top of page

A Barbaric Proposal Side Story 3

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 10 Nov 2025
  • 8 menit membaca

Sepanjang musim dingin, Liene menderita mual pagi yang lama dan parah.

Gejalanya tetap sama. Beberapa hari ia bisa makan, beberapa hari tidak sama sekali. Ada makanan yang awalnya bisa dimakan, namun dalam waktu singkat menjadi sama sekali tidak bisa dimakan.

Akibatnya, Liene tidak bisa melakukan apa pun selain memulihkan diri. Sebagian besar waktu, ia hanya berbaring di tempat tidur karena tidak bertenaga, dan sekali pun ia bisa keluar untuk berjalan-jalan sebentar, tenaganya langsung terkuras habis.

Karena itu, Black terus berada di sisinya.

[Liene] "Sepertinya hanya delima yang bisa kumakan, hari ini."

Liene sudah memakan buah delima yang ketiga.

Ujung jari Black yang mengupas delima di sampingnya tampak merah karena terkena sari buah.

[Liene] "Aneh ya. Buah ini belum pernah kumakan sebelumnya, tapi sekarang terlintas di pikiran bahkan saat sedang tidur."

Setelah Teluk Yadion berhasil direbut, kapal-kapal mulai berdatangan sedikit demi sedikit ke pelabuhan baru.

Meskipun perdagangan baru dimulai, Fermos mengatakan tanda-tandanya bagus. Ia bahkan sudah memesan empat kapal dagang besar. Salah satu kapal ia beli dengan uangnya sendiri, katanya investasi untuk sepuluh tahun ke depan.

Bagaimanapun, berkat itu, Liene bisa makan delima segar bahkan di musim dingin seperti ini.

[Black] "Syukurlah kau bisa memakannya."

Black yang mengatakan itu justru terlihat lebih lelah.

Melihat Liene yang menderita mual sejak hamil hingga sekarang, Black berjanji pada diri sendiri bahwa satu anak sudah cukup.

[Liene] "Tapi jangan berkata seperti itu. Nanti aku jadi tidak bisa memakannya lagi."

[Black] "Ah......."

Black segera diam dan mengangguk.

Karena calon bayi kondisinya sering berubah-ubah, selera makan Liene berubah puluhan kali sehari. Seringkali ia sedang makan dengan baik, lalu tiba-tiba muntah karena mual.

[Black] "Makanlah yang banyak."

Black dengan tekun mengupas delima. Jari-jari nya yang dengan cermat memisahkan kulit ari, terlihat lebih tampan hari ini.

Padahal pria ini memang selalu tampan.

Akhir-akhir ini, Black kehilangan nafsu makansama seperti Liene, sehingga berat badannya turun. Membuat raut wajahnya sedikit berubah dan tatapan matanya menjadi lebih tajam.

Meskipun terlihat menyedihkan, kadang-kadang ia terlihat begitu tampan hingga membuat Liene merinding—sebuah masalah besar.

.......Masalah besar. Bagaimana kalau ia jadi lebih tampan lagi.

Kalau begitu, aku bisa hamil lagi segera setelah melahirkan.

Liene mengunyah biji delima dengan tatapan kosong, memikirkan hal itu, ketika seseorang mengetuk pintu.

[Randall] "Putri, Tuanku. Ini saya."

Ternyata Randall.

[Randall] "Saya bersumpah tidak bermaksud mengganggu Anda berdua, tetapi saya rasa saya harus memberitahunya."

Nada bicaranya sangat hati-hati. Semua orang sudah tahu betul bahwa jika kondisi Liene tidak baik, suasana hati Black juga tidak baik.

[Randall] "Para bangsawan dari Dewan Agung membawa hadiah untuk calon bayi. Perlukah saya persilakan mereka masuk?"

[Liene] ".......Hadiah?"

Kres.

Liene menghentikan kunyahan biji delima di mulutnya dan bergumam.

Black mengernyitkan alisnya, merasa bahwa itu bukan pertanda baik.

[Liene] ".......Ugh!"

Sudah diduga.

Black dengan cepat mendekatkan baskom air yang sudah disiapkan di samping tempat tidur, ke mulut Liene.

[Liene] "Ugh!"

Manusia-manusia sialan yang dulu mereka biarkan hidup, kini merusak selera makan Liene.

Brak!

Pintu Ruang Singgasana terbuka seolah akan hancur.

Saat Duke Tiwakan—penguasa bersama Nauk—masuk, semua orang di sana merasakan lutut mereka lemas.

Ekspresi Black mengatakan bahwa memotong-motong semua orang yang ada di sana pun tidak akan memuaskannya.

Kelima bangsawan gemetar tanpa mengetahui alasannya.

Sret, Buk!

Black duduk di kursi Ruang Singgasana.

Hanya ada satu kursi di Ruang Singgasana, dan kursi itu diletakkan di atas panggung yang lebih tinggi dari lantai untuk melihat ke bawah kepada mereka yang datang untuk audiensi.

Artinya, ada jarak di antara mereka, tetapi rasa takut seolah leher mereka akan segera dicengkeram, muncul seketika.

[Black] "......"

Terlebih lagi, mengapa Black tidak mengatakan apa-apa?

Para bangsawan harus menunggu bangsawan utama memberi salam agar mereka bisa memberi salam.

Kelima bangsawan gemetar dan hanya saling pandang.

Waktu terasa berlalu sangat lama.

Fermos, yang berdiri di samping Black dan menatap para bangsawan dengan acuh tak acuh, angkat bicara.

[Fermos] "Tuanku. Sudah, tolong sudahi. Bagaimana jika mereka mengompol?"

Black menghargai inisiatifnya, tetapi ucapan Fermos cukup tidak mengenakkan.


A Barbaric Proposal: Side Story 3. Sepanjang musim dingin, Liene menderita mual pagi yang parah. Saat ia sedang makan delima, kedatangan para bangsawan Dewan Agung memicu mualnya. Black marah dan menuntut lima hadiah dari lima keluarga bangsawan sebagai kompensasi. Liene dan Black mulai memikirkan nama bayi mereka. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

[Black] "Putri......."

Black menghentikan apa yang akan ia katakan dan menghela napas.

[Black] ".......Tidak, aku tidak bisa membiarkannya."

Mendengar ucapan Black, pandangan kelima bangsawan menjadi kosong, lagi.

[Black] "Butuh dua hari untuk akhirnya dia bisa makan sesuatu."

[Fermos] "Ah, kasihan sekali."

Fermos melirik para bangsawan dan mendecakkan lidah.

[Fermos] "Sepertinya Putri mual kembali saat sedang makan delima. Saya rasa karena wajah-wajah tak tahu malu masuk ke sini, padahal mereka tahu Putri sedang menderita."

Terdengar persis seperti: ini semua salah kalian, jadi lebih baik kalian potong leher kalian sendiri.

[Bangsawan] "Tidak, bagaimana pun, mengapa Anda memperlakukan orang yang membawa hadiah......."

Black mengangkat alisnya.

[Black] "Siapa yang bilang kalian boleh berbicara?"

[Bangsawan] "……Hah."

Mulut mereka langsung terkatup.

Black perlahan memandangi setiap bangsawan yang pucat pasi sambil menggigit bibir, lalu berkata:

[Black] "Aku sudah bilang saat itu, aku tidak punya niat memenggal leher kalian. Termasuk Kleinfelter."

[Bangsawan] "Le, leher saja......."

Protes untuk berkata: bukankah Anda mematahkan anggota tubuh kami dengan gembira dan hanya menyisakan leher. tertelan kembali.

[Black] "Aku seharusnya memenggalnya. Melihat tingkah kalian."

Setelah beberapa saat, Rosadal angkat bicara.

[Rosadel] "…………K-kami benar-benar tidak tahu. Putri sedang mengalami hal seperti......."

Nada bicaranya jauh lebih sopan dibandingkan sebelumnya.

Black tidak repot-repot membalas ucapannya.

Ia memberi isyarat kepada Fermos.

[Black] "Buka hadiah yang mereka bawa. Aku ingin tahu mengapa aku harus menoleransi mereka."

[Fermos] "Baik, Tuanku."

Ketegangan dan kecemasan mengikat para bangsawan.

Keluhan tentang: perlakuan macam apa ini setelah kami bersusah payah membawa hadiah di tengah cuaca dingin, telah hilang sama sekali.

Yang tersisa hanyalah penyesalan mengapa mereka tidak membawa sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak.

[Fermos] "Mereka bilang kelima keluarga menyiapkannya bersama-sama."

Sebuah peti yang tidak kecil dibawa masuk ke Ruang Singgasana.

Seorang Ksatria Tiwakan yang membawa peti sendirian menjatuhkannya ke lantai dengan acuh tak acuh.

Bruk!

Peti itu mengeluarkan suara yang cukup berat. Namun, kata-kata yang diucapkan sangat berbeda.

[Ksatria Tiwakan] "Dilihat dari beratnya, peti ini seringan bulu, sepertinya tidak ada barang berharga di dalamnya."

[Black] "Kalau begitu tidak perlu dibuka."

Bum!

Black mengentakkan kaki dan bangkit dari kursi.

[Black] "Suruh mereka kembali. Sepertinya mereka belum sadar, jadi suruh mereka berjalan kaki alih-alih naik kereta. Gunakan tangan, bukan kaki. Setelah mereka mengalaminya sekali, mereka tidak akan berani lagi datang ke kastil dengan alasan konyol seperti ini."

Ellaroyden buru-buru melambaikan kedua tangannya.

[Ellaroyden] "Bukankah Anda terlalu bermurah hati? Siapa yang tahu perbuatan apa lagi yang akan mereka rencanakan."

[Bangsawan] "Perbuatan apa! Kami sekarang membayar pajak tepat waktu, mengapa Anda berkata begitu! Kami bersumpah datang ke sini untuk memberikan hadiah sebagai bentuk kesetiaan kepada Arsak!"

Tidak ada yang mau mendengarkan ucapannya.

[Fermos] "Kesetiaan Anda hanya sebatas itu?"

Fermos mencibir sambil menunjuk peti dengan dagu.

[Fermos] "Pasti kesetiaanmu seringan bulu."

Sekali lagi, peti itu tidak ringan, pun tidak kecil.

Hanya saja, karena semua Ksatria Tiwakan bertubuh tinggi dan besar, peti yang tergeletak di lantai memang terlihat sangat menyedihkan.

[Bangsawan] "I-ini…… Ini, maksud saya, ini yang kami bawa sekarang dan…… kami akan menyiapkan lebih banyak."

Salah satu bangsawan bergumam dengan wajah seperti akan menangis.

[Black] "Kalau begitu bawa sekarang."

Black berkata dengan suara tegas seperti sedang mengayunkan pedang.

[Black] "Aku tidak mau melihat kalian mondar-mandir di sini lagi. Ada lima keluarga, jadi berikan lima hadiah."

[Bangsawan] "Sungguh…… ……A-kami mengerti."

Kelima bangsawan ingat betul apa maksud dari perkataan Black tentang perjanjian yang mereka tandatangani.

Oleh karena itu, mereka sama sekali tidak ingin tahu apa maksud dari perintah untuk berjalan menggunakan tangan alih-alih kaki. Mereka juga tidak ingin mengalaminya.

[Bangsawan] "Lima anggota Dewan Agung Nauk dengan tulus menyambut keturunan Tiwakan yang akan mewarisi darah Arsak dan kedaulatan Nauk."

Para bangsawan, setelah menyelesaikan salam mereka dengan keterpaksaan, menelan air mata dan mengirim surat ke rumah masing-masing.

Bertuliskan untuk mengambil beberapa barang dari brankas.

Para bangsawan, yang kehilangan poros mereka yaitu Kleinfelter, kini menjadi penurut.

Meskipun Black tidak pernah menyebutkannya secara langsung, para bangsawan secara tersirat sudah mengetahui nama asli Black.

Mungkin itu sudah seharusnya.

Fakta bahwa air telah kembali ke Nauk berarti nama Gainers juga telah kembali.

Para bangsawan berterima kasih karena leher mereka masih menempel, lalu memberikan hadiah dan meninggalkan kastil.

Disertai janji untuk bersikap sangat rendah hati selama beberapa waktu ke depan.

[Liene] "Sekarang aku bahkan tidak mau melihat delima."

Liene menghela napas.

Mual yang tiba-tiba muncul karena kedatangan para anggota Dewan Agung, baru mereda setelah matahari terbenam. Kebetulan, bersamaan dengan ketika kelima bangsawan kembali ke rumah.

Karena nafsu makannya sedikit pulih, Liene sedang makan puding kacang merah.

[Liene] "Sayang sekali. Aku sudah bertekad untuk menyusul dan memarahi mereka begitu aku bisa berjalan."

Buk!

Liene menyendok puding dengan kasar.

Mual adalah kejadian sehari-hari, tetapi kali ini Liene yakin itu karena ulah kelima bangsawan. Jika ia tidak muntah setiap kali bergerak, ia benar-benar akan mengejar dan memarahi mereka.

[Black] "Kita bisa memanggil mereka kembali."

Black tidak menyebutkan bahwa ia sudah membuat mereka takut dengan caranya sendiri.

Liene memiliki kesenangan yang harus ia nikmati.

[Liene] "Tidak usah. Perutku terasa tidak enak hanya membayangkan berurusan dengan manusia-manusia itu."

[Black] "Memang merepotkan."

Black dengan lembut mengambil sendok yang dipegang Liene.

Ia menyendok puding dan menyuapkannya ke mulut Liene sambil berkata:

[Black] "Tapi hadiah mereka lumayan tulus. Aku sudah memindahkannya ke ruang perhiasan, maukah kau melihatnya?"

[Liene] "Hmm...... Jangan sekarang. Besok saja. Mereka bawa apa?"

[Black] "Macam-macam."

[Liene] "Aneh ya. Aku kira mereka hanya akan membawa emas."

[Black] "Tentu saja ada emas juga."

Liene tersenyum manis sambil menelan puding.

[Liene] "Bagaimana kalau kita lebur emasnya dan membuat sesuatu?"

[Black] "Bagaimana dengan ranjang bayi?"

[Liene] "Ranjang bayi? Itu terlalu besar."

[Black] "Kalau kurang, kita bisa meminta mereka memberikan lebih banyak."

Senyum Liene berubah menjadi tawa lebar.

Meskipun Liene tidak menyadarinya, itu kebiasaan yang ia tiru dari Black.

[Liene] "Wah, benar-benar keterlaluan. Orang-orang mungkin akan menyebutku seorang tiran."

[Black] "Mana mungkin. Tidak akan ada yang berani mengatakannya."

[Liene] "Ngomong-ngomong, itu membuat ku teringat sesuatu,"

Liene berhenti tertawa dan berkata.

Wajahnya yang masih menyisakan sisa tawa terlihat menawan, meskipun pipinya sedikit kurus.

[Liene] "Ranjang bayi emas sepertinya terlalu mewah. Bagaimana kalau kita buat koin kenangan saja? Dengan nama anak kita di atasnya."

[Black] "Ide bagus."

Sebenarnya, Black merasa ranjang bayi emas tidak bisa disebut mewah, tetapi ia tidak punya niat untuk berdebat dengan Liene untuk hal sepele.

[Black] "Aku akan membuatnya dalam jumlah banyak. Sebelum itu, kita harus memberi nama bayi."

[Liene] "Benar juga. Tapi kita tidak tahu apakah ia laki-laki atau perempuan. Nyonya Flambard bilang sepertinya perempuan, dan Nyonya Henton yakin ia laki-laki. Aku sendiri sama sekali tidak tahu."

[Black] "Wajar saja kita tidak tahu sebelum ia lahir."

[Liene] "Para Nyonya bilang mereka bisa tahu dari bentuk perutku. Tapi perkataan mereka berdua sangat berbeda, jadi aku makin bingung mendengarnya."

Karena keduanya Nyonya tidak mau mengalah, mereka hampir melempar cangkir teh sambil bertengkar. Mungkin Liene harus mencabut perkataannya tentang mereka berdua adalah belahan jiwa.

[Liene] "Kau lebih suka yang mana?"

[Black] "Aku tidak peduli. Selama Putri sehat."

[Liene] "Bukan bayinya, tapi aku?"

[Black] "Keduanya. Tapi jika aku harus memilih satu, bagiku itu adalah Putri."

[Liene] "Wah. Ayah macam apa ini. Kalau aku bayinya, aku akan sangat kecewa."

[Black] "Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Liene tahu Black akan mengalah padanya dalam banyak hal.

Black seperti air dalam kehidupan. Jika Liene memintanya mengalir ke suatu sisi, ia akan mengalir tanpa kesulitan.

Jadi, jika ada hal yang tidak Black mau ikuti, Black tidak bisa mengalah.

Bagi pria ini, aku selalu menjadi prioritas utama.

Liene memutuskan untuk menanggung dan menyimpan sendiri kekecewaan kecil karena ucapan Black yang lebih memilih Liene dan tidak akan pernah mengatakannya depan bayinya.

Dia pasti mengucapkannya hanya karena ada aku di sini. Hanya untukku.

[Liene] "Kalau begitu, kita beri nama apa? Ayo kita pikirkan bersama."

[Black] "Kita harus memikirkan dua nama."

[Liene] "Benar. Nama anak laki-laki dan nama anak perempuan."

Kedua nama yang dipikirkan dengan sungguh-sungguh hingga bulan terbit, ditakdirkan untuk digunakan, tanpa ada satu pun yang terbuang.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page