A Barbaric Proposal Side Story 15
- Crystal Zee

- 7 Des 2025
- 6 menit membaca
Masa Lalu Tak Diundang
[Liene] "Ah, waktunya pas sekali."
Sesuai ucapan Liene, kereta kuda Alito kebetulan sedang memasuki halaman utama kastil. Mereka tidak terlambat.
Black merasa sangat tidak senang.
Padahal, tidak perlu repot-repot menyambutnya.
Black juga tahu bahwa sengaja mengulur waktu adalah tindakan yang tiada ada artinya.
Liene yang ramah tidak suka mendiskriminasi orang, dan dia akan selalu bersikap sopan sebagai anggota keluarga kerajaan, siapa pun tamunya.
Tidak perlu melakukan tindakan kekanak-kanakan untuk mengganggu penyambutan hanya karena tamu yang datang hari ini adalah keluarga Alito.
Dan sejujurnya, terlepas dari rasa jengkelnya pada Dieren, dia juga tidak merasa perlu untuk menjadikannya saingan.
Sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Cukup bagi Dieren Alito, yang dulunya cukup tampan di masa muda, untuk menjadi pria buncit dengan anggota tubuh yang melunak. Bahkan, bagian depan rambutnya seolah mulai menipis.
...Tapi anehnya aku merasa gelisah.
Itulah masalahnya. Bagaimanapun, dia dan Liene berencana segera berangkat ke Kastil Bellisa setelah berinteraksi sebentar dengan tamu, jadi mengapa dia merasa sangat tidak suka bahkan dengan waktu interaksi yang sesingkat itu?
Black memiringkan dagunya.
Puk.
Liene menepuknya dengan lembut, mengalihkan perhatiannya.
[Liene] "Kau sedang memikirkan apa? Ayo segera pergi dan sapa mereka."
[Black] "Hmm...... Aku sedang berpikir bahwa aku bahkan tidak ingin menyapa."
[Liene] "Hah? Benarkah? Sekesal itu?"
Liene membelalakkan mata dan mengamati ekspresi Black.
[Liene] "Apa ada hal lain yang tidak kau ceritakan kepadaku? Tahun lalu kau tidak sampai seperti ini, kan?"
Black mengusap sudut mata Liene dengan ibu jarinya dan tersenyum getir.
[Black] "Ini kebiasaan yang selalu menyertai saat memikirkan orang-orang dari Alito. Bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan."
[Liene] "Benarkah? Aku merasa sekarang berbeda."
[Black] "Aku hanya merasa gelisah."
[Liene] "Hmm......?"
Liene mengerucutkan bibirnya, tampak tidak percaya. Perbuatannya terlihat begitu menggemaskan di mata Black sehingga dia mengenyahkan perasaan gelisahnya.
[Black] "Kita bisa pergi sekarang."
[Liene] "Baiklah."
Keduanya berpegangan tangan dan berjalan menuju tempat kereta kuda berhenti.
Para ksatria dan pelayan sudah berdiri di sana untuk menyambut. Nyonya Renfel, kepala pelayan wanita, sibuk menyambut tamu, dan Nyonya Flambard membawa Shellan dan Dief.
Krak!
Suara membuka dan menutup pintu kereta kuda terasa menjengkelkan.
[Dieren] “Hai, Saudara. Lama tak jumpa."
Dieren turun dari kereta kuda.
Sementara Black sejenak memikirkan bagaimana cara menghaluskan ucapan agar pantas didengar anak-anak—sebuah sambutan yang intinya "jangan pernah lagi kau mengatakan omong kosong bahwa setahun adalah waktu yang lama tak berjumpa"— orang lain turun dari kereta kuda.
Rambut hitam panjang terlihat lebih dulu. Wajahnya kecil. Dilihat dari perawakannya yang masih kecil, dia pasti anak-anak, tetapi anehnya penampilan dan pembawaannya terasa akrab.
Sret!
Dan pada saat berikutnya, tubuh Black bergerak lebih dulu.
Tubuhnya memang sudah lebih cepat daripada orang lain, tetapi dia tidak menduga bahwa dirinya bisa secepat itu.
Bagaimanapun, Black entah sejak kapan sudah mencengkeram kerah Dieren dan mendorongnya kembali ke arah kereta kuda.
Tentu saja, perempuan yang sedang turun dari kereta kuda tersentak dan berhenti.
[Dieren] "Kenapa, kenapa kau seperti ini? Apa kau gila?"
[Black] "Seharusnya aku yang bertanya."
Jika Black memelototi seseorang dengan sungguh-sungguh, memang menakutkan.
Bagi Dieren, tatapannya sangat menakutkan. Mungkin karena dia sudah pernah mengalami sendiri bahwa kakinya hampir dipotong saat Black menatapnya dengan mata seperti itu.
[Black] "Kau waras membawa orang sepertinya? Ke rumahku?"
[Dieren] "Apa maksudmu! Apa yang aku lakukan,"
[Black] "Kembali sekarang juga. Saat ini juga."
Namun, itu permintaan yang mustahil. Kereta kuda sudah tiba dan Liene ada di belakang Black.
[Liene] "Ada apa ini?"
Liene juga sangat terkejut karena Black tiba-tiba bergerak.
[Liene] "Ada apa denganmu? Apa yang terjadi pada Pangeran Alito?"
Black tidak berani membalikkan badan untuk menghadap Liene. Saat ini, dia harus mencegah Liene melihat ke dalam kereta kuda.
[Black] "Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa dia sepertinya demam, jadi aku memintanya kembali karena demamnya tidak boleh menular pada anak-anak."
[Liene] "Astaga. Demam?"
[Black] "Aku tidak yakin, tetapi sepertinya begitu. Benarkan?"
Sambil berkata, Black mengeratkan tangannya yang mencengkeram kerah Dieren. Wajah Dieren yang kehabisan napas langsung memerah.
[Dieren] "Uhuk, aku... Itu... tidak, tunggu,"
[Black] "Kembali. Pergi dan obati penyakitmu sebelum menjadi lebih parah."
Black langsung mendorong Dieren masuk ke dalam kereta kuda.
[Dieren] "Tidak, tunggu! Kau tidak bisa mengusirku begitu saja!"
[Black] "Aku tidak mengusirmu, aku merawat orang sakit."
[Dieren] "Omong kosong......! Dan siapa yang sakit!"
[Black] "Kau."
[Dieren] "Argh, sejak kapan aku......!"
Saat Dieren hendak berpegangan pada pintu kereta kuda, sebuah tindakan yang sangat melanggar martabat Grand Duke, sebuah kalimat ajaib terdengar.
[Liene] "Jangan lakukan itu."
Black memejamkan mata sambil membelakangi Liene.
Dia bertanya-tanya apakah perasaan tidak enaknya adalah firasat. Di medan perang, indra terkadang menjadi sangat sensitif, hampir menyerupai kemampuan melihat masa depan. Dia telah selamat berkali-kali karena mengikuti instingnya saat itu. Mungkin kali ini instingnya juga benar.
Namun, sudah terlambat.
Sama seperti saat-saat dia waspada, Liene juga memiliki saat-saat serupa.
[Liene] "Hentikan."
[Black] "......Hentikan apa?"
[Liene] "Tindakanmu memaksa Pangeran Alito kembali."
[Liene] "Demam sangat berbahaya. Kita punya anak-anak dan......"
Black membiarkan kalimatnya menggantung karena melihat ekspresi Liene.
Dieren tidak tahu, tetapi itu ekspresi paling menakutkan di dunia bagi Black.
[Liene] "Sebenarnya apa yang kau sembunyikan? Sampai-sampai berbohong kepadaku?"
[Black] "......Liene"
[Liene] "Jika kau menghalangi pintu, berarti ada sesuatu di dalam kereta kuda."
[Black] "Bukan itu yang terjadi......"
[Liene] "Aku mulai merasa sedikit marah."
[Black] "......"
Berarti Black tidak boleh berdebat lebih jauh.
Black memalingkan muka dan berkata pelan dengan suara rendah.
[Black] "Jika kau membuka pintu kereta, kau juga akan tahu alasan mengapa aku harus melakukan ini. Untuk alasan yang sama, aku tidak ingin membuka pintu kereta. Kau tidak akan merasa senang."
Jika dia tahu hal ini akan terjadi, dia pasti sudah belajar cara memasang ekspresi memelas yang efektif.
[Black] "Kau tidak akan merasa senang."
[Liene] "Aku tahu kau mengkhawatirkanku. Tapi aku benci kau mencoba menyembunyikan sesuatu dariku karena alasan itu. Setiap kali kau melakukannya, selalu terjadi hal buruk, kan?"
[Black] "......Kalau begitu."
Akhirnya, Black melepaskan Dieren.
Tidak ada cara baginya untuk melawan dan menang dari Liene. Faktanya, berkelahi pun mustahil.
Black menatap Liene dengan tatapan yang sangat memohon.
[Black] "Tolong, jangan batalkan perjalanan hanya karena kau marah. Itu terlalu...... tidak bisa aku terima."
Black berusaha keras untuk menelan perkataan bahwa Dieren yang akan menanggung akibatnya. Dia tidak bisa menunjukkan aksi mengancam orang lain saat Liene jelas-jelas sedang marah.
[Liene] "Buka."
Garis bibir Liene semakin mengeras.
Black, yang dengan cepat menyadari bahwa tidak ada gunanya membahas liburan mereka lebih lanjut, membuka pintu kereta kuda.
Krak!
[Liene] "Sebenarnya apa yang......
[Liene] “......Oh."
Yang Liene hadapi di dalam kereta kuda adalah wajah yang sangat akrab, sampai-sampai dia mengira dia adalah orang lain.
Apa-apaan ini?
Dieren Alito memiliki beberapa anak di luar nikah. Tiga di antaranya diterima oleh Grand Duke, dan putri bernama Seira resmi menjadi anggota keluarga Grand Duke sekitar awal musim dingin tahun lalu.
Mungkinkah ada kemiripan seperti ini?
Dan putri Dieren sangat mirip dengan Blini Vasheyd secara menakutkan.
Saat mata mereka bertemu, tubuh Liene terasa membeku sejenak. Dia mengira Blini Vasheyd, yang konon meninggal beberapa tahun lalu, hidup kembali.
Setelah perang antara Nauk dan Kerajaan Sharka berakhir, Grand Duke Alito tidak pernah lagi menerima Blini. Dikatakan bahwa ketika Blini, yang hidup mengembara, jatuh sakit dan kembali ke Alito, dia diabaikan dan dikurung di istana terpencil.
Blini Vasheyd meninggal hanya dengan disaksikan oleh seorang pelayan.
Liene teringat kembali berita yang dia dengar sekilas, seperti angin lalu.
...Ya, dia hanyalah seorang anak-anak yang tidak tahu apa-apa.
Aku tidak seharusnya terkejut seperti ini. Mungkin anak ini bahkan tidak tahu dirinya mirip siapa.
Anak yang sangat mirip dengan Blini bertanya dengan mata ketakutan.
[Seira] "Umm...... Apa saya melakukan kesalahan?"
[Liene] "Tidak. Aku hanya terkejut sebentar karena dirimu sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal di masa lalu."
[Seira] "Ah, kalau begitu......"
Seira melihat sekeliling sambil mengangkat bahu.
Dia berusia empat belas tahun, jadi dia pasti sudah merasakan suasana yang tidak beres sejak sebelum turun dari kereta kuda.
Namun, karena Liene menjawab dengan ramah, Seira merasa sedikit lega dan mencoba bersikap sopan dengan memegang ujung roknya dan menekuk lutut.
[Seira] "Saya menyapa Raja dan Ratu Nauk. Saya Seira Alito."
Selanjutnya giliran kedua anak Liene dan Black.
[Seira] "Saya menyapa kedua keturunan Raja & Ratu Nauk. Saya Seira Alito."
Jika kedua anak Liene dan Black menyambutnya dengan biasa-biasa saja, kejadian tadi mungkin akan berlalu begitu saja. Liene hanya akan menganggap betapa menakjubkannya kemiripan itu.
Liene, meskipun sedikit ragu, akan menyambut para tamu dari Alito, bertukar basa-basi yang menyenangkan, menyelesaikan makan malam, menidurkan anak-anak, dan kemudian menaiki kereta kuda bersama Black menuju Kastil Bellisa.
Namun, hal tak terduga terjadi.
Dief, yang menghadapi Seira, membuka mulutnya dan berkata:
[Dief] "Wah, cantiknya."
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar