A Barbaric Proposal Side Story 31
- Crystal Zee

- 20 Des 2025
- 5 menit membaca
Di Balik Kedamaian
Sesuai dugaan, anak-anak tidak tinggal diam.
[Randall] “Astaga, hendak ke mana, Putri?”
Randall-lah yang kali ini memergoki anak-anak yang berusaha keluar dari Kastil. Sebenarnya, lebih tepat disebut dia sedang berpatroli.
Sudah jelas bahwa anak-anak akan mencari cara untuk pergi ke Kastil Bellisa.
Putri Shellan sangat mirip dengan Black, dari penampilan hingga kepribadian, termasuk sifatnya yang nekat dan tak terkendali saat marah.
Orang-orang mengatakan Black jarang marah, tetapi itu hanya ucapan mereka yang bergabung dengan Tiwakan belakangan dan tidak mengetahui apa-apa.
Mereka yang bersama Tiwakan sejak masih kelompok kecil tanpa nama, pasti setuju bahwa kombinasi antara pria seperti Black dan kata nekat seharusnya musnah dari dunia ini.
Namun, Shellan adalah tipe seperti itu, dan sayangnya, dia sedang sangat marah dan menjadi sangat nekat.
[Randall] “Apakah ada yang Anda butuhkan?”
[Shellan] “...Cih.”
Shellan bahkan tidak repot-repot membuat alasan.
[Shellan] “Sepertinya Pasukan Pengawal Nauk punya banyak waktu luang, ya? Apa kalian tidak punya pekerjaan? Sampai harus mengejar-ngejar anak kecil.”
Dia memilih menyerang Randall secara personal sebagai gantinya.
Randall pura-pura mengusap dadanya dengan telapak tangan.
[Randall] “Hati saya sakit mendengar perkataan Anda, Putri. Kami bertugas menjaga keselamatan Anda berdua dan kedamaian negeri ini. Selalu begitu.”
[Shellan] “Jika aku, yang seharusnya dilindungi, justru merasa terganggu daripada aman, berarti ada masalah, kan?”
[Randall] “Kalau begitu, saya sungguh menyesal. Mohon Anda berkenan memaafkan.”
[Shellan] “Jika kau berbalik dan menghilang sekarang, aku akan memaafkanmu. Maukah kau melakukannya?”
Randall berkedip. ‘...Mana mungkin bisa.’
[Randall] “Saya akan mengantar Anda kembali. Mau saya gendong di bahu?”
Shellan mencibir.
[Shellan] “Sudah hari kedua. Dua hari sudah berlalu!”
[Randall] “Ya. Saya selalu bangga melayani Anda berdua yang sudah dua hari bersikap dewasa dan tidak menangis. Sebuah kehormatan besar, Putri.”
Randall sengaja berbicara dengan penuh tata krama, membuat Shellan yang marah menghentakkan kakinya ke lantai.
[Shellan] “Sudah terlambat dua hari, tahu!”
Berarti sudah dua hari berlalu sejak pagi ketika mereka mengetahui bahwa Black dan Liene meninggalkan mereka, pergi berdua ke Kastil Bellisa.
Itu juga berarti selama ini Fermos telah mengamankan jatah liburannya dengan cerdik.
Randall berkedip dengan ekspresi meminta maaf.
[Randall] “Benar, dua hari sudah berlalu.”
Namun, dia tidak mungkin mengatakan:
Orang tua macam apa yang tega bepergian meninggalkan anak-anak sendirian, apalagi berpesan untuk menahan mereka di rumah selama mungkin, dan baru membawanya jika keadaan sudah genting—tetapi tetap harus mengulur waktu—atau Tuanku akan marah.
DUG!
Shellan menghentakkan kakinya sekali lagi.
Mata biru pucatnya, yang sangat mirip dengan Black, tampak bergetar.
[Shellan] “Aku tidak akan bilang. Soal upaya kami kabur hari ini.”
Anehnya, setiap kali Putri Shellan memberi jeda pada ucapannya, Randall merasa merinding.
Randall menggaruk tengkuknya untuk mengusir perasaan itu.
Tapi, Putri tidak lebih menakutkan dari Tuanku. Bertahanlah sehari lagi. Tiga hari saja sudah hebat.
[Randall] “Saya akan mengatakan kepada Renfel bahwa Anda berdua mencarinya. Jangan khawatir.”
[Shellan] “Sudahlah! Lagipula kau hanya pura-pura membantuku!”
Shellan menggertakkan giginya dan menarik tangan Dief.
[Shellan] “Ayo, Dief.”
Entah mengapa, Dief menepis tangan Shellan. Berbeda dengan Shellan yang tampak marah, Dief menunjukkan ekspresi yang lebih rumit.
[Dief] “Aku ingin tahu sesuatu, Sir Randall.”
[Randall] “Silakan katakan apa pun, Pangeran.”
[Dief] “Apakah mereka berdua... maksudku, apakah Ayah... sangat marah?”
Randall juga sudah mengetahui cerita tentang mereka yang mengusir Black dari kamar tidur. Bahkan, tidak ada seorang pun yang tidak tahu. Kejadian itu menimbulkan kejutan dalam banyak hal.
Hingga kini, di kalangan Ksatria pun, pendapat terbagi tajam antara yang mengatakan 'itu wajar' dan yang mengatakan 'itu sudah keterlaluan'.
Alasan munculnya pendapat 'itu wajar' bukanlah karena mereka berpikir Black bersalah dalam urusan Blini Vasheyd, melainkan karena Putri Shellan begitu menggemaskan.
Pendapat yang dominan adalah, putri secantik dirinya, apa pun yang dia lakukan pasti harus dimaafkan.
Meskipun begitu, meminta pertanggungjawaban Black atas urusan Blini Vasheyd adalah hal yang keliru.
Pertama, kejadiannya terjadi jauh sebelum Black melamar Liene, dan keberadaan manusia seperti Blini adalah sesuatu yang tidak seorang pun bisa bayangkan sebelum berhadapan langsung dengannya.
Wajar jika Shellan dan Dief belum bisa memahaminya di usia mereka. Namun, setelah melewati masa remaja dan menjadi dewasa, mereka pasti akan mengerti dengan sendirinya.
Namun, bersumpah demi apa pun, tidak seorang pun di Pasukan Ksatria—bahkan seekor tikus di Kastil Nauk—ingin anak-anak itu memahami manusia bernama Blini Vasheyd sekarang.
[Randall] “Mohon Pangeran mengerti bahwa saya tidak dapat menebak sejauh itu. Tetapi, saya dapat mengatakan ini: Tuanku sudah merencanakan perjalanan ini jauh sebelumnya, dan tertunda tanpa diduga, bukan dibatalkan sepenuhnya.”
[Dief] “Bukan berarti mereka pergi berlibur berduaan karena tidak ingin melihat kami, kan?”
[Randall] “Tentu saja tidak. Jika Tuanku dan Yang Mulia Ratu mendengar bahwa Anda berdua bersikap dewasa tanpa masalah, mereka akan sangat bangga, sama seperti saya.”
[Dief] “....... Kalau begitu, cukup. Kau boleh pergi sekarang.”
Dief berbalik dengan murung.
Tap-tap, suara langkah kaki anak-anak yang berjalan di koridor kosong terasa berat.
Randall berbalik dan berjalan berlawanan arah dari anak-anak, bergumam pada dirinya sendiri.
[Randall] “Aku tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi... Aku harus bicara dengan Sir Fermos.”
Sepertinya, lebih baik Randall berdiskusi dengan Fermos tentang membawa Dief ke Bellisa malam ini juga, sebelum Dief mulai benar-benar bersedih.
[Fermos] “Hei, kau! Kau tahu apa yang dipertaruhkan di sini?”
Fermos melotot. Tentu saja, itu sama sekali tidak menakutkan.
Meskipun Fermos memiliki jabatan yang lebih tinggi dari Randall, secara kekuatan fisiknya tidak sebanding dengan Randall.
Dia yakin bisa menjatuhkan Fermos ke lantai dalam waktu lima menit hanya dengan menggunakan tangan kirinya.
[Randall] “Relakan saja libur satu hari itu. Bagaimana jika Pangeran sampai mogok makan?”
[Fermos] “Ah, satu hari tidak cukup!”
Fermos menghentakkan kakinya.
Randall mencibir dalam hati, tidak mengerti mengapa pria yang sudah berumur bersikap kekanakan.
[Fermos] “Aku berencana pergi ke Blue Warren. Apa hanya sekadar pergi saja sudah cukup? Aku harus menyelesaikan urusan di sana. Dua hari jelas kurang!”
[Randall] “Kalau begitu, batalkan pergi ke sana. Apakah Blue Warren lebih penting daripada Pangeran saat ini?”
[Fermos] “Ugh, itu...”
Fermos menggaruk kepalanya, lalu memberi isyarat agar Randall mendekat.
[Randall] “Ada apa, Tuan?”
[Fermos] “Ah, coba sini sebentar.”
[Randall] “...Kalau begitu, cepat katakan.”
Bahkan jika dilihat dari sudut mana pun, merapatkan kepala sedekat itu tidak lazim di kalangan pria Tiwakan. Randall sama sekali tidak mengerti mengapa dia bertingkah begitu.
Randall pun mendekat sesuai permintaan.
Fermos merendahkan suaranya dan berbisik.
[Randall] “Akh!”
Lupakan gaya Tiwakan atau bukan, Randall tidak tahan karena geli. Dia melompat sambil menggigil, dan Fermos langsung menarik daun telinganya.
[Randall] “Lho, kenapa ini?”
[Fermos] “Dengarkan aku dan jangan bergerak sebentar.”
Pembicaraan bisik-bisik yang dilanjutkan Fermos memang pantas menjadi rahasia.
[Fermos] “...Itulah rencanaku.”
[Randall] “Hah...?!”
Mata Randall berbinar tajam.
Setelah sekian lama, air liur langsung berkumpul di mulutnya.
Cerita itu memang panjang dan sudah lama.
Sepanjang sejarah panjang Tiwakan, mereka telah menghadapi banyak penjahat dan orang gila, tetapi semua setuju bahwa yang terburuk di antara mereka adalah kelompok bajak laut Rambasol yang berkeliaran di Laut Timur benua.
Kelompok itu jugalah yang menjadi alasan terbesar mengapa Black sampai baru-baru ini mengatakan bahwa dia tidak pernah menyukai laut.
Sejak awal wilayah operasi mereka berbeda dengan Tiwakan, sehingga mereka tidak pernah berhadapan secara langsung; hanya berpapasan sesekali bagai sebuah kecelakaan.
Namun, Fermos memiliki satu dendam yang terpendam terhadap juru mudi Rambasol.
Bajak laut Rambasol dikabarkan baru-baru ini memindahkan wilayah operasinya sedikit demi sedikit, berkeliaran di dekat Laut Selatan, bukan Laut Timur.
Tentu saja, para bajak laut harus menjual barang hasil curian mereka dengan penyeludupan, dan salah satu tempatnya adalah kota bebas Blue Warren yang memiliki pelabuhan tersibuk di ujung selatan.
Sudah pasti Rambasol sering keluar masuk Blue Warren.
Jadi, Fermos menangkap peluang untuk membalas dendam yang sudah tertanam sebelas tahun lalu.
Dan dendam Fermos bisa memberikan motivasi balas dendam tanpa batas bagi Randall juga.
Bukan karena Fermos adalah atasan yang sangat dia hormati. Singkatnya, dendam itu dapat memberi Randall kesenangan.
Nauk terlalu damai. Bukannya dia tidak menyukai kedamaian, tetapi rasanya membosankan.
Kebosanan sebesar itu sudah cukup membuat dendam yang sudah berumur sebelas tahun menjadi sumbu yang dengan cepat menyalakan semangat di hatinya.
[Randall] “Informasinya. Apakah sudah pasti, Tuan?”
[Fermos] “Mana mungkin tidak?”
Fermos menyeringai.
Meskipun sibuk, pintar, dan Kanselir sebuah kerajaan, esensi diri Fermos adalah Tiwakan.
Tinggal di negara yang terlalu damai selama sepuluh tahun sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa gatal.
Randall mengepalkan tangan ke arahnya.
[Randall] “Balas dendam, saya akan ikut juga.”
[Fermos] “Oh, benarkah?”
Fermos tidak menolak.
Oleh karena itu, si kembar tampaknya harus tinggal di Kastil Nauk sedikit lebih lama lagi.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar