A Barbaric Proposal Side Story 18
- Crystal Zee

- 7 Des 2025
- 6 menit membaca
Darah Lebih Kental dari Air
[Liene] "Tidak! Jangan!"
Liene berseru panik.
[Black] "……Tidak boleh?"
Terdengar jawaban yang rendah seperti bisikan.
[Liene] "Ya, sekarang aku agak…… tidak nyaman."
[Black] "Apa yang tidak nyaman?"
Maksud Liene adalah dirinya tidak nyaman untuk menghadapi Black saat ini.
[Black] "Perasaanmu?"
[Liene] "Bukan, itu......"
Liene menggelengkan kepalanya yang basah.
[Liene] "Aku minta maaf karena melanggar janji. Tapi hari ini aku benar-benar tidak bisa."
[Black] "Liene."
Tuk.
Bersamaan dengan suara panggilan Black, terdengar suara gesekan kecil. Liene tahu suara itu. Itu suara yang biasanya terdengar ketika Black bersandar di pintu yang tidak terbuka dan duduk di lantai.
[Black] "Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membuat perasaanmu membaik."
[Liene] "Hanya…… sedikit khawatir. Aku tidak marah padamu."
Black tidak mudah mempercayai ucapannya.
[Black] "Meskipun begitu, aku bisa melakukan sesuatu agar Dieren tidak bisa berbicara lagi untuk kedua kalinya."
Liene tersentak di dalam air.
[Liene] "Tidak perlu. Itu tidak akan mengubah apa-apa."
[Black] "Banyak hal akan berubah. Pertama, dia akan pulang bersama anak-anaknya. Dan dia mungkin tidak akan pernah berpikir untuk menginjakkan kaki di sini lagi."
[Liene] "Kita yang mengundang mereka."
Ya, Dieren memang sengaja tidak memberi tahu mereka sebelumnya.
Ini jelas salah Pangeran Alito. Jadi, kita bisa membatalkan undangannya.
Ya, kita harus memulangkan keluarga Grand Duke Alito dan setelahnya barulah kita pergi berlibur……
Suara Liene menjadi sedikit sedih.
[Liene] "……Tidak, aku tidak bisa pergi."
Bukan karena Liene tidak percaya pada orang-orang di kastil. Dia bisa dengan mudah mempercayakan anak-anak pada Nyonya Flambard dan Nyonya Renfel. Mungkin kedua nyonya akan mengurus jadwal anak-anak lebih ketat daripada Liene.
Namun, saat ini Liene benar-benar tidak bisa pergi. Bahkan jika dia pergi, wajah yang sangat mirip dengan Blini akan terus menggantung di sudut kepalanya.
Entah karena mendengar gumaman Liene, Black mengetuk pintu sekali lagi.
[Black] "Liene. Bolehkah aku masuk?"
[Liene] "Tidak, sekarang agak......"
[Black] "Bolehkah aku masuk?"
[Liene] "Sekarang…… sulit."
[Black] "Bolehkah aku masuk?"
[Liene] "……."
[Black] "Liene."
Sungguh, kau melakukannya dengan sengaja.
Liene menggertakkan giginya. Dia tahu bahwa jika Black mengulang perkataan yang sama dengan suara rendah, Liene pasti akan luluh.
[Black] "Bolehkah aku masuk?"
[Liene] "……Kali ini saja."
Begitu ucapannya keluar, pintu terbuka dan Black masuk.
Byur!
Saat Black memeluk Liene dari belakang, air bak mandi meluap. Liene memukul lengan Black.
[Liene] "Pakaianmu jadi basah. Tolong pikirkan kerja keras para penatu yang akan mencuci pakaianmu, Yang Mulia."
[Black] "Aku yang salah. Semuanya."
[Liene] "……Huuu."
Tidak, bukan begitu.
Dulu juga seperti ini, Blini Vasheyd hanyalah masa lalu yang sangat singkat dan sepele bagi Black. Jika bukan karena cincin, mereka tidak akan pernah terlibat lagi.
Liene mengarahkan tangannya ke belakang dan sedikit membelai kepala Black.
[Liene] "Aku tahu kau tidak salah."
[Black] "Aku seharusnya……menyelesaikan masa lalu, sejak awal."
[Liene] "Itu bukan hal yang kau inginkan, dan kau tidak sengaja melakukannya."
Dia tidak bisa menyalahkan masa saat Black mengembara di luar Nauk dan ingin mencari rumah untuk kembali.
Dia tidak bisa marah hanya karena Black mencoba mencari 'rumah' pada seseorang.
