top of page

A Barbaric Proposal Side Story 16

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 7 Des 2025
  • 7 menit membaca

Sudut Pandang Anak

[Shellan] "Perbuatan tak sopan macam apa itu, Dief."

Shellan memecah keheningan sesaat.

[Shellan] "Jika seseorang memberi sapaan, kau harus membalasnya. Kenapa kau malah bergumam sendiri?"

[Dief] "Ah...... benar juga."

Dief dengan sigap menekuk satu lutut dan merentangkan tangan, mengikuti etiket penyambutan yang semestinya.

[Dief] "Selamat datang di Nauk, Putri Cilik Alito. Mohon lupakan sikap tidak sopan saya."

[Seira] "Sama-sama."

Shellan dan Dief menyelesaikan sapaan mereka.

Saat itu, Pangeran Dieren yang menyeka keringat dingin menyela.

[Dieren] "Ah, kalau begitu, tidak ada masalah lagi, kan? Lagi pula, anak-anak tidak tahu apa-apa...... Semuanya sudah lama berlalu. Haha."

Tawa canggung yang hendak berlanjut langsung hilang saat matanya bertemu dengan Black.

Liene langsung melerai kedua pria itu.

[Liene] "Sepertinya cukup sampai di sini untuk salam sambutan. Para pelayan akan mengantar kalian ke kamar, jadi silakan beristirahat dengan nyaman. Sampai jumpa saat makan malam."

Liene berbalik lebih dulu. Black dengan sigap mengikuti di belakangnya.

Melihatnya, Shellan menyenggol lengan Dief.

[Shellan] "Ayo kita pergi sekarang juga."

[Dief] "Hah? Sekarang?"

[Shellan] "Cepat."

Shellan bahkan menarik Dief.

Entah mengapa langkah Ibunya hari ini terasa cepat. Kedua anak itu harus berlari-lari kecil sambil menguatkan diri dengan kaki kecil mereka untuk mengejar langkah kedua pria tua.

[Dief] "Shellan, kenapa?"

Sebelum Dief sempat bertanya mengapa mereka harus berjalan secepat itu di dalam kastil, Shellan memanggil Liene, takut kehilangan jejak.

[Shellan] "Ibu"

Liene menghentikan langkahnya, dan Black juga ikut berhenti.

[Liene] "......Ada apa, Shellan?"

Dibandingkan dengan langkahnya yang cepat, jawaban Liene sedikit terlambat.

Mungkin Ibu memang ingin menghindar untuk menjawab.

Pikiran Shellan berputar cepat.

Pasti ada sesuatu.

Ibu bilang dia mirip seseorang, kan?

Apalagi ketika Dief dengan polosnya memuji kecantikan Putri Seira, ekspresi Black dan Liene langsung berubah. Itu sudah pasti karena Shellan melihatnya tepat di samping mereka.

Sebenarnya siapa dia? Aku penasaran setengah mati.

[Shellan] "Tamu yang datang hari ini."

[Liene] "Ya. Katakanlah."

[Shellan] "Dia tidak pernah datang sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu ada putri sepertinya, jadi bagaimana bisa?"

[Liene] "Aku dengar dia resmi menjadi anggota keluarga Grand Duke Alito tahun lalu. Karena itu, dia baru datang tahun ini."

[Shellan] "Tapi dia mirip siapa? Apa dia seseorang yang aku kenal?"

[Liene] "......Tidak. Kalian tidak akan mengenalnya. Dia dari Grand Duchy Alito, tapi sudah meninggal."

[Shellan] "Apa dia teman Ibu?"

[Liene] "Bukan. Dia orang yang tidak aku kenal baik. Aku hanya pernah melihatnya sekali, jadi aku tahu wajahnya."

[Shellan] "Tapi kenapa Ibu begitu terkejut? Ayah bahkan mencoba menyuruh kereta mereka kembali."

Saat itu, Shellan melihat Black dan Liene saling bertukar pandang dengan cepat. Mereka bahkan tidak memutar kepala, tetapi bola mata mereka bergerak.

[Black] "Aku kira Pangeran Alito demam. Tapi hanya salah sangka. Sepertinya dia tidak sakit. ......Syukurlah."

Black yang menjawab. Liene yang berdiri di sampingnya mengangguk selang satu detik.

[Liene] "Ya. Begitulah yang terjadi."

[Shellan] "Oh, begitu. Tapi kenapa..."

Liene memotong perkataan Shellan.

Shellan tidak bisa menghapus kecurigaan bahwa Ibu melakukannya untuk mengalihkan topik pembicaraan.

[Liene] "Oh, ya. Bukankah kalian punya tugas yang harus dilakukan? Kalian harus menemani pelayan saat mengantar para tamu ke kamar."

[Shellan] "Itu bukan tugasku. Dief yang menawarkan diri tanpa diminta."

[Dief] "Shellan benar. Aku akan melakukannya sendirian."

[Liene] "Kalau begitu, mulai tahun ini, kalian berdua harus melakukannya bersama."

Shellan membelalakkan mata.

[Shellan] "Tiba-tiba saja? Padahal tidak ada alasan?"

[Liene] "Aku rasa akan lebih baik, karena mereka tamu kalian."

[Shellan] "Tidak bisa. Seperti yang Ibu ketahui, aku selalu memegang posisi konsisten untuk menentang kunjungan keluarga Grand Duke Alito."

[Liene] "Kau akhirnya setuju dengan undangan tersebut, kan? Kalau begitu, sekarang mereka adalah tamumu."

[Shellan] "Tidak, itu terlalu berlebihan,"

[Liene] "Nah. Cepat pergi dan penuhi kewajiban sebagai Calon Raja."

Liene secara langsung memegang bahu Shellan dan membalikkan badannya.

Cara termudah untuk menghadapi Shellan adalah dengan menyebutkan kewajiban sebagai Calon Raja.

Black dengan cepat mengikuti Liene dan membalikkan badan Dief juga.

[Black] "Kami akan meninggalkan kastil mulai malam ini, jadi menyambut tamu adalah tugas kalian berdua. Lakukan tanpa kesalahan."

[Dief] "Ah......? Sepertinya terlalu berat untuk anak delapan tahun."

[Shellan] "Aku tidak setuju, tetapi terlepas dari kemampuan kami, aku tidak ingin melakukannya."

Kedua anak itu menunjukkan reaksi yang persis sama dengan pria tua mereka.

Liene menepuk kedua bahu anak-anaknya secara berdampingan sebagai ganti jawaban.

[Liene] "Cepatlah pergi."

Lalu, Liene berbalik lebih dulu dan melanjutkan perjalanan. Black mengikuti di belakangnya.

[Shellan] "Hmm......"

Shellan menyentuh dagunya sambil melihat Black dan Liene yang menjauh.

[Dief] "Ayo pergi, Shellan. Kalau kita terus begini, para tamu akan sampai di kamar duluan."

Shellan tiba-tiba bertanya.

[Shellan] "Tidakkah kau merasa aneh?"

[Dief] "Hmm? Apa yang aneh?"

[Shellan] "Ibu dan Ayah. Dan orang yang dibilang mirip."

[Dief] "Hah? Siapa yang dibilang mirip Ibu selain aku?"

Mata Shellan menyipit.

[Shellan] "Kalau kau bilang begitu, aku jadi bingung. Aku sudah pintar, apa kemampuan fisikku yang lain, seperti pendengaran, juga luar biasa? Kita berada di tempat yang sama, tapi kenapa hanya aku yang mendengarnya?"

[Dief] "Kau dengar apa? Dan siapa orang yang dibilang mirip?"

[Shellan] "Hmm. Kalau dipikir-pikir, kau benar. Aku lebih jago lari dan memanjat pohon, kan? Tinggiku juga lebih cepat bertambah. Ya, sudahlah."

[Dief] "Jadi, apa yang aneh? Dan siapa orang yang dibilang mirip?"

[Shellan] "Begini, bagaimana kalau kita bertaruh?"

Shellan mengalihkan topik dengan mata berbinar.

Dief menghela napas pelan. Shellan yang otaknya berputar cepat juga sangat cepat dalam mengubah topik. Pikirannya pasti sudah melompat jauh ke depan. Hal yang sering Dief alami, jadi dia sudah terbiasa.

[Dief] "Taruhan apa?"

[Shellan] "Kita bertaruh apakah Ibu dan Ayah akan pergi berlibur, atau tidak."

[Dief] "Apa?"

Mata Dief melebar mendengar perkataannya.

Sejujurnya, dia menganggap perjalanan pria tua mereka tidak masuk akal. Bermain dengan anak-anak seusia mereka memang menyenangkan, tetapi tidak sebanding dengan tidak melihat Ibu dan Ayah selama sebulan penuh.

Apalagi, fakta bahwa hanya Black dan Liene yang pergi ke Kastil Bellisa terasa sangat menyedihkan dan menyakitkan. Dief merasa ialah yang paling suka berenang di antara anggota keluarga.

[Dief] "Kenapa? Apa mereka bilang tidak akan pergi? Tidak, mereka tidak bilang begitu. Apa kau menemukan sesuatu?"

[Shellan] "Kau tidak lihat tadi? Meskipun kita protes, Ibu tidak dengan tegas memihak Ayah, kan? Ibu tidak menyetujui ucapan Ayah mengenai keberangkatan mereka, ibu hanya menyuruh kita segera pergi."

[Dief] "Ah......?"

[Shellan] "Coba pikirkan seperti biasanya. Kapan pernah terjadi hal seperti itu?"

Dief tenggelam dalam pikirannya.

[Dief] "Eum...... Mm...... Maaf, aku tidak ingat. Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya memang sedikit berbeda."

[Shellan] "Ya, berbeda."

Shellan tersenyum lebar.

[Shellan] "Aku tahu cara agar mereka tidak jadi pergi berlibur."

[Dief] "Benarkah?"

Mata Dief berbinar karena kegembiraan.

Jika mereka semua tidak bisa pergi berlibur, itu jauh lebih baik daripada hanya dua orang yang pergi.

[Black] "Apa kau masih marah?"

Black buka suara setelah anak-anak cukup jauh.

[Liene] "......Aku tidak seharusnya marah."

Liene menjawab sedikit terlambat.

Tap, langkah mereka berhenti.

[Black] "Kau terlihat marah."

[Liene] "Hmm...... tidak."

Setelah dipikir-pikir, memang tidak perlu marah untuk hal itu.

Anggota keluarga bisa saling mirip. Anak-anak Pangeran Dieren yang lain juga sedikit mirip satu sama lain. Dia dengar putra bungsu mereka sangat mirip dengan kakeknya, sehingga Sang Grand Duke sangat memanjakannya.

[Liene] "Kita tidak bisa menyalahkan seseorang karena terlahir mirip, kan? Itu juga bukan salah anak tersebut."

[Black] "Namun, itu kesalahan Pangeran Alito yang sengaja menyembunyikan faktanya."

Memang Dieren yang salah. Dia tidak pernah menyebutkannya sekali pun bahkan saat mengirim balasan undangan.

Semuanya terasa disengaja.

[Liene] "Ya, benar. Sama seperti kau mencoba menyembunyikan anak itu dariku."

[Black] "Tidak, Liene. Kalau kau bicara begitu, terdengar seolah kau menuduhku."

Black memasang ekspresi serius. Setelah didengar, memang ada banyak ruang untuk kesalahpahaman.

Liene tertawa kecil tanpa sadar.

[Liene] "Kenapa? Kau khawatir aku akan berpikir yang aneh-aneh? Dia bilang usianya empat belas tahun ini, berarti dia lahir sebelum kau melamarku. Apa ada kemungkinan?"

Black mengerutkan kening.

[Black] "Kau tidak mungkin bertanya dengan sungguh-sungguh...... bahkan jika itu lelucon, jangan lakukan."

[Liene] "Hmm...... Aku rasa kau terlalu menganggapnya serius."

[Black] "Ya. Aku sedang tidak punya banyak waktu luang sekarang."

[Liene] "Tidak perlu. Semuanya sudah lama berlalu, kan?"

[Black] "Ya. Karena itu, aku tidak ingin masalah yang sama terulang lagi."

[Liene] "Dia hanya anak-anak, masih kecil dan belum tahu apa-apa."

[Black] "Kau tahu segalanya, kan? Aku tidak ingin ingatanmu di masa lalu kembali."

[Liene] "......Hah, itu sebabnya aku tidak bisa terus merasa kesal."

Sama seperti sebelumnya, Black tidak memberi Liene kesempatan untuk berlama-lama marah.

Membangkitkan ingatan tentang Putri Blini memang tidak menyenangkan.

Memikirkan saat singkat ketika Black mendorong Pangeran Dieren kembali ke kereta segera setelah melihat Putri Seira, Liene bisa mengerti betapa Black tidak ingin menunjukkan wajah Seira yang mirip padanya.

[Liene] "Tapi aku tidak bisa segera melupakan bahwa kau mencoba menutupinya dengan kebohongan."

[Black] "Aku salah dalam hal itu."

[Liene] "Meskipun kau meminta maaf dengan tulus, aku tidak akan memaafkanmu sekarang."

[Black] "Apa ada cara untuk mempercepat pengampunanku?"

[Liene] "Hmm...... Aku tidak tahu. Pikirkanlah sendiri. Aku akan menilainya jika kau mencobanya."

Kerutan di dahi Black menghilang.

[Black] "Apa kau sulit berjalan? Kakimu sakit atau sepatumu tidak nyaman?"

[Liene] "Kenapa?"

[Black] "Aku bisa melakukannya untukmu."

Bahkan sebelum Black menyelesaikan perkataannya, dia mengangkat Liene dengan satu gerakan.

[Liene] "Astaga, kau mengagetkanku."

[Black] "Kau tidak perlu kaget."

Meskipun terkejut, kedua tangan Liene sudah secara alami melingkari leher Black. Liene bersandar di bahu Black dan bergumam.

[Liene] "Ini belum cukup. Kau tidak boleh menganggap aku orang yang mudah memaafkanmu hanya dengan ini."

[Black] "Syukurlah, karena aku masih punya banyak hal untuk dicoba."

[Liene] "Apa yang akan kau lakukan?"

Suara Black merendah.

[Black] "Aku akan memberi tahumu saat kita dalam perjalanan ke Bellisa."

[Liene] "Tidak bisa sekarang?"

[Black] "Karena itu hal yang hanya bisa aku coba ketika kita berduaan."

Liene terkikik.

[Liene] "Kau masih ingin mengatakan hal seperti itu bahkan saat meminta maaf?"

[Black] "Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bagiku, kau selalu terlalu......"

Black tiba-tiba berhenti berjalan dan mencium Liene. Kehangatan yang akrab dan memabukkan menjalar dari kulit yang bersentuhan.

Ciuman mereka berakhir dan Liene berbisik dengan bibir memerah. Black sedikit menggoyangkan dahi mereka yang saling bersentuhan.

[Liene] "Ha...... Makan malam harus cepat selesai, sepertinya."

[Black] "Aku sependapat."

Walalupun ada sedikit insiden tak terduga, tetapi bukan masalah besar. Perjalanan manis mereka berdua akan berjalan lancar sesuai rencana.

Namun, saat makan malam dimulai, Black harus menyadari betapa dia terlalu meremehkan situasi.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page