A Barbaric Proposal Side Story 6
- Crystal Zee

- 10 Nov 2025
- 7 menit membaca
Meskipun masih musim dingin, hari itu matahari bersinar hangat.
Musim dingin tahun ini tidak terlalu dingin. Air mancur di taman mengalir jernih tanpa membeku. Gedung batu abu-abu megah yang berdiri di depan air mancur sangat ramai hari ini.
Tempat itu adalah Perpustakaan Kerajaan yang didirikan empat tahun lalu.
Dikenal sebagai tempat dengan koleksi buku terbesar di bagian selatan benua. Selain itu, tidak seperti perpustakaan lain yang membatasi akses dengan ketat berdasarkan status, Perpustakaan Kerajaan Nauk dapat diakses dengan bebas oleh siapa pun.
Karena alasan itu, jumlah orang asing di Nauk semakin bertambah akhir-akhir ini.
Para cendekiawan yang datang untuk melihat koleksi Perpustakaan Kerajaan terkadang langsung betah dan menetap di sana. Seluruh Nauk terasa ramai dan bersemangat.
Hal yang sama terjadi di perpustakaan.
Meskipun seharusnya perpustakaan sunyi senyap seperti tidak ada tikus, Perpustakaan Kerajaan Nauk sangat bebas.
Ada orang yang menulis sesuatu di lantai dengan kapur sambil bergumam, dan ada pula yang berdiri di meja untuk membaca dengan suara keras.
Ada yang berdiskusi tentang teori mana yang benar, dan terkadang berkembang menjadi pertengkaran besar.
[Dief] "Shellan!"
Suara muda seseorang ditambahkan ke dalam keributan.
[Dief] "Shellan! Kau di mana? Kau di sini, kan?"
Anak laki-laki itu terlihat seperti berusia delapan atau sembilan tahun.
Usia sebenarnya adalah tujuh tahun, tetapi ia tampak lebih besar karena tingginya di atas rata-rata.
[Dief] "Shellan!"
Anak laki-laki itu berlari melintasi rak-rak buku yang menumpuk tanpa akhir, dan kemudian sekelompok ksatria memasuki perpustakaan.
[Randall] "Kau ke sisi sana, kau ke sisi itu, kau dan kau mulai dari belakang sana."
Setelah memberi arahan, para ksatria dengan cepat menyebar ke dalam perpustakaan.
Meskipun wajar untuk si anak, masuknya ksatria seharusnya menarik perhatian, setidaknya sekali. Tetapi semua orang hanya melakukan pekerjaan mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Berarti para ksatria sering masuk ke perpustakaan.
[Dief] "Shellan!"
Anak laki-laki terus memanggil nama dengan suara yang jernih dan nyaring.
[Dief] "Ah...... Ketemu!"
Akhirnya, anak laki-laki menemukan Shellan yang sedang duduk di sudut paling bawah rak buku, menarik sebuah buku dan meringkuk di dalamnya.
Shellan telah menata buku-buku besar bersampul kulit secara efektif untuk mempertahankan ruang yang cukup nyaman untuknya sendiri.
[Dief] "Shellan. Cepat keluar."
Meskipun ketahuan bersembunyi, wajah Shellan tetap tenang.
[Shellan] "Tunggu sebentar. Biar aku selesaikan bacaan ini dulu."
Anak laki-laki mengangkat jarinya dan memperkirakan sisa halaman.
[Dief] "Masih sebanyak ini? Sebelum itu, Sir Randall akan menangkap mu, tahu?"
[Shellan] "Kalau Dief mengulur waktu, mungkin tidak akan terjadi."
[Dief] "Aku?"
Anak laki-laki yang dipanggil Dief membulatkan mata sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari.
[Shellan] "Jika kau berjalan ke sisi yang berlawanan, Sir Randall akan mencari ke sana duluan."
[Dief] "......Itu namanya berbohong, tahu."
