top of page

A Barbaric Proposal Side Story 27

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 6 menit membaca

Kesulitan

[Dieren] “Tolong, bisakah kau memikirkannya lagi? Kita ini bersaudara, ‘kan?”

Dieren nyaris terseret, lengannya dicekal, tetapi dia tidak bisa melepaskan sisa harapannya dan rengekan memohonnya.

[Black] “Diam dan pergilah.”

Black hanya memegang lengan Dieren.

Setiap kali melangkah, dia mendorong Dieren menggunakan gerakan paha dan lututnya—sebuah teknik tingkat tinggi yang membuat tindakan Black nyaris tak terlihat.

Di mata orang lain, mereka terlihat seperti sepasang saudara yang akrab, mengantar sang adik tiri untuk kembali.

[Dieren] “Tidak, kumohon. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, ‘kan? Yang menginginkan pernikahan adalah Grand Duke. Aku tidak melakukan apa-apa.”

[Black] “Aku terganggu hanya karena kau masih bernapas.”

[Dieren] “Sialan! Kata-katamu melukai, tahu. Bukankah itu keterlaluan?”

[Black] “Sama sekali tidak. Jika kau ingin aku menunjukkan apa itu ‘keterlaluan’, aku akan melakukannya.”

Black tidak mengalihkan pandangan, tetapi Dieren tanpa sadar menyentakkan kakinya yang dulu hampir saja dipotong Black.

Dieren sempat diam dan berjalan sebentar, tetapi ketika melihat kereta Alito di depan mata, dia tidak bisa tinggal diam.

[Dieren] “Hei, Saudara. Kumohon, pikirkan lagi sekali saja. Aku tidak melakukan kejahatan fatal, ‘kan? Mungkin ini justru hal baik, bukan? Jika kita membuat perjanjian pernikahan, hubungan kedua negara akan makin erat, dan kita akan menjadi besan...

[Dieren] “Ah, benar! Kita juga harus menghargai keinginan anak-anak! Pangeran Dief menyukai putriku, ‘kan! Jika kau mengusirku secara paksa begini, bukankah Pangeran akan membencimu?”

[Black] “Mustahil.”

[Dieren] “Apa? Bagaimana kau bisa yakin? Meskipun baru delapan tahun, dia sudah cukup dewasa. Luka seperti ini akan terbawa seumur hidup.”

Black menggelengkan kepala, tampak benar-benar muak.

[Black] “Sungguh, aku lelah menertawakan kebodohanmu. Setidaknya diamlah. Kau pikir putraku akan menaruh hati pada orang yang telah menyakiti Liene?”

[Dieren] “Tidak, itu kakakku, bukan putriku,”

[Black] “Sepertinya di kepalamu isinya hanya batu.”

[Dieren] “Ugh, sialan. Aku bersumpah tidak mengatakan apa-apa!”

[Black] “Kalau begitu, pasti orang yang kau bawayang membocorkannya. Hasilnya tetap sama. Jika kau tidak datang, kejadian ini tidak akan terjadi. Buka pintunya.”

Para ksatria Alito membuka pintu kereta dengan segera, tanpa ragu. Para ksatria pun tampak sangat gugup dan ketakutan.

BUGH!

Black mendorong Dieren ke dalam kereta dengan paksa, seolah melemparnya. Dieren, yang sempat berpikir untuk menahan pintu, langsung terlempar masuk dan tak punya pilihan selain pergi.

[Dieren] “Agh! Tunggu, sebentar!”

Dieren dengan cepat meraih pintu yang hendak ditutup.

[Dieren] “Jika aku kembali seperti ini, Grand Duke akan mengusir putriku! Apa kau tidak kasihan pada anak kecil itu?”

[Black] “Sama sekali tidak.”

[Dieren] “Kau manusia tanpa darah dan air mata. Apa kau benar-benar manusia? Bagaimana kau bisa melakukannya pada anak yang tidak bersalah,”

[Black] “Awas, tanganmu.”

Peringatan darinya, berarti Black akan segera menutup pintu dan akan menjepit jari-jarinya.

BAM!

[Dieren] “Aww!”

Dieren melompat sambil memegangi jarinya.

Klek! Pintu kereta tertutup. Black berbalik.

[Black] “Yang lain?”

[Ksatria] “Um... mereka sedang menuju ke sini.”

Black bersandar pada pintu kereta yang ditumpangi Dieren. Punggungnya menghalangi pintu.

