top of page

A Barbaric Proposal Side Story 5

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 10 Nov 2025
  • 7 menit membaca

Kemunculan Black berarti ia baru saja menyelesaikan urusannya dan kembali ke kastil.

Berarti ia langsung mencari Liene begitu kembali, dan ia tidak punya niat untuk bersikap toleran pada siapa pun.

[Liene] "Ah, kau sudah kembali?"

[Black] "Karena aku merindukanmu."

Black masuk sambil tersenyum dan mencium kening Liene.

Wajah Liene menjadi sangat lembut, tetapi tidak demikian dengan orang lain. Semua orang kaku karena terkejut.

Berteriak dan bertengkar di depan Liene yang sedang hamil jelas bukan pemandangan bagus.

[Black] "Mengapa kau ada di sini? Aku khawatir karena tidak melihatmu."

[Liene] "Tadi ada kecelakaan. Kau lihat semua orang terluka, kan?"

[Black] "Begitu."

Black sekilas memandangi orang-orang yang terluka.

Setelah melihat sekilas bahwa bukan cedera serius, ia mengangguk ringan.

[Black] "Akan sembuh dalam dua hari. Untunglah."

[Liene] "Wah. Bagaimana kau bisa tahu? Tabib juga bilang begitu."

[Black] "Kau tidak perlu khawatir berlebihan."

Berarti ia ingin Liene kembali ke kamarnya.

Liene menggelengkan kepala sambil tersenyum.

[Liene] "Kami berencana minum teh bersama. Aku ingin makan pir panggang, ditaburi bubuk kayu manis."

[Black] "Jadi karena itu kau membunyikan bel?"

[Liene] "Tepat sekali. Mereka semua sakit, dan aku tidak bisa bergerak leluasa."

Black terkekeh.

[Black] "Kalau begitu aku akan mengambilkannya. Tapi masukkan aku juga dalam kelompok kalian."

Mulai dari Klima, raut wajah para Nyonya berubah agak pucat.

[Klima] "Ti-tidak, Anda tidak perlu melakukannya...... S-saya saja yang ambil......."

[Henton] "Saya juga akan membantu."

[Flambard] "Saya juga......."

Tentu saja, perkataan pasien-pasien itu tidak ada gunanya.

[Black] "Teh dan pir panggang. Dan apalagi?"

[Liene] "Hmm...... Apa pun yang ingin kau makan."

[Black] "Baiklah. Tunggu sebentar."

Black meninggalkan kamar Nyonya Henton.

Tak lama kemudian, makanan ringan disajikan di kamar Nyonya Henton.

Meskipun jamuan makanan ringan, suasananya tidak santai atau elegan.

Karena para Ksatria Tiwakan berbondong-bondong datang begitu mendengar Klima terluka.

[Tiwakan 1] "Apa? Tidak bisa menangani dua wanita sampai terjatuh? Anak ini harus dilatih lebih keras."

[Tiwakan 2] "Itu karena kurang latihan. Bagaimana kau bisa bertahan hidup jika begitu lemah."

Meskipun kata-kata mereka seperti itu, mereka semua datang membawa banyak barang. Hadiah untuk menjenguk, tetapi sayangnya, sebagian besar adalah alkohol.

Karena Liene sangat sensitif terhadap bau, tidak ada yang membuka botol alkohol.

Liene terus tersenyum sambil menggigit pir yang hangat dan manis dengan bunyi kres, kres.

[Liene] "Aku baru sadar kamarnya sekecil ini. Rasanya hangat, meskipun musim dingin."

[Black] "Sepertinya kau senang karenanya."

[Liene] "Tentu saja. Semua orang terlihat bahagia, kan?"

Liene menyuapkan sepotong pir ke mulut Black.

Pir musim dingin menjadi lebih manis ketika dipanggang. Black menerima pir itu tanpa banyak bicara.

[Black] "Apakah bau makanan lain tidak mengganggumu?"

[Liene] "Sejauh ini baik-baik saja. Pirnya enak."

Karena banyak orang, makanan pun bertambah secara alami.

Entah bagaimana, suasananya berubah menjadi seperti pesta kecil, bukan lagi sekadar minum teh.

Para pasien, yang awalnya merasa canggung, sekarang berbagi makanan dengan santai.

