top of page

A Barbaric Proposal Side Story 30

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 6 menit membaca

Untuk Kali Ini Saja

Untuk sesekali, pagi itu terasa sempurna.

Udara pantai yang berbeda mengalir masuk dengan tenang melalui celah jendela yang Liene buka sedikit karena dia merasa panas semalam.

Bayangan yang tercipta dari tirai musim panas yang melambai tampak menari dengan lembut. Suara deburan ombak dari kejauhan berpadu merdu.

Sungguh omong kosong jika Black mengatakan tak akan pernah menyukai laut dalam hidupnya. Laut tempat yang paling sempurna.

Semalam, saat Liene melingkarkan lengan di lehernya, sambil napasnya tersengal, dia berkata,

[Liene] “Aku suka laut karena suara deburannya terdengar terus-menerus.”

Sejak saat itu, tak ada tempat yang bisa mengalahkan laut dalam benak Black.

Ketika Liene mengikuti jejak keringat yang meresap di antara kulit yang saling menempel dengan ujung jarinya, dan menambahkan,

[Liene] “Kalau begitu, meskipun ini tengah malam, kita tak perlu menahan diri dan khawatir membuat suara.”

Black sudah siap memberikan perintah untuk mencari tahu tentang pembangunan saluran air dari Bellisa sampai ke Sungai Evert.

Namun, pemikirannya segera berubah. Saluran air tidak akan bisa membawa suara ombak.

Akan lebih baik jika Black segera menyerahkan takhta dan pindah ke Bellisa, begitu Shellan dan Dief tumbuh dewasa dalam sekejap mata.

Bahkan, dia sempat berpikir, toh ada Shellan, jadi apakah perlu menunggu sampai mereka dewasa?

Tepat ketika dia memikirkan hal itu, Liene berbalik.

[Liene] "Eng..."

Dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa Black mengerti, dia menutupi sinar matahari pagi yang menyentuh pipi Liene.

[Black] “Sudah bangun? Kau boleh tidur lagi.”

[Liene] “Mm... sepertinya aku belum... bangun sepenuhnya. Tidur terlalu larut...”

Suaranya terdengar pelan dan memanjang, hanya bibirnya yang bergerak sementara matanya masih tertutup.

[Black] “Ya. Tidurlah lagi.”

[Liene] “Eh... bagaimana dengamu? Kau tidak tidur lagi?”

Dengan mata tertutup, dia meraba-raba untuk mencari Black. Black membawa tangannya yang meraba-raba ke wajahnya, lalu menghela napas tanpa suara.

Aku harap kau sadar betapa memukaunya dirimu di mataku.

[Black] “Aku akan tidur. Jika kau tidur lebih lama.”

[Liene] “Mm... O-oh, begitu.”

Kali ini dia meraba-raba permukaan tempat tidur. Tindakan yang mungkin tidak akan disadari orang lain, tetapi Liene sedang mencari selimut.

Black menarik selimut tipis musim panas yang menggumpal di ujung kaki, lalu meletakkannya di tangan Liene.

[Black] “Mau kuberi selimut? Dingin?”

[Liene] “Tidak... bukan... aku ingin kau berbaring juga.”

[Black] “Ah.”

Black segera berbaring di sampingnya.

Kadang-kadang, ketika melihat Liene, ada saat-saat di mana Black lupa bagaimana harus bersikap. Mungkin itulah yang dimaksud dengan kepala kosong, tidak bisa berpikir.

[Liene] “Kenapa kau... bangun secepat ini?”

Dia bergerak perlahan dan merayap mendekat ke dalam pelukan Black. Black menepuk punggungnya sambil berusaha keras agar tidak memeluknya terlalu erat.

[Black] “Karena anginnya sejuk. Kau?”

[Liene] “Eh, sepertinya aku juga... begitu.”

Wajah Liene yang tersenyum santai dengan mata tertutup, masih menjadi pemandangan yang sulit Black pahami.

Pikirannya seolah belum bisa membedakan apakah ini kenyataan atau bukan.

Mungkin karena itulah, pada saat-saat seperti ini, Black merasa berada di suatu tempat yang jauh, terpisah dari kenyataan dan waktu.

[Liene] “Kau benar. Sekarang waktu yang tepat untuk datang ke Bellisa. Nauk pasti akan terasa sedikit panas.”

Black dengan hati-hati mengangkat dan menyisir rambut Liene yang tersebar di pipinya ke belakang.

Pipi putih dan tengkuk Liene terekspos, dan selimut musim panas yang menutupi tubuh mereka sangat tipis.

Begitu ujung jarinya yang menyisir rambut meluncur dari pipi dan menyentuh bibir Liene, mulut Liene terbuka dengan sendirinya.

[Black] “Jika aku menciummu sekarang, apa kau akan marah?”

[Liene] “Mmm... Ah, kau bilang apa?”

[Black] “Aku bertanya apa kau akan marah.”

Meskipun setengah tidur, Liene mengerutkan bibirnya, tampak terkejut.

[Liene] “Kenapa tiba-tiba?”

[Black] “Karena aku harus tahu.”

[Liene] “Tidak, hal apa yang akan membuatku marah saat tidur?”

Black tahu Liene akan terganggu karena dia memaksakan ciuman saat Liene masih mengantuk, meskipun Liene mengatakan tidak akan marah.

Mereka meninggalkan Nauk dua hari yang lalu, dan baru tiba di Bellisa setelah tengah hari kemarin.

Setelah tiba di kastil, mereka membersihkan diri dan berganti pakaian. Kemudian, mereka mulai makan setelah Liene bilang dia lapar.

Sampai saat Black meminta agar makanan dibawa ke kamar tidur, bukan ke ruang makan, keinginannya hanyalah agar Liene dapat menikmati hidangan dengan lebih nyaman.

Begitu mereka menemukan waktu luang, mereka sudah berada di atas tempat tidur.

Tentu saja, seharusnya mereka tidak perlu repot-repot berganti pakaian sebelumnya.

Saat itu matahari sudah terbenam, dan mata Liene sudah setengah tertutup. Tapi dia ingin membersihkan tubuhnya yang berkeringat sebelum tidur, jadi mereka pindah ke kamar mandi.

Sebagai tambahan pembelaan, kamar mandi di Kastil Bellisa memang luar biasa.

Terdapat jendela besar di depan bak mandi, tempat ombak biru terlihat saat siang, dan ombak perak yang disinari bulan terlihat saat malam.

Matahari sudah benar-benar tenggelam, dan karena mereka tidak memanggil pelayan, hanya ada cahaya bulan di dalam kamar mandi.

Liene yang terendam air tampak seperti peri yang datang berkunjung dari bulan.

Ketika Black mengatakan itu, Liene tertawa terbahak-bahak, bertanya omong kosong apa itu, padahal anak-anak mereka sudah berusia delapan tahun.

Tawa yang tidak disembunyikan memenuhi kamar mandi bagaikan lonceng.

Black tidak bermaksud membela diri, tetapi begitulah cara mereka menghabiskan hari hingga pagi buta.

Meskipun begitu, mereka tidak terus berada di kamar mandi sampai fajar. Mereka pindah kembali ke kamar tidur sebelum airnya mendingin.

Bukankah Black pantas mendapat sedikit pujian? Karena berhasil mengendalikan diri dan tidak menghabiskan seluruh malam di kamar mandi bersama Liene.

Jadi, sekarang, mencium Liene bukanlah hal yang salah, 'kan?

Dengan pemikiran yang entah bagaimana tidak masuk akal, tetapi terasa benar-benar logis dalam benaknya, Black menggigit bibir bawah Liene.

[Liene] “Kau, ini.”

Liene menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

[Liene] “Jangan sekarang, jangan.”

[Black] "Ya. Kau bilang tidak akan marah."

Bagaimanapun juga, ciuman pagi itu berlangsung cukup lama, membuat Liene benar-benar terbangun dari tidurnya.

[Liene] “Sungguh, kita tidak boleh seperti ini. Kau tahu, ‘kan?”

Liene memegang ujung hidung Black dan dan menggerakkannya.

Black, bukannya menghentikan, malah memeluk erat Liene yang sedang berbaring menelungkup di atas tubuhnya.

[Black] “Aku tidak tahu.”

[Liene] “Tidak tahu apanya? Kita sudah sepakat sebelum datang, ‘kan?”

[Black] “Sungguh, aku tidak tahu. Kita sepakat mengenai apa?”

Liene membulatkan matanya.

[Liene] “Kau tidak ingat? Kita sepakat akan tidur satu malam saja lalu kembali. Jadi, kita tidak punya banyak waktu. Aku sudah jauh-jauh datang ke sini, tapi belum sempat pergi ke pantai.”

[Black] “Mmm... Aku tidak ingin mengatakan aku tidak ingat kesepakatan kita, tapi tetap saja aku tidak mengerti. Kita tidak mungkin datang sejauh ini hanya untuk tidur satu malam saja...”

Itu bohong. Black tahu betul mengapa Liene mengatakannya. Jadi, Black harus pintar-pintar bersikap saat ini.

Dia harus bersikap seolah benar-benar lupa tentang kesepakatan mereka.

[Liene] “Tentang anak-anak yang harus minta maaf. Aku bilang kita harus menyuruh mereka keesokan harinya, tapi kau bilang itu tidak mungkin dan harus dua hari lagi, ‘kan? Jadi, kita harus berangkat malam ini.”

[Black] “Oh, soal itu....”

Black sengaja membalikkan badan setengah putaran, bertukar posisi dengan Liene.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus, tetapi Black tahu bahwa wajah seseorang terlihat lebih baik ketika melihat ke bawah daripada saat melihat ke atas.

Black ingin penampilannya saat ini terlihat menarik di mata Liene.

[Black] “Anak-anak memang bersalah, tetapi hati mereka juga pasti terluka.”

Satu tangannya dengan lambat mengusap ujung bulu mata Liene.

Liene mungkin tidak tahu persis arti sentuhan itu bagi Black.

[Liene] “Terus?”

[Black] “Sebaiknya kita panggil anak-anak untuk datang.”

[Liene] “Ah...? Benarkah?”

Mungkin karena terkejut, sentuhan di ujung jarinya terasa intens.

Rasanya seperti getaran yang dihasilkan seekor burung pipit yang baru selesai mandi dan mengibaskan bulunya setelah mengembangkan bulunya selama musim dingin.

[Liene] “Mmm... tapi aku tidak yakin apakah itu ide bagus. Tentu aku tahu anak-anak suka Kastil Bellisa. Namun, secara tegas, kita juga sedang mengganti hukuman mereka dengan meninggalkan mereka di Nauk, ‘kan?”

[Black] “Kau tidak ingin anak-anak datang?”

Meskipun mustahil, tapi jantung Black berdebar karena harapan.

[Liene] “Mmm... bukan begitu, tapi kita tidak boleh menjadi pria tua dengan standar disiplin yang samar, ‘kan?

[Liene] “Jadi, karena sekarang kita sedang memberi mereka hukuman, kita harus pulang hari ini, lalu kita ajak anak-anak ke sini di lain waktu.”

Tidak, justru hal itulah yang paling tidak diinginkan Black. Liene sama sekali tidak tahu bahwa ini kali pertama mereka berpisah dari anak-anak sejak mereka lahir.

[Black] “... Itu agak sulit.”

Black bergumam pelan. Liene meraih wajahnya dengan kedua tangannya.

[Liene] “Kenapa? Kau tidak mau pulang?”

[Black] “Tidak, bukan begitu.”

Tentu saja, itulah alasannya. Tidak ada alasan lain sama sekali.

Sekali lagi, delapan tahun adalah usia di mana seseorang bisa ditikam, melarikan diri ke negara tetangga, dan bertahan hidup sendirian.

Anak-anak mereka sudah besar.

[Black] “Sebenarnya, aku sudah berpesan pada Fermos untuk mengirim anak-anak ke sini, mungkin besok.”

Black sengaja menyembunyikan waktu secara samar.

Sejujurnya, dia yakin anak-anak akan membuat keributan begitu tahu mereka pergi ke Kastil Bellisa.

Black sudah berpesan: tidak peduli seberapa keras Fermos melarang, anak-anak pasti akan mencari cara untuk datang.

Jadi, Fermos harus mengawasi mereka, dan baru boleh mengirim mereka jika sudah tidak bisa ditahan lagi.

Waktu yang Black perkirakan adalah sekitar dua hingga tiga hari.

Black juga sudah menyelesaikan negosiasi bahwa setiap hari anak-anak berhasil ditahan di Kastil Nauk, Fermos akan mendapatkan tambahan satu hari liburan musim dingin.

Jadi, jika berjalan lancar—jika Fermos bisa menahan Shellan dengan baik—mereka bisa berduaan selama lebih dari tiga hari.

[Black] “Jika kita berangkat, kita mungkin berpapasan di jalan.”

Dia memasang nada bicara yang paling lugas dan tanpa emosi.

[Black] “Itu sepertinya akan lebih buruk bagi emosi anak-anak.”

Sementara ucapan keluar dari bibirnya, di dalam hati, permohonannya diulang-ulang seperti sebuah doa:

Kumohon, percayalah padaku. Kali ini saja.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page