[Shellan] "Jika tidak ingin berbohong, kau tidak perlu mengatakan apa-apa padanya."
[Dief] "Tapi......."
Shellan menghela napas yang tidak seperti anak tujuh tahun dan menatap kakak kembarnya, Dief.
Meskipun ia dipanggil kakak, ia hanya lahir dua menit lebih awal.
Shellan merasa waktu dua menit bukanlah angka yang signifikan untuk menjadikan seseorang yang lebih senior ketika dilihat dalam konteks kehidupan manusia.
[Shellan] "Dasar terlalu polos, memang kau mirip siapa sih?"
Dief, anak laki-laki itu, tersenyum, melengkungkan mata hijau nya yang hangat.
[Dief] "Aku mirip Ibu."
Sudah pasti.
Rambut pirang halus yang bergelombang dan mata hijaunya, tak terbantahkan lagi. Hidungnya yang bulat dan kesan wajahnya yang lembut juga mirip Liene.
Karena itu, Shellan tidak mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti hati kakak kembarnya.
Orang yang paling disayangi Shellan adalah Ibunya, dan jika ia membuat Dief menangis, Shellan merasa tidak nyaman, seolah-olah Ibunya yang menangis.
[Shellan] "Kalau begitu, setidaknya kecilkan suaramu. Hanya selama aku bisa menyelesaikan ini."
[Dief] "Aku bisa melakukannya."
Dan Dief, meskipun tidak bisa memahami semua yang dikatakan oleh adiknya yang lahir dua menit lebih lambat, berpikir bahwa karena ia adalah kakaknya, ia harus mengalah dalam segala hal.
[Dief] "Mau aku tumpuk buku lebih banyak di sini? Agar Shellan tertutup dengan baik."
[Shellan] "Tidak usah. Begitu mereka melihat Dief, mereka akan tahu aku ada di sini."
[Dief] "Meskipun aku tidak terlihat?"
[Shellan] "......Meskipun kau tidak terlihat."
Sungguh aneh.
Ibu dan Ayah sama-sama pintar. Dief sebenarnya mirip siapa?
Saat Shellan menggelengkan kepala, rambut hitamnya yang dipotong rapi berayun di tengkuknya.
Shellan lebih suka rambut pendek karena tidak suka rambutnya menyentuh leher saat membaca.
Rambut pendek juga lebih mudah dicuci dan dikeringkan. Satu-satunya rambut panjang yang Shellan sukai adalah rambut Ibunya.
Karena rambut Ibu lebih indah jika panjang.
Mata biru muda yang memikirkan hal itu, memiliki ekspresi yang persis sama dengan Ayahnya.
Shellan kembali fokus pada bukunya.
Dief duduk diam tanpa mencoba berbicara dengannya.

Shellan tahu bahwa tindakan Dief yang sangat mengagumkan untuk anak tujuh tahun.
Meskipun Shellan mengatakan Dief tidak pintar, sebenarnya Dief cukup baik dibandingkan anak tujuh tahun lainnya.
Anak-anak dari Grand Duchy Alito yang pernah berkunjung ke Nauk adalah bencana. Shellan sama sekali tidak percaya diri untuk melanjutkan percakapan dengan mereka.
Saat sisa halaman berkurang setengahnya.
[Randall] "Putri Shellan! Anda di sini!"
Randall muncul.
[Randall] "Dan Pangeran juga! Mengapa Anda tidak memberi tahu saya setelah menemukan Putri lebih dulu!"
[Dief] "Uh...... Itu......."
Saat Dief memutar-mutar mata, tidak dapat menemukan alasan, Shellan sedikit mengangkat bukunya.
[Shellan] "Aku hanya perlu menyelesaikan bacaan ini."
[Randall] "Haa......, Maaf, tapi itu bukan masalah yang bisa saya toleransi."
[Shellan] "Aku sudah tahu kau akan bilang begitu."
Shellan sedikit menggerakkan bibirnya yang seperti buah persik kecil dan meletakkan buku yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya.
Shellan tidak keras kepala karena ia tahu percuma saja.
Fakta bahwa Randall datang membawa ksatria berarti yang mencarinya adalah Ayahnya.
Ayahnya baik dalam segala hal, tetapi ia ketat soal membaca buku.
Ia membatasi waktu membaca dan mengurangi jumlah buku yang boleh dibaca. Beberapa buku bahkan sama sekali tidak boleh Shellan sentuh.
Shellan tidak mengerti mengapa.
Mengapa harus begitu?
Hal yang paling menyenangkan bagi Shellan adalah saat ia mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui sebelumnya. Cara termudah untuk melakukannya adalah dengan membaca buku, tetapi Ayahnya dan orang dewasa lainnya bersikap seolah membaca adalah hal paling berbahaya di dunia.
Itu aneh dan bertentangan dengan akal sehat dunia.
Tapi Ayah hanya bersikap seperti itu padaku. Melihat dia tidak melakukannya pada Dief, pasti ada alasannya.
Shellan, yang sangat pintar untuk anak tujuh tahun—hingga mengkhawatirkan, bahkan bisa menduga ada alasan khusus.
Aku harus mencari tahu alasannya bagaimanapun caranya.
Agar hidupku nyaman di masa depan.
[Shellan] "Dief. Bantu aku. Kita harus membereskan yang buku yang aku buat berantakan sebelum pergi."
[Dief] "Oke, akan kubantu."
Dief dengan mengagumkan membantu merapikan buku.
[Randall] "Kalian berdua duduk saja. Saya akan menyelesaikannya dengan cepat."
Tentu saja, buku-buku di perpustakaan terlalu besar dan berat untuk anak tujuh tahun, sehingga sebagian besar dirapikan oleh Randall.
Meskipun begitu, pikiran Shellan bahwa Dief adalah anak tujuh tahun yang paling berguna di dunia, tidak berubah.
Ia bersyukur kakak kembarnya adalah Dief. Jika Dief seperti anak-anak Grand Duke Alito, Shellan lebih suka tidak punya saudara.
[Black] "Shellan."
Shellan menelan napas dalam hati.
Ini baru permulaan.
Sikap tegas Ayahnya.
[Black] "Kau sudah berjanji, kan."
[Shellan] "......."
[Black] "Ke perpustakaan hanya seminggu sekali. Dan kau harus memberitahuku judul buku yang akan dibaca sebelumnya."
[Shellan] "......Ya."
[Black] "Jika kau terus melanggar janji, itu merepotkan."
[Shellan] "......."
Ketika Ayahnya menghilangkan ekspresi dari wajahnya, Shellan merasa suhu di sekitarnya menjadi dingin.
Shellan merasa canggung dengan Ayahnya.
Satu-satunya saat Ayahnya tersenyum tulus adalah ketika ia berhadapan dengan Ibunya.
Padahal sifatnya juga mirip dengan sang Ayah, tapi Shellan tidak menyadarinya dan hanya merasa Ayahnya adalah orang yang kaku.
Ayah dan anak perempuan yang terlihat mirip, juga memiliki kepribadian yang serupa.
[Shellan] "Lain kali aku akan menepati janji."
[Black] "Tidak. Kau sudah melanggarnya dua kali. Aku tidak bisa membiarkannya berlalu begitu saja untuk kali ketiga."
Shellan mengangkat kepalanya yang tadinya menatap ujung kaki dan bertanya.
[Shellan] "Lalu ayah akan melakukan apa?"
Black mengusap dagunya.
Shellan mungkin tidak percaya, tetapi memberikan hukuman juga sulit bagi sang ayah.
[Black] "Dilarang masuk perpustakaan selama satu bulan."
Shellan membuka mulut hingga dagunya sakit.
[Shellan] "Astaga......, itu sangat berlebihan!"
[Black] "Kau yang melanggar janji, Shellan."
[Shellan] "......."
Mata biru mudanya bergerak-gerak dengan berbagai emosi.
Wajahnya, yang sangat mirip Black hingga sulit dipercaya, terlalu cantik bahkan untuk disebut cantik. Shellan menggerakkan pipi kecilnya dan mengeluh dengan suara merajuk.
Ekspresinya saat ini barulah terlihat seperti anak tujuh tahun. Sebenarnya, satu-satunya saat Shellan bersikap seperti anak kecil adalah ketika ia dimarahi oleh Black.
[Shellan] "Selama satu bulan itu, aku mungkin akan menjadi bodoh. Nauk akan menerima orang bodoh sebagai raja mereka di masa depan. Itu akan merugikan semua orang di negeri ini."
[Black] "Bukan bodoh, kau hanya akan menjadi anak tujuh tahun biasa."
[Shellan] "Keduanya sama saja."
[Black] "Tentu tidak."
Black menggelengkan kepalanya ringan.
Tidak ada yang tahu kecuali Liene, tetapi Black cukup lunak terhadap anak-anak.
Satu-satunya hal yang ia tegaskan adalah kebiasaan Shellan membaca buku secara berlebihan. Sesuatu yang harus ia waspadai mengingat penyakit genetik Keluarga Kerajaan Gainers.
Sangat wajar jika ia mencintai putrinya yang cerdas dan cantik. Namun, ia tidak bisa hanya bergembira tanpa batas.
Bergembira tanpa batas selalu menjadi hal yang menyakitkan bagi Black.
[Black] "Belajarlah bagaimana bermain seperti anak tujuh tahun selama satu bulan. Dief akan mengajarimu dengan baik."
Shellan terus memajukan bibirnya dan berkata.
[Shellan] "Ayahku pasti satu-satunya orang tua di dunia yang berharap anaknya menjadi bodoh."
[Black] "Tidak seperti itu, Shellan. Aku hanya ingin kau normal dan sehat."
[Shellan] "Sama saja."
[Black] "Sudah kukatakan. Dan aku tidak berniat menyetujui kekeraskepalaanmu. Kau boleh pergi sekarang."
[Shellan] "......"
Shellan menghentakkan kakinya dengan marah, memberi hormat paksa, lalu berbalik.
[Black] "Ah, satu hal lagi."
[Shellan] "......?"
[Black] "Berhentilah menggunakan Renfel (Klima) untuk menyelinap ke perpustakaan. Renfel punya pekerjaan lain."
Orang yang membantu Shellan menyelinap keluar kastil dan pergi ke perpustakaan adalah Klima (Renfel).
Mengetahui bahwa Black juga mengetahuinya, berarti Shellan tidak bisa lagi menyelinap ke perpustakaan.
[Shellan] "......."
Shellan memanyunkan bibirnya sejenak lalu mengetuk pintu.
Tidak peduli seberapa memelas ia menatap, Ayahnya tidak akan berubah pikiran.
Randall di luar membukakan pintu untuknya.
[Randall] "Anda dimarahi?"
Randall dengan hati-hati memperhatikan ekspresi Shellan.
Setelah dimarahi habis-habisan, mustahil suasana hatinya baik.
[Shellan] "......Ibu di mana?"
Shellan mencari Liene dengan wajah muram.
Satu bulan ke depan terasa sangat mengerikan. Ketika ia sedih, ia perlu waktu untuk bermanja-manja di samping Ibunya.
[Randall] "Beliau mungkin ada di taman belakang sekarang."
Randall berlutut menghadap Putri yang jauh lebih kecil darinya.
Wajah kecil yang persis mirip Black terlihat begitu menggemaskan saat merajuk, sehingga Randall kesulitan menahan tawa.
[Randall] "Saya akan mengantar Anda."
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar