top of page

A Barbaric Proposal Side Story 17

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 7 Des 2025
  • 5 menit membaca

Masalah Selera

Tidak mungkin.

Tangan kecil Shellan menggenggam garpu. Dekorasi garpu meninggalkan bekas merah yang menekan telapak tangannya, tetapi Shellan tidak menyadarinya.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Jelas, beberapa saat yang lalu, suasana di antara Ibu dan Ayah berbeda dari biasanya. Ibu berusaha tidak menatap mata Ayah, dan Ayah sebaliknya, menatap Ibu tanpa berkedip.

Berarti masalahnya ada pada Ayah.

Untuk mengetahui hal itu, tidak perlu sepintar dirinya. Siapa pun dengan sedikit pengamatan pasti akan menyadarinya.

Karena itu, Shellan yakin orang tuanya tidak akan pergi berlibur.

Setidaknya, perjalanan akan ditunda sampai hati Ibu melunak.

Tapi kenapa?

Shellan menggertakkan giginya.

Keyakinannya seolah luntur saat jamuan makan malam.

Orang tuanya memasuki ruang perjamuan dengan berjalan beriringan sambil berpegangan tangan, sama mesranya seperti biasa.

[Dieren] "Terima kasih telah menyelenggarakan acara yang terhormat ini, Yang Mulia. Sebagai sekutu abadi Nauk, dan juga sebagai sahabat Arsak, aku akan mengingat sambutan ini."

Pangeran Dieren berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Ibu. Maksudnya untuk mencium punggung tangan Ibu. Tentu saja, kali ini pun dia tidak berhasil.

[Black] "Singkirkan."

Ayah dengan cepat mencegah Pangeran Dieren. Perbuatan Ayah bukan hal baru.

[Dieren] "Kenapa kau dengan seenaknya membuatku menjadi orang yang tidak sopan...... Sial."

Pangeran Dieren, yang mencoba melawan, tiba-tiba menutup mulutnya rapat-rapat.

Ayah pasti sudah melakukan sesuatu. Shellan sudah menyaksikannya berulang kali.

[Liene] "Aku anggap sapaanmu sudah diterima. Kalau begitu, mari kita duduk sekarang."

Dengan gestur Ibu yang elegan, situasi tengang pun berakhir.

Semua orang, termasuk orang tuanya, duduk di kursi masing-masing.

Seperti biasa, tempat duduk orang tuanya diletakkan bersebelahan di kursi kehormatan, begitu dekat sehingga Shellan bertanya-tanya apakah lengan mereka tidak akan saling bersentuhan dan mengganggu.

[Liene] "Sebaiknya kita menyisakan sedikit ruang di perut. Katanya akan ada manisan kelapa sebagai makanan penutup."

[Black] "Oh, benarkah?"

Ibu tersenyum, matanya melengkung. Senyum yang muncul karena dia benar-benar senang.

[Liene] "Apa sudah masuk musim kelapa?"

[Black] "Memang sedikit lebih awal dari tahun lalu. Baru masuk kemarin."

[Liene] "Aha. Tapi hari ini sudah menjadi makanan penutup. Kau pasti sudah mengaturnya sebelumnya."

[Black] "Kau akan menyukainya. Aku senang hasilnya sesuai harapan."

Bibir Ayah secara alami menyentuh kepala Ibu.

Tidak mungkin.

Kapan mereka berbaikan?

Jika situasinya terus begini, orang tuanya akan berangkat berlibur malam ini sesuai jadwal.

Kepala Shellan berputar cepat.

Berarti Putri Seira yang mirip seseorang sudah bukan masalah lagi...... Oh, kalau begitu Putri Seira harus menjadi masalah lagi.

Dan Shellan sudah tahu bagaimana cara menimbulkan masalah.

[Shellan] "Maaf, Dief. Aku lupa. Duduklah di sini. Aku akan menukar tempat duduk denganmu."

Ketika Shellan meninggikan suaranya, semua orang menoleh ke arah mereka.

[Dief] "Hah?"

Dief bertanya balik dengan wajah polos. Shellan menatap mata Dief lurus-lurus dan berbicara dengan jelas.

Teori bahwa pikiran anak kembar bisa terhubung adalah teori yang patut dipercaya. Dia pernah membacanya di buku ketika berusia sekitar lima tahun, tetapi Shellan masih mengingat semuanya.

Terkadang, dia merasa Dief mengerti bukan karena dia memahami semua kata, melainkan karena ikatan anak kembar.

[Shellan] "Kau bilang ingin duduk dekat dengan Putri Seira, kan? Tempat dudukku lebih dekat. Cepat duduk di sini."

[Dief] "Er...... Hah?"

[Shellan] "Jangan malu-malu. Itu yang tadi kau katakan padaku saat kita hanya berdua."

Shellan dengan sigap berdiri dan menempatkan Dief yang masih kebingungan untuk duduk di tempatnya.

[Shellan] "Kau berterima kasih, kan? Balas aku nanti."

[Dief] "Mmm...... Ya. Aku akan melakukannya."

Syukurlah. Dief entah bagaimana menangkap maksud Shellan.

Begitu Dief duduk di tempat Shellan, dia berada tepat di seberang Putri Seira. Tampaknya sedikit rona merah muncul di pipi Putri Seira saat menatap Dief yang kebingungan.

Duduk di tempat Dief, Shellan kembali meletakkan serbet di pangkuannya sambil menatap Ibu.

[Shellan] "Putri Seira benar-benar cantik, seperti yang Dief katakan, Ibu. Iya, kan?"

Mendengar perkataannya, Dieren tertawa lebar dan berseru.

[Dieren] "Ah, buah tak jatuh jauh dari pohonnya, kan?"

Wajah Ibu dan Ayah seketika menegang.

Sudah pasti. Seperti dugaanku, insting tajamku memang benar.

Putri Seira memang menjadi masalah bagi orang tuanya.

Shellan tersenyum cerah sambil menatap Liene dan Black.

Senyum yang mengatakan: Kalian tidak bisa pergi berlibur meninggalkanku.

Randall berkata dengan ekspresi serius.

[Randall] "Saya akan pergi dan memenggal lehernya."

[Black] "......Tidak boleh ā€˜di sini’. Kau akan ketahuan."

Orang yang dimaksud Randall hanyalah satu, yaitu Dieren.

Meskipun Black tahu itu tidak mungkin dilakukan, dia menambahkan kata 'di sini' berarti dia juga ingin memenggal leher Dieren.

[Randall] "Berani-beraninya dia mengucapkan omong kosong di hadapan Pangeran Dief."

Perkataan Dieren adalah masalahnya.

—Darah memang tidak akan lari ke mana. Iya, kan?

Dieren tidak bermaksud mengatakan Putri Seira mirip dengan wajah Putri Blini yang gila. Tapi maksudnya adalah Dief memiliki selera yang sama dengan sang ayah, sama seperti Black pernah terjerat dengan Putri Blini.

Hanya saja anak-anak yang tidak mengerti maknanya.

Syukurlah anak-anak tidak mengerti.

[Randall] "Tidak, saya tidak setuju. Setelah dipikirkan, manusia itu harus dipenggal lehernya."

[Fermos] "Meskipun prosesnya akan rumit, itu bukan hal yang mustahil, Tuanku."

Fermos, yang seharusnya bertugas menenangkan Randall, malah ikut memprovokasi.

[Fermos] "Ukuran Alito mudah kita telan, kan? Saya perkirakan tiga bulan."

[Black] "......"

Black melirik Fermos tanpa bicara.

Ketika pandangan mereka bertemu, Fermos bertanya dengan serius.

[Fermos] "Apa saya harus menurunkannya menjadi dua bulan?"

[Black] "......Kita lihat saja nanti."

Bagaimanapun, Black tidak menolak. Dia membiarkan satu kemungkinan terbuka.

Kedua wakil komandan saling mengangguk, bertekad untuk meraih kemenangan dalam perang yang mungkin akan segera terjadi.

[Black] "Fokus pada Liene terlebih dahulu."

Dan desahan tanpa suara mengikuti.

Perjamuan berakhir, Liene berkata bahwa dia perlu berpikir dan kembali ke kamar sendirian. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang rencana perjalanan yang seharusnya dimulai malam ini.

Akibatnya, Black ditinggalkan menunggu Liene dengan perasaan hampa, sementara kereta kuda sudah siap siaga.

Malam sudah mulai terasa lembap.

Sial.

Cuaca seperti ini cenderung membuat suasana hati menjadi muram.

Black bersandar pada kereta kuda yang sudah terisi penuh dengan barang bawaan dan menatap tanpa henti ke arah kastil utama, tempat Liene akan muncul.

Akhirnya, bentuk samar seseorang mulai terlihat di depan kastil.

[Randall] "Oh, dia datang,"

Ketika Randall berseru, Black sudah melesat ke depan.

[Randall] "Dia datang...... Aduh."

Lalu, Randall tanpa sadar menghela napas.

Black, yang bergegas maju, berhenti di tengah jalan. Berarti orang yang muncul bukan Liene.

[Randall] "Astaga. Itu Nyonya Kepala Pelayan."

[Fermos] "Benar."

Nyonya Renfel mendekati Black dan menyampaikan pesan Liene.

[Renfel] "Beliau berkata sulit untuk berangkat hari ini."

[Black] "......"

Black tidak mengatakan apa-apa, tetapi semua orang merasa seperti mendengar desahan yang sangat berat.

Byur.

Ketika Liene menggelengkan kepala, terdengar suara air.

Sepertinya musim panas akan datang lebih awal tahun ini, karena suhu malam hari tiba-tiba melonjak. Karenanya, meskipun air mandi sudah agak dingin, dia justru merasa lebih nyaman.

Apa yang harus kulakukan?

Liene tahu betapa kerasnya usaha Black mempersiapkan perjalanan mereka. Karena itu, dia tidak sanggup bertatap muka dan mengatakan bahwa dia tidak bisa melangkah pergi.

Setelah mendengar bahwa Black terus menunggu di samping kereta, dia terpaksa mengirim Nyonya Renfel untuk menyampaikan pesan.

Dia pasti sangat kecewa.

Meskipun Liene tahu itu, dia merasa kesal pada sifatnya sendiri yang tidak bisa meninggalkan anak-anak.

Apa yang harus kukatakan?

Semuanya peristiwa sudah lama berlalu, dan Putri Blini sudah dilupakan.

Black mengatakan bahwa dia tidak pernah menyukainya, jadi itu masalah yang sudah selesai.

Namun, pikiran bahwa Dief mungkin jatuh hati pada wajah yang sangat mirip dengan Putri Blini membuat ujung jari Liene terasa dingin.

Tidak, Pangeran Dieren mengatakan Seira adalah putrinya...... Tapi kita tidak pernah tahu, kan?

Pangeran Dieren bukanlah seseorang yang bisa dianggap selalu mengatakan kebenaran. Terlebih lagi, tidak ada sepatah kata pun tentang Putri Seira saat Liene menerima balasan undangan, perlakuan itu sudah cukup untuk menimbulkan kecurigaan.

Terlepas dari semua itu, aku tidak suka wajahnya.

Dia tahu. Dia tahu anak itu tidak bersalah sama sekali.

Dief baru berusia delapan tahun, dan meskipun selera ayah dan anak kebetulan sama, tidak ada yang tahu berapa lama akan berlangsung.

[Liene] "......Tidak, aku benci gagasan bahwa selera mereka sama!"

Byur!

Liene tiba-tiba merasa marah dan tanpa sadar meninggikan suara. Tangannya tanpa alasan menghantam permukaan air yang tenang.

Splash!

Air yang meluap akhirnya tumpah keluar dari kamar mandi.

Saat itu juga.

Tok...... Tok.

Terdengar ketukan yang agak ragu-ragu.

[Black] "Ini aku. ......Bolehkah aku masuk?"

Itu adalah Black.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page