Setelah menunggu sebentar, keluarga Grand Duke Alito berbaris turun. Di barisan paling akhir, Shellan dan Dief berjalan ditemani Nyonya Flambard.

[Black] “Hmm.”

Black mendengus tidak nyaman.

Aneh, anak-anak yang begitu memusuhi Black tidak menunjukkan emosi apa pun terhadap keluarga Alito, padahal merekalah penyebab masalahnya.

[Black] "Ada apa dengan mereka?"

[Black] "Tidak, aku tahu alasannya. Fakta bahwa ayah kandung mereka punya masa lalu yang mengejutkan, dan rasa kasihan serta rasa bersalah pada Ibu mereka, pasti membuat mereka marah padaku."

Dia bisa memahaminya

Tapi, mengapa hanya aku?

Black merasa agak tidak adil dan marah,

Mengapa kemarahan mereka tidak diarahkan juga pada Dieren?

[Shellan] “Saya menyesali perpisahan yang begitu mendadak ini. Saya berharap perjalanan pulang Anda lancar.”

Sementara itu, sapaan Dief sedikit lebih ramah.

[Dief] “Saya menyesal tidak bisa bersama lebih lama. Hati-hati di jalan, semuanya.”

[Anak Alito 1] “Terima kasih atas ucapan Anda. Saya berharap dapat bertemu dengan Anda lagi di lain waktu.”

[Anak Alito 2] “Selamat tinggal.”

[Anak Alito 3] “Terima kasih atas keramahannya.”

Anak-anak lain juga membalas sapaan tersebut.

Putri Pangeran Dieren, yang mirip dengan Putri Blini, membungkuk memberi hormat sambil secara samar menghindari tatapan Dief. Dief pun melakukan hal yang sama.

Merasa lega atas reaksi Dief. Seperti yang dia katakan pada Dieren, putranya tidak akan menaruh hati pada wajah yang meninggalkan luka pada Liene.

Bagaimanapun, setelah mengusir orang-orang merepotkan ini, semuanya akan baik-baik saja.

Kemarahan anak-anak—yang sebenarnya ingin Black sebut sebagai kesalahpahaman yang tidak adil—juga akan mereda sebentar lagi, dan dia akan pergi berlibur bersama Liene seperti yang telah direncanakan.

Black tersenyum tipis.

[Black] "Bagaimana kalau aku pergi begitu saja? Bisakah aku meyakinkan Liene bahwa karena anak-anak sedang marah, lebih baik mereka tidak melihatku untuk sementara waktu?"

... Tidak mungkin.

Black memutar otak, tetapi mustahil Liene akan mengizinkannya. Kesalahpahaman anak-anak harus diluruskan.

Sial, itulah masalahnya.

Walaupun Dief mungkin tidak, Shellan pasti akan merepotkan. Apalagi Shellan masih menyimpan dendam padanya karena dipaksa menyambut tamu dari Alito.

Itulah mengapa Shellan sangat marah—kemarahannya ditambah dengan porsi dendam.

... Sial.

Bagaimanapun, situasi ini menjadi rumit. Dan semua ini salah Dieren dan Grand Duke tua yang pengecut tetapi sangat serakah.

Lihat saja. Aku pasti akan membalasnya. 

Soal tidak melupakan dendam, Tiwakan termasuk tiga besar di benua ini. Sudah jelas dari mana sifat Shellan berasal.

Aku harus menyuruh Fermos mencari tahu apa lagi yang tersisa di Alito untuk diperas.

Bagaimanapun, kunjungan yang menjengkelkan ini meninggalkan sedikit keributan, tetapi hasilnya tidak buruk.

Black tidak perlu lagi menerima Dieren sebagai tamu, dan Black tidak perlu lagi melihat Dieren menatap Liene sambil menelan ludah.

Black menunggu sebentar, tetapi Liene tidak keluar untuk mengantar.

Keputusan Liene itu adalah keputusan yang bijak. Ketiadaan orang yang mengundang untuk mengantar kepergian adalah pernyataan paling jelas bahwa undangan itu telah dicabut.

[Dieren] “Eugh...”

Di dalam kereta, terdengar helaan napas Dieren yang nyaris terputus. Meskipun bodoh, Dieren tahu mengapa Liene akhirnya tidak muncul.

[Black] “Pergilah.”

Black melepaskan punggungnya dari pintu.

Para ksatria Alito yang saling melirik segera kembali ke posisi masing-masing dengan ragu-ragu.