Suasananya ceria sepanjang waktu, kecuali ketika seseorang tanpa sadar mencoba membuka botol alkohol dan langsung dilarang oleh tatapan tajam kedua Nyonya, sehingga ia langsung terduduk.

[Fermos] "Tidak......! Bocah-bocah ini! Mereka tidak memanggilku saat ada acara seperti ini?"

Fermos tiba terlambat.

Fermos terlambat mendengar kabar jamuan karena ia terkubur dalam berbagai dokumen resmi di kantor kerajaan.

Saat ia tiba, tujuan awal untuk menjenguk Klima sudah hilang.

Semua orang duduk di ruangan yang hangat, mengobrol, dan berbagi makanan dalam suasana seperti pesta kecil.

Klima, yang entah sejak kapan berhenti merintih, bangkit dari tempat tidur dan sibuk membagikan makanan.

Akibatnya, tempat tidurnya ditempati oleh orang lain.

Liene dan Black duduk di tengah, diapit oleh kedua Nyonya di sisi kiri dan kanan.

[Liene] "Ah, Anda ada di kastil, Sir Fermos?"

[Fermos] "Tentu saja aku ada di kastil! Seharusnya kalian mencariku!"

Fermos mengetuk kacamatanya dan menyelinap masuk ke tempat semua orang berkumpul di depan perapian.

[Fermos] "Apa yang kau makan? Beri aku sedikit."

[Ksatria] "Mengapa Anda menginginkan makanan orang lain? Makanlah yang lain."

[Fermos] "Cepat berikan sebelum aku membuatmu memuntahkan yang sudah masuk ke perutmu."

[Ksatria] "......Silakan."

Liene selesai makan pir dan menusuk-nusuk lengan baju Black.

[Liene] "Apa yang Fermos ambil? Aku juga mau memakannya."

[Black] ".......Ah, kau tidak akan bisa memakannya."

[Liene] "Kenapa?"

[Black] "Itu jantung ayam panggang yang diberi banyak bawang putih. Baunya akan menyengat."

[Liene] "Tapi terlihat enak."

[Black] "Kalau begitu cobalah. Jika tidak bisa, ya sudah."

Kebetulan, jantung ayam panggang yang dicuri Fermos adalah potongan terakhir.

[Flambard] "Aduh, kalau begitu Anda harus makan. Saya akan segera pergi ke dapur."

Nyonya Flambard bangkit karena kebiasaan.

Namun, meskipun hatinya bersemangat, ia masih harus berjalan dengan tongkat.

Kebetulan tongkatnya diletakkan di sisi Nyonya Henton duduk.

Alih-alih menyerahkan tongkat itu, Nyonya Henton hanya mendengus.

[Henton] "Sepertinya harus orang lain yang pergi."

Nyonya Henton meletakkan garpu yang ia pegang dengan tangan kirinya dan berdiri.

Bagi Liene atau Black, keduanya sama saja.

[Black] "Kalian berdua duduk saja. Mau pergi ke mana?"

Black menjentikkan jarinya dan membuat suara. Para Tiwakan langsung mengalihkan pandangan.

[Black] "Pergi ke dapur. Makanan tidak cukup."

[Tiwakan] "Baik, Tuanku."

Gerakan mereka cepat dan tegas.

Nyonya Flambard, yang merasa malu, melirik ke belakang Liene.

Kenapa tongkat di sebelahmu tidak kau ambilkan dengan cepat? Putri kita ingin makan, tentu saja aku yang harus sigap mengambilkannya.

Kira-kira itu maksudnya.

Nyonya Henton tidak melewatkan lirikannya. Nyonya Henton menyipitkan mata dan mendengus.

Wajahnya seolah berkata, Hah, memangnya kau bisa pergi dengan kaki seperti itu.

[Flambard] "......Aku benar-benar."

Nyonya Flambard menggertakkan gigi.

[Liene] "Nyonya? Ada apa?"

Liene terkejut dan memegang bahu Nyonya Flambard.

[Flambard] "Ini semua gara-gara seseorang, aku jadi terluka separah ini."

[Henton] "Apa kau menyalahkanku sekarang?"

Nyonya Henton juga tidak tinggal diam.

[Flambard] "Tidak, wajar saja orang jatuh kalau kau menariknya."

[Henton] "Siapa yang menarik duluan?"

[Flambard] "Apa maksudmu? Apakah kau mengatakan aku yang menarikmu?"

[Henton] "Sepengetahuanku, begitu."

[Flambard] "Tidak, kapan aku......!"

Tepat ketika suara mereka akan meninggi, Black memotong pertengkaran mereka dengan cepat.

[Black] "Hentikan. Anak kami mendengarnya."

Liene juga merasa sudah waktunya angkat bicara.

[Liene] "Bagaimana kalau kalian berdua berdamai?"

Nyonya Flambard memalingkan muka karena malu.

[Flambard] "Berdamai? Itu hanya bisa dilakukan jika pihak lain memiliki niat yang sama."

[Liene] "Kalian punya niat yang sama."

[Flambard] "Mana mungkin! Anda dengar sendiri apa yang ia katakan barusan?"

Nyonya Henton membelalakkan mata, seolah bertanya apa yang salah dengan dirinya.

[Liene] "Ya. Ia mengkhawatirkanmu karena terus berjalan sambil berpegangan pada tongkat. Benar kan, Nyonya Renfel?"

[Henton] "Uh...... Ekhem."

Nyonya Henton hanya berdehem sebagai jawaban.

[Liene] "Dan itu berlaku untukmu juga, Nyonya Flambard. Jika tidak, mengapa kau datang ke sini sambil memegang tongkat? Padahal aku sudah menyuruhmu tidak ikut, tapi Nyonya tetap ngotot mengikutiku."

[Flambard] "Itu...... Yah, wajar saja saya harus mengikuti Putri ke mana pun Anda pergi."

[Liene] "Tidak ada yang akan percaya ucapanmu, Nyonya. Bagaimanapun, kalian saling peduli, jadi tidak ada alasan untuk tidak berdamai."

Nyonya Henton, yang sudah berhenti berdehem, berkata pelan.

[Henton] "Sepertinya tidak akan terjadi sampai calon bayi lahir."

Awal dari pertengkaran adalah karena keduanya terlalu yakin dengan pendapat mereka masing-masing.

[Henton] "Benar. Ia bukan orang yang akan berubah pikiran sampai melihat dengan mata kepala sendiri bahwa calon bayi adalah seorang putri."

[Flambard] "Seharusnya itu kata-kataku."

Bahkan saat bertengkar pun, keduanya sama saja.

Liene menggelengkan kepalanya.

[Liene] "Baik ia anak laki-laki atau perempuan, mengapa menjadi alasan kalian untuk bertengkar? Meskipun kalian belum tahu, jenis kelaminnya sudah ditentukan. Pertengkaran kalian tidak akan mengubah apa pun."

[Henton] "Yang penting siapa yang benar, Putri."

[Flambard] "Benar. Saya adalah pengasuh keluarga Arsak, bagaimana mungkin saya tidak tahu jenis kelamin calon bayi?"

[Liene] "Tidak ada yang mengetahuinya."

[Flambard] "Maksud saya, saya tidak mungkin tidak tahu. Karena saya seorang pengasuh."

Nyonya Henton mendukung.

[Henton] "Benar, Putri. Kami tidak mungkin tidak tahu."

......Ya. Karena mereka sama persis, mereka bertengkar.

[Flambard] "Jadi, saya katakan sekali lagi, calon bayi akan menjadi seorang putri."

[Henton] "Ia akan menjadi seorang pangeran."

[Liene] "Tidak. Sungguh. Bukan itu masalahnya."

[Flambard] "Kalau begitu, mari kita tunggu dan lihat siapa yang benar."

Siapa yang menyebabkan kecelakaan sudah tidak penting lagi. Bahkan, mereka mungkin tidak punya niat untuk bertengkar tentang kecelakaan. Yang penting adalah siapa yang tebakannya benar.

[Liene] "Kalau begitu, kalian akan terus seperti ini sampai aku melahirkan?"

Kedua Nyonya pasti akan mengangguk dengan tegas, mempertaruhkan harga diri mereka.

Jika Fermos tidak maju.

[Fermos] "Saya rasa saya bisa menyelesaikan masalah ini."

Fermos mendekat sambil membawa makanan dengan aroma sedap. Liene tanpa sadar menciumnya.

Aroma makanan terasa sangat lezat, seolah-olah mual pagi tidak pernah ada.

[Fermos] "Kalian berdua benar."

[Liene] "......Bagaimana bisa?"

[Fermos] "Anda akan melahirkan sepasang anak. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan."

[Liene] "Hah?"

Liene mengelus perutnya dengan kaget.

[Liene] "Kembar? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"

[Fermos] "Dari cara Anda mengalami mual. Bukankah sangat dramatis? Seperti dua orang yang berjuang mati-matian untuk menang."

[Liene] "Eum......."

Liene terlalu terkejut untuk berkata-kata. Mendengar akan memiliki dua anak adalah cerita yang berbeda dari sekadar mengandung.

[Flambard] "Tidak, ...... mengandung bayi kembar jarang terjadi."

[Henton] "Benar juga. Selain itu, bagaimana ia bisa tahu hanya dari mual? Mual bisa berubah-ubah."

Kedua Nyonya tampak tidak percaya pada kata-kata Fermos.

Fermos mengangguk ringan, seolah mengatakan bahwa pada akhirnya ia akan terbukti benar.

[Fermos] "Kita akan tahu ketika calon bayi lahir."

[Flambard] "Ya. Mari kita tunggu dan lihat."

[Henton] "Tentu saja. Kembar tidak semudah itu didapat."

[Fermos] "Saya yakin saya benar."

Fermos juga memiliki kepribadian yang lebih suka mati daripada salah.

Entah bagaimana, masalahnya sekarang bukan lagi tentang anak laki-laki atau perempuan, melainkan tentang satu atau dua anak.


A Barbaric Proposal: Side Story 5. Black bergabung dalam jamuan teh di kamar Nyonya Henton yang terluka. Fermos menyela perdebatan jenis kelamin bayi dengan berspekulasi bahwa Liene mengandung anak kembar. Semua orang kini menantikan kelahiran untuk membuktikan tebakan mereka. Black khawatir Liene akan kesulitan mengandung dua anak. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

[Liene] "Astaga. Sepertinya aku harus segera melahirkan."

Hal yang melegakan adalah karena Fermos menjadi musuh bersama, hubungan kedua Nyonya tampaknya akan segera membaik.

Ketika Liene bergumam pelan, Black menjadi serius.

[Black] "Apa maksudmu? Anak akan lahir pada waktunya. Jangan pernah berpikir seperti itu."

Liene merasa Black sangat manis karena ia bahkan tidak bisa mengalah dalam hal-hal sepele.

Liene menyandarkan kepalanya pada Black dan bertanya.

[Liene] "Menurutmu, bagaimana jika kita punya dua anak?"

[Black] ".......Sepertinya aku sudah melihatnya di depan mataku. Sekarang."

Liene tertawa kecil.

[Liene] "Haha....... Tapi, sepertinya hubungan anak kita tidak akan memburuk meskipun keduanya bertengkar."

[Black] "Satu anak sepertinya lebih baik. Jika ada dua, berarti Putri harus menderita lebih banyak."

[Liene] "Aku rasa dua lebih baik. Satu saja akan cantik, jadi dua pasti akan dua kali lebih cantik."

Black menghela napas sebentar.

[Black] "Pikirkan kesehatanmu lebih dulu."

[Liene] "Tapi sekarang sudah tidak ada yang bisa diubah. Anaknya sudah ada."

[Black] ".......Aku harus berharap mereka tidak membuat terlalu banyak masalah."

Black mendekatkan kepalanya ke perut Liene yang membulat. Bibirnya tampak membisikkan sesuatu.

[Liene] "Kau bilang apa?"

[Black] "Aku bilang aku akan menjadi ayah yang tegas. Jadi, mereka harus bersikap baik."

[Liene] "Kau tidak akan bisa melakukannya."

Liene tertawa kecil.

Melihat Black yang biasanya sangat lunak terhadapnya, ia rasa Black tidak akan bisa menjadi ayah yang tegas terhadap anak-anak mereka.

[Black] "Lihat saja nanti. Seberapa tegas aku bisa bersikap."

[Liene] "Kau tidak akan bisa."

Hanya ada satu kesimpulan.

Jawabannya hanya bisa diketahui setelah anak, atau anak-anak, lahir.

Setelah pergantian tahun, di musim yang tidak hanya hangat tetapi juga nyaman, Liene masuk ke ruang bersalin.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page