Juga bukan salahnya jika anak Dieren mirip Blini.
Bahwa darah mewariskan……,
[Liene] "……Tunggu sebentar."
Begitu Liene berpikir sampai di sana, entah kenapa dia merasa marah lagi.
[Liene] "Tidak, meskipun begitu, ucapan Dieren merupakan masalah."
Liene mendengus dan memutar tubuhnya. Black terpaksa melepaskan pelukannya.
[Liene] "Berani-beraninya dia mengatakan hal seperti itu."
Liene memegang lengan Black dan menggoyangkannya.
Sudah jelas siapa target kemarahan Liene: Dieren Alito.
Perkataan Dieren bahwa 'darah lebih kental dari air’, maksudnya darah tidak seperti es, melainkan seperti batu yang menolak mencair bahkan di dalam air.
[Liene] "Aku sangat, sangat marah dengan ucapannya. Tapi kau juga punya andil di sana. Kau tidak bisa menyangkal bahwa dirimu memang punya selera seperti itu…… sehingga aku jadi merasa seperti ini……"
Setelah mengucapkannya, air mata tiba-tiba membasahi wajahnya.
[Black] "Liene."
Mata biru Black yang tajam menatap Liene—yang terisak karena tidak bisa menahan amarahnya—seolah ingin melahapnya. Black meraih tangan Liene yang basah dan membawanya ke bibirnya.
[Black] "Kau masih cemburu?"
Bibir Black menekan kulit Liene dengan kuat. Liene tidak yakin apakah bibir Black atau tatapannya yang terasa panas.
[Liene] "Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut cemburu. Aku benar-benar hanya, hanya sangat marah. Hanya saja dirimu yang bersama dengan, dengan Blini…… Ha, sungguh."
[Black] "Karena pakaianku sudah basah, kurasa tidak masalah."
Byur.
Black masuk ke dalam bak mandi tanpa melepaskan pakaiannya. Saat masuk, Black memeluk Liene tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas.
[Liene] "Aku sedang marah. Kenapa kau begini?"
[Black] "Karena aku tidak bisa menahan diri."
[Liene] "Terhadap apa?"
[Black] "Dirimu."
[Liene] "Kemarahanku?"
[Black] "Bagaimana mungkin seseorang bisa seperti ini?"
Kata-kata terakhir Black terdengar seperti gumaman.
Detik berikutnya, air beriak dan bibir mereka bertemu. Liene tidak keberatan dengan gairah Black yang tiba-tiba, meskipun terasa terburu-buru.
[Liene] "Tunggu. Aku masih marah."
Setelah satu ciuman berakhir, Liene berhasil melepaskan bibirnya.
[Black] "……Bisakah kita menunda kemarahanmu sebentar?"
Black menatap bibirnya dengan penuh hasrat, membuat Liene ingin menjilati bibir Black.
[Liene] "Apa itu masuk akal?"
[Black] "Tidak bisakah?"
Khawatir akan terbujuk lagi, Liene mengangkat tangannya dan menutupi mulut Black.
[Liene] "Sekarang bukan saatnya untuk ini. Bagaimana jika Dief benar-benar…… benar-benar menyukai Putri Seira?"
[Black] "Itu yang kau khawatirkan?"
Suara Black terdengar pelan, terhalang oleh telapak tangan Liene.
[Liene] "Katanya darah lebih kental dari air."
[Black] "Liene."
Black melepaskan tangan Liene.
[Black] "Aku menghargai kecemburuanmu. Tapi seperti yang sudah kukatakan berkali-kali, kaulah yang terindah di mataku."
[Liene] "Aku juga menghargai kau mengatakannya. Tapi aku tidak suka jika Dief menyukai wajah itu."
[Black] "Dia tidak akan menyukainya."
[Liene] "Bagaimana kau bisa tahu?."
Liene memajukan bibirnya.
[Liene] "Aku baru pertama kali mendengar Dief mengatakan seseorang cantik. Dan situasinya mungkin mirip dengan saat kau pertama kali bertemu Blini Vasheyd, bukan?"
[Black] "Itu...... mungkin sedikit berbeda dari yang kau pikirkan. Saat itu aku....,"
[Liene] "Tidak, jangan katakan. Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya tidak ingin Dief menyukainya."
Liene menjatuhkan dahinya ke bahu Black.
[Liene] "Aku tahu. Putri Seira hanya mirip dengannya. Dia bukan Blini Vasheyd, dan dia tidak akan melakukan hal yang sama. Tetapi…… tetapi aku sangat membencinya."
Black membelai rambut Liene yang basah untuk waktu yang lama alih-alih menjawab.
Dia tidak tahu apakah harus membuat alasan, atau hanya meminta maaf, atau bahkan memohon pengampunan dengan mata berkaca-kaca sambil mengakui semua kesalahannya.
[Liene] "Apa aku terlalu picik?"
[Black] "……Tidak akan ada yang mengatakanmu picik."
Liene sepertinya tidak berniat menyalahkan Black. Black merasa dia harus mempersembahkan sesajen kepada Dewa.
[Black] "Karena aku juga tidak suka melihatmu cemas dan marah."
[Liene] "Dan aku agak…… curiga."
[Black] "Apa?"
[Liene] "Fakta bahwa Putri Seira sangat mirip. Aku benar-benar tidak ingin mengatakan ini…… Adakah kemungkinan Putri Seira bukan anak kandung Pangeran Alito?"
Tangan Black berhenti sejenak.
[Black] "Kau pikir Putri Seira anak Blini Vasheyd?"
[Liene] "Aku tidak tahu. Tapi itu tidak boleh terjadi walau hanya satu di antara sejuta kemungkinan."
[Black] "Aku harus membuat Pangeran Alito buka mukut."
[Liene] "Dia mungkin akan menyangkalnya, kan? Kita tidak punya bukti. Dan aku tidak yakin. Mungkin aku hanya terlalu banyak khawatir."
[Black] "Tidak apa-apa."
Black mencium kening Liene sebagai penghiburan agar dia tidak perlu khawatir lagi, dan selalu berhasil.
[Black] "Aku sangat mengenal Pangeran Alito. Jika ada yang dia sembunyikan, dia akan memberitahuku."
[Liene] "Benar…… Ya, dia pasti akan mengatakannya. Dia takut padamu."
Barulah saat itu Liene tertawa kecil.
Black membuat suara air byur saat dia memeluk Liene lebih erat.
[Black] "Kalau begitu, maukah kau pergi berlibur bersamaku?"
[Liene] "Bukankah sekarang tidak mungkin?"
[Black] "Setelah semua masalah yang kau khawatirkan diselesaikan. Membuatnya membuka mulut tidak akan memakan waktu lama."
Faktanya, terlepas dari apakah Putri Seira adalah putri kandung Dieren Alito atau bukan, Black sudah mengambil keputusan saat itu. Dia memutuskan untuk mengusir semua tamu dari Alito karena mereka sudah tidak penting lagi.
Setelahnya, terlepas dari protes anak-anak, dia akan membawa Liene ke dalam kereta dan pergi ke pantai.
Malam ini…… Tidak, besok pagi.
Dia sempat berpikir untuk segera pergi dan mengusir Dieren Alito sekarang, tetapi Black menundanya sampai besok pagi. Dia benar-benar tidak bisa memikirkan cara untuk melepaskan Liene, yang sekarang berada dalam pelukannya.
[Liene] "Setelah dipikir-pikir, apa pun faktanya, para tamu tidak akan bisa tinggal lebih lama."
Tepat sekali.
[Black] "Aku sudah tidak menganggap mereka tamu sejak mereka menyembunyikan keberadaan Putri Seira."
[Liene] "Benar. Dia pasti sengaja tidak mengatakan apa-apa. Tapi bagaimana jika Dief sedih?"
[Black] "Dia tidak akan sedih. Percayalah padaku."
[Liene] "Bagaimana kau bisa menjaminnya? Kita belum tahu perasaan Dief."
[Black] "Kau bilang darah lebih kental dari air. Jika Dief mewarisi seleraku, dia tidak akan menyukai wajahnya."
[Liene] "Tidak…… itu terdengar seperti kebohongan."
[Black] "Itu benar. Meskipun aku pernah salah memahami perasaanku."
Black menyampaikan penyesalannya yang mendalam dengan matanya.
[Black] "Pakaianku yang basah terasa mengganggu."
Black meraih tangan Liene di dalam air dan meletakkannya di atas kemejanya yang basah.
[Black] "Aku ingin melepaskannya sekarang…… maukah kau melakukannya?"
[Liene] "Mmm…… Aku tidak mau mengakui bahwa aku mudah dibujuk seperti ini, tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus memakai pakaian basah."
Sret.
Liene mulai membuka kancing kemeja Black. Kancing menjadi lebih licin karena air, membuat jari-jarinya beberapa kali tergelincir. Itu membuat mereka tertawa sekaligus membuat tubuh mereka lebih hangat dari biasanya.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar