A Barbaric Proposal Side Story 13
- Crystal Zee

- 21 Nov 2025
- 7 menit membaca
Etika dan Kekesalan
[Liene] "Dia tidak melakukan hal yang aneh, kan?"
Black menarik salah satu sudut bibirnya.
[Black] "Dia melakukan banyak hal aneh. Apa kau lupa?"
[Liene] "Daripada lupa, bukankah lebih tepat jika aku bilang dia tidak melakukannya?"
[Black] "Aku bilang dia memang melakukan hal aneh."
Jika ketidakpuasan Black bertambah, kerutan halus muncul di antara alisnya. Berbeda dengan ketika ia menunjukkan kemarahan kepada orang lain. Mungkin ekspresi ini hanya diketahui oleh Liene sendiri.
[Liene] "Apa yang ia lakukan?"
[Black] "Aku tidak akan menyebutkan dia berkeliaran di sekitarmu tanpa alasan karena itu terlalu sering. Tetapi meminta undangan makan setiap hari adalah hal yang sangat tidak pantas."
[Liene] "Hmm...... Aku juga tidak menyukainya. Tapi aku hanya mengundangnya makan dua kali selama dia tinggal di sini, kan? Sekali pada hari dia tiba, dan sekali pada hari sebelum dia kembali pulang."
[Black] "Sama sekali tidak, tapi dua kali lipat dari itu."
Dua kali lipat dari dua kali, berarti empat kali.
[Liene] "Ah, itu bukan makan malam, hanya minum teh. Kebetulan Pangeran Alito datang menghampiriku, jadi aku tidak punya alasan untuk menolak."
[Black] "Apa kau tidak berpikir dia sengaja mengincar waktumu minum teh?"
[Liene] "Makanya aku mengubah waktuku minum teh setelah kejadian itu, kan?"
[Black] "Kali ini akan sama. Dia akan berkeliaran, ingin menarik perhatianmu, dan cepat atau lambat kau akan harus menerimanya sekali atau dua kali seperti sebelumnya.”
Yah, mungkin saja, tetapi hanya empat kali dalam tiga bulan, hampir seperti perlakuan dingin. Ia merasa heran kenapa Dieren masih mau datang ke Nauk bersama anak-anaknya setiap tahun meskipun menerima perlakuan seperti itu.
[Liene] "Tapi ini demi Shellan, kan? Bisakah kita bisa menahannya sedikit?"
[Black] "Aku tidak bilang aku tidak bisa menahannya. Aku hanya mengatakan aku tidak suka."
[Liene] "Apa bedanya?"
[Black] "Makanya, hibur aku sedikit. Karena aku menanggung sesuatu yang sangat tidak aku sukai demi Shellan."
Liene sedikit mendorong bahu Black yang mendekat.
[Liene] "Kau tidak malu, Yang Mulia? Kekanakan seperti ini."
Black menyambar tangan Liene yang menyentuh bahunya.
[Black] "Aku tidak malu sedikit pun."
[Liene] "Kau Ayah dari dua anak."
[Black] "Aku seseorang yang lebih mementingkan menjadi suamimu daripada menjadi Ayah."
[Liene] "Wah, kau berani mengucapkan kata-kata seperti itu. Anak-anak kita akan terluka."
[Black] "Cepat atau lambat mereka akan tumbuh dan mencari pasangan, dan mereka akan mengatakan hal yang sama sepertiku. Jika tidak, akan menjadi hal yang salah."
[Liene] "Keterlaluan."
[Black] "Jadi, kau tidak suka?"
Pertanyaannya jauh lebih keterlaluan. Karena Black tahu bahwa jawaban 'tidak suka' tidak akan pernah keluar dari mulut Liene.
[Liene] "Kau mengharapkan apa?"
[Black] "Entahlah......?"
Black dengan tenang memainkan tangan yang ia rebut. Mungkin karena tatapannya tidak lepas dari bibir Liene, tindakannya terasa menggoda.
[Black] "Bagaimana kalau kita pergi berlibur? Hanya kita berdua, kau dan aku. Karena ada orang yang bisa kita mintai tolong menjaga anak-anak, meskipun dia tidak sempurna."
[Liene] "Hah? Ke mana?"
[Black] "Ke Kastil Bellisa."
Liene tidak tahu, tetapi fakta bahwa Black dan Shellan memikirkan hal serupa membuktikan bahwa mereka adalah ayah dan anak.
[Liene] "Hmm...... Oh. Tawaran yang terlalu tidak realistis. Anak-anak tidak akan tinggal diam. Terutama Shellan."
[Black] "Dia berusia delapan tahun sekarang. Aku pikir itu usia yang tepat untuk belajar bahwa orang tua tidak selalu bisa berada di sisi mereka."
[Liene] "Tidak, delapan tahun masih kecil...... Oh...... Ah,"
Liene mengingat masa lalu Black, saat ia harus meninggalkan Nauk pada usia delapan tahun, entah itu disengaja oleh Black atau tidak.
Delapan tahun memang usia yang sangat muda jika dilihat dari si kembar.
Namun, Black melarikan diri sendirian pada usia itu dan bertahan hidup sendirian. Ia melarikan diri perdagangan budak dan menjadi tentara bayaran.
[Black] "Dia tidak terlalu kecil. Seperti yang kau tahu."
Dan Black memiliki kekurangajaran untuk tidak merasa bersalah sedikit pun dalam menjual masa lalunya untuk meyakinkan Liene.
Ia membawa tangan Liene yang sedang ia mainkan ke pipinya dan menekannya.
[Black] "Saat ini lah laut Bellisa paling jernih. Kita tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Kau dan aku akan punya lebih banyak pekerjaan saat musim panas dimulai, jadi sekarang adalah waktu yang tepat."
[Liene] "Huum...... Oh, Bellisa ya."
Liene menghela napas pendek dan menutup mata.
Perbatasan selatan tempat Kastil Bellisa berada adalah satu-satunya tempat di Nauk yang memiliki laut. Meskipun tempatnya ramai dengan kapal dan logistik yang selalu berlayar melalui pelabuhan besar, Kastil Bellisa yang sedikit jauh dari pelabuhan adalah tempat yang tenang.
Pantai kecil yang mengelilingi Kastil Bellisa tidak terbuka untuk umum, jadi jika mau, mereka bisa menikmati laut dengan santai sampai puas.
Meskipun Liene ingin menolak, godaannya terlalu besar.
[Black] "Jika bukan sekarang, kita mungkin tidak akan punya kesempatan tahun ini, Liene."
Selain itu, suara pria yang berbisik dengan bibir berada dalam jarak yang sangat dekat terlalu persuasif. Liene merasa seolah-olah ia tidak boleh menolak apa pun yang dikatakan Black.
[Liene] "Apakah Pangeran Alito...... akan menjaga anak-anak dengan baik......?"
[Black] ".......Dia pasti akan melakukannya. Jangan khawatir, bahkan jika kau tidak percaya padanya, ada dua pengasuh dari keluarga Grand Duke yang akan ikut."
[Liene] "Ah, aku percaya pada pengasuh mereka. Mereka tegas tetapi melakukan semua yang harus dilakukan......"
Alasan ia menghentikan perkataannya adalah karena bibir Black menyentuhnya. Sentuhan singkat, yang nyaris bukan ciuman, meninggalkan riak kecil di hati Liene. Karena sentuhannya begitu tiba-tiba, meskipun sebelumnya Black sudah berlama-lama berada di jarak yang sangat dekat.
Liene tanpa sadar memejamkan mata.
[Liene] "Jika kau akan begini, lebih baik kau lakukan saja."
Black tertawa tanpa suara melihat Liene yang memejamkan mata seolah mengerutkan dahi.
[Black] "Kau mau aku lakukan apa?"
[Liene] "Kau tahu, kan?"
[Black] "Tapi aku suka saat kau yang mengatakannya."
[Liene] "......Kau menyebalkan."
Liene meraba-raba ke depan dan menarik kerah baju Black.
Saat jarak memendek, bibir mereka bertemu.
Liene menggigit bibir bawah Black dan bergumam.
[Liene] "Kita pergi. Tapi kau yang harus meminta izin dari anak-anak."
Dan ciuman pun langsung dimulai.
Karena itu, Black kehilangan kesempatan untuk menjawab, dan Liene menganggap karena Black tidak mengatakan 'tidak', maka ia menyetujuinya.
Waktu makan siang tidak terlalu lama, dan kedua orang yang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berciuman harus makan makanan mereka dengan tergesa-gesa karena kekurangan waktu.
[Shellan] "......Ayah serius?"
Shellan bertanya.
Dengan suara rendah dan tenang. Sekilas, terdengar seperti desahan ancaman.
Dief, yang berdiri di samping Shellan, bahunya menggigil karena tatapan Shellan yang dingin dan tajam.
[Shellan] "Ayah benar-benar mengambil keputusan seperti itu? Ayah mungkin iya, tapi Ibu?"
[Black] "Ya."
Namun, Black tidak kalah keras kepala.
Waktu Black berduaan dengan Liene berkurang drastis sejak si kembar lahir. Bahkan sebagai bangsawan, membesarkan anak membutuhkan upaya besar jika mereka berambisi membesarkan anak dengan baik, dan untuk alasan yang sama, Black mengalah banyak waktu untuk anak-anak.
Dan ia sudah mengalah selama delapan tahun.
Anak-anak sudah cukup besar. Pada usia delapan tahun, meskipun mereka tidak bisa melarikan diri sendirian, membunuh pedagang budak, dan bertahan hidup sebagai tentara bayaran, mereka sudah bisa makan, tidur, dan belajar sendiri.
Satu bulan, atau paling lama tiga minggu, mereka sudah cukup umur untuk ditinggal orang tua tanpa harus selalu berada di sisi mereka.
[Shellan] "Aku tidak akan pernah menerima keputusan ayah."
Shellan mengucapkannya dengan suara yang tajam. Dief, yang menatap Shellan dengan wajah khawatir, mengangguk hati-hati.
[Dief] "Tidak bagus berlibur hanya berdua. Tidak bisakah kalian mengajak kami juga?"
[Black] "Jika aku membawa kalian, tidak ada alasan bagi tamu untuk datang. Itu sudah diputuskan. Dan Liene juga butuh istirahat."
[Shellan] "Jangan panggil Ibu dengan namanya."
[Dief] "Eh...... apa?"
Dief merasa Shellan marah pada hal aneh. Ia menatap Ayahnya dengan bingung, tetapi Ayahnya sepertinya tidak menganggap tingkah Shellan aneh.
[Black] "Itu hakku."
Ucapannya juga terdengar sedikit aneh.
[Dief] "Um......"
Aneh, tetapi sekali lagi aneh karena ucapan ayahnya tidak salah.
Jika ada orang yang bisa memanggil Ibu dengan namanya, itu memang Ayah, tetapi...... mengapa ia merasa aneh?
[Shellan] "Karena melanggar etika kerajaan."
[Black] "Karena ini bukan acara resmi."
Mungkin aneh karena Shellan dan Ayahnya bertengkar tentang pemanggilan nama Ibu.
[Black] "Paling lambat besok pagi, tamu dari Grand Duchy Alito akan tiba. Kalian harus menjadi tuan rumah yang baik selagi Liene dan aku tidak ada di kastil."
[Shellan] "Ayah memintaku mengambil alih pekerjaan dalam situasi seperti ini? Ayah serius? Kepada anak berusia delapan tahun?"
Black bersikap dingin.
[Black] "Shellan, biasanya kau marah jika diperlakukan seperti anak berusia delapan tahun, kan?"
[Shellan] "......"
Shellan menutup mulutnya tetapi bibirnya bergetar.
Dief merasa kasihan.
Shellan jarang kehilangan kata-kata, tetapi ketika itu terjadi, lawannya selalu Ayah.
[Shellan] "Ayah tidak percaya aku akan setuju begitu saja, kan?"
[Black] "Kau akan melakukannya karena kau pasti membenci mereka sama sepertiku."
Shellan mengerutkan alisnya. Ekspresinya sangat mirip dengan ekspresi Black ketika ia bimbang, antara melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukan dan sesuatu yang menarik baginya.
[Shellan] "Mereka sudah datang selama tiga tahun, itu sudah cukup. Sudah waktunya mereka berhenti datang."
Saat Dief terlihat tidak mengerti apa maksud dari perkataannya, Shellan menggertakkan gigi dengan suara keras.
[Shellan] "Jadi, sebenarnya Ayah ingin menyerahkan pekerjaan yang seharusnya Ayah lakukan kepadaku? Dan dengan alasan itu, Ayah ingin memonopoli Ibu?"
[Black] "Aku tidak bisa setuju dengan kata 'pekerjaanku' karena akan menjadi masalah diplomatik."
[Shellan] "Alasan pengecut."
[Black] "Tapi Shellan, kau akan menemukan caranya. Cara yang tidak akan menimbulkan masalah."
Black bangkit dari kursi kerja dan bergerak untuk menepuk bahu Shellan dengan lembut.
[Black] "Jika kau pikirkan baik-baik, ini bukan hal buruk. Bagaimanapun, kau tidak akan bisa melakukannya jika Liene ada."
[Shellan] "Ya......"
Ayah curang.
Shellan hampir saja mengucapkan kata-kata yang sudah sampai di tenggorokannya.
Perbuatan Ayahnya memang curang, tetapi ia tidak bisa mengatakan bahwa itu tidak cerdas.
Semuanya sudah terjadi, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain marah, dan pada titik itu Ayahnya telah mendapatkan keuntungan bersih dengan menawarkan kesepakatan.
Mungkin Ayahnya sudah merencanakan semuanya sejak Grand Duke Alito meminta undangan.
Kalau begitu, pada titik ini, ia juga harus mendapatkan apa yang bisa ia dapatkan.
[Shellan] "Sebagai gantinya, berikan aku imbalan. Jika aku berhasil memastikan Keluarga Grand Duke Alito tidak akan datang lagi ke sini sebelum kalian berdua kembali, aku akan pergi ke Kastil Bellisa."
[Black] "......Jika kau berhasil."
[Shellan] "Aku akan berhasil."
Entah sejak kapan, tatapan mata mereka berdua menjadi serupa. Tatapan mata para konspirator yang sedang membuat kesepakatan.
[Black] "Tapi jangan membuat kesalahan."
[Shellan] "Simpan kekhawatiran Ayah untuk anak kecil."
Setelah mengatakannya, Shellan berbalik dan meninggalkan kantor Black. Dief menatap Black dengan wajah canggung.
Dief baru sekarang mengerti percakapan antara Shellan dan Ayahnya.
[Dief] "Um...... Apakah tidak apa-apa?"
Black tersenyum kecil, senyum yang hanya ia tunjukkan saat bersama anak-anak.
[Black] "Tidak apa-apa karena ada dirimu."
[Dief] "Aku tidak tahu banyak soal masalah diplomatik dan semacamnya."
[Black] "Awasi Shellan. Jika ia mencoba melakukan sesuatu yang akan membuat Liene sedih, ingatkan dirinya. Itu saja."
[Dief] "Hmm...... Oh, aku mengerti. Aku bisa melakukannya."
[Black] "Kalau begitu pergilah pada Shellan."
Black menyuruh Dief keluar.
Black merasa tergesa-gesa. Ia harus bersiap-siap untuk berangkat ke Kastill Bellisa.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar