A Barbaric Proposal Side Story 12
- Crystal Zee

- 21 Nov 2025
- 6 menit membaca
Kabar Baik, Kabar Buruk
Hari itu indah seperti biasanya. Matahari cerah dan angin sejuk.
Di Nauk, musim menjelang datangnya musim panas, dipenuhi hari-hari yang paling menggembirakan dan penuh harapan, seolah bersiap menyambut kemakmuran yang akan datang.
Dan musim ini juga merupakan waktu di mana berita paling banyak disampaikan.
Sebuah berita tiba di hari itu.
[Shellan] "Kabar buruk yang tiba-tiba. Aku tidak suka."
[Dief] "Oh, aku suka."
Jawaban kedua anak itu berbeda.
Ketika Dief memberikan jawaban yang kurang peka, Shellan menatapnya dengan mata menyipit.
[Shellan] "Bisakah kau berpikir dulu sebelum menjawab?"
[Dief] "Hah? Apa yang perlu dipikirkan?"
Dief tersenyum cerah, senyum yang berseri-seri, tanpa menyadari apa yang ada di pikiran orang lain.
[Dief] "Katanya tamu dari Grand Duchy Alito akan datang. Ini bukan yang pertama kali."
[Shellan] "Makanya aku bilang kabar buruk. Kau tidak ingat bagaimana kejadiaan saat itu?"
[Dief] "Ingat, kok. Kita semua rukun, kan?"
[Shellan] "Apa?"
Dief bingung saat Shellan membuka mulutnya dengan tidak simetris.
[Dief] "Bukan begitu? Kita tidak pernah bertengkar, kok...... kita rukun, kan?"
[Shellan] "......Sepertinya kau sama sekali tidak tahu betapa aku menguras kesabaran demi kedamaian ‘sepele’ (알량allyang)."
[Dief] "Apa maksudnya 'sepele'? Apakah artinya berharga dan ceria? Ah, bukan. Karena ceria itu (명랑myeonglang), bukan (명량 myeonglyang)."
(T/N: Dief tidak memahami kata yang diucapkan Shellan, sehingga dia mencoba menebak-nebak kata yang terdengar mirip)
[Shellan] "Sudahlah. Dief, jangan bicara apa-apa lagi."
Shellan memalingkan muka dari saudara kembarnya dan menatap sekretaris kerajaan yang menyampaikan berita.
[Shellan] "Aku menentang undangan ini. Sampaikan dengan jelas kepada Yang Mulia Raja dan Ratu."
[Sekretaris] "Itu...... Putri Shellan."
[Shellan] "Apa?"
[Sekretaris] "Mereka tidak menyuruh saya untuk menanyakan pendapat Anda."
Kedua pemimpin yang cerdas, dan Kanselir bahkan lebih cerdas dari keduanya. Selain itu, Putri yang baru berusia delapan tahun juga cerdas.
Jadi, secara alami, sekretaris kerajaan pun harus dipilih dari orang-orang yang cerdas. Dengan kata lain, Raja, Ratu dan Kanselir sangat tidak suka memberikan instruksi yang sama dua kali.
Jika mereka bermaksud memutuskan undangan berdasarkan pendapat kedua anak itu, mereka pasti sudah menanyakannya jauh sebelumnya.
Jadi, meskipun Putri mungkin kecewa, itu sudah diputuskan.
[Shellan] "Keterlaluan."
Shellan menggigit bibirnya.
[Shellan] "Mereka melakukannya karena tahu aku akan menolak, kan?"
Sekretaris kerajaan menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresinya.
[Sekretaris] "Saya hanya mengikuti perintah, Putri."
[Shellan] "......Jadi, kapan mereka datang?"
[Sekretaris] "Mereka berangkat dari Alito kemarin pagi, jadi mereka pasti sudah melintasi perbatasan hari ini."
[Shellan] "Keterlaluan!"
Suara Shellan meninggi.
Alasannya adalah, kata 'keterlaluan' kali ini benar-benar serius.
Shellan berniat menunjukkan rasa kesal kepada orang tuanya yang memutuskan tanpa berunding. Ia ingin bernegosiasi agar diizinkan tinggal di Kastil Bellisa—dekat perbatasan selatan—sampai musim panas tiba, tetapi kedua orang tuanya bahkan tidak memberinya kesempatan untuk melakukannya.
[Shellan] "Mengapa mereka melakukan ini padaku?"
Sekretaris kerajaan memutar matanya. Tapi ia sama sekali tidak menatap mata Shellan.
Kanselir yang lebih pintar dari siapa pun sudah memberitahunya. Saat berbicara dengan Putri yang cerdas, sebisa mungkin jangan menatap matanya. Dengan begitu, akan jauh lebih mudah untuk menjawab.
[Sekretaris] "Bagaimana mungkin seorang sekretaris rendahan berani memahami kehendak kedua Yang Mulia. Saya mohon dengan hormat agar Anda menarik pertanyaan itu, Putri."
Sebenarnya, sekretaris tahu betul alasannya. Semua ini karena Shellan.
Pangeran Dief adalah Pangeran yang sangat baik jika dijadikan standar 'normal'. Ia tidak terlalu menonjol tetapi juga tidak ada yang tidak bisa ia lakukan.
Semua guru privatnya mengatakan Pangeran sangat sehat dan berperilaku Baik. Ia seseorang yang tidak bisa dicela atau dikritik dari sudut mana pun.
Namun, jika standar itu dialihkan pada Putri Shellan, ceritanya sedikit rumit.
Dahulu kala, keduanya belajar huruf bersama dengan guru yang sama, tetapi kelas mereka kemudian dipisahkan. Sudah lama mereka mulai belajar hal yang berbeda dari guru yang berbeda.
Agar Pangeran Dief bisa menerima pelajaran yang sama dengan Putri Shellan, ia harus mempelajari dasar-dasar akademik setidaknya lima tahun lagi.
Raja dan Ratu selalu mengkhawatirkan hal itu.
Putri yang cerdas selalu pandai mengurus diri sendiri, tetapi karenanya Putri selalu sibuk. Selalu ada buku untuk dibaca, pelajaran untuk dipelajari, dan kuantitas belajar yang ia tetapkan sendiri. Jadi ia jarang punya waktu untuk bergaul dengan orang lain.
Ketika ia masih sangat kecil, ia masih ditemani Pangeran, tetapi sekarang setelah kelas mereka dipisah, semuanya menjadi sulit.
Tentu saja Putri tidak punya teman sebaya dan paling suka bermain dengan Kanselir, tetapi Kanselir lebih sibuk daripada Raja dan Ratu, jadi itu pun tidak memungkinkan.
Itu sebabnya, meskipun Raja dan Ratu tidak terlalu menyukai orang-orang dari Grand Duchy Alito, mereka tidak pernah lupa untuk mengundang anak-anak sebaya dari keluarga mereka.
Yah, anak-anak dari Alito, jika dibandingkan dengan Pangeran dan Putri kami, tidak aneh mereka disebut anak kuda yang kebetulan belajar berbicara, pikir sekretaris kerajaan.
Tetapi ia mengerti maksud Raja dan Ratu. Manusia juga membutuhkan lawan untuk perbandingan.
Sangat disayangkan bahwa Putri Shellan tidak menyadari perlunya lawan.
[Sekretaris] "Kalau begitu saya mohon undur diri. Pastikan Anda tidak lupa waktu makan hari ini."
Sekretaris meninggalkan ucapan perpisahan yang ramah dan pergi.
Setelah pelajaran pagi, waktu istirahat kedua anak adalah sampai makan siang. Kecuali ada hal yang istimewa, anak-anak selalu makan mereka di ruang istirahat.
Seringkali Shellan tidak sabar menunggu makanan disajkikan dan kembali ke ruang pelajaran, mengurung diri untuk membaca buku, tetapi bagaimanapun, rutinitas yang ditetapkan sudah seperti itu.
[Shellan] "Sungguh keterlaluan."
Shellan mengepalkan tinju seolah-olah ia benar-benar marah.
Dief memandangnya dengan pandangan kasihan namun tidak mengerti.
[Dief] "Apa kau sangat membenci mereka? Tapi mereka bukan anak-anak nakal, kan? Mereka juga mengajari kita permainan yang tidak kita tahu."
[Shellan] "Aku merasa kecerdasanku hilang satu sendok teh setiap kali bersama mereka."
[Dief] "Itu um...... sebenarnya tidak benar, Shellan. Anak-anak dari Alito datang tahun lalu, tapi Shellan masih pintar, kan? Bahkan, kau menjadi lebih pintar."
[Shellan] "Aku rasa anak berusia delapan tahun seharusnya sudah bisa membedakan antara metafora dan veritas."
[Dief] "......Uh, apa?"
Shellan menatap Dief sejenak lalu menghela napas.
[Shellan] "Bukan. Aku yang keterlaluan. Dief anak delapan tahun yang masih bisa aku ajak bicara di antara anak delapan tahun lainnya."
[Dief] "Ya. Jika kau tidak sengaja menggunakan kata-kata sulit."
[Shellan] "Kau salah, Dief. Aku tidak sengaja menggunakan kata-kata sulit, tetapi aku sengaja menggunakan kata-kata mudah. Demi dirimu."
[Dief] "Oh, benarkah? Kalau begitu aku akan berterima kasih jika kau terus melakukannya."
[Shellan] "......Ketahuilah, aku menahan diri karena mata polosmu yang seperti rusa."
Shellan menghela napas lagi dan membelai kepala Dief.
Dief berkata, 'Aku tidak perlu diperlakukan seperti ini,' tetapi ia sedikit menekuk lututnya agar mudah dibelai.
Semua orang tahu bahwa perilaku seperti itu dipelajari dari Black, tetapi keluarga itu tidak menyadarinya. Karena sudah perilaku yang terlalu biasa bagi mereka.
[Liene] "Wah...... Oh. Aku hargai kerja kerasmu, Tuan Berel."
[Berel] "Sama-sama, Yang Mulia."
Sekretaris kerajaan telah menyelesaikan tugasnya dengan selamat.
Ia berhak mendapatkan pujian atas kemampuannya karena kembali hanya dengan jawaban 'keterlaluan' setelah menyampaikan fakta bahwa mereka akan melanjutkan sesuatu yang tidak disukai Shellan.
[Liene] "Tapi aku juga sedikit khawatir."
Setelah sekretaris meninggalkan ruang makan dan meninggalkan mereka berdua, Liene berkata kepada Black.
Black, yang sedang menaruh hidangan burung pegar yang dipotong kecil-kecil di piring Liene, mengangguk.
[Black] "Ya. Jika ia tidak memikirkan balas dendam, ia bukan Shellan."
[Liene] "Dia pasti sedang memikirkan cara untuk lolos. ......Dan kata 'balas dendam' agak berlebihan. Shellan hanya memikirkan tindakan balasan, bukan ingin membalas kita."
[Black] "Masalahnya ia membalasanya pada anak-anak dari Alito, bukan pada kita."
[Liene] "Tidak. Shellan juga sudah lebih dewasa. Tahun ini akan berbeda. Setidaknya ia tahu anak-anak itu tidak bersalah."
Black terkekeh dan memotong terong panggang untuk dimasukkan ke mulut Liene, yang baru saja memakan daging burung pegar.
[Black] "Pikiranmu ada di tempat lain, sampai melewatkan makanan favoritmu."
[Liene] "Aku berniat memakan yang sudah aku sisihkan dulu. ......Astaga, dan kau belum menjawab. Shellan akan......."
[Black] "Dia akan melakukan apa pun. Jika tidak, ia tahu hal yang sama akan terjadi setiap tahun."
[Liene] "Itu...... aku tidak bisa menyangkalnya."
[Black] "Aku sudah memberi perintah untuk mengawasi keduanya begitu para tamu dari Alito tiba. Tidak akan ada yang terluka parah."
[Liene] "Itu sama saja dengan membiarkan Shellan melakukan balas dendam. Tolong jangan. Kita bertanggung jawab karena sudah mengundang mereka."
[Black] "Apakah itu kau sebut undangan? Aku rasa itu lebih seperti memenuhi permohonan."
Bagaimanapun, Black tidak punya ampun bagi orang-orang yang tidak disukainya.
Liene tersenyum getir dan kali ini menyuapkan daging burung pegar ke mulut Black.
[Liene] "Kau juga makan. Jangan hanya menyuapiku. Sudah lama sejak kita makan siang bersama. Dan kata 'permohonan' bisa menjadi pelanggaran diplomatik, um...... mari kita kompromikan dengan 'permintaan yang sungguh-sungguh'."
[Black] "Aku tidak suka."
Liene sedikit terkejut karena Black tiba-tiba mengubah nada bicaranya.
Suaranya sedikit lebih rendah dan lebih kasar dari biasanya.
[Liene] "Ah? Apa katamu?"
[Black] "Aku tidak suka. Aku tidak suka para manusia itu datang."
Black meraih sandaran tangan kursi Liene dan memutarnya agar Liene menghadapnya.
Dia memegang tangan Liene dan mendekatkan wajahnya, membuat Liene tiba-tiba menahan napas.
[Black] "Kau ingat apa yang manusia itu lakukan padamu tahun lalu?"
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar