top of page

A Barbaric Proposal Side Story 11

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 21 Nov 2025
  • 7 menit membaca

Tak tak.

Suara kayu bakar di perapian yang menyala terdengar nyaman.

Mereka yang sudah mandi, mengenakan piyama, dan kembali ke tempat tidur, juga merasa nyaman.

Malam ini, tempat tidur si kembar didorong dan disatukan. Tiba-tiba, tercipta tempat tidur yang sangat besar yang bisa memuat seluruh keluarga.

Oleh karena itu, si kembar merasa bahagia. Meskipun fajar sudah mendekat, mereka tidak merasa mengantuk.

Dief tahu bagian tubuhnya yang tertindih laci menjadi memar, tapi itu tidak masalah. Tidak sakit sama sekali karena Ibunya meniupnya. Kuku Shellan pun sama.

[Shellan] "Ibu. Ceritakan sekarang. Ibu bilang akan melanjutkan cerita setelah Ayah mandi."

Shellan terus bertanya tentang kejadian masa lalu sambil menempel erat pada Liene.

[Dief] "Benar. Ceritakan sekarang."

Dief menempel di sisi sebaliknya.

Ketika mereka berempat bersama, biasanya seperti ini. Anak-anak menempel pada Liene, dan Black memeluk Liene yang sedang memeluk anak-anak.

[Liene] "Hmm...... Ya, benar."

Liene menoleh ke arah Black dengan wajah sedikit canggung.

[Liene] "Kita tidak bisa tidak menceritakannya, kan?"

[Black] "Sepertinya begitu."

Black berbisik sambil mencium ubun-ubun kepala Liene. Liene tertawa kecil, seolah itu sebuah dorongan.

[Liene] "Kau tidak menyerahkan semuanya kepadaku, kan?"

[Black] "Aku bisa saja melakukannya, tetapi aku tidak percaya diri untuk memperhalus kata-kata agar cocok didengar anak-anak."

[Liene] "Itu hanya alasan."

Cup, Black kembali menempelkan bibir.

[Black] "Aku akan melakukan yang terbaik untuk membantu."

[Liene] "Ah, jahat sekali."

Liene menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangan pada si kembar.

Bagaimana aku harus mengatakannya......

[Shellan] "Sir Renfel bukan keluarga kerajaan, lalu bagaimana dia bisa mengetahui jalan yang hanya diketahui keluarga kerajaan?"

Untungnya, Shellan membuka pembicaraan. Liene membelai kepala Shellan dan menjawab.

[Liene] "Karena Sir Renfel orang yang menjaga Raja, bahkan sebelum dia mendapatkan nama Renfel."

[Shellan] "Raja itu bukan Arsak, tapi Gainers?"

[Liene] "Benar."

[Shellan] "Apakah mata Raja terakhir Gainers yang sama dengan mata Ayah berarti Ayah adalah Gainers?"

[Liene] "Itu juga benar."

[Shellan] "Kalau begitu, ada alasan mengapa nama keluarga Ayah dikenal sebagai Tiwakan."

Kata-kata Shellan terdengar begitu dewasa sehingga Liene terkejut.

[Liene] "......Ya."

[Shellan] "Aku ingin tahu. Tolong ceritakan."

Badai salju perlahan berubah menjadi salju tebal.

Alih-alih suara angin kencang yang seolah merobek langit, suara salju yang menumpuk mengisi malam.

Masa lalu yang menyakitkan dan menyedihkan, yang sama sekali tidak seperti dongeng, menjadi sedikit lebih lembut berkat suara salju.

[Liene] "......Jadi, ketika Ayah datang ke Nauk untuk melamar... Dief, sepertinya kau sudah mengantuk."

Sentuhan tangan yang membelai dahi dengan lembut membuatnya tertidur.

Pada suatu saat, anak-anak sudah tertidur pulas.

Black bangkit dan membaringkan anak-anak dengan benar.

[Shellan] "Tapi, itu......."

Berbeda dengan Dief yang berbaring diam, Shellan menggumamkan sesuatu.

[Shellan] "Jika Raja Arsak...... masih hidup...... dia akan menunggu......."

