top of page

A Barbaric Proposal Side Story 24

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 6 menit membaca

Nasib Seorang Pengkhianat

[Dieren] "Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?"

Dieren marah pada anaknya yang kakinya sedang terluka.

Dia menunjuk lantai dengan penuh amarah. Di lantai, bunga-bunga yang dipetik oleh Pangeran Dief berserakan dalam keadaan setengah layu.

Dia datang sebelum seseorang sempat membersihkan bunga-bunga yang dilempar Seira karena kesal.

[Seira] "Itu... Aku marah... Aku minta maaf..."

Wajah Seira yang tadi memerah karena amarah, kini menjadi pucat.

Dalam empat belas tahun hidupnya, bisa dihitung dengan jari seberapa sering dia bertemu ayahnya.

Dan di usia empat belas tahun, dia sudah cukup mengerti apa artinya, dan apa peran ibu tiri dan saudara tirinya dalam kehidupannya.

Berkat pemahaman itu, Seira masih merasa terintimidasi.

Kehidupan keluarga Grand Duke memang terlihat mewah, tapi rasanya tidak memberikan ruang bernapas yang cukup bagi anak empat belas tahun.

Kakeknya yang matanya menajam setiap kali melihatnya, dan ayahnya yang sama sekali tidak menunjukkan kasih sayang, selalu menjadi sosok yang membuat tidak nyaman dan menakutkan.

[Dieren] "Marah? Kau bilang kau marah meskipun dia membawakanmu bunga?"

[Seira] "Bukan... Karena dia menanyakan tentang ibuku...?"

[Dieren] "Memangnya kenapa?"

[Seira] "Aku... Aku merasa dia menyindir aku bukan anak dari Istri Pangeran Alito...?"

[Dieren] "Hah, astaga."

Dieren menghela napas sambil memegang dahi.

[Dieren] "Ada batasnya menjadi bodoh... Pangeran Dief menyukaimu. Apa masalahnya jika dia menanyakan tentang ibumu atau tidak."

[Seira] "Aku... Aku rasa itu aneh. Dia masih anak kecil."

[Dieren] "Justru karena dia anak kecil! Inilah kesempatanmu!"

Dieren menaikkan suaranya.

[Dieren] "Sekarang saatnya, saat dia belum tahu apa-apa!"

[Seira] "......"

Seira menggigit bibirnya, tidak menemukan ucapan untuk membantah.

Dieren mendekat dan tiba-tiba meraih lengan Seira.

[Dieren] "Kau ingat apa yang Grand Duke katakan, kan? Apa yang harus kau lakukan?"

[Seira] "Sakit... Sakit."

[Dieren] "Jawab!"

Seira menahan tangisnya dan berkata dengan susah payah dengan lengannya yang dicengkeram.

[Seira] "Aku harus menunjukkan kegunaanku... Dia bilang begitu."

[Dieren] "Apa kegunaanmu?"

[Seira] "Karena wajah yang sama dengan pemilik nama Vasheyd, jadi aku... harus membawa nama Arsak..."

[Dieren] "Bagus. Kau ingat. Tapi apa ini, hah!"

Dieren akhirnya melepaskan lengan Seira dan malah menunjuk bunga-bunga yang mengotori lantai.

[Dieren] "Kau seharusnya berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kasih sayang! Tapi kau malah menendang kasih sayang yang datang dengan sendirinya!"

[Seira] "......Aku minta maaf."

Seira menggigit bibirnya erat-erat.

Menjadi anggota keluarga Grand Duke ada harganya.

Namun, Seira tidak sepenuhnya menyadarinya. Meminta Seira mendapatkan janji pernikahan dari anak berusia delapan tahun adalah hal yang sangat tidak masuk akal.

Usia delapan tahun adalah usia di mana mereka baru beberapa tahun lepas dari popok.

Namun, Grand Duke bersikap serius. Pangeran Alito dan istrinya pun juga serius.

Tentu saja, Istri Pangeran Alito menentang keras. Dia berteriak bahwa yang harus menjalin hubungan dengan Kerajaan Nauk adalalah keturunannya sendiri, lalu dia melempar cangkir teh ke arah Seira.

Rasanya mustahil, tapi mereka semua sangat serius. Jadi semuanya terasa semakin mustahil.

Seira mendengar Pangeran yang berusia delapan tahun mengatakan dirinya cantik. Saat itu, dia sangat ketakutan. Rasanya seolah semua orang selain dirinya hidup di dunia yang tidak masuk akal.

[Dieren] "Aku akan menyiapkan jamuan teh sore nanti. Undang Pangeran Dief. Lalu lakukan tugasmu."

[Seira] "......Ya. Aku akan melakukannya."

Seira yang mengangguk lemas, kemudian melihat ke arah Dieren dan bertanya.

[Seira] "Um, tapi..."

[Dieren] "Ada apa?"

[Seira] "Bagaimana jika Pangeran Dief tidak mau menikah?"

[Dieren] "Hah, apa kau serius menanyakannya?"

Dieren memasang wajah masam.

[Dieren] "Kau harus membuatnya mau. Dia hanya anak berusia delapan tahun. Jangan bilang kau tidak bisa menghadapi satu anak kecil."

[Seira] "......"

Sungguh dunia yang tidak masuk akal bagi seorang anak berusia empat belas tahun untuk bisa hidup.

[Shellan] "Hiks!"

[Dief] "Huu... Aku sangat, sangat benci ini."

Sementara itu, di sisi lain, terjadi kekacauan.

Liene, yang sedang di kantor seperti biasa, harus mengusir semua sekretaris kerajaan karena anak-anak tiba-tiba menerobos masuk. Mereka menangis sambil memegangi kedua lengannya.

Tangisan mereka tidak mudah berhenti, sehingga Nyonya Flambard dan Nyonya Renfel pun bergegas datang.

[Liene] "Hatiku sakit melihat kalian menangis seperti ini. Maukah kalian ceritakan apa yang terjadi? Kita bisa memikirkan cara agar kalian berhenti menangis bersama-sama."

Dia ingin memeluk mereka dengan lembut, tapi kedua lengannya sudah dikuasai, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.

[Liene] "Apa yang membuat kalian begitu sedih?"

[Dief] "I, Ibu......"

Dia terkejut mendengar gumaman Dief yang hidungnya tersumbat.

[Liene] "Aku? Apa aku melakukan kesalahan pada kalian?"

[Shellan] "Tidak...... Hiks, Ayah."

Shellan bermanja-manja untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dia menggosok wajahnya di lengan baju Liene sambil menggelengkan kepala.

[Liene] "Ayah? Apa yang dia lakukan?"

[Shellan] "Orang lain...... Orang lain."

Saat dia baru mengucapkannya, suara Black terdengar dari luar kantor.

[Black] "Liene. Ini aku."

Di Kastil Nauk, semua orang cenderung tidak terlalu peduli dengan etiket atau formalitas. Tidak ada pengawal yang mengikuti setiap langkah Raja, dan hampir tidak ada pengumuman saat Raja masuk ke dalam ruangan.

[Black] "Bolehkah aku masuk?"

[Liene] "Ya. Anak-anak baru saja tiba..."

Bahkan sebelum Liene sempat menyambut kunjungan tak terduga.

Si kembar yang tadinya bermanja-manja tanpa peduli apa pun, tiba-tiba mengangkat kepala dan berteriak serempak.

[Shellan] "Jangan! Ayah tidak boleh masuk!"

[Dief] "Jangan masuk! Pergi!"

Liene terlalu terkejut dan hanya bisa menatap mereka dengan mulut terbuka. Dia sama sekali tidak tahu mengapa mereka bertingkah seperti itu. Nyonya Flambard dan Nyonya Renfel menunjukkan reaksi yang sama.

[Black] "......Shellan? Ada apa?"

Setelah Black bersuara pelan, terdengar suara pintu berderit, lalu pintu terbuka sedikit.

[Shellan] "Astaga! Jangan!"

Mereka berlari menuju pintu tanpa ada yang memimpin. Nyonya Flambard dan Liene mencoba menghentikan mereka, tapi sia-sia.

[Flambard] "Astaga! Kalian bisa jatuh jika berlari seperti itu!"

[Liene] "Anak-anak. Kenapa kalian..."

Brak!

Anak-anak mendorong pintu yang terbuka dengan sekuat tenaga hingga tertutup.

[Black] "Ada apa? Bicaralah. Sekarang minggir dulu. Kalian akan terluka."

Pintu terbuka sedikit lagi. Anak-anak terkejut melihat celah pintu yang terbuka dan kali ini mereka memblokir pintu dengan punggung mereka.

Wajah anak-anak memerah. Pintu terus terbuka sedikit demi sedikit tanpa mau tertutup sedikit pun.

[Black] "Shellan, Dief. Apa yang kalian lakukan? Minggir dulu. Lalu jelaskan apa maksud kalian."

Shellan mengeraskan suaranya dengan wajah merah.

[Shellan] "Ayah, tidak boleh."

[Black] "Apa yang tidak boleh?"

[Shellan] "Melihat Ibu."

[Black] "Kenapa tidak boleh?"

[Shellan] "Ayah pengkhianat."

[Black] "......Apa kau bilang?"

Brak!

Black melepaskan kekuatannya sesaat, dan pintu pun didorong hingga tertutup. Anak-anak menghela napas lega.

Tapi itu hanya sesaat.

[Black] "Aku perlu dengar apa yang terjadi. Jika kalian masih menghalangi pintu, minggir. Kalian akan terluka."

Shellan dan Dief menggelengkan kepala dengan keras.

[Shellan] "Tidak boleh!"

[Dief] "Jangan masuk!"

[Shellan] "Ayah tidak pantas!"

[Dief] "Benar!"

Akhirnya, Liene mendekati anak-anak.

[Liene] "Anak-anak. Kalian sangat tidak sopan dan tidak adil pada Ayah sekarang. Kenapa kalian melakukan ini?"

Shellan menjawab.

[Shellan] "Karena dia mengkhianati Ibu!"

[Liene] "......Apa? Apa maksudmu? Ayah tidak pernah melakukannya. Kalian salah paham."

[Shellan] "Dia mencintai orang lain selain Ibu! Dia bahkan memberinya cincin! Itu pengkhianatan!"

[Dief] "Memberikan cincin adalah lamaran! Itu pengkhianatan!"

[Liene] "Itu..."

Saat ini, Liene pun tidak bisa berkata-kata.

Tahun lalu, si kember telah mengetahui masa lalu pria tua mereka. Bahkan saat itu, Liene sulit untuk berterus terang. Dia menceritakan kisah yang dipotong dan dihilangkan sebisa mungkin agar mereka tidak tersakiti.

Tentu saja, bagian yang dipotong adalah Blini Vasheyd. Dia tidak ingin anak-anak tahu tentangnya. Bukan karena sulit dijelaskan, tapi karena hal-hal yang berhubungan dengannya pasti akan mengacaukan emosi manusia normal dan meninggalkan luka.

Tapi mereka sudah mengetahuinya.

Seseorang pasti membuka mulut......

Blini sudah mati.

Aku tidak akan membiarkan menceritakannya bisa lolos.

[Liene] "Tidak, Anak-anak. Itu terjadi jauh sebelum kami menikah. Itu bukan pengkhianatan."

[Shellan] "Itu pengkhianatan! Ayah mencintai orang lain!"

[Dief] "Benar! Orang yang dicintai harusnya hanya satu!"

Liene kaget, sangat marah pada siapa pun yang berani menceritakan tentang Blini kepada anak-anak, dan dia kesulitan menahan tawa gugup.

Shellan begitu pintar, tapi dia begitu polos sehingga secara emosional dia tidak bisa menerima fakta bahwa cinta bisa berakhir.

Mereka memang anak-anak. Betapa manisnya.

[Liene] "Tidak begitu. Ayah tidak mencintainya.”

[Shellan] "Dia kekasihnya, kan? Dan ayah memberinya cincin?"

[Liene] "Hmm...... Dia bukan kekasih Ayah."

[Shellan] "Apa?"

[Dief] "Apa?"

Wajah kecil mereka membeku karena terkejut.

[Shellan] "Ayah memberikan cincin tapi dia bukan kekasihnya?"

[Dief] "Bukan hanya cincin biasa, tapi harta karun kerajaan Gainers!"

[Liene] "Hmm.... begini..."

Liene memegang dahinya sejenak.

Bagaimana aku harus menjelaskannya......

Mengatakan yang sebenarnya ternyata jauh lebih sulit dari yang dia kira.

Bahkan Liene membutuhkan waktu untuk menemukan cara yang meyakinkan untuk menjelaskan bahwa Black, meskipun penah berhubungan dengan wanita itu dan memberinya cincin, tapi dia tidak punya perasaan atau hubungan kekasih dengannya.

Dan akhirnya Liene gagal.

Sebaliknya, Black mendapat satu tuduhan lagi: Dia menjadi pengkhianat yang mencintai orang lain dan, pada saat yang sama, orang jahat yang berbohong kepada Ibu mereka untuk menyembunyikan fakta itu.

Tentu saja, Liene menjadi korban yang sangat polos dan menyedihkan karena memercayai perkataan Black bahwa dia memberikan cincin pada orang lain yang bukan kekasihnya.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page