top of page

A Barbaric Proposal Side Story 8

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 17 Nov 2025
  • 7 menit membaca

Rencana mereka sempurna.

Perpustakaan Kerajaan Nauk buka sepanjang tahun karena banyak orang yang tinggal dan tidur di sana. Badai salju melanda pun, perpustakaan tidak akan ditutup tiba-tiba.

Si kembar pertama-tama menunggu para Nyonya, lalu makan kue yang dibawakan dengan nikmat.

Kemudian, dengan alasan mengantuk, mereka kembali ke kamar tidur masing-masing.

Setelah para Nyonya yang menyelimuti dan menepuk punggung mereka pergi, si kembar diam-diam menyelinap keluar dari tempat tidur.

Shellan tidak lupa menyarankan Dief meletakkan bantal di bawah selimut. Tidak ada yang akan berpikir mereka menghilang jika selimut mereka terlihat menggembung.

Kriiet, clang.

Shellan membuka perapian besi di salah satu sudut Galeri Raja.

[Dief] "Kita benar-benar akan lewat sini?"

[Shellan] "Ya."

Shellan mengangguk.

[Dief] "Tapi gelap sekali, dan ini perapian. Bagaimana jika kita terbakar sampai mati?"

[Shellan] "Dief pernah melihat perapian ini dinyalakan?"

[Dief] "Hmm? Sepertinya tidak."

[Shellan] "Bagus. Kita tidak akan terbakar sampai mati."

[Dief] "......"

Dief menelan ludah sambil melihat ke dalam perapian yang gelap.

Ketika Shellan bilang akan menunjukkan jalan ke perpustakaan, ia sangat gembira.

Pura-pura tidur dan menyelinap ke suatu tempat adalah perbuatan nakal. Namun, ia tidak bisa menolak.

Tidak adil jika Shellan punya rahasia yang tidak ia ketahui. Ia tidak merahasiakan apa pun dari Shellan.

Tapi ternyata rahasia itu gelap seperti ini.

Dief benar-benar enggan masuk ke tempat gelap tanpa obor.


A Barbaric Proposal: Side Story 8. Dief dan Shellan menyelinap keluar kamar. Mereka mencoba jalan rahasia di perapian yang hanya diketahui Klima, tetapi gagal karena terlalu gelap. Di Kantor Kerajaan, Shellan menemukan keanehan pada catatan Kerajaan. Si kembar kemudian menyelinap ke Ruang Permata, menduga Klima adalah Raja yang menyamar dan berencana balas dendam pada Keluarga Arsak. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

[Dief] "Terlalu gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa."

[Shellan] "Karena mengarah ke bawah tanah. Cepat masuk. Kita bisa ketahuan kalau begini terus."

[Dief] "Tunggu sebentar. Kau yakin ini jalannya?"

Dief menahan dorongan Shellan dengan sekuat tenaga.

[Shellan] "Ya. Aku sudah bilang aku selalu lewat sini setiap kali pergi ke perpustakaan."

[Dief] "Sungguh? Maksudku, sungguh? Tempat segelap ini?"

[Shellan] "Sir Renfel tahu jalannya dengan baik."

[Dief] "Shellan? Shellan juga tahu jalannya dengan baik?"

[Shellan] "......Kira-kira saja."

Sebenarnya, Shellan juga tidak bisa melihat apa-apa karena terlalu gelap. Klima bilang ia sudah terbiasa karena sering melewatinya. Shellan juga takut, jadi ia selalu dipeluk Klima saat berjalan.

[Shellan] "Kalau kau takut, minggir. Aku bisa pergi sendiri."

Shellan mendorong Dief ke samping dan masuk ke dalam perapian terlebih dahulu.

[Dief] "Haa......."

Dief menghela napas yang tidak seperti anak kecil. Sebuah helaan napas yang menunjukkan perasaan rumit bahwa meskipun ia tidak mau masuk, ia juga tidak bisa membiarkan Shellan pergi sendirian.

[Dief] "Mau bagaimana lagi."

Ia tidak bisa membiarkan Shellan sendirian di tempat menakutkan seperti itu.

Dief mengatupkan gigi dan mengikuti Shellan dari belakang.

Dan mereka kembali dalam waktu satu menit.

Mereka sama sekali tidak bisa menemukan jalan di dalam kegelapan.

Shellan menyerah total setelah berjalan sekitar lima langkah.

[Shellan] "Aku merasa semua indra arahku tumpul."

Shellan mengucapkan bahwa ia tidak bisa menemukan jalan dengan cara yang sangat anggun.

Dief tidak sepenuhnya mengerti apa maksud ucapannya, tetapi ia berpikir sangat melegakan bahwa indra arah Shellan menjadi tumpul.

Jika tidak, mereka akan benar-benar tersesat di kegelapan.

[Dief] "Mungkin bukan itu jalannya."

Dan Dief masih tidak percaya bahwa tempat seperti itu adalah jalan.

[Dief] "Itu perapian. Mengapa ada jalan di dalam perapian?"

[Shellan] "Karena itu jalan rahasia. Mereka sengaja menyembunyikannya."

[Dief] "Hmm...... Kenapa?"

[Shellan] "Untuk keluar masuk tanpa ada yang tahu."

[Dief] "Kenapa harus keluar masuk tanpa ada yang tahu?"

[Shellan] "Sebuah kastil harus memiliki jalan rahasia, karena kita tidak tahu apa yang mungkin terjadi pada Keluarga Kerajaan."

Anak-anak mulai bertukar cerita sambil duduk di depan perapian besi yang tidak terpakai.

Dief menepuk-nepuk debu yang menempel di pakaian Shellan.

[Dief] "Oh begitu...... Jadi Sir Renfel juga anggota Keluarga Kerajaan?"

[Shellan] "Apa? Anggota Keluarga Kerajaan harus memiliki nama Arsak. Dief bahkan tidak mengetahuinya?"

[Dief] "Aku tahu. Lalu bagaimana Sir Renfel tahu jalan rahasia ini?"

[Shellan] "Sir Renfel adalah Pengawal Pribadi Raja, kan. Jadi tentu saja ia harus tahu jalannya."

[Dief] "Oh, benar."

[Shellan] "......Tidak, bukan."

Dief yang mengangguk kaget ketika Shellan tiba-tiba menggelengkan kepala.

[Dief] "Apa yang bukan, Shellan?"

[Shellan] "Ada kontradiksi."

[Dief] "Apa kontradiksinya?"

[Shellan] "......."

Shellan tidak menjawab pertanyaannya.

Itu hal yang tidak bisa dihindari. Jika ia harus menjawab setiap hal yang tidak Dief ketahui, maka hari akan berganti.

[Shellan] "Sir Renfel menjadi Pengawal Pribadi Raja saat kita berusia tiga tahun. Ia bilang ia menjadi Ksatria secara resmi setelah menyelesaikan pelatihannya."

[Dief] "Ah...... Benarkah?"

Wajar saja Dief tidak punya ingatan saat berusia tiga tahun. Anehnya, Shellan bisa mengingatnya.

[Shellan] "Tapi Sir Renfel bilang ia tahu jalan ini dengan baik karena ia sudah melewatinya sejak kecil."

[Dief] "Aha. Begitu."

[Shellan] "Bukan 'Aha'. Bukankah aneh? Sir Renfel seharusnya baru tahu jalan ini sejak empat tahun lalu. Aneh kalau ia sudah tahu sebelumnya. Karena ia bukan Pengawal Raja sejak kecil."

Dief menepuk telapak tangan.

[Dief] "Benar. Kau benar."

[Shellan] "Kalau begitu, apakah Sir Renfel benar-benar anggota Keluarga Kerajaan?"

Shellan memiringkan kepala.

[Shellan] "Tapi itu juga tidak masuk akal, kan. Kalau ia Keluarga Kerajaan, mengapa ia menjadi Ksatria? Dan kenapa Nyonya Renfel adalah Kepala Pelayan Wanita?"

[Dief] "Hmm......."

Dief menopang dagu seolah ikut berpikir.

Namun, ia hanya bingung.

Jika Klima adalah anggota Keluarga Kerajaan, lalu bagaimana dengan Ibu dan Ayah mereka?

Ia tahu hanya ada satu Keluarga Kerajaan di sebuah Kerajaan. Sungguh tidak masuk akal.

[Dief] "Kalau begitu, bagaimana jika itu jalan rahasia yang tidak digunakan oleh Keluarga Kerajaan?"

[Shellan] "Tidak ada yang seperti itu."

Shellan bangkit.

[Dief] "Kau mau ke mana, Shellan?"

Dief buru-buru berdiri mengikuti Shellan.

[Shellan] "Aku penasaran. Aku harus mencari tahu."

[Dief] "Tentang apa? Apakah Sir Renfel anggota Keluarga Kerajaan atau bukan?"

[Shellan] "Ya."

Shellan tahu ada cara untuk mengetahuinya

Ada catatan Kerajaan di Kantor Ibunya.

Kedua anak itu berjalan dengan hati-hati meredam suara langkah kaki mereka menuju Kantor Kerajaan.

Tidak ada seorang pun di Kantor.

Kriiek.

Anak-anak menutup pintu lagi dan berdiri di depan rak buku.

Di rak buku, terselip buku-buku tebal, sangat besar, dan tua.

[Shellan] "Gelap. Aku tidak bisa melihat tulisannya dengan baik."

Di punggung buku tercantum tahun catatan Kerajaan. Karena tidak ada lampu, tulisan kecil dan samar tidak terlihat jelas.

[Dief] "Ya. Kita butuh cahaya."

Shellan memanjat kursi dan mengobrak-abrik meja.

Di atas meja ada lilin dan tempat lilin yang digunakan saat membaca. Ketika ia membuka laci, ada korek api juga.

Chit!

Shellan menyalakan lilin dengan korek api cukup terampil.

[Shellan] "Ambil ini, Dief."

Dief menerima tempat lilin.

[Shellan] "Pegang baik-baik."

Shellan menghitung tahun di kepalanya.

Penobatan Ibunya tujuh tahun lalu. Klima menjadi Pengawal Raja empat tahun lalu. Pernikahan Ibu dan Ayahnya delapan tahun lalu.

[Shellan] "Ini yang kita butuhkan."

Shellan, yang menyisir rak buku dari atas kursi, menemukan catatan sepuluh tahun yang lalu.

[Shellan] "Kita hanya perlu menemukan nama Raja sebelum penobatan. Jika nama Raja itu Renfel, semuanya masuk akal."

[Dief] "Begitu ya."

Dief mengangguk seolah kagum.

Namun, meskipun mereka mencari seluruh catatan sepuluh tahun yang lalu, mereka tidak dapat menemukan nama Renfel.

Sebaliknya, si kembar menemukan fakta lain.

Ada kekosongan catatan yang tidak jelas sebelum Raja Arsak yang pertama, yaitu kakek mereka.

[Shellan] "Aku tidak tahan karena penasaran."

Shellan memasukkan satu jari ke mulutnya dan menghentakkan kaki.

[Shellan] "Mengapa tidak ada?"

Nama-nama Raja sebelum Arsak adalah Gainers. Jika memang ada Raja bernama Renfel, ia pasti berada di dalam catatan yang hilang.

[Shellan] "Pasti sengaja dihilangkan. Pasti."

Dief, yang tidak dapat mengikuti apa yang Shellan katakan sejak tadi, mengangguk tanpa memahami apa-apa.

[Shellan] "Kenapa? Mungkinkah Raja Arsak merebut mahkota dengan kekerasan?"

[Dief] "Hah? Berarti, um......."

Dief memutar otak mencari kata asing.

[Shellan] "Pemberontakan."

[Dief] "Ah, ya. Pemberontakan. Pemberontakan hal yang sangat buruk, kan?"

[Shellan] "Tergantung alasan pemberontakannya. Raja sebelumnya mungkin seorang tiran yang tidak kompeten dan tidak berguna bagi Kerajaan."

[Dief] "Ehm...... Aku tidak tahu."

Shellan bukanlah tipe yang akan sabar menjelaskan kepada Dief yang tidak tahu apa pun.

[Shellan] "Jika Renfel adalah nama Keluarga Kerajaan, ini masalah yang sangat serius."

[Dief] "Kenapa?"

[Shellan] "Karena mungkin Sir Renfel menyembunyikan identitasnya dan mencoba membalas dendam pada Keluarga Arsak."

[Dief] "Hah? Balas dendam?"

Mata Dief terbelalak.

[Dief] "Itu juga hal yang sangat buruk, kan? Kalau ia membalas dendam...... apakah Ibu akan mati?"

[Shellan] "Aku tidak tahu."

Shellan menghentikan hentakan kakinya.

[Shellan] "Itulah mengapa aku harus mencari tahu."

[Dief] "Bagaimana? Catatannya hilang."

[Shellan] "Ya. Jadi aku harus mencarinya."

[Dief] "Di mana kau akan mencari catatan yang hilang?"

[Shellan] "Itu......."

Shellan berdiri diam, memejamkan mata, dan tenggelam dalam pikiran.

Renfel, bertubuh besar dan gesit. Orang baik yang selalu mengantarnya ke perpustakaan. Namun, ia tahu jalan yang seharusnya hanya diketahui Keluarga Kerajaan, sejak kecil.

Mungkin Renfel sempat menjadi Raja di antara Gainers dan Arsak. Jika itu benar, mungkin ia menyembunyikan identitasnya dan mencoba membalas dendam pada Keluarga Kerajaan Arsak......

Shellan menggigil.

Semakin ia memikirkannya, semakin menakutkan cerita itu.

Ketika Shellan takut, Dief ikut takut.

[Dief] "Shellan. Lalu kita harus bagaimana?"

[Shellan] "Pasti ada sesuatu yang tersisa."

Shellan menyimpulkan.

[Shellan] "Sama seperti jalan rahasia yang tersisa. Jika Renfel benar-benar Raja, ia pasti meninggalkan sesuatu."

[Dief] "Tapi kita belum pernah melihat apa-apa."

[Shellan] "Sir Renfel tidak ada di kastil sekarang, kan. Mari kita obrak-abrik kamarnya."

[Dief] "Ah......! Itu bisa dilakukan."

Kedua anak itu meninggalkan Kantor dan diam-diam menyelinap ke Menara Utara.

Menara Utara, yang digunakan sebagai barak oleh Ksatria Pelindung Arsak, kosong hari itu karena berbagai urusan.

Namun, setelah mengobrak-abrik kamar Klima, mereka tidak menemukan apa-apa.

Kamar Klima hanya berisi tempat tidur dan lemari, jadi sebenarnya tidak ada yang perlu diobrak-abrik. Meskipun mereka membalik bantal dan mengguncangnya, hanya bulu yang beterbangan.

Si kembar yang telah merusak satu bantal, memutuskan untuk pergi ke Ruang Permata.

Ruang Permata adalah tempat penyimpanan barang-barang antik, jadi itu tempat yang paling memungkinkan untuk menemukan sesuatu.

[Shellan] "Jangan angkat kepalamu, Dief."

[Dief] "Tapi begitu gelap dan sedikit menakutkan...... Baiklah."

Dief berbaring telungkup di lantai. Shellan menginjak Dief dan memasukkan kunci ke lubang kunci.

Sungguh menakjubkan bahwa Shellan tahu kunci Ruang Permata ada di kamar Ibunya. Tapi Shellan tidak memberitahu bagaimana ia bisa mengetahuinya.

Di mata Dief, Shellan orang yang lebih banyak menyembunyikan rahasia daripada Sir Renfel.

[Dief] "Berat, Shellan."

[Shellan] "Tahan sebentar. Kau tahu aku lebih ringan daripada dirimu."

[Dief] "Hmm......."

[Shellan] "Dan diam. Bagaimana jika kita ketahuan."

[Dief] "Ah, benar. Aku akan diam."

Dief menahan suaranya meskipun wajahnya berkerut.

Setelah mengutak-atik kunci untuk waktu yang lama, Shellan tiba-tiba bersorak.

Klik!

[Shellan] "Berhasil! Aku membukanya!"

Kriiek.

Pintu Ruang Permata terbuka.

Shellan, yang mengambil kunci dan memasukkannya ke saku doublet Dief, berjalan lebih dulu.

[Shellan] "Ayo masuk."

[Dief] "Ya."

Suara menelan ludah bergema di Ruang Permata yang kosong.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page