[Liene] "Hmm, Shellan? Apa yang kau katakan?"

[Shellan] "Lukisan itu...... tidak dibuang......."

[Shellan] "Dia sedang menunggu....... pangeran muda Gainers untuk kembali......."

Shellan, yang menggigit bibir, menutup mata sepenuhnya. Setelah menyandarkan bantal di kepala Shellan yang sudah berbaring, Black memeluk pinggang Liene dari belakang.

[Black] "Ucapannya mungkin benar."

[Liene] "Apa yang dikatakan Shellan?"

[Black] "Ya."

[Liene] "Itu......."

Liene berpikir sejenak, lalu menepuk punggung tangan Black dengan wajah meminta maaf.

[Liene] "Kau tidak bisa menentukannya hanya dari selembar lukisan, kan?"

[Black] "Maknanya besar, bukankah begitu?"

[Liene] "Benarkah? Kita tidak tahu siapa yang melakukannya. Hanya karena ada segel yang dicap, bukan berarti Ayahku yang menyembunyikannya."

[Black] "Pikirkan. Lukisan itu tidak mungkin hanya satu."

Karena saat itu adalah masa keemasan, lukisan pasti berlimpah. Lukisan dan dekorasi pasti digantung sehingga tidak ada dinding kosong yang terlihat.

Namun, semua yang berhubungan dengan Keluarga Kerajaan Gainers telah menghilang.

Melihat Catatan Kerajaan yang hilang, keduanya tahu betapa obsesifnya mereka dalam menghapus jejak Gainers.

Lukisan itu adalah salah satu yang tersisa di tengah semuanya. Tidak bisa dikatakan tidak ada artinya.

[Liene] "Kalau begitu......."

[Black] "Mungkin lukisan itu adalah kunci terakhir yang harus kita temukan."

Masa lalu tidak bisa diubah, dan orang mati tidak bisa dihidupkan kembali, tetapi pengampunan bisa diberikan.

Meskipun cara untuk mengetahui dengan jelas posisi Ayah Liene telah hilang karena Ternan Kleinfelter, yang memimpin pemberontakan tujuh keluarga saat itu, sudah meninggal, masih ada benih kecil yang mungkin berbunga menjadi pengampunan.

[Liene] "Kau benar-benar sudah melupakan semuanya?"

Liene bertanya dengan bisikan pelan.

[Black] "Aku sudah melupakan semuanya. Aku pikir kau juga sudah tau."

[Liene] "......Benar. Aku yang tidak bisa melupakan."

[Black] "Sekarang kau boleh melupakannya. Sebenarnya, itu hal yang seharusnya sudah kau lupakan sejak lama."

Tapi melupakan tidak semudah yang dikatakan.

Black yang menyuruhnya untuk melupakan dengan mudah, justru dia yang aneh.

Aneh dan...... orang yang luar biasa.

Jika aku adalah pria ini, Nauk tidak akan pernah mendapatkan kembali air.

[Black] "Sepertinya sudah waktunya bagi kita untuk tidur juga...... Oh. Kau tidak lelah?"

Black bertanya sambil menempelkan bibirnya di telinga Liene.

[Liene] "Ya. Mari kita kembali."

Seolah mendengar ucapan orang tuanya dalam tidur, Dief menendang selimutnya dengan kaki. Shellan mendorong bantalnya dengan kepala.

Black meninggalkan Liene sejenak, berbalik, dan menyelimuti anak-anak serta membetulkan bantal mereka.

Sentuhannya adalah sentuhan Ayah yang penyayang, tetapi kekurangannya adalah ekspresinya tidak demikian.

[Black] "Ini merepotkan."

[Liene] "Apa yang merepotkan?"

[Black] "Anak-anak terlalu menyukaimu."

[Liene] "Itu merepotkan?"

[Black] "Waktuku untuk memonopoli dirimu terus berkurang."

[Liene] "Apa maksudmu?"

Black melirik ke arah anak-anak dengan mata sekilas.

[Black] "Lihat."

Kali ini, Shellan menggali ke dalam selimut dan menjatuhkannya. Saat Black mengambil selimut, Shellan diam-diam bergerak ke samping dan mulai mencuri selimut Dief.

[Liene] "Aku tidak tahu kebiasaan tidur mereka seburuk ini. Tapi mengapa itu berarti mereka menyukaiku?"

Black mengembalikan selimut Dief dan menyelimuti Shellan dengan selimut miliknya.

[Black] "Awalnya tidak separah ini."

[Liene] "Hmm?"

[Black] "Saat kau melihat mereka, kelakuan mereka menjadi sangat parah. Seolah-olah mereka menahanmu agar tidak pergi."

[Liene] "......? Benarkah? Aku tidak tahu."

[Black] "Kau tidak sesensitif diriku."

Bagaimanapun, Black, yang telah menyelimuti dengan baik, mengulurkan tangan kepada Liene.

[Black] "Ayo pergi sekarang. Ah, jangan membuat suara langkah kaki. Kalau tidak, kita mungkin benar-benar tidak bisa pergi."

[Liene] "Tidak mungkin."

Ketika Liene melangkah, salah satu si kembar menghela napas engg.

Liene menoleh, dan Black meletakkan kedua tangannya di telinga Liene.

[Black] "Itu hanya suara dalam tidur, jangan pedulikan dan berjalanlah. Diam-diam."

[Liene] "Meskipun aku meredam suara langkah kaki, pintu pasti akan berbunyi saat aku membukanya."

[Black] "Begitu pintu terbuka, kita tidak bisa kembali."

[Liene] "Bagaimana jika ada yang menendang selimut lagi?"

[Black] "Jika kedinginan, mereka akan mencari dan menyelimuti diri sendiri."

[Liene] "Terdengar seperti orang tua yang kejam."

[Black] "Bukan, tapi orang tua yang rasional dan adil. Biarkan mereka mendapatkan pencerahan bahwa mereka akan kedinginan jika menendang selimut."

[Liene] "Uhm."

Meskipun masih terdengar kejam, ada benarnya juga ucapan Black.

Mereka tidak bisa terus mengawasi mereka tidur setiap malam.

Selain itu, anak-anak tumbuh sangat cepat. Meskipun bagi Liene mereka tampak seperti bayi, mereka bukan bayi lagi. Mereka sudah cukup umur untuk mengambil kembali selimut yang mereka tendang sendiri.

Kriing, tak.

Black, yang membuka pintu dengan hati-hati, bergegas menutupnya.

Entah mengapa, Liene hampir tertawa.

[Liene] "Ah, aku lupa."

Mereka berjalan bergandengan tangan ke kamar tidur Raja. Liene berbisik saat mereka menuju kamar yang tidak jauh.

[Liene] "Mereka berdua harus dihukum. Karena membuat masalah hari ini."

[Black] "Aku setuju. Salah mereka menipu para Nyonya dan meninggalkan kamar tidur."

[Liene] "Juga karena mereka merengek di lantai Ruang Permata. Ah, mencuri kunci Ruang Permata juga tidak boleh. Hukuman apa yang bagus? Nyonya Henton bilang tidak akan membuatkan puding kacang merah lagi."

[Black] "Tidak membuatkan puding, hal yang berbeda."

[Liene] "Benar. Apa hukuman yang bagus? Bagaimana kalau menyuruh mereka membantu membersihkan salju?"

Karena badai salju, salju di luar pasti menumpuk setinggi betis.

Mereka harus segera membersihkan salju sebelum membeku, dan itu pekerjaan yang sangat merepotkan, bahkan semua orang di kastil harus membantu.

[Black] "Bagaimana jika mereka masuk angin?"

Black, yang baru saja bersikap kejam dengan mengatakan anak-anak harus menyadari sendiri akibat perbuatan mereka, kini mengkhawatirkan flu.

[Liene] "Pakaikan pakaian hangat, dan jangan biarkan mereka di luar terlalu lama sampai masuk angin. Selama kau tidak ikut-ikutan bermain perang salju, mereka tidak akan masuk angin."

[Black] "Terdengar agak kejam."

[Liene] "Wah. Itu kata-kataku. Kau seperti membalikkan fakta, Yang Mulia."

Liene terkekeh sambil membuka pintu kamar tidur.

Kamar yang sudah dinyalakan perapian oleh Nyonya Flambard terasa hangat.

Tak.

Black menggerakkan kakinya untuk menutup pintu.

Dia tidak menggunakan tangan, karena kedua tangannya saat ini sangat sibuk.

[Black] "Aku merindukanmu."

Kedua tangan Black menggenggam pipi Liene.

Kehangatan yang dimulai dari telapak tangan mulai menyebar ke seluruh tubuh Liene.

[Liene] "Aku juga."

[Black] "Kalau begitu, tunjukkan padaku. Seberapa besar kau merindukanku."

Selain api unggun yang berkobar, semuanya gelap.

Liene berpikir tidak ada tempat lain di dunia ini di mana kegelapan terasa begitu nyaman.

[Liene] "Bagaimana caranya?"

[Black] "Sesuai keinginanmu."

Black berbisik dengan suara yang dalam seperti kegelapan.

Napasnya menyentuh kulit, membuat bahu Liene merinding.

[Liene] "Tolong rendahkan kepalamu sedikit."

[Black] "Dengan senang hati."

Black sedikit menekuk lututnya. Liene merentangkan kedua tangannya di leher Black dan menyatukan bibir mereka.

Pada saat yang sama, tubuhnya terangkat.

Itu hal yang sangat akrab bagi mereka berdua.

[Liene] "Semoga besok semua orang akan bangun siang."

Punggung Liene menyentuh selimut yang empuk. Black, yang menopang leher Liene dengan satu tangan, membuka ikatan gaun tidur dengan tangan yang lain.

[Black] "Pasti begitu. Semua orang lelah."

[Liene] "Terdengar seperti dirimu juga lelah."

[Black] "Ya. Aku akan lelah. Saat pagi tiba."

Kain-kain berdesir dan jatuh ke lantai.

Liene membelai wajah suaminya yang masih memikatnya, menuangkan semua kerinduan beberapa hari terakhir.

[Liene] "Berarti kau sama sekali tidak lelah sekarang?"

[Black] “Jika aku merasa lelah sekarang, akan menjadi masalah besar."

Black menundukkan kepala dan menyatukan tubuh mereka. Bibir yang terasa semakin manis setiap hari menyentuh cuping telinga Liene, menggelitik pipi, dan turun ke bawah.

[Black] "Aku harap kau juga tidak lelah."

Tempat yang disentuh bibirnya menjadi merah padam. Kain yang berantakan, sentuhan yang mencapai setiap sudut, dan napas yang meresap dari dekat terasa begitu indah hingga membuat air mata menetes.

[Liene] "Aku rasa aku bisa menunda rasa lelahku."

Liene bergumam seperti desahan.

Black memeluk kaki Liene dengan satu lengan, menekuk lututnya, dan bertanya.

[Black] "Sampai kapan kau bisa menundanya?"

[Liene] "Hmm...... Entahlah. Sampai besok pagi?"

[Black] "Bagus."

Selanjutnya, bibir mereka saling bersentuhan.

Momen yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun datang.

Liene menutup mata dan memeluk erat leher Black sambil menghela napas pelan.

Waktu menuju pagi hari esok masih sangat panjang.

Kastil Nauk menyambut pagi yang terlambat, belum pernah terjadi sebelumnya.

Salju yang menumpuk semalam dihiasi jejak kaki burung sebagai dekorasi.

Menjelang matahari siang terbit, orang-orang yang baru bangun dan sudah sarapan keluar untuk mulai membersihkan salju.

Adalah hal yang wajar jika pekerjaan membersihkan salju berubah menjadi membuat manusia salju, dan kemudian menjadi perang salju.


A Barbaric Proposal: Side Story 11. Liene melanjutkan cerita masa lalu Gainers kepada si kembar yang akhirnya terlelap. Liene dan Black bertukar kerinduan setelah Black kembali. Mereka berdiskusi memberikan hukuman yang "rasional" kepada si kembar. Akhirnya, mereka menghabiskan waktu bersama menyambut pagi yang terlambat.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page