A Barbaric Proposal Side Story 7
- Crystal Zee

- 17 Nov 2025
- 7 menit membaca
[Shellan] "Ibu!"
Liene ada di taman belakang.
Taman belakang menjadi tempat paling indah di Kastil Nauk.
Air mancur yang dulunya kering dan penuh sarang laba-laba kini mengucurkan air kembali, dan pepohonan serta bunga yang melupakan musim memenuhi taman.
Meskipun sekarang musim dingin dan tidak semarak musim lainnya, taman itu memiliki keindahan yang tenang.
Liene berdiri di sudut taman belakang.
Setelah melihat punggung yang dikenalnya, Shellan berlari ke arah Liene.
[Randall] "Aduh! Tanahnya licin, Putri!"
Randall berteriak, tetapi Shellan berlari dengan lincah seperti tupai.
[Shellan] "Ibu!"
Shellan berlari dan langsung memeluk kaki Liene.
[Liene] "Shellan."
Liene melihat Shellan menggosokkan dahi di roknya untuk waktu yang lama, lalu menepuk punggungnya.
Sudah jelas apa yang terjadi pada Shellan yang ditarik dari perpustakaan hari itu.
Ia pasti sangat sedih.
Baik Shellan yang dimarahi, maupun Black yang memarahi.
[Liene] "Apakah perjalanan ke perpustakaan berjalan lancar?"
[Shellan] "......Tidak."
Jawabannya muram.
[Shellan] "Aku tidak bisa membaca bab terakhir. Sekarang aku baru bisa membacanya sebulan lagi. Ayah melarangku masuk perpustakaan selama satu bulan."
[Liene] "Oh. Pasti membuatmu kecewa."
Shellan menarik ingus dan bertanya.
[Shellan] "Satu bulan bukankah terlalu lama?"
Liene memalingkan wajah dan tersenyum sejenak tanpa suara.
Kadang-kadang putrinya yang begitu dewasa—hingga membuatnya bertanya-tanya apakah ia reinkarnasi dari masa lalu—bertingkah seperti anak tujuh tahun, dan sekaranglah saatnya. Tetapi tingkah kekanakannya sebagian besar terjadi setelah ia dimarahi oleh Black.
[Liene] "Entahlah...... terlalu lama atau sebentar, Shellan yang melanggar janji, jadi kau harus menerima konsekuensinya."
[Shellan] "......."
Shellan menutup mulutnya ketika menyadari tidak ada yang akan berubah.
Ibu dan Ayahnya adalah pasangan yang sempurna. Hubungan mereka begitu kuat sehingga tidak ada celah untuk dimasuki.
Mereka berdua mungkin juga bertengkar sesekali, tetapi orang lain tidak pernah melihatnya.
Jika Ayahnya bilang satu bulan, Ibunya juga akan bilang satu bulan.
Ia harus menunggu selama satu bulan.
Lalu, ia menjadi lebih sedih.
Shellan memeluk kaki Liene lebih erat.
[Shellan] "Apa yang Ibu lakukan di sini?"
Ia berusaha keras menahan tangis dan mengalihkan pembicaraan.
Seolah memahami perasaannya, tangan yang mengelus kepalanya menjadi lebih lembut.
[Liene] "Ibu sedang menunggu Shellan sambil melihat Dief membuat atap untuk sarang kelinci."
[Shellan] "......Itu memang sesuatu yang akan dilakukan Dief."
[Liene] "Badai salju akan dimulai dalam beberapa hari. Setiap tahun terjadi badai salju, tetapi tahun ini terlambat karena cuaca hangat. Sarang kelinci tidak boleh terkubur salju, kan."
[Shellan] "......Salju akan meleleh dengan sendirinya, sih."
Meskipun Shellan berkata begitu, Liene tahu bahwa Shellan adalah anak yang sangat baik.
Apa yang Shellan katakan barusan berarti salju akan meleleh dengan sendirinya, tetapi akan lebih baik jika atapnya dibuat.
[Dief] "Ah, Shellan juga datang."
Sementara Liene menghibur Shellan, Dief yang baru saja menyelesaikan atapnya mendekat dengan hidung penuh lumpur.
[Dief] "Aku juga mau dipeluk, Ibu."
Dief merentangkan kedua tangannya seolah akan memeluk kaki Liene yang lain.
[Shellan] "Tidak boleh."
Shellan melarangnya.
Suaranya cukup tajam.
[Dief] "Tidak boleh? Kenapa?"
Dief memiringkan kepala.
[Shellan] "Lihat penampilanmu. Kau penuh lumpur. Kau akan mengotori baju Ibu."
[Dief] "Ah......."
Dief pun menjadi muram. Ia menunduk, menepuk-nepuk lumpur di tubuhnya, lalu mengangkat kepala dan berkata.
[Dief] "Aku masih kotor, Ibu."
[Shellan] "Sepertinya bukan cuma ditepuk, tapi harus dicuci."
Shellan melambaikan tangan dengan tegas, mencoba mengusir Dief.
[Shellan] "Jangan dekat-dekat. Kau bisa menularkan kotoran."
[Dief] "......Uh......."
Dief menjatuhkan bahunya dengan sedih.
Saat-saat seperti ini membuat Liene agak canggung.
Jika ia mengatakan, "Tidak apa-apa kotor, peluk saja," Dief mungkin akan senang, tetapi Shellan akan marah.
[Liene] "Kalau begitu begini saja. Dief, jangan memeluk, tapi pegang tangan Ibu saja. Apa kau tidak menyukainya?"
[Dief] "Tidak. Aku juga suka memegang tangan ibu."
Liene kembali dari taman belakang, dengan putrinya tergantung di satu kaki dan tangan putranya dipegang di sisi lain.

Dua hari kemudian, badai salju dimulai.
Saat badai salju melanda, semuanya berhenti.
Tidak ada seorang pun yang bergerak di luar, dan semua orang bersembunyi di rumah, berkumpul di depan perapian.
Mereka sudah memotong kayu bakar dan mengisi penuh makanan sebelumnya.
Dan mereka bersyukur atas kehangatan yang mereka nikmati sekarang dan mengkhawatirkan orang lain yang tidak memiliki kehangatan itu.
Namun, tahun ini Kastil Nauk tidak bisa bersikap demikian.
[Fermos] "Fakta bahwa masih belum ada kabar berarti Tuanku terisolasi karena badai salju."
Ketegangan terasa di Kantor Kerajaan.
Black seharusnya sudah kembali sebelum badai salju dimulai. Jadwal patroli di perbatasan secara kebetulan bertepatan dengan datangnya badai salju yang terlambat karena cuaca yang luar biasa hangat.
Bagaimanapun, Black tahu bahwa badai salju akan dimulai. Berarti ia tahu persis kapan harus kembali ke kastil.
Namun, ia tidak kembali.
Fermos berpendapat Black pasti mengalami kecelakaan yang tidak dapat dihindari dan terisolasi di suatu tempat di luar sana.
[Fermos] "Kita harus mengirim orang untuk mencari. Seperti yang Anda tahu, tidak ada yang bisa bertahan di luar dalam cuaca seperti ini tanpa perlindungan."
[Liene] "Harus."
Liene menekan kecemasan yang mendalam dan mengangguk.
[Liene] "Baiklah. Kalau begitu, siapa yang harus pergi, dan berapa banyak?"
[Fermos] "Saya akan membawa dua puluh orang. Dan saya ingin meminjam Renfel (Klima). Tidak ada yang lebih baik daripada dirinya dalam melacak jejak."
[Liene] "Tentu saja."
Liene mencengkeram tangannya di bawah meja karena gelisah.
Fermos menyadari mengapa Liene sengaja tidak banyak bicara.
Ia pasti takut, karena Liene orang yang paling tahu betapa kerasnya musim dingin.
[Liene] "Kalau begitu, cepat berangkat. Jika memang terjadi kecelakaan, setiap saat sangat berharga. Ambil apa pun yang kau butuhkan tanpa meminta izinku. Entah itu kereta atau kereta luncur."
[Fermos] "Baik."
Fermos membungkuk.
Kebetulan, saat itu Randall mengetuk pintu kantor dan masuk.
[Randall] "Maaf, Yang Mulia. Ada hal mendesak yang harus saya sampaikan......."
[Liene] "Ada apa?"
[Randall] "Menara di Jembatan Alaudin runtuh."
[Liene] "Apa?"
Jembatan Alaudin adalah salah satu dari enam jembatan yang melintasi Sungai Evert.
Meskipun terbuat dari kayu, pergerakan di atasnya lebih banyak dibandingkan jembatan lain. Jembatan itu menghubungkan area komersial sehingga selalu ada orang yang melintasinya.
Runtuhnya menara merupakan masalah besar.
Jika menara di ujung jembatan runtuh, kemungkinan besar jembatan juga akan runtuh. Orang-orang mungkin jatuh ke sungai yang membeku.
[Randall] "Saya harus pergi dan memeriksa seberapa besar kerusakannya. Jembatan harus ditutup untuk berjaga-jaga. Alangkah baiknya jika Wakil Komandan yang pergi."
[Liene] "Tidak boleh."
Bukan Fermos yang menjawab, melainkan Liene.
Kecelakaan terjadi secara bersamaan. Meskipun hatinya terasa terbakar, pikirannya harus tetap dingin.
[Liene] "Sir Fermos, lanjutkan pencarian di perbatasan seperti yang kau rencanakan. Sir Randall, kau ikut denganku ke Alaudin."
[Randall] "Apa? Yang Mulia akan pergi sendiri?"
[Liene] "Aku tahu cukup banyak tentang topografi Alaudin. Dan aku pernah melakukan misi penyelamatan sebelumnya. Aku akan lebih membantu daripada orang lain. Sir Fermos, berangkatlah. Tidak perlu membuang waktu."
Wajah Fermos juga berubah, tidak kalah dengan Randall.
[Fermos] "Jika Tuan tahu Yang Mulia bergerak dalam cuaca seperti ini, ia tidak akan membiarkan saya begitu saja."
[Liene] "Itu urusan nanti. Dan ia yang salah, karena ia tidak kembali tepat waktu. Sampaikan padanya bahwa ini bukan kesalahan Sir Fermos, tapi kesalahannya."
Fermos menggelengkan kepalanya.
[Fermos] "Jika saya menyampaikannya, saya benar-benar tidak akan bisa selamat."
[Liene] "Mari kita lihat saja. Cepatlah berangkat."
[Fermos] "Kalau begitu...... Hah, baiklah."
Fermos memukul punggung Randall dengan kepalan tangan.
[Fermos] "Pastikan kau membawa Beliau kembali dengan selamat."
[Randall] "...... berlaku juga untukmu, Wakil Komandan."
[Fermos] "Ya."
Liene bangkit. Mereka juga harus bergegas.
[Liene] "Kalau begitu, mari kita bersiap dan pergi."
[Randall] "Baik, Yang Mulia."
Badai salju masih mengamuk.
Meskipun baru berusia tujuh tahun, mereka tahu bahwa badai salju menakutkan.
Namun, mereka tidak menyadari seberapa menakutkannya.
[Flambard] "Anda tidak lapar? Sudah cukup lama sejak Anda makan."
Setelah Liene berangkat ke Jembatan Alaudin, anak-anak menahan air mata.
Mereka tidak mengerti mengapa ibu mereka harus pergi dalam cuaca yang menakutkan, dan yang terpenting, mereka merasa ditinggalkan.
Meskipun para Nyonya merawat mereka dengan penuh perhatian, anak-anak tetap muram.
Shellan mengeluarkan papan catur tetapi berhenti menggerakkan bidak, dan Dief tidak merengek untuk ikut bermain seperti biasanya.
[Dief] "Aku tidak lapar......."
Si kembar, yang biasanya makan tanpa henti seperti anak sapi, menolak makan.
Wajah para Nyonya menjadi serius.
[Henton] "Tidak boleh. Kalau begitu, apakah Anda ingin makan kue saja?"
[Shellan] "Kue......."
Ia tidak menolak, tetapi tidak cukup untuk membangkitkan semangatnya.
[Flambard] "Saya akan membawakan kue yang lembut dan manis yang dibuat dengan banyak mentega dan gula, bukan kue yang biasa Anda makan. Saya juga akan membawakan krim hangat yang Anda berdua sukai."
Si kembar saling pandang.
[Shellan] "Bolehkah dimakan bersama selai plum?"
Shellan bertanya.
Kedua Nyonya dengan sigap mengangguk.
[Flambard & Henton] "Tentu saja."
[Shellan] "Kalau begitu aku mau makan."
[Henton] "Tunggu sebentar."
Nyonya Flambard dan Nyonya Henton dengan cepat bangkit dari tempat mereka.
Dalam cuaca seperti ini, orang normal pun cenderung merasa sedih. Para Nyonya harus menghibur si kembar dengan makanan lezat sebelum mereka menjadi lebih sedih.
Jika mereka terus bermuram durja seperti tadi, para Nyonya tidak akan tahan karena merasa kasihan.
[Flambard] "Kami akan segera kembali."
Kedua Nyonya buru-buru meninggalkan kamar si kembar.
[Dief] "Tapi ya......."
Si kembar ditinggal berdua di kamar.
Dief, yang menatap lilin yang entah mengapa lebih bergetar dari biasanya, membuka mulut.
[Dief] "......Aku sangat bosan."
Shellan, yang biasanya akan mendengus mendengar Dief bosan, mengangguk.
[Shellan] "Benar."
Tuk, guling.
Shellan menggulirkan bidak catur di papan.
Ia sudah berharap bisa bermain catur dengan Fermos pada hari seperti ini, dan ia sangat kecewa.
[Dief] "Sir Renfel juga tidak ada."
[Shellan] "Benar."
Klima (Renfel) adalah orang yang paling lama dan paling menyenangkan bermain dengan si kembar tanpa lelah.
Dief merindukan Klima yang bisa menggendongnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala, sementara Shellan merindukan Klima yang bisa membawanya diam-diam ke perpustakaan.
[Shellan] "......Tunggu."
Shellan, yang memikirkan sesuatu, turun dari kursi dengan susah payah.
[Dief] "Kenapa, Shellan?"
Shellan tidak menjawab dan mendekati jendela. Karena jendela terlalu tinggi untuk dilihat, ia menarik kursi di sebelahnya dan segera naik ke atasnya.
[Shellan] "Tidak ada orang di luar."
[Dief] "Tentu saja, kan ada badai salju."
[Shellan] "Sir Renfel tidak ada, Ibu tidak ada, dan Ayah juga tidak ada."
[Dief] "Ya......."
Dief bergumam sedih, sebaliknya, mata Shellan mulai bersinar penuh semangat.
[Shellan] "Sir Fermos tidak ada, dan Sir Randall juga tidak ada."
[Dief] "Aku tahu...... kenapa kau terus mengulanginya."
[Shellan] "Artinya, mereka tidak akan memperhatikanku."
[Dief] "Hmm......? Apa maksud mu?"
[Shellan] "Aku bisa pergi ke perpustakaan."
[Dief] "Apa?"
Dief terkejut dan membuka mulut lebar-lebar.
[Dief] "Bagaimana? Dalam cuaca ini?"
[Shellan] "Ya."
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar