top of page

A Barbaric Proposal Side Story 25

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 20 Des 2025
  • 5 menit membaca

Panah yang Salah Arah

Untungnya, saat itu sudah waktunya makan untuk anak-anak.

Liene berhasil membujuk anak-anak yang sudah keroncongan dengan pai krim, lalu menyerahkan mereka ke tangan para pengasuh.

Dia segera mencari Dieren Alito.

[Black] “Kita jalan pelan-pelan saja.”

Black menyusul saat Liene berjalan sambil memegang ujung roknya dan terlihat kesal.

Liene menoleh, menatap wajah Black.

[Liene] “Kau di mana tadi?”

[Black] “Aku tetap di tempat yang sama.”

[Liene] “Kau membiarkanku menghadapi anak-anak sendirian?”

[Black] “Itu...”

Kening Black mengerut. Liene tahu betul ekspresi kerutan kening. Ekspresi yang muncul ketika Black tak punya alasan atau pembelaan apa pun untuk disampaikan.

[Liene] “Aku mengerti. Namun, kau keliru. Cara itu tidak akan bisa meyakinkan anak-anak.”

Liene memalingkan wajah dan kembali berjalan. Black mempercepat langkah, lalu menghalangi jalannya.

[Black] “Bukan karena anak-anak.”

[Liene] “Lalu?”

[Black] “Karena dirimu.”

Liene menghela napas keras.

[Liene] “Kau khawatir aku akan marah lagi soal itu? Memangnya menurutmu aku ini orang macam apa? Kita sudah membahasnya berulang kali.”

[Black] “Bukan karena aku takut pada reaksimu, melainkan karena aku tidak dapat menemukan jawaban yang harus kau dengar.”

[Liene] “Jawaban apa? Aku sudah mendengar semua yang terjadi padamu. Jangan-jangan ada hal lain lagi yang tidak kuketahui?”

[Black] “Bukan.......”

Liene mengulurkan tangan dan mendorong Black.

[Liene] “Kau minggir sebentar. Ada yang harus aku lakukan sekarang!”

Hampir sepuluh tahun mereka menikah. Tidak mungkin mereka berdua tidak bisa membaca ekspresi satu sama lain.

Black tahu bahwa Liene marah karena alasan yang berbeda dari apa yang Black khawatirkan.

Sepertinya cerita yang kini mengganjal di hati Black harus ditunda.

[Black] “......Haruskah kita berjalan cepat-cepat?”

[Liene] “Ya, aku ingin cepat-cepat. Jadi, segera menyingkir.”

[Black] “Kalau begitu serahkan padaku.”

[Liene] “Kau mau apa... Astaga!”

Black mengangkat Liene. Meskipun terkejut, kedua lengan Liene secara refleks melingkari leher Black.

[Black] “Kita harus pergi ke mana?”

[Liene] “Aku merasa ada yang tidak beres, tapi aku ingin menyelesaikan urusan ini dulu. Jadi, ayo cepat pergi.”

[Black] “Katakan. Ke mana kita harus pergi.”

[Liene] “Ke Dieren Alito.”

Black mulai melangkah dengan langkah lebar. Liene puas karena kecepatan Black jauh lebih cepat daripada saat Liene memegang ujung roknya dan berjingkat.

BAM!

Pintu ruang tamu di sayap timur, tempat Pangeran Alito menginap, terbuka dengan keras.

Sepertinya engselnya agak rusak, karena Black menendangnya dengan kaki saat Liene masih dalam gendongannya.

[Dieren] “Ugh, Astaga!”

Dieren terkejut hingga menjatuhkan gelas minumnya.

[Dieren] “Eh, kenapa, ada apa!”

[Liene] “Ada yang ingin aku katakan padamu.”

Liene menepuk lengan Black, memberi isyarat agar Black menurunkannya.

Dulu, Liene mungkin merasa sedikit malu, tetapi kini dia begitu marah hingga tak sempat memikirkan rasa malu.

