini...” Black terdiam, berpikir dengan serius. “... Seolah-olah kau membuat seluruh dunia ikut tersenyum.”

[Liene] “Apa? Tidak...”

[Black] “Sst.”

Liene tanpa sadar mengeluarkan suara karena jawaban yang tak terduga.

Black membungkam bibir Liene dengan bibirnya, sekaligus memberi isyarat untuk diam.

Sentuhan lembut itu berlangsung lama.

Anehnya, sentuhan itu terasa seperti sudah sangat lama.

Waktu seolah lenyap saat bibir mereka saling bersentuhan.

[Diefe] “Ung...”

Jika tidak ada suara Dief yang berbalik, momen itu mungkin akan terasa seperti keabadian.

[Black] “Kita harus segera keluar.”

[Liene] “Aku setuju. Jangan sampai anak-anak bangun.”

Krieeet.

Black membuka pintu dengan suara minimum yang hampir mustahil.

Suara Dief yang berbalik jauh lebih keras, sehingga tak ada anak yang terbangun.

[Liene] “Fiuh, kita tidak ketahuan.”

Liene menghela napas lega saat mereka sampai di koridor. Dia mengusap hidungnya dengan penuh kasih sayang.

[Black] “Syukurlah. Jika ketahuan, segalanya akan menjadi sulit.”

[Liene] “Apa yang sulit?”

[Black] “Membawamu pergi.”

Liene berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepala.

[Liene] “Tidak, anak-anak pasti merasa bersalah jauh di lubuk hati. Aku sudah membujuk mereka setengah jalan, dan aku akan melanjutkannya besok. Besok, mereka akan menyesal dan meminta maaf padamu.”

[Black] “Hmm... sepertinya itu tidak mungkin.”

[Liene] “Hah...?”

Liene menatapnya dengan cemas, bertanya-tanya apakah Black juga merasa tersinggung karena anak-anak.

[Liene] “Apakah kau tidak ingin bertemu anak-anak? Karena mereka bersikap jahat padamu?”

[Black] “Bukan.”

Langkahnya terhenti sebentar. Dia berhenti untuk menunduk dan mencium kening Liene.

[Black] “Waktunya tidak akan tepat. Aku akan mendengarkan penyesalan anak-anak dua hari lagi.”

[Liene] “Kenapa harus dua hari?”

[Black] “Sejujurnya aku ingin membuatnya menjadi tiga hari, tapi aku takut dianggap picik.”

Itu pernyataan yang semakin tidak bisa Liene mengerti.

[Liene] “Kenapa kau terus menyembunyikannya? Katakan saja padaku.”

[Black] “Hmm... tunggu sebentar. Kau akan tahu ketika kita tiba.”

[Liene] “Aneh. ... Kalau begitu, setidaknya turunkan aku. Dari sini, walalupun aku berjalan suara langkah, tidak akan terdengar sampai ke anak-anak.”

[Black] “Belum boleh.”

[Liene] “Mencurigakan. Kenapa kau terus menolak?”

[Black] “Ah, karena aku ingin pergi sedikit lebih cepat.”

Dia mempercepat langkahnya. Karena tidak perlu lagi menahan suara langkah, kecepatannya sangat tinggi.

[Liene] “Kita mau ke mana?”

[Black] “Tempat yang sekarang boleh kita datangi.”

Setelah jeda sejenak, Black akhirnya mengakui rencananya.

Mereka hampir mencapai Pintu belakang Kastil.

Liene menjulurkan tangan ke atas dan menarik telinga Black sedikit.

[Liene] “Tunggu sebentar. Berarti kita akan naik kereta kuda, ‘kan?”

[Black] “Kau sudah janji, ‘kan?”

Begitu dia selesai bicara, pintu belakang terbuka lebar dengan bunyi

Khuung.

[Liene] “... Ya ampun.”

Dia ternganga.

Jalan dari pintu belakang menuju kereta kuda sudah disiapkan.

Para penjaga berbaris rapi membawa obor, menunjukkan arah ke kereta, dan di dalam kereta yang lampunya sudah dinyalakan, terlihat sekilas ujung bantal tebal.

[Fermos] “Anda baru saja datang? Semua persiapan telah diselesaikan tanpa ada yang terlewat.”

Fermos menyambut mereka, berdiri di samping kereta.

Kehadiran Kanselir secara langsung berarti semua instruksi yang diperlukan telah diberikan sebelum Raja dan Ratu meninggalkan kastil, dan itu juga berarti Black sama sekali tidak berniat mendengarkan penolakan.

Liene kembali menarik telinga Black.

[Liene] “Kita pergi seperti ini? Ke Bellisa?”

[Black] “Kau sudah janji, ‘kan?”

[Liene] “Itu sebelum insiden ini terjadi, ‘kan?”

[Black] “Bukankah ini lebih baik daripada saat itu?”

[Liene] “Apanya yang lebih baik?”

[Black] “Pertama, orang yang bisa menimbulkan masalah sudah pergi.”

Dia memiringkan kepala, mendekatkan wajahnya sedikit.

Meskipun mereka sudah menikah selama sepuluh tahun, jarak sedekat ini masih tidak bebas dari ketegangan. Terlebih lagi saat ada mata yang mengawasi di samping.

[Liene] “Terlalu dekat. Lalu?”

Dia pura-pura mendorong bahunya dengan telapak tangan, dan Black justru mendekatkan wajahnya lagi.

[Black] “Jangan coba-coba mendorongku. Aku akan terluka, meskipun ada alasannya.”

[Liene] “Apa yang kau katakan? Jika kau mudah terluka karena hal seperti ini, seharusnya kau sudah duduk dan menangis ketika anak-anak tidak mau membukakan pintu tadi.”

[Black] “Anak-anak tidak masalah. Mereka tidak melukaiku sebesar dirimu.”

[Liene] “Sungguh, omong kosong apa ini? ... Jadi, lalu?”

[Black] “Anak-anak juga butuh waktu untuk menenangkan emosi mereka.”

[Liene] “Aha.”

Black memasang ekspresi pura-pura serius.

[Black] “Karena mereka bilang tidak ingin melihat wajahku, mungkin ini saatnya bagi kita untuk berpisah sejenak dari mereka.”

[Liene] “Eum... jika kau mengatakannya seperti itu, aku tidak bisa membantah.”

Liene tadinya berencana memarahi dan membujuk anak-anak keesokan harinya, tetapi Black justru mengajaknya langsung pergi.

[Liene] “... Memangnya boleh ini dilakukan? Bukankah kalian seharusnya berdamai dulu...?”

Sebenarnya, ini pertama kalinya anak-anak bersikap seperti ini, dan pertama kalinya Black menjadi sasaran kemarahan mereka, sehingga Liene tidak tahu bagaimana cara mendisiplinkan mereka.

Fermos menyela di sela-sela mereka seperti hantu.

[Fermos] “Saya setuju dengan pemikiran Tuanku.”

Liene menyipitkan mata dan menatap Fermos.

[Liene] “Hmm... apakah itu pandangan seorang Kanselir dengan mengesampingkan kesetiaan, Sir Fermos?”

[Fermos] “Ini hal yang ingin saya sampaikan bahkan dari sudut pandang pribadi, Yang Mulia. Coba renungkan. Saat Anda berdua sedikit berselisih, bagaimana biasanya Anda menanggapinya?”

[Liene] “Ah...?”

Meskipun hubungan mereka baik, terkadang mereka tidak sependapat.

Ketika emosi Liene kacau, dia cenderung ingin memiliki waktu sendirian untuk menenangkan diri.

Black kebalikannya, sehingga Liene jarang mendapatkan waktu untuk menenangkan emosinya seperti yang dia inginkan.

[Liene] “Kau, kau benar-benar aneh. Kenapa kau tidak mau memberiku waktu sama sekali saat ada masalah di antara kita? Itu sebabnya kita bertengkar lagi.”

Black tertawa.

[Black] “Seperti yang kubilang tadi, anak-anak dan kau berbeda. Aku juga berpikir memberikan waktu kepada anak-anak adalah hal yang benar.”

[Liene] “Tapi tidak memberikannya padaku?”

[Black] “Karena aku tidak tahan.”

[Liene] “... Dasar.”

Dia menggelengkan kepala berkali-kali, tetapi dia membenarkan fakta bahwa hubungan suami istri dan hubungan pria tua-anak memang tidak sama. Lagipula, keduanya seharusnya tidak sama.

Apalagi, setelah mendekat, Liene melihat bahwa di dalam kereta kuda, semua persiapan benar-benar sudah lengkap.

Di dalam kereta yang sudah dialasi selimut dan bantal tebal hingga empuk, terdapat keranjang camilan besar, sandal, dan gaun.

Kereta juga dipenuhi mawar rambat ungu yang mekar di musim ini, menebarkan aroma yang segar.

[Black] “Melihat bunga ini, kau akan tahu bahwa aku berusaha keras. Sebab, semua yang mekar di dalam kastil sudah dipetik habis oleh Dief.”

[Liene] “Aku curiga Sir Renfel-lah yang bersusah payah, bukan dirimu. Tapi aku senang masih ada bunga yang tersisa untukku.”

[Black] “Tidak, aku ikut melakukannya. Sungguh.”

Bagaimanapun juga, semua persiapan itu membuat Liene tidak bisa mengatakan bahwa ide pergi berdua sekarang adalah hal gila, dan mereka harus segera kembali ke kamar untuk tidur.

Black yang menangkap senyum Liene, menaikkan Liene ke kereta.

Bantal yang empuk itu terasa senyaman tempat tidur.

[Fermos] “Kalau begitu, silakan nikmati perjalanan Anda. Saya akan berada di sini, jadi jangan khawatir. Putri dan Pangeran juga akan menjalani hari-hari seperti biasa.”

Fermos telah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik, itulah alasan dia sengaja mengantar mereka pada jam selarut ini.

Setelah keduanya melambaikan tangan kepada orang-orang yang mengantar, pintu kereta tertutup.

Sekarang, perjalanan mereka benar-benar dimulai.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page