top of page

A Barbaric Proposal Chapter 134

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 5 Nov 2025
  • 10 menit membaca

Diperbarui: 6 Nov 2025

Setelah Musim Dingin Berlalu, Musim Semi pun Tiba

[Liene] "……Apa?"

Liene lantas memiringkan kepalanya.

[Liene] "Bayi? Rasa masih lama sekali"

Pembicaraan tentang bayi terasa lebih jauh daripada urusan penobatan.

Namun, bagi Nyonya Henton, sepertinya tidak demikian.

[Henton] "Melihat apa yang Lord Tiwakan lakukan, saya juga menduga begitu. Putri, bukankah menstruasi Anda tidak kunjung datang?"

[Liene] "......Astaga."

Tiba-tiba ia tercekat. Nyonya Flambard, yang telah mengenal Liene sejak lama, mendekat dan menepuk-nepuk punggungnya.

[Flambard] "Memang! Saya juga punya berpikir demikian dan sudah membicarakannya dengan Nyonya Renfel. Saya rasa, kemungkinan besar Anda hamil."

[Liene] "Tidak, tunggu sebentar...... Maksudku......."

[Henton] "Anda sangat sibuk karena pembangunan benteng saat pulang dari Kerajaan Sharka, kan, mungkin Anda lupa karena kesibukan itu?"

[Liene] "Begitu... ya? Aku lupa tanggalnya."

[Flambard] "Lord Tiwakan akhir-akhir ini terus-menerus berpesan agar Anda makan dengan baik karena berat badan Anda menurun, jadi kami semakin yakin. Anda sempat mengalami gangguan pencernaan, kan?"

[Liene] "....."

Black memang pernah mengatakannya. Beberapa malam yang lalu.

Liene berpikir, jika ia salah makan hingga pencernaannya terganggu, seharusnya Nyonya Flambard langsung bertindak, tetapi anehnya, Nyonya itu tidak mengatakan apa pun selama ini.

[Liene] "Anda tahu?"

[Flambard] "Saya pikir itu mungkin karena calon bayi."

Maksudnya, seiring waktu kemungkinan itu menjadi semakin pasti, sehingga baru hari ini mereka berani menyampaikannya.

[Henton] "Bagaimana kalau hari ini kita memanggil tabib? Dan memberi tahu Lord Tiwakan juga."

[Liene] "Aku harus melakukannya?"

[Flambard] "Tentu saja."

[Henton] "Benar."

Liene terus menggelengkan kepalanya seolah ada sesuatu yang salah.

[Liene] "Tapi, apakah benar-benar ada bayi? Aku tidak merasakan apa-apa."

[Flambard] "Saat ini wajar jika tidak merasakan apa pun. Masih terlalu awal untuk merasakannya."

[Liene] "Seandainya......."

[Flambard] "Ya, Putri."

[Liene] "......Bagaimana jika ternyata tidak?"

[Henton] "Anda sudah telat menstruasi lebih dari sebulan, mana mungkin tidak?"

[Liene] "Tapi, kita tidak tahu pasti, kan?"

Kedua Nyonya saling bertukar pandang.

[Flambard] "Apa mungkin Anda tidak menginginkan calon bayi?"

[Liene] "Apa? Tidak, mana mungkin. Mana mungkin aku tidak menginginkannya...... Aku hanya tidak yakin."

Liene memilin rambutnya tanpa alasan.

[Liene] "Mungkin karena aku pernah berbohong...?"

[Flambard] "Apa hubungannya dengan itu? Lord Tiwakan juga tahu alasannya, bukan?"

[Liene] "Memang begitu...... Hanya saja, aku belum bisa mempercayainya."

[Flambard] "Wajar jika Anda belum yakin....... Kalau begitu, bagaimana jika kita memanggil tabib nanti saja? Jika Anda mau, kami juga akan tetap diam."

[Liene] "Hmm...... Ya, ide bagus. Aku akan mencari cara untuk memberi tahu Lord Tiwakan terlebih dahulu."

[Flambard] "Baiklah."

Meskipun menyetujuinya dengan patuh, kedua Nyonya sangat tegas dalam hal lain.

[Henton] "Kalau begitu, saya akan mulai merapikan lemari pakaian."

[Flambard] "Biar aku bantu."

[Henton] "Kalau begitu bagus sekali."

Keduanya pasti akan sangat sibuk untuk sementara waktu.

Menambah pekerja, melatih mereka, dan mengisi setiap sudut tempat yang luas ini adalah pekerjaan yang sangat banyak.

Terlebih lagi, jika memang ada bayi...

[Liene] "......Nyonya mungkin tidak akan punya waktu untuk tidur."

Sampai anaknya lahir dengan selamat, Nyonya Flambard tidak akan pernah bisa tenang.

Liene juga berpikir, mungkinkah pakaian bayi akan lebih banyak daripada pakaian barunya sendiri?

[Liene] "Ah......"

Saat pikirannya melayang, perlahan-lahan, ia mulai merasakannya.

[Liene] "Sungguh...... mungkin bayinya benar-benar ada."

Liene tanpa sadar mengusap perutnya sedikit. Begitu ia berpikir kemungkinan ada bayi, tiba-tiba ia merasa takut.

[Liene] "Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Pikirannya menjadi gelap.

Ia tidak tahu apa-apa tentang bayi.

[Randall] "Putri! Putri!"

Saat itu masih sore menjelang malam, dan meskipun masih ada genangan air, langit tetap cerah. Cahaya senja yang menyelimuti langit cerah tampak sangat merah.

Liene mengunjungi taman belakang setelah sekian lama.

Entah perasaannya saja, tetapi sepertinya rumput-rumput baru mulai tumbuh di taman belakang yang selalu tandus.

Mengingat musim semakin dingin, mereka harus menunggu lama sampai seluruhnya menjadi hijau, tetapi udara sudah terasa berbeda.

Ia terus menarik napas dalam-dalam karena udaranya terasa seperti aroma kayu yang lembap, bukan bau debu kering.

[Randall] "Putri!"

Randall berlari ke arahnya dari pintu masuk.

[Liene] "Sir Randall. Ada apa?"

Randall mendekat dengan langkah yang sangat cepat.

[Randall] "Tuanku menyuruh saya menjemput Anda. Bisakah Anda berangkat sekarang?"

[Liene] "Sekarang?"

Black sedang berada di tepi sungai bersama Fermos karena proyek saluran pembuangan air yang ingin diselesaikan sebelum akhir tahun.

Mengingat musim dingin datang lebih cepat dari tahun lalu, Liene menduga salurannya tidak mungkin selesai.

[Randall] "Ya. Beliau bilang ada sesuatu yang ingin ditunjukkan kepada Anda."

[Liene] "Begitu, ya."

Black belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.

Apakah ada hal yang ingin dibicarakan? Apakah ia ingin membicarakan tentang proyeknya? Aku sudah bilang aku tidak keberatan jika waktunya diperpanjang.

[Liene] "Baiklah, ayo pergi."

[Randall] "Apakah Anda perlu berganti pakaian? Cuaca akan menjadi dingin saat matahari terbenam."

[Liene] "Aku baik-baik saja dengan ini."

Untung ia memakai jubah saat keluar ke taman belakang.

Matahari akan segera terbenam, jadi lebih baik menghemat waktu untuk pergi ke tepi sungai.

[Liene] "Di sisi sungai yang mana? Berapa lama waktunya?"

[Randall] "Tidak terlalu jauh jika naik kuda. Sekitar tiga puluh menit."

[Liene] "Begitu, ya."

Sampai saat itu, Liene tidak berpikir apa-apa.

Namun, begitu ia melihat kuda yang sudah dipasangi pelana, kekhawatiran yang tidak masuk akal mulai muncul.

...... Bagaimana jika aku jatuh.

Aku memang penunggang kuda yang baik, tetapi aku tidak tahu apa yang bisa terjadi.

Daerah tepi sungai pasti banyak jalan yang berlumpur.

[Liene] "......"

Setelah memikirkannya, ia sama sekali tidak ingin naik kuda.

Randall, yang sedang bersiap menyerahkan tali kekang kuda di tangannya kepada Liene, bertanya.

[Randall] "Putri? Anda tidak naik?"

Liene memalingkan wajahnya.

[Liene] "Aku tidak bisa pergi."

[Randall] "Apa? Anda bilang tidak bisa pergi? Apa maksudnya?"

[Liene] "Maaf, tapi aku tidak bisa naik kuda sekarang. Bisakah kita naik kereta?"

[Randall] "Karena tidak ada jalan, kereta tidak memungkinkan. Apakah Anda keberatan jika saya menukar kudanya?"

[Liene] "Kalau begitu, suruh seseorang datang ke sini. Atau datang menjemputku sendiri. Aku tidak bisa pergi."

[Randall] "Saya akan mengantar Anda."

[Liene] "Kau dan aku tidak boleh menunggang kuda bersama, kan?"

Liene tersenyum, menunjukkan rasa bersalah karena telah membuat Randall harus bolak-balik dua kali.

[Liene] "Sampaikan saja begitu."

[Randall] "......?"

Randall memandang Liene yang berbalik dan pergi dengan sedikit keanehan.

[Randall] "Ini tidak baik......"

Ia tidak menyangka Liene akan menolak permintaan Black.

Randall mengusap dagunya dengan wajah bingung.

[Randall] "Juga aneh kenapa ia tiba-tiba tidak mau menunggang kuda yang biasa ia naiki dengan baik. Jangan-jangan keduanya bertengkar."

Pikirannya menjadi rumit, tetapi itu masalah yang sulit ia pahami karena ia hampir tidak punya pengalaman bergaul lama dengan wanita.

Seperti yang diduga, Black menjadi sangat serius.

[Black] "......Apa ada yang salah dengan yang kulakukan?"

[Fermos] "Hmm...... Entahlah."

[Randall] "Sepertinya kami tidak bisa mengetahuinya, Tuanku."

[Black] "......"

Bahkan Fermos, yang mungkin adalah orang terpintar di seluruh Kerajaan Nauk, tidak bisa menjawabnya.

[Black] "Aku hanya ingin kami melihat ini bersama."

Di tanggul sungai yang airnya surut, terdapat ladang bunga ungu yang seolah muncul begitu saja. Sebenarnya itu lebih seperti rumput daripada bunga, tetapi karena warnanya yang mencolok, terlihat seperti ladang bunga di bawah sinar bulan.

Kebetulan malam itu bulannya sangat besar.

Ladang ungu tempat bulan bersinar rendah adalah pemandangan yang belum pernah terlihat di Nauk. Cahaya bulan perak yang terfragmentasi memantul pada tetesan air yang masih menempel, berkilauan. Orang pasti akan percaya jika tempat itu adalah tempat tinggal para peri.

Para tentara bayaran yang berdiri di tempat yang indah dan romantis memasang ekspresi yang tidak cocok.

[Black] "Apakah masalahnya karena aku menyuruhnya datang?"

[Fermos] "Entahlah......"

[Black] "Seharusnya aku menjemputnya sendiri?"

[Randall] "Entahlah...... kami juga tidak tahu pasti......"

Black tidak tahu mengapa Liene marah, dan para Ksatria Tiwakan khawatir Black akan meminta mereka memindahkan seluruh ladang rumput ungu itu ke dalam Kastil Nauk.

Fermos yang tanggap dengan cepat memetik beberapa rumput yang tampak seperti bola duri bundar.

[Fermos] "Ambillah, Tuanku. Daripada di sini, lebih cepat jika Anda langsung bertanya kepada Putri."

Black setuju. Ia hanya khawatir.

[Black] "Bagaimana jika dia benar-benar marah?"

[Fermos] "Kalau begitu Anda harus meminta maaf."

Black menatap Fermos sejenak. Fermos tersentak dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Randall.

[Black] "Aku tahu itu."

Ia tahu, tetapi ia tidak menyukai prosesnya. Ia tidak suka harus menghadapi Liene yang sedang marah.

[Fermos] "Lebih baik Anda pergi sekarang. Jika Putri benar-benar marah, Anda harus meminta maaf secepat mungkin."

Fermos mengatakannya sambil menjadikan Randall sebagai perisai.

Randall melompat-lompat, bertanya mengapa ia harus diikutsertakan, tetapi Fermos tetap teguh.

[Black] "......Aku akan pergi."

Black berbalik dengan cepat. Kemudian ia kembali dan menyambar rumput ungu di tangan Fermos.

Karena tidak ada perintah untuk mengikuti, sepertinya Black menyuruh mereka mengurus pekerjaan yang tersisa sendiri.

Semua orang berdiri diam, memperhatikan Black yang pergi dengan menunggang kuda.

Mereka semua tahu, tanpa perlu diberitahu, bahwa tidak ada alasan untuk ikut campur.

[Randall] "Tapi, apa yang bisa membuat mereka bertengkar? Sama sekali tidak ada tanda-tanda sebelumnya."

[Fermos] "Apa yang kita tahu. Itu urusan mereka berdua."

[Prajurit] "Meskipun begitu, pasti Tuanku yang melakukan kesalahan."

[Fermos] "Ah, sudah pasti."

Bagaimanapun, karena mereka semua adalah bawahan yang setia, mereka berdoa agar Liene memaafkan Black secepatnya.

Bulan memang sangat besar. Bulan yang hanya bisa dilihat beberapa hari dalam setahun.

Liene bersandar di pagar teras, menatap bulan seolah terhipnotis.

Ujung hidungnya sedikit dingin, tetapi karena suasana hatinya yang sedang baik, ia tidak merasa kedinginan.

Jantungnya terus berdebar.

Bagaimana jika ada bayi. Jika memang benar...

Lalu apa yang akan terjadi sekarang?

Sesaat yang lalu pikirannya gelap, tetapi sekarang ia mulai sedikit demi sedikit mengerti.

Jika ada bayi.

Pertama-tama, pria itu pasti akan sangat gembira. Nauk akan benar-benar menjadi rumah tempat ia tinggal. Mungkin pria itu akan menangis. Tangisan yang ia tahan sejak usia delapan tahun.

Sampai bayi kami lahir, para Nyonya dan Black akan selalu berada di sampingku.

Ketika bayi lahir, semua orang akan memberikan banyak cinta.

Kastil yang sampai beberapa waktu lalu kosong dan dipenuhi sarang laba-laba akan dipenuhi kehangatan manusia di setiap sudutnya.

...... Aku pasti akan sangat bahagia, seolah setiap hari terasa bagai mimpi.

Liene bersandar di lututnya dan tertawa pelan.

Apakah akan menjadi anak laki-laki atau perempuan?

Tidak masalah, asalkan sehat. Jika ia mirip pria itu, ia akan cantik, dan jika ia mirip aku, semua orang akan menyayanginya.

Astaga. Aku sudah ingin melihatnya.

Liene, yang tenggelam dalam pikirannya dan menunjukkan berbagai ekspresi, baru belakangan menyadari bahwa Black sedang berdiri di pintu masuk teras.

[Liene] "......Kau membuatku terkejut. Kenapa kau berdiri di situ? Tanpa mengatakan kau datang."

[Black] "Aku ingin bicara, tapi......."

[Liene] "Tapi?"

[Black] "......Aku kehilangan akal sehatku."

[Liene] "Kenapa?"

Black berbicara dengan matanya.

Karena dirimu terlihat seperti akan terbang di bawah sinar bulan. Dan aku tidak tahu bagaimana cara menggenggammu.

[Liene] "Kenapa kau hanya menatapku?"

[Black] "......Dingin."

Black melepas jubahnya dan melilitkannya ke tubuh Liene.

[Black] "Mungkin akan tercium bau debu."

Liene tersenyum manis.

[Liene] "Kadang-kadang, kau seolah tahu segalanya."

Black berlutut di lantai teras dan membungkus kaki Liene hingga ke pergelangan kaki dengan jubahnya.

[Black] "Maksudmu apa?"

[Liene] "Kau melilitkan jubah, bukannya menyuruhku masuk karena dingin. Kau seolah selalu tahu apa yang aku inginkan."

[Black] "Aku harap begitu."

Black berkata seperti desahan pelan.

[Black] "Jika aku tahu, aku tidak perlu berpikir sampai kepalaku rasanya mau pecah barusan."

[Liene] "Kenapa? Apa ada yang terjadi?"

[Black] "......Melihat kau bertanya, sepertinya kau tidak marah."

[Liene] "Kenapa aku harus marah?"

[Black] "Karena kau bilang kau tidak mau datang, aku kira kau marah. Untunglah tidak. ...... Ini."

Black mengeluarkan sesuatu dari dalam doubletnya. Rumput yang terlihat layu.

[Black] "Astaga. Sudah layu seperti ini."

Black mendecakkan lidahnya dan meletakkan rumput layu itu di lantai teras.

[Liene] "Apa itu? Bukankah kau akan memberikannya? Kalau begitu berikan saja."

Black menggelengkan kepalanya.

[Black] "Sudah layu. Lain kali saja."

[Liene] "Sepertinya bukan bunga."

[Black] "Jika kau melihatnya dari tepi sungai, maka akan terlihat seperti bunga."

[Liene] "Aaa...... Jadi kau ingin menunjukkan itu kepadaku."

[Black] "Malam ini bulannya bagus. Cukup memukau."

Liene sejenak lupa apa yang ingin ia katakan.

Ia terlambat menyadari bahwa ia sekali lagi jatuh cinta pada Black.

...... Pria ini mencintaiku, alami seperti bernapas.

Anaknya pasti akan bahagia karena itu. Black akan mencintai anaknya seperti ia mencintai Liene.

Anak Black pasti akan bahagia. Liene juga akan mencurahkan seluruh kasih sayangnya sebanyak mungkin.

[Liene] "Ada yang ingin aku bicarakan."

[Black] "Jika itu hal yang bisa membuatku sedih, berikan aku waktu. Agar aku bisa bersiap."

[Liene] "Bukan hal yang sedih...... Sepertinya lebih dekat ke hal yang mengejutkan."

[Black] "Hmm...... Kalau begitu kau bisa bicara. Aku bukan tipe orang yang mudah terkejut."

Liene melanjutkan tanpa memberinya jeda.

[Liene] "Sepertinya aku hamil."

Black mengangguk dengan tenang seperti biasa.

[Black] "Kabar baik. Aku harus memberi selamat kepadamu."

[Liene] "Ah...... Kau benar-benar tidak terkejut. Padahal aku pikir kau akan lebih gembira."

[Black] "Jika itu kabar gembira untuk Putri, begitu juga bagiku. Haruskah aku memberikan hadiah?"

[Liene] "Hmm...... Hadiah juga bagus. Kau akan memberikan apa?"

[Black] "Apa yang kau suka? Pilihkan untukku."

[Liene] "Hmm...... Bagaimana dengan mahkota? Yang ukurannya kecil, sesuai kepala bayi. Karena mungkin kita bertiga harus mengadakan upacara penobatan bersama."

[Black] "Mahkota?"

Black sedikit menyipitkan matanya.

[Black] "Mahkota seharusnya dipakai oleh anak yang kau lahirkan. Tidak bisa kau pilih yang lain?"

[Liene] "Karena ini memang anak yang aku lahirkan, tidak apa-apa, kan?"

[Black] "Kalau begitu...... Tidak, tunggu sebentar."

Black melambaikan tangannya seolah sedang mengejar sesuatu.

[Black] "Tunggu sebentar...... Putri...... Tidak. Kau bilang apa? Bayi......."

[Liene] "Mereka bilang ia akan lahir setelah musim dingin berlalu dan musim semi tiba."

[Black] "......"

Black menghentikan gerakannya. Mungkin ia sempat menahan napas.

[Liene] "Aku pikir kejadiannya sekitar waktu itu. Hari pertama kita pergi ke Kerajaan Sharka."

[Black] "......"

[Liene] "Mungkin juga sebelum itu. Atau setelahnya."

[Black] "......"

Getaran perlahan menyebar di mata Black yang mematung.

Liene membelai mata Black yang bergetar seperti gempa bumi.

[Liene] "Sekarang kau terkejut, kan? Kau tampaknya jauh lebih terkejut dari yang kuduga...... Ah."

Liene sedikit terkejut karena Black menundukkan dahinya ke lutut Liene yang dibungkus jubah.

[Black] "......Aku rasa jantungku berhenti berdetak."

[Liene] "Kau benar-benar terkejut."

[Black] "Ya."

Black baru mengangkat kepalanya setelah beberapa saat. Selama menunggu, Liene mendengar detak jantungnya sendiri hingga ke telinganya.

[Black] "Katakan lagi. Apa yang kau inginkan selain mahkota."

[Liene] "Hmm...... Untuk saat ini, itu sudah cukup."

[Black] "Rasanya belum cukup untukku......."

[Liene] "Waktuku masih banyak."

Liene menarik kerah Black.

[Liene] "Sisanya kita pikirkan sedikit demi sedikit setiap hari. Tidak ada alasan untuk terburu-buru. Untuk sekarang, kau hanya perlu berbahagia."

Black bangkit dan memeluk Liene sekuat tenaga. Detak jantungnya menggantikan kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan.

[Black] "Aku bahagia."

Ini pertama kalinya Black begitu bahagia seumur hidupnya, ia pasti bermaksud mengatakan itu.

Karena Liene belum pernah mendengar jantung Black berdetak sekeras ini.

[Black] "......Bahagia sampai aku bertanya-tanya, bisakah seseorang sebahagia ini?"

[Liene] "Aku juga."

Liene balas memeluk Black.

Saat Liene menggerakkan lengannya, jubah yang ia lilitkan meluncur dan terbang ke langit yang gelap.

Alih-alih panik atau berpikir untuk mengambilnya, Liene malah tertawa.

Bahkan kejadian sekecil itu terasa seperti pertanda bahwa besok akan sebahagia hari ini.

[Liene] "Sepertinya sekarang mulai dingin...... Haruskah kita masuk?"

[Black] "Terserah padamu."

Black mengangkat Liene dengan hati-hati.

Liene, dalam posisi yang sudah biasa, dibawa masuk ke kamar tidur.

Gerakan kedua kakinya yang menjuntai, tatapan mata yang saling bertemu, dan ciuman yang tidak tertahankan yang membuat mereka berhenti sejenak—semuanya adalah pertanda.

Pertanda yang dikirimkan Dewa kepada manusia, atau yang dikirimkan manusia pada hidupnya sendiri.


A Barbaric Proposal Ch 134: Setelah Musim Dingin Berlalu, Musim Semi pun Tiba. Liene baru menyadari bahwa ia hamil, dan kedua Nyonya sangat gembira. Black kembali dari tepi sungai. Liene menyampaikan kabar kehamilannya, dan Black menunjukkan kebahagiaan mendalam. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page