[Dieren] “A-apa?”

Menghadapi wajah Dieren, kemarahan Liene semakin memuncak.

Dieren tanpa sadar mundur. Bahkan tanpa perasaan yang peka, Dieren tahu bahwa suasananya tidak biasa.

[Dieren] “Jika kau memanggilku, aku akan datang tanpa perlu kau datang sendiri—”

[Liene] “Tinggalkan Nauk.”

[Dieren] “A-apa? Apa katamu?”

[Liene] “Sekarang juga. Aku akan mengirim orang untuk membantumu mengepak barang.”

Wajah Dieren memerah karena marah.

[Dieren] “Sikap macam apa ini? Sikap tanpa sopan santun kepada seseorang yang datang atas undangan! Apakah nama Alito remeh di mata Nauk?”

[Liene] “Lantas, bagaimana dengan Alito? Seberapa besar bobot nama Nauk bagimu?”

[Dieren] “A-apa... apa yang kau bicarakan?”

[Liene] “Menurutmu, aku ini tidak berarti?”

[Dieren] “Hah, tidak, omong kosong macam apa itu,”

Liene menghela napas keras.

[Liene] “Jika tidak, dengan pemikiran apa kau menceritakan kisah Blini Vasheyd kepada anak-anakku?”

Mulut Dieren ternganga.

[Dieren] “Tidak, tadi... apa yang aku lakukan?”

[Liene] “Kau pasti tahu betul kerusakan yang ditimbulkan Blini Vasheyd pada Nauk. Wanita itu meracuniku. Itu sudah cukup bagi Nauk untuk menganggap Alito sebagai musuh.”

[Dieren] “Itu kisah dari kapan...”

[Liene] “Kisah dari kapan?”

Black, yang berdiri di samping Liene, mengerutkan alis dan menatap Dieren.

[Black] “Bagiku, kejadian itu sama saja terjadi kemarin. Apakah Alito sudah melupakan semuanya?”

[Dieren] “Uh, itu... bukan, aku... perkataan yang...”

Ujung bibir Black terangkat.

[Black] “Berani-beraninya kau.”

[Dieren] “Ugh... Ti-tidak! Bukan! Aku tidak lupa! Sungguh! Aku salah bicara! Percayalah padaku!”

Meskipun Dieren punya banyak kekurangan, yang terburuk adalah suaranya akan meninggi saat dia ketakutan. Persis seperti sekarang.

Black mengerutkan kening.

Jika telinganya sendiri merasa terganggu, Liene pasti merasa lebih terganggu.

Black melangkah maju dan menekan bagian tengah leher Dieren dengan telapak tangannya.

[Dieren] “Uhuk! Kau mau m-membunuhku!”

[Black] “Diam.”

[Dieren] “To-tolong selamatkan—”

[Black] “Suaramu terlalu keras. Mengganggu.”

[Dieren] “Kkhh, uhuk,”

Untungnya, sifat Dieren yang kembali sadar pada saat genting membuatnya berhasil menutup mulut. Sebaliknya, dia mati-matian mencari Liene dengan kedua matanya.

Dieren tahu betul bahwa Black tak punya emosi saat bertindak.

Black adalah manusia yang akan mencoba memotong saudaranya tanpa ragu-ragu.

Alasannya, jujur saja, adalah Liene Arsak. Dulu dan kini, Liene adalah satu-satunya manusia yang bisa menahan Black.

[Liene] “Terima kasih, kini suasana jadi lebih tenang. Aku berterima kasih.”

[Dieren] “Uh, apa?”

Mendengar ucapannya, punggung leher Dieren terasa dingin dan kakinya lemas.

Liene Arsak, yang selama ini cukup lembut dibandingkan Black, kini telah berubah.

Liene memancarkan aura dingin, tak kalah dari suaminya.

[Black] “Bukan masalah bagiku. Kalau begitu, mari kita lanjutkan.”

Black melepaskan tangan dan berbalik. Kini suaranya kembali normal, tetapi Dieren tidak bisa berkata apa-apa.

