top of page

A Barbaric Proposal Side Story 4

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 10 Nov 2025
  • 7 menit membaca

[Flambard] "Aku sudah lihat bagaimanapun juga, anaknya pasti perempuan."

Nyonya Flambard menggertakkan gigi sambil berhenti menyulam. Anak pertama Liene pasti perempuan.

Dilihat dari selera makannya, sudah jelas. Sama persis seperti ketika ia mengandung anak perempuan. Liene sering mencari buah-buahan asam dan sama sekali tidak bisa makan yang amis.

Yang terpenting, bentuk perutnya sudah pasti. Perut yang membulat, menonjol tanpa condong ke satu sisi mana pun, adalah bukti bahwa anaknya perempuan.

[Flambard] "Tapi dari mana ia mendengarnya sampai begitu bersikeras... Ck ck."

Meskipun sudah sangat jelas, Nyonya Henton bersikeras bahwa kesimpulan Nyonya Flambard salah.

Nyonya Henton berkata tidak mungkin dirinya salah karena ia telah melahirkan dua anak laki-laki. Ia bersikeras bahwa bentuk perut Liene jelas anak laki-laki, dan selera makan Liene hanyalah selera pribadi, tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin bayi.

[Flambard] "Itu tidak benar!"

Nyonya Flambard secara tidak sengaja berteriak karena marah ketika memikirkannya lagi.

[Flambard] "Putri tidak pernah rewel soal makanan sejak kecil hingga sekarang!"

Perkataan bahwa Liene sering tidak mau makan tidak mungkin karena selera makannya.

Itu jelas dan tegas disebabkan oleh mual pagi.

Mual pagi terjadi saat seorang wanita mengandung, jadi pada akhirnya, keributan soal makanan sekarang adalah ulah calon bayi di dalam perut.

Jadi sudah pasti anak perempuan.

Ketika pikirannya mencapai kesimpulan itu, bibir Nyonya Flambard perlahan melunak.

[Flambard] "Astaga. Pasti ia akan sangat cantik sekali......."

Anak Liene.

Ia pasti cantik tak terlukiskan.

Meskipun Liene bertemu dengan pria paling jelek di dunia, anak mereka pasti tetap akan cantik, tetapi wajah Lord Tiwakan sangat tampan dan belum pernah terlihat di Nauk. Jadi, anak mereka pasti akan sangat cantik, bahkan kata cantik saja tidak cukup.

[Flambard] "Alangkah bahagianya aku bisa merawatnya setiap hari. Aku sudah merasa sangat bersemangat."

Nyonya Flambard menenangkan diri dan mulai menyulam lagi.

Ia sedang menyulam celemek yang akan digunakan calon bayi. Buah delima merah cerah disulam di atas sutra biru berkualitas tinggi.

Jika anak perempuan lahir, namanya adalah Shellan. Nama Shellan akan disulam di sebelah buah delima.

[Henton] "Apa yang ia tahu sampai begitu bersikeras."

Nyonya Henton juga menghentakkan kakinya dengan kesal.

Di kamarnya, ia juga sedang menyulam. Hanya saja, yang menyulam bukanlah Nyonya Henton, melainkan Klima.

Ketika Nyonya Henton menyebutkan itu celemek untuk calon bayi, Klima belajar menyulam karena ia ingin melakukannya sendiri.

Awalnya, Nyonya Henton sempat menegurnya karena yang melakukannya dengan kasar, tetapi ternyata Klima menunjukkan bakat luar biasa dalam menyulam—darah tidak bisa berbohong.

Meskipun ia merusak satu atau dua karya di awal, sekarang karyanya tanpa cela.

Satu-satunya pekerjaan Nyonya Henton adalah memilih warna benang di samping Klima, atau mengawasinya agar membuat simpul dengan rapi.

[Klima] "Oh, um...... Mungkin bisa jadi anak perempuan......."

Klima mencoba memotong benang dengan giginya, seperti orang yang telah menyulam selama sepuluh tahun.

Nyonya Henton langsung memukul punggung nya.

[Henton] "Apa yang kau lakukan! Jangan sentuh barang yang akan dipakai calon bayi dengan mulutmu!"

[Klima] "Ups....... Maaf......."

Klima buru-buru menjauhkan mulutnya.

[Henton] "Cih. Kalau kau mau terus menyulam, ubah kebiasaanmu. Kau harus mencurahkan perhatian berkali-kali lipat pada barang yang akan dipakai calon bayi."

[Klima] "Ya, Ibu."

Klima mengangguk dengan patuh.

Nyonya Henton memandanginya sejenak dengan tatapan menyedihkan, tetapi segera menggelengkan kepala. Klima tidak bisa berada dalam pelukan ibunya selamanya.

Putranya juga harus tumbuh.

Dalam hal itu, inisiatif Klima untuk menyulam adalah hal yang sangat baik.

Sejujurnya, Nyonya Henton berpikir bahwa Klima tidak harus menjadi seorang ksatria.

Suaminya adalah ksatria yang baik, tetapi bukan ayah yang baik, juga bukan suami yang baik.

Nyonya Henton berharap Klima akan membangun keluarga yang baik daripada menjadi ksatria yang baik.

[Henton] "Mungkin ia akan mulai memikirkannya jika calon bayi ini cantik......."

[Klima] "Ya, Ibu?"

Putranya, yang sedang menunduk di atas bingkai sulaman, mengangkat kepalanya.

[Henton] "Tidak, lanjutkan. Kau harus menyelesaikannya lebih cepat daripada Nyonya Flambard."

Klima mengangguk.

Karena itu, Nyonya Henton kembali merasa kesal.

[Henton] "Ia bilang ia sudah melahirkan tiga anak, mengapa ia tidak tahu! Sudah jelas ia anak laki-laki. Ia seharusnya tahu hanya dari bentuk perutnya."

Selera makan Liene yang berubah-ubah, dan fakta bahwa Liene sering terbangun dari tidur di malam hari karena calon bayi sering menendang adalah bukti bahwa anaknya laki-laki.

Jika anaknya perempuan, ia pasti akan jauh lebih tenang. Ia juga tidak akan membuat tubuh ibunya kesulitan.

Ia pasti anak laki-laki.

[Henton] "Aduh, betapa gagahnya ia nanti."

Nyonya Henton tersenyum sambil memikirkan pangeran yang akan lahir.

Ujung senyumnya agak pahit.

Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan anak keduanya yang meninggal.

[Henton] "......Semoga Pangeran tidak sakit."

Nyonya Henton ingat Pangeran Fernand kecil lebih kecil dan lemah daripada anak seusianya.

Untungnya, kedua orang tua calon bayi masih muda dan sehat saat mengandung anak mereka, jadi ia hanya berharap anak yang akan lahir sehat.

Karena tragedi masa lalu tidak boleh terjadi lagi.

[Henton] "Karena kau yang menyulam, Ibu akan pergi ke Kuil."

Ketika Nyonya Henton berkata begitu, Klima mengangguk dan bertanya.

[Klima] "Tapi mengapa Ibu pergi ke sana?"

[Henton] "Untuk mendoakan Pangeran yang akan lahir."

[Klima] "Kalau begitu, setelah kita menyelesaikan sulaman, kita pergi bersama. Akan lebih baik jika kita mendapatkan berkat untuk barang-barang calon bayi juga."

[Henton] "Begitu ya?"

Suaminya tidak akan pernah memikirkan hal seperti itu.

Sepertinya, putranya menunjukkan bakat untuk menjadi ayah yang baik.

[Henton] "Karena kau akan lambat jika sendirian, kita harus mengerjakannya bersama. Berikan padaku. Kita bagi tugas."

[Klima] "Ya, Ibu."

Ibu dan anak itu duduk berdekatan dan menyelesaikan sulaman mereka.

Sulaman pada celemek sutra biru dengan buah delima merah dan nama pangeran yang telah mereka siapkan, Dief.

[Flambard] "Kenapa kau ada di sini?"

[Henton] "Seharusnya aku yang bertanya."

Kebetulan mereka bertemu tepat di pintu masuk tangga Kuil.

Nyonya Flambard memandangi Nyonya Henton dan putranya dari atas ke bawah.

Ia merasa ada pertanda buruk.

Kunjungan mendadak ibu dan anak ke Kuil.

Di musim ketika jalan dan tangga membeku.

Di musim dingin, jarang ada orang yang mengunjungi Kuil kecuali ia orang saleh. Para pendeta juga jarang turun kecuali ada urusan penting.

Tapi mereka sengaja datang ke sini.

Padahal lutut dan pinggangnya akan sakit  jika kedinginan, sama sepertiku.

Kalau begitu, hanya ada satu alasan.