Wusss! Black berbalik.

Black tidak perlu mengucapkan salam perpisahan, yang bahkan tidak dilakukan Liene. Hal-hal merepotkan sudah menghilang.

Sekarang, Black hanya perlu membuat anak-anak menghilangkan kesalahpahaman.

Namun, Black tidak tahu.

Bahwa Shellan akan bertindak lebih cepat darinya.

Untuk berbicara dengan anak-anak, Black harus berunding dengan Liene terlebih dahulu.

Sebenarnya, bagi Black, kejadian ini membuatnya sungkan untuk mengungkit masa lalu, dan Liene adalah orang yang memiliki bakat tak tertandingi dalam memilih kata-kata yang lembut untuk anak-anak.

Setelah mandi, berganti pakaian, dan menyiapkan bunga untuk Liene, waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sedikit.

Waktu yang tidak buruk. Meskipun terlalu awal untuk tidur, tapi cukup longgar untuk mereka berbicara.

Aroma awal musim panas tercium dari buket yang dirangkai dari Veronica dan Lavender. Pasti Liene akan menyukainya.

Tok tok. Black mengetuk pintu.

[Black] “Liene. Ini aku. Boleh aku masuk?”

[Liene] “Sekarang?”

[Black] “... Liene?”

Suara Liene terdengar lalu terputus. Sepertinya ada seseorang yang memotong ucapannya.

[Black] “Aku akan membuka pintu.”

GDEBUM!

Black mendorong pintu untuk membukanya. Namun, dari celah yang terbuka, dia sekilas melihat palang tebal terkunci dari dalam.

[Black] “Liene? Apa yang terjadi?”

Pada saat itu, setidaknya sepuluh pikiran melintas di benaknya.

Pikiran yang paling rasional, mungkin, namun mengerikan adalah bahwa Dieren, yang menyimpan dendam, telah mengirim seorang pembunuh terlatih untuk mengurung Liene secara paksa di dalam kamar.

[Black] "Liene!"

[Shellan] "Tidak apa-apa, Ayah."

Pelakunya bukan pembunuh bayaran.

Yang ada di balik pintu adalah anak-anak.

[Black] “... Shellan?”

[Shellan] “Ya. Mulai hari ini, Ibu akan tidur bersama kami. Ayah silakan kembali.”

Black memijat keningnya dengan ibu jari. Keningnya yang berkerut tajam terasa sakit.

[Black] “Shellan. Ini keterlaluan.”

[Shellan] “Tidak. Ini tidak keterlaluan.”

[Black] “Lebih baik kita bicara. Sekarang, buka pintunya.”

[Shellan] “Tidak bisa. Kami sangat kecewa pada Ayah.”

Sial. Aku mengerti, aku mengerti. Tapi kekecewaan itu adalah masalahmu sendiri, mengapa harus melibatkan Liene?

[Black] “Kalau begitu, masalah ini antara kau dan aku. Itu bukan alasan bagi kalian untuk mengganggu Liene. Buka pintunya. Sekarang juga.”

[Shellan] “Ayah telah mengkhianati dua orang. Menjadikan orang yang tidak Ayah cintai sebagai kekasih adalah pengkhianatan pertama. Dan memiliki kekasih lain adalah penghinaan terhadap Ibu. Itu pengkhianatan kedua.”

Pembuluh darah menonjol di sisi kening Black.

[Black] “Menghina, katamu? Kata-katamu salah. Aku tidak melakukan hal seperti itu.”

[Shellan] “Baik. Kalau begitu, Ayah membuat Ibu sedih. Bagaimanapun, itu tetap pengkhianatan. Pengkhianatan terhadap cinta.”

[Black] “Jangan berlebihan sesukamu. Aku tidak berniat membenarkan tindakanku, tetapi pembelaanku harus didengar oleh Liene, bukan olehmu.”

[Shellan] “Kalau begitu, silakan bicara dari sana. Kami tidak akan membuka pintu.”

Anak-anak ini benar-benar.

[Liene] “Tapi kami akan tidur sekarang, jadi tolong diamlah.”

...... Liene.

Black menunjukkan ekspresi penuh rasa kesal. Black harus tahu mengapa Liene diam saja, padahal anak-anak bertingkah begitu keras kepala.

Mungkinkah Liene juga marah lagi padaku seperti anak-anak?

Begitu pikiran itu muncul, sudut mata Black menggelap.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page