top of page

A Barbaric Proposal Side Story 9

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 17 Nov 2025
  • 7 menit membaca

Semua lemari dan laci di Ruang Permata memiliki lubang kunci, dan semuanya terkunci rapat.

Anak-anak yang menarik semua pegangan laci, terengah-engah kelelahan.

[Dief] "Sepertinya kita harus keluar dan mengambil kuncinya."

Dief berkata sambil menyeka dahinya.

[Shellan] "Tidak bisa."

Shellan menggelengkan kepala.

[Shellan] "Para Nyonya memegang kuncinya setengah-setengah."

Mata Dief terbelalak karena terkejut.

[Dief] "Kau juga mengetahuinya, Shellan?"

[Shellan] "Aku pernah bertanya sebelumnya."

Ia bertanya sebelum berusia lima tahun, tetapi Shellan jarang melupakan sesuatu.

[Dief] "Kalau begitu tidak ada cara lain?"

[Shellan] "Entahlah."

Shellan yang kelelahan ambruk di lantai. Ia mendongak ke lemari laci yang lebih tinggi darinya dan juga terkunci, lalu bertanya.

[Shellan] "Apakah ada tempat lain di luar ini yang menyimpan barang-barang lama?"

[Dief] "Di mana saja bisa. Tapi kastil ini terlalu besar untuk kita berdua jelajahi."

[Dief] "Bagaimana jika kita meminta bantuan orang lain?"

Shellan mendengus mendengar ucapannya.

[Shellan] "Siapa? Para Nyonya? Salah satu Nyonya bermarga Renfel, kan?"

[Dief] "......Benar juga."

[Shellan] "Dan ini belum saatnya untuk memberi tahu orang lain."

[Dief] "Lalu bagaimana? Kita tidak bisa melakukan apa-apa sendirian."

[Shellan] "Kita harus mencari cara."

Shellan tenggelam dalam pikirannya.

Dief tahu betul bahwa ia tidak boleh mengganggu waktu berpikir Shellan. Jika ia terus berbicara tanpa tahu diri, Shellan akan sangat marah, atau bahkan bersikap dingin.

[Dief] "......"

Dief meninggalkan Shellan dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Duduk diam dan menunggu Shellan terasa membosankan. Seperti anak laki-laki seusianya yang lincah, Dief mulai mengintip ke sana kemari dan meraba-raba. Beberapa laci memiliki pegangan yang bisa ia genggam.

[Dief] "Uh...... uh oh?"

Entah bagaimana, saat ia berhasil berpegangan pada pegangan laci yang lebih tinggi dari kepalanya, tubuhnya menggantung.

Meskipun setiap laci terkunci, ketika Dief menggantung dengan berat tubuhnya, sebuah laci mulai miring sedikit demi sedikit ke depan.

[Dief] "Uh oh...... Shellan!"

Saat ia memanggil Shellan, sudah terlambat.

Gubrak!

Seluruh laci tumbang ke depan.

[Shellan] "Dief!"

Shellan yang terlambat melihat Dief melompat dan berlari ke tempat laci itu tumbang.

[Shellan] "......?"

Namun, Shellan tidak bergerak sampai Dief mengerang dan mendorong laci itu menjauh dari tubuhnya.

[Dief] "Aduh...... Shellan? Tolong bantu aku bangun."

Meskipun Dief berkata dengan wajah cemberut, Shellan tetap diam.

Air mata mulai menggenang di matanya karena kesedihan yang tak beralasan. Dief berusaha keras untuk tidak menangis di depan adiknya.

[Dief] "Shellan? Kau kenapa?"

[Shellan] "......"

[Dief] "Shellan. Aku sakit......."

Shellan mengabaikan kata-kata "sakit" dan melewati Dief.

Dief mengerang dan mendorong sedikit laci yang menindih tubuhnya.

[Dief] "Eh?"

Dan ia menyadari ada sesuatu yang aneh.

Ia jelas menjatuhkan laci, tetapi kerangka lemarinya masih berdiri di tempatnya.

Dasar dasar lemari itu tinggi, seolah-olah menyembunyikan laci lain.

[Shellan] "Dief. Kau tidak tahu sama sekali kalau lemarinya berbentuk seperti ini, kan?"

[Dief] "Hah? Iya...... Aku pikir itu hanya lemari biasa."

[Shellan] "Benar. Jadi ini sengaja dibuat seperti ini untuk menyembunyikan sesuatu."

Dief menyadari suara Shellan sedikit bergetar. Seperti saat ia sangat gembira dan tidak tahu harus berbuat apa.

Tok tok.

Shellan mengetuk dasar lemari yang tebal. Terdengar suara kosong dari dalam.

[Shellan] "Pasti ada cara untuk membukanya."

Shellan memiringkan kepala, mencoba menekan dan menggoyangkan dasar laci.

Dief yang merangkak keluar dari bawah laci berkata, lupa bahwa tadi ia kesakitan.

[Dief] "Coba kita jatuhkan lagi?"

Tentu saja Shellan tidak menolak. Lagipula, bukan Shellan yang akan kesakitan.

[Shellan] "Ya."

[Dief] "Hati-hati, Shellan. Minggir sana."

Dief menarik kerangka lemari yang tersisa.

Ia berencana menghindar sebelum kerangka lemari itu menimpanya lagi, tetapi ia tidak bisa melakukannya karena berat kerangka lemari yang menimpanya.

[Shellan] "Dief!"

Saat Dief hendak jatuh ke belakang, Shellan menarik ujung pakaian Dief dari belakang.

Namun, kekuatan anak-anak tidak cukup.

Bruk!

Kali ini mereka berdua tertimpa.

[Shellan] "Aduh......."

[Dief] "Ugh, sakit...... Kau baik-baik saja, Shellan?"

[Shellan] "Tidak baik-baik saja. Sakit."

Namun, karena mereka berdua tertimpa, dampaknya berkurang. Karena laci di dalamnya telah dikeluarkan, mereka tidak terluka parah.

[Shellan] "Eh......?"

Ditambah lagi, ada keberuntungan yang tidak disengaja.

Entah ujung kaki Shellan menyentuh sesuatu saat lemari tumbang, dasar lemari sedikit terbuka, dan kaki Shellan masuk sedikit ke celah itu.

[Shellan] "Dasarnya terbuka."

[Dief] "Hah? Apa, Shellan?"

[Shellan] "Kakiku...... Ah, jangan begini! Cepat singkirkan!"

Si kembar merangkak keluar dari bawah lemari sambil mengerang, lalu kembali mengerang sambil mendirikan lemari kembali.

Keringat bercucuran di seluruh tubuh mereka. Mendirikan lemari terlalu sulit untuk anak berusia tujuh tahun.

Namun, semuanya sepadan.

Dasar lemari yang sebelumnya mulus dan kokoh kini sedikit terangkat.

Shellan memasukkan jari ke celah itu dan mengangkatnya ke atas.

Tuk!

Apakah ada mekanisme? Karena hanya dengan sedikit tenaga, terdengar bunyi klik, dan seluruh permukaan atas dasar lemari terangkat.

[Shellan] "......Ini apa?"

Hanya ada satu benda di dalamnya.

Sebuah gulungan kertas yang dimeterai dengan segel. Kertasnya besar. Jika dibuka, mungkin setinggi Shellan.

[Dief] "Kita bisa membukanya?"

Karena ketegangan yang tidak perlu, Dief menelan ludah.

[Shellan] "Harus. Kita memang mencari ini, kan."

[Dief] "Tapi gulunganya disegel. Kita tidak boleh merobeknya sembarangan."

[Shellan] "Kalau begitu, ini juga barang yang seharusnya tidak kita cari karena tersembunyi sejak awal."

Setelah mendengarnya, ia merasa Shellan benar.

Akhirnya, anak-anak itu memutuskan untuk merobek segelnya.

Segel yang tercetak familiar di mata anak-anak. Itu segel Keluarga Arsak.

[Shellan] "Ini agak aneh...... Artinya yang menyembunyikan ini bukan Renfel, tapi Keluarga Arsak? Berarti Ibu."

[Dief] "Kita tidak bisa berpikir begitu hanya dari segelnya. Cepat robek saja."

Sreeek!

Dief merobek segelnya.

Mereka meletakkan kertas besar itu di lantai dan membuka gulungan.

Setiap kali mereka menggerakkan tangan, bagian dalam kertas terlihat.

Ternyata sebuah gambar.


A Barbaric Proposal: Side Story 9. Shellan & Dief menemukan potret tersembunyi Raja Pembrovin di Ruang Permata. Nyonya Renfel mengungkap identitasnya: Raja terakhir Gainers yang sangat mirip Black. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

[Shellan] "Hmm......."

[Dief] "Hmm......."

Anak-anak itu memasang wajah serius dan bingung setelah membentangkan gambar itu di lantai.

[Shellan] "Ini hanya sebuah gambar."

[Dief] "Mengapa Ibu menyembunyikan sebuah gambar?"

Gambar besar itu adalah potret yang luar biasa. Seorang pria mengenakan jubah bulu putih di bahu dan topi besar berhiaskan bulu peacock.

Dan ia mengenakan mahkota.

Shellan, yang dengan cermat melihat gambar itu, berkata.

[Shellan] "Ini Ayah."

[Dief] "Hah? Kenapa?"

[Shellan] "Matanya persis milik Ayah. Dan ia mengenakan mahkota. Di Nauk, yang memakai mahkota hanyalah Ibu dan Ayah."

Dief menggelengkan kepala dengan kuat.

[Dief] "Bukan, Shellan. Ini bukan Ayah. Orang ini agak gemuk."

[Shellan] "Bodoh. Lihat lebih dekat. Warna mata dan warna rambutnya sama persis dengan Ayah."

[Dief] "Tapi penampilannya berbeda. Aku tidak tahu."

[Shellan] "Dief. Kau pernah melihat orang lain dengan warna mata yang sama persis dengan Ayah?"

[Dief] "Hah?"

Dief terdiam sejenak memikirkannya.

[Dief] "Sepertinya tidak."

[Shellan] "Benar, kan? Dan jika dilihat lebih dekat, ia mirip ayah. Ia terlihat berbeda hanya karena gemuk. Orang akan terlihat berbeda jika mereka gemuk. Sir Weroz juga begitu, kan."

Akhirnya Dief setuju.

[Dief] "Ah, benar."

[Shellan] "Tapi aneh. Mengapa gambar Ayah disembunyikan?"

[Dief] "Hmm...... Karena dilukis saat ayah gemuk."

[Shellan] "Tapi ini Ayah."

[Dief] "Ibu mungkin tidak suka melihatnya saat ayah gemuk."

[Shellan] "Aku rasa tidak begitu......."

Tiba-tiba Shellan membalik gambar.

[Dief] "Kenapa, Shellan?"

[Shellan] "Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang tersembunyi."

Tidak akan ada alasan untuk menyembunyikan gambar biasa, hanya karena ayahnya sedikit lebih gemuk.

Shellan dengan rajin memeriksa bagian belakang yang tidak bergambar.

Yang ia temukan adalah bekas paku di tepiannya.

[Shellan] "Seperti ini pernah dipasang pada bingkai dan digantung di suatu tempat. Tapi aku tidak tahu di mana."

[Dief] "Wah...... Shellan tahu hal seperti itu juga."

[Shellan] "Itu hal yang bisa diketahui dengan sedikit pengamatan."

Shellan yang menjawab dengan angkuh menggosok matanya saat menemukan satu hal lagi.

[Shellan] "Dief."

[Dief] "Ya?"

[Shellan] "Lihat ini."

[Dief] "Di mana?"

[Shellan] "Di sini."

Yang Shellan tunjuk adalah lambang segel yang sedikit robek karena sebelumya mereka robek.

[Shellan] "Ini bukan nama Ibu."

[Dief] "Oh, benarkah?"

Segel Raja memuat lambang Kerajaan dan nama Raja. Si kembar membaca nama asing, yaitu “Reder” alih-alih nama Liene.

[Shellan] "Dia pasti Raja Arsak yang pertama."

[Dief] "Ya."

Berarti gambar itu disegel di masa lalu, jauh sebelum mereka lahir.

[Shellan] "Kalau begitu ini tidak masuk akal...... Ayah mengenakan mahkota."

Ayah mereka mengenakan mahkota setelah mereka berdua melakukan upacara penobatan dan menjadi penguasa Nauk bersama.

[Shellan] "Apalagi, era Raja pertama sudah sangat lama. Ayah pasti masih kecil saat itu, sama seperti kita."

[Dief] "Ah, benarkah? Jadi ia gemuk karena masih kecil?"

[Shellan] "Dasar bodoh. Ini orang dewasa yang gemuk, bukan anak kecil yang gemuk. Ini bukan Ayah."

[Dief] "Hmm? Kau bilang itu Ayah?"

[Shellan] "Benar, tapi......."

Setelah Shellan berpikir itu Ayahnya, sekarang ia melihatnya sebagai Ayah yang gemuk.

Si kembar, yang tidak bisa berpikir gambar itu adalah orang lain, tenggelam dalam kebingungan.

[Shellan] "Lalu apa sebenarnya ini......."

Saat itu juga.

Bum!

[Renfel] "Anda di sini!"

Pintu Ruang Permata terbuka dengan keras.

[Dief] "Astaga!"

[Shellan] "......."

Si kembar terkejut dan menoleh.

Pada saat yang sama, Shellan dengan cepat bergerak untuk mencoba menutupi gambar.

Orang yang masuk ke Ruang Permata adalah Nyonya Renfel, Kepala Pelayan Wanita.

Dief menelan ludah dan menarik tangan Shellan untuk menggenggamnya.

Mereka mulai mengobrak-abrik Ruang Permata karena mereka curiga dengan identitas Sir Renfel. Nyonya Renfel dan Sir Renfel tidak berbeda.

[Renfel] "Anda tahu betapa susahnya saya mencari Anda? Mari kita kembali sekarang. Kenapa Anda bermain di sini? Ini bukan tempat untuk bermain, dan berbahaya karena banyak perabot...... Oh tidak. Kalian sudah menumbangkan satu lemari."

Nyonya Renfel tidak mungkin tidak melihat lemari yang terbalik.

[Renfel] "Kemarilah. Apakah ada yang terluka?"

Nyonya Renfel merendahkan tubuhnya dan pertama-tama memeriksa tangan Shellan.

Shellan hendak mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tetapi Nyonya Renfel dengan ketajaman matanya menemukan bahwa ujung kuku Shellan sedikit terkikis.

[Renfel] "Huh....... Sedikit saja salah, Anda pasti akan memar parah."

[Shellan] "......."

[Renfel] "Bagaimana ini. Saya harus memotong kuku Anda. Jika kuku Anda kasar, mungkin bisa menggores kulit saat mencuci muka. Di mana bagian lain yang terluka?"

[Shellan] "......."

Kata-kata dan tindakan Nyonya Renfel lembut dan ramah seperti biasanya.

Ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang punya niat buruk.

Dief pasti berpikiran sama. Jika tidak, ia tidak akan terus melirik ke samping.

[Renfel] "Kalau begitu, sekarang Pangeran Dief. Kemarilah. Apakah Pangeran terluka...... Oh, astaga."

Nyonya Renfel, yang mengubah sudut pandangnya untuk memeriksa Dief, menemukan gambar yang disembunyikan dengan canggung oleh si kembar.

[Renfel] "Apa yang Anda temukan?"

[Shellan] "Um, itu......."

Saat si kembar saling bertukar pandangan karena mereka belum pernah diajari cara berbohong, Nyonya Renfel mengambil gambar yang jatuh di lantai.

Mata Nyonya Renfel melebar.

[Renfel] "Ya ampun, ini...... Gambar ini masih ada......."

[Shellan] "Anda tahu siapa dia?"

[Dief] "Apakah itu benar-benar Ayah saat gemuk?"

Saat Nyonya Renfel memegang gambar itu dan melihatnya, si kembar dengan cepat bergelantungan di rok sang Nyonya.

Nyonya Renfel jelas tahu sesuatu tentang gambar itu.

Ekspresinya yang tidak bisa mengalihkan pandangan dari gambar, dan tangannya yang sedikit gemetar, adalah buktinya.

[Renfel] "Ini Raja Pembrovin."

[Dief] "Siapa dia?"

Nyonya Renfel menghela napas pelan yang hampir tidak terdengar.

[Renfel] "Ia adalah Raja terakhir dari Keluarga Kerajaan Gainers."

[Dief] "Gainers?"

Dief memiringkan kepala.

[Dief] "Tapi kenapa ia terlihat seperti Ayah?"

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page