Mereka pasti datang untuk meminta berkat bagi calon bayi.

[Flambard] "Kalau begitu silakan selesaikan urusanmu. Aku akan naik."

Nyonya Henton juga dengan cepat menyadari tujuan Nyonya Flambard.

Wajar, karena mereka orang yang melakukan dan memikirkan hal yang sama.

[Henton] "Jalan pelan-pelan. Lututmu kondisinya tidak baik. Klima, kau duluan."

Nyonya Henton menyerahkan sesuatu yang terbungkus rapat dengan kain berkat kepada Klima.

Klima mengedipkan mata dengan wajah polos.

[Klima] "Sebaiknya kita pergi bersama...... Jika Ibu terpeleset saat berjalan sendirian, harus ada orang yang menolong......."

[Henton] "Dasar anak tidak peka!"

Nyonya Henton memukul punggung Klima.

Klima cemberut dan menggumamkan kata sakit dengan pelan.

[Henton] "Cepat naik, jangan diam saja! Nyonya itu pasti akan naik sendirian!"

Saat ibu dan anak itu berdebat, Nyonya Flambard menyingsingkan roknya dan menaiki tangga.

[Flambard] "Kalau begitu terus saja marahi dia. Aku pergi duluan."

[Henton] "Mengapa kau begitu terburu-buru di usia seperti ini? Ayo kita juga naik."

Karena takut tertinggal, Nyonya Henton juga bergegas mengejar Nyonya Flambard.

Dan kecelakaan pun terjadi.

[Mereka] "Eugh......."

Yah, itu kecelakaan yang sudah diperkirakan.

Saat mereka bergegas menaiki tangga yang membeku dengan sepatu, seseorang terpeleset, dan karena terkejut mereka saling berpegangan pada pakaian satu sama lain, lalu jatuh dengan keras bersama-sama.

Untungnya, mereka jatuh tidak lama setelah menaiki tangga.

Berkat itu, Klima harus bersusah payah membopong kedua Nyonya dengan kedua lengannya untuk kembali pulang.

Nyonya Flambard mendapat memar besar di samping lututnya, dan Nyonya Henton mengalami hal yang sama di sikunya.

Sungguh melegakan karena tidak ada tulang yang patah. Semua karena Klima mengorbankan dirinya untuk melindungi kedua Nyonya.

Klima mendapat benjol di belakang kepala dan memar di seluruh punggungnya.

Setelah berhasil kembali ke kastil, Klima langsung jatuh sakit.

[Klima] "Eugh...... Oh, oh...... Putri?"

Klima, yang sedang merintih kesakitan, buru-buru bangkit ketika melihat Liene masuk ke kamar.

Melihat Liene, ternyata dirinya hanya bersikap manja. Sepertinya ia secara tidak sadar bersikap manja karena ada ibunya di sisinya.

[Klima] "Tidak, mengapa Anda datang sampai ke sini? Tubuh Anda sudah sangat berat."

Nyonya Henton bangkit dari kursi.

[Liene] "Semua, duduk saja. Mengapa orang yang terluka malah berdiri? Aku tidak bisa tinggal diam karena khawatir setelah mendengar kalian terluka."

Liene tidak datang sendirian.

Ada juga Nyonya Flambard yang berdiri canggung di belakangnya.

Penampilannya yang bersandar pada tongkat sebagai kruk tampak menyedihkan.

[Liene] "Aku sudah dengar cerita singkatnya. Tidak ada tulang yang patah, hanya memar parah, dan akan sembuh dalam sehari dua hari. Tapi melihatmu berbaring, sepertinya kau sangat kesakitan."

Klima berusaha keras untuk bangkit lagi.

[Klima] "T-tidak apa-apa! T-tidak, sakit...... Eugh."

[Liene] "Apa yang tidak apa-apa."

Liene mendekati Klima.

[Henton] "Silakan duduk di sini, Putri."

Nyonya Henton menarik kursi tempat ia duduk sebelumnya. Ia hanya menggunakan satu tangan karena sikunya sakit dan meringis.

Nyonya Flambard, yang tidak tahan melihat itu, bersandar pada tongkatnya dan mendekat untuk membantu.

Liene menggelengkan kepala melihat mereka berdua.

[Liene] "Sebaiknya Nyonya Flambard yang duduk di kursi. Kakimu tidak nyaman sekarang, kan?"

[Flambard] "Tidak, saya baik-baik......."

Nyonya Henton merebut tongkat dari tangan Nyonya Flambard yang canggung.

[Henton] "Duduklah. Apa yang mau kau lakukan dengan kaki seperti itu."

[Flambard] "Ups."

Nyonya Flambard, yang tongkatnya direbut, akhirnya terduduk di kursi tanpa pilihan lain.

Liene mendorong kaki Klima ke samping dan duduk di tepi tempat tidur, lalu menepuk tempat di sampingnya.

[Liene] "Nyonya Renfel, duduklah di sini."

[Henton] "Tidak. Kaki saya baik-baik saja."

[Liene] "Dirimu juga pasien. Duduklah."

[Henton] "Tidak bisa menggunakan lengan bukan masalah besar."

[Liene] "Duduklah."

Karena Liene memaksa, Nyonya Henton dengan enggan duduk di ujung tempat tidur.

Kedua Nyonya menghindari tatapan satu sama lain dengan canggung, dan Klima tidak tahu harus berbuat apa, wajahnya memerah.

[Klima] "S-saya sungguh baik-baik saja...... Saya akan segera sembuh......."

[Liene] "Tidak perlu cepat sembuh. Tapi beristirahatlah dengan baik dan sembuhlah. Kalian juga, Para Nyonya."

Klima mengangguk, dan kedua Nyonya menghindari jawaban sambil menundukkan pandangan.

Astaga. Semua orang sangat malu.

Nyonya Flambard punya alasan untuk ikut datang sambil bersandar pada tongkat. Ia pasti ingin mengucapkan terima kasih dan minta maaf pada Klima.

Nyonya Henton juga punya alasan merebut tongkat dan menyuruh Nyonya Flambard duduk. Sudah jelas ia ingin mengucapkan terima kasih karena Nyonya Flambard datang menjenguk meskipun sedang terluka, dan menyuruhnya untuk tidak menyusahkan diri.

Liene terkekeh.

[Liene] "Karena kita semua sudah berkumpul di satu ruangan, bagaimana kalau kita minum teh? Aku sekarang sedang ingin makan pir panggang. Kalian mau?"

[Flambard] "Kalau begitu Anda harus makan. Saya akan pergi mengambilnya."

Nyonya Flambard bangkit sambil bersandar pada tongkat.

Nyonya Henton segera menghentikannya.

[Henton] "Jangan. Mau pergi ke mana dengan kaki seperti itu? Biar aku saja yang pergi."

[Flambard] "Tidak, apa yang bisa kau lakukan dengan lengan seperti itu? Biarkan saja. Aku yang akan pergi."

[Henton] "Yang memakai tongkat, dirimu atau aku?."

[Flambard] "Aku tidak harus menggunakan tongkat."

[Henton] "Jangan pamer yang tidak perlu. Jika kau tidak merawat lututmu di usia tua, kau akan bergantung pada tongkat seumur hidup."

[Flambard] "Tidak, hanya aku saja yang tua? Padahal kita sama-sama tua."

[Henton] "Bukankah aku setahun lebih muda?"

[Flambard] "Apa bedanya satu tahun!"

Sepertinya mereka akan bertengkar lagi.


A Barbaric Proposal Ch 138: Side Story 4. Nyonya Flambard dan Nyonya Henton berdebat tentang jenis kelamin calon bayi (perempuan vs. laki-laki), sambil menyulam celemek. Keduanya bertemu di Kuil dan berkelahi hingga jatuh sakit. Liene menjenguk mereka, dan Black muncul ketika Liene memanggil pelayan. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

Liene menarik tali yang terikat pada bel pemanggil.

[Liene] "Panggil saja orang. Jumlah pekerja juga sudah bertambah banyak akhir-akhir ini, kan?"

Bel itu ada di kamar para Nyonya dan di kamar tidur Liene. Hanya saja, orang-orang di Kastil Nauk terbiasa melakukan pekerjaan mereka sendiri sehingga mereka jarang sekali membunyikan bel untuk memanggil orang.

Bel berdering teng, teng, dan tak lama kemudian seseorang membuka pintu dan masuk.

[Pria] "Anda memanggil saya?"

Dia bukan pekerja kastil, melainkan Black.

Kedua Nyonya yang sedang meninggikan suara mereka seketika, dengan wajah seperti baru saja diberi madu, berubah drastis menjadi lembut, tenang, dan malu.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page