[Liene] “Grand Duke telah melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Alasan Nauk memutuskan melupakan kesalahan Alito dan mempertahankan hubungan baik adalah karena Alito telah lebih dulu menghapus keberadaan Blini Vasheyd. Tapi kau membangkitkan kembali orang itu. Kau melakukannya pada anak-anakku, yang sungguh aku harap takkan pernah mengenalnya.”

[Dieren] “T-tidak, sepertinya itu kesalahpahaman.”

[Liene] “Tutup mulutmu. Aku tidak akan mendengarkan pembelaan apa pun lagi. Kemasi barang-barangmu dan pergilah. Aku harap aku tidak akan pernah melihatmu ataupun orang-orang Grand Duchy Alito lagi.”

[Dieren] “Tu-tunggu... Tunggu sebentar!”

Dalam situasi yang absurd dan mengerikan, di mana Dieren tiba-tiba diusir oleh satu-satunya orang yang bersikap baik padanya di tempat terkutuk ini, Dieren melihatnya dengan jelas.

Black membuka mulut, dan tertawa tanpa berusaha menyembunyikannya.

Dieren mati-matian berusaha menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur.

[Dieren] “Ini fitnah! Aku tidak pernah, tidak pernah mengatakan apa pun! Siapa yang bilang aku mengatakan hal seperti itu?”

[Liene] “Karena tidak ada orang lain selain dirimu yang akan melakukan tindakan seperti itu.”

[Dieren] “Tidak, aku tidak melakukannya! Aku bersumpah demi nama Alito! Bukan aku pelakunya!”

[Liene] “Kalau begitu, apakah ada orang seberani itu di Nauk? Bukankah rasanya tidak masuk akal?"

[Dieren] “Ah, itu...”

Wajah cantik dan tajam yang menanyai Dieren sama sekali tidak goyah. Sebenarnya Dieren pun berpendapat demikian.

Takkan ada orang yang berani mencoreng masa lalu yang sudah dikubur oleh kedua Pemimpin Nauk di hadapan anak-anak mereka.

Tentu saja ada dua orang semacam itu (Klima dan Fermos), tetapi sayangnya Dieren takkan pernah bisa mengetahui kebenarannya.

[Dieren] “Tapi tetap saja, bukan... bukan aku. Lagi pula, apa untungnya aku menceritakan kisah mendiang saudariku... bukan, bahkan bukan saudari kandungku. Itu hanya akan membuat anak-anakmu semakin membenciku. ... Tidak, tunggu! Tunggu sebentar!”

Seolah teringat sesuatu, Dieren melompat sambil berbicara.

[Dieren] “Ya, benar! Aku bukan pelakunya! Posisiku harus memenangkan hati anak-anak tanpa syarat! Aku membawa hadiah untuk mereka, dan sekarang masih ada satu gerbong penuh hadiah! Jadi, mengapa aku melakukan hal bodoh yang akan membuatku...”

Perasaan tidak adil yang Dieren luapkan dengan urat leher menonjol, tiba-tiba terhenti di tengah jalan.

[Liene] “Tanpa syarat?”

[Black] “Mengapa harus anak-anak, bukannya Liene?”

Liene dan Black memotong ucapan Dieren secara bersamaan.

[Dieren] “Maksudku... Aku... Maksudku, aku harus... Karena mereka adalah yang akan mengenakan mahkota berikutnya, jadi...”

Dieren berusaha keras mengeluarkan suaranya, tetapi tidak berhasil.

[Liene] “Hentikan dalihmu.”

[Black] “Bicara yang benar. Jika kau ingin kembali berjalan dengan kakimu sendiri.”

[Dieren] “Itu... aku...”

Tujuan kunjungannya ke Nauk—yakni ambisi Grand Duke Alito untuk menikahi anggota keluarga Arsak di generasi berikutnya—akhirnya diakui Dieren dalam waktu kurang dari lima menit.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page