A Barbaric Proposal Side Story 1
- Crystal Zee

- 6 Nov 2025
- 7 menit membaca
[Liene] "Aku marah."
Liene mengernyitkan alisnya dalam-dalam sambil mengunyah buah persik yang dipanen pada akhir musim gugur.
Awalnya, buah itu tidak ditemukan di Nauk, tetapi sekarang ia bisa mencicipi buah-buahan yang masuk dari luar negeri seiring dengan meluasnya perbatasan hingga Teluk Yadion.
Fermos mengalihkan perhatiannya ke sumber penghasil baru. Ia tanpa lelah terus membicarakan ambisinya untuk membangun pelabuhan terbesar di selatan benua, tepat di Teluk Yadion. Ia mengatakan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, peta perdagangan benua akan berubah.
Ia juga mengatakan akan menamai pelabuhan baru dengan nama Liene.
Nah, sungguh hal baik.
Bagaimanapun, berarti mereka akan hidup lebih baik. Orang-orang yang diuntungkan dari pelabuhan pasti tidak akan ada habisnya.
Bahkan saat ini, mereka sudah memiliki begitu banyak uang hingga rasanya tidak tahu harus diapakan, tetapi kekayaan semakin banyak memang semakin baik.
[Liene] "Aku marah, tahu."
Kres!
Masalahnya adalah waktu.
Sekitar awal musim gugur, Liene mengira dirinya hamil. Semua orang mengatakan dirinya pasti hamil karena siklus bulananya telat selama sebulan.
Black bahkan sampai memesan tiga mahkota seukuran kepala bayi. Maksudnya agar mereka bisa memilih permata mana yang paling cocok setelah bayi mereka lahir.
Namun, seperti sebuah kebohongan, menstruasinya datang lagi di bulan berikutnya.
Liene sangat kecewa hingga jatuh sakit selama tiga hari.
Ia bahkan merasa ingin memukul para tabib karena kejadian itu.
Kebetulan, karena sedang pergantian musim, Liene menghabiskan waktu dengan menahan perasaan kehilangan, depresi, dan kemarahan yang tiba-tiba melonjak seperti saat ini.
Sampai kemarin, ia merasa sangat sedih hingga tidak ingin bangun dari tempat tidur, tetapi sekarang ia marah pada segala hal.
Buah persiknya enak, tetapi sarinya menetes saat dimakan, membuat tangannya lengket.
Itu juga membuat ia marah.
Kres!
[Liene] "Aku marah."
Ia juga marah karena biji persik yang keras tersangkut saat mengunyah.
Ia marah pada para tabib yang mengatakan ia tidak hamil, ia marah karena tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi, dan ia marah pada dirinya sendiri yang bersembunyi sendirian di kamar tidur demi menelan emosinya yang tak menentu.
[Liene] "Aku benci ini."
Sari buah persik yang mengalir dari telapak tangan ke pergelangan tangannya meninggalkan noda kecil di piyama.
Piyama baru, berwarna putih bersih seperti bulu angsa.
[Liene] "......Aku benci ini."
Liene diam-diam menarik napas, memegang buah persik yang baru dimakan setengah.
Ia merasa ingin menangis, tetapi ia marah karena tidak menemukan alasan yang masuk akal untuk menangis.
Kenapa aku jadi begini.
Meskipun tahu bahwa di sekitarnya hanya ada hal baik dan kebahagiaan, hatinya tidak bisa mengikuti pikirannya. Ia merasa seperti satu-satunya orang yang terikat di tempat.
Sungguh, apa yang harus kulakukan.
Takut akan menangis, Liene menyandarkan kepalanya ke belakang. Apa pun yang terjadi, menangis terasa seperti tindakan yang paling tidak tahu malu.
Langit-langit terlihat.
Dan sesaat kemudian, muncul mata biru muda milik seseorang.
[Liene] "......Aku sudah bilang jangan khawatir."
Liene menghindari Black karena merasa bersalah menunjukkan keadaan dirinya yang menyedihkan.
[Black] "Aku akan membersihkan tanganmu lalu pergi."
[Liene] "Kau bilang harus pergi ke Teluk Yadion? Aku kira kau sudah berangkat."
[Black] "Aku mengirim Fermos. Kakiku tidak bisa melangkah pergi."
[Liene] "Seharusnya kau pergi saja."
Jika ia pergi, Liene bisa mengurangi satu beban rasa bersalah karena harus menghindar darinya.
Black dengan hati-hati mengambil buah persik yang masih dipegang Liene.
[Black] "Apakah kau tidak suka melihatku?"
Mana mungkin.
Aku hanya... malu melihatmu.
Black, yang melihat Liene menggelengkan kepalanya tanpa sadar, meninggalkan ciuman lembut di dahinya.
[Black] "Jika bukan karena itu, tahan sebentar ya. Aku akan membersihkan tangan Putri dan cepat-cepat menghilang."
[Liene] "......"
Black pergi ke kamar mandi dan membawa handuk. Handuk yang dibasahi air yang tidak terlalu dingin dengan lembut menghapus noda di tangannya.
[Black] "Aku sudah memikirkannya,"
Meskipun tangan Liene sudah bersih, Black tidak melepaskan tangannya. Ia juga tidak menghilang.
[Black] "Jika aku memotong buah persik menjadi kecil-kecil, sarinya tidak akan menempel."
[Liene] "......Benar juga. Aku seharusnya minta Nyonya untuk memotongnya."
[Black] "Apakah aku tidak boleh memotongnya?"
[Liene] "Kau?"
[Black] "Aku lumayan ahli menggunakan pisau, loh."
Liene tertawa terbahak-bahak karena merasa ucapannya konyol.
[Liene] "Pisaumu bukan untuk memotong makanan."
[Black] "Percayalah padaku. Aku juga pandai menggunakan pisau kecil."
[Liene] "......"
[Black] "Sungguh."
Black benar-benar memanggil seseorang untuk membawakan pisau kecil yang digunakan untuk memotong makanan.
Melihatnya duduk di seberang tempat tidur dan memotong buah persik menjadi seukuran sekali gigit, Liene merasa matanya berkaca-kaca.
Potongan-potongan buah persik menumpuk di piring bundar.
Sampai Black selesai memotong semua buah persik di keranjang, keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Liene bahkan tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak akan bisa menghabiskan semua persik yang sudah dipotong sebanyak itu.

[Black] "Mau aku potongkan lagi?"
Black bertanya setelah memotong buah persik yang mungkin cukup untuk dimakan selama seminggu.
[Liene] "Aku......."
Ia berusaha untuk tidak menangis. Sungguh.
Karena ia merasa menangis adalah tindakan yang sangat tidak tahu malu.
[Liene] "......Kalau itu terjadi karena aku...... bagaimana?"
[Black] "Apa maksudmu?"
[Liene] "Aku......."
Liene mengatupkan bibirnya sebentar di tengah kalimat.
[Liene] "......Aku pernah berbohong, kan. Jadi......."
[Liene] “Aku bilang ada bayi, padahal tidak ada. Sebelumya, aku pernah membohongimu selama beberapa waktu. Jika sekarang aku harus merasakan akibatnya, lalu apa yang harus kulakukan........"
[Black] "Apakah kau pikir begitu?"
Black mengernyitkan salah satu alisnya dengan ekspresi terkejut yang konyol.
[Black] "Orang-orang tidak merasakan akibat karena kebohongan sepele. Putri juga pasti tahu. Dunia tidak sesederhana itu."
[Liene] "Memang sih...... Tidak, kau tidak boleh berkata begitu. Ini tentang anak kita."
[Black] "Jika ia memang ditakdirkan datang, ia akan datang. Jika tidak, tidak masalah. Kita masih pengantin baru."
[Liene] "Kau berbohong. Padahal kau menyukai ide untuk punya anak."
[Black] "Apakah kau merasa, saat ini kita berdua saja terasa kurang?"
[Liene] "Itu...... tidak."
[Black] "Kalau begitu. sudah cukup. Aku juga merasakan hal yang sama."
Black menyingkirkan piring persik yang berada di antara mereka.
Dan ia mendekat ke wajah Liene.
[Black] "Kita belum genap setahun menikah. Bayi rasanya terlalu cepat."
[Liene] "......Tidak, tidak ada istilah cepat atau tidak. Ini tentang bayi."
[Black] "Bagiku ada."
Black menyisir rambut yang menutupi dahi Liene.
Tatapan mata keduanya bertemu. Black menyatukan dahi mereka.
[Black] "Karena aku ingin memonopolimu sendirian. Untuk saat ini."
[Liene] "Kau tidak mengatakannya saat kita mengira ada bayi."
[Black] "Itu bukan hal yang pantas diucapkan ketika ada bayi."
[Liene] "Hmm...... Kalau begitu kau lebih suka yang sekarang?"
[Black] "Jika ada bayi, aku akan bahagia dengan keberadaannya. Sama seperti aku yang bahagia dengan kondisi kita sekarang."
Ujung hidung mereka saling menggelitik. Terkadang, rasanya lebih sensual daripada ciuman yang memabukkan.
[Black] "Bagaimanapun, bulan madu tidak akan datang dua kali."
[Liene] "Kau...... benar."
Black tertawa kecil.
Tawanya juga sama. Karena ia bukan orang yang sering tertawa, setiap kali tawanya terdengar, menggelitik hati Liene.
[Black] "Jadi, aku berencana untuk senggang selama sekitar seminggu."
[Liene] "Kalau begitu Sir Fermos pasti akan sibuk."
[Black] "Putri tidak perlu mengkhawatirkannya. Fermos akan mengurus dirinya sendiri."
[Liene] "Kau benar."
Baru saat itu Liene ikut tertawa.
Ia sekarang mengerti bahwa ia telah menyusahkan diri sendiri untuk hal yang sangat tidak perlu.
[Black] "Dan Putri tidak sedang sakit, kan?"
Black berbisik sambil mencium lembut sudut bibir Liene, menghindari bibirnya.
[Liene] "Aku tidak sakit."
[Black] "Tidak ada alasan khusus untuk menahan diri."
[Liene] "Hmm...... Meskipun aku sedikit kecewa, tapi ya, begitulah."
[Black] "Dan kau tidak benci melihatku."
[Liene] "Mana mungkin."
Black menggigit sedikit bibir bawah Liene lalu melepaskannya.
[Black] "Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
[Liene] "Entahlah......."
Liene mengetuk ujung hidung Black yang tampan sambil tenggelam dalam pikiran.
Ia bilang ia akan senggang selama seminggu.
Lalu, apa yang harus kami lakukan......
[Black] "Sepertinya kau berpikir terlalu lama. Boleh aku bantu?"
Tuk.
Black melepaskan ikatan doubletnya.
Kerah kemejanya terbuka, memperlihatkan tulang selangka yang kokoh. Seperti biasa, ia tampak gagah.
[Liene] "Hmm...... Ini bukan membantu, tapi seperti memaksa. Benar tidak, Yang Mulia?"
Keduanya akan segera mengadakan penobatan.
Jika Liene hamil, penobatan akan diundur hingga musim semi, tetapi jika tidak, mereka bisa melakukannya di musim dingin. Pemandangan Kastil Nauk yang diselimuti salju pasti akan sangat indah.
[Black] "Tentu saja tidak. Ini bukan paksaan, Yang Mulia. Paksaan adalah hal seperti ini......."
Black memotong ucapannya dan langsung mencium bibir Liene sambil merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Kepala Liene terhempas ke bantal yang empuk. Liene tertawa terbahak-bahak.
[Liene] "Aku dengar Raja yang memaksa seseorang berbaring di tempat tidur adalah seorang tiran."
[Black] "Teruslah tertawa."
Black melepaskan sisa doubletnya.
[Black] "Karena kau tidak akan bisa tertawa sebentar lagi."
Berat tubuh Black menindihnya. Dengan tangan saling bertautan, Black memulai ciuman.
Liene merasa sedikit pusing.
Liene menggenggam erat jari-jari Black yang ia rasakan di antara sela-sela jarinya dan membuka bibirnya.
Matahari akhir musim gugur yang masuk menembus celah tirai bersinar cerah. Bahkan sedikit panas dari sinar matahari yang menyentuh kulit terasa sensual.
[Black] "Tercium aroma buah persik dari Putri."
Black bergumam sambil menjilat bibir Liene yang bengkak. Mata birunya berkabut seperti kabut panas.
Setiap kali ia menatap dengan mata seperti itu, punggung Liene akan merinding.
[Liene] "Aku makan buah persik......."
[Black] "Tepat sekali."
Black menundukkan kepalanya lagi dan mencium Liene. Lebih terasa seperti mencicipi kulit daripada berciuman.
[Black] "Enak."
[Liene] "......"
Ucapannya membuat salah satu sudut kepala Liene terasa panas, dan tiba-tiba ia ingin makan sesuatu.
[Liene] "Tunggu sebentar."
Saat bibir Black turun mengikuti garis rahangnya, Liene bangkit dengan cepat.
[Black] "......?"
Black menatap Liene yang bangkit dengan pandangan yang tidak mengerti.
[Liene] "Aku ingin pai raspberi."
[Black] "......Sekarang?"
[Liene] "Ya."
Liene mengepalkan tangannya saat berbicara.
[Liene] "Bagaimana ini. Aku sangat ingin makan pai raspberi. Setelah terlintas di pikiran, aku tidak bisa memikirkan hal lain."
[Black] "......Jadi, sekarang?"
[Liene] "Ya."
[Black] "......"
Black sejenak menatap langit-langit.
[Black] "Aku akan meminta mereka membuatkannya. Kalau begitu, sambil menunggu pai......."
Kres.
Black tidak perlu mengatakannya.
Liene sudah bangun, memeluk piring persik, dan memasukkan sepotong ke dalam mulutnya.
Buah persik yang dipotong seukuran sekali gigit masuk sempurna ke dalam mulut, dan sarinya tidak menetes.
[Liene] "Setelah dipotong begini, jadi lebih mudah dimakan, ya."
[Black] "......Senang mendengarnya."
Black tersenyum dengan wajah sedikit cemberut.
Liene, yang asyik mengunyah persik sambil memeluk piring seolah ada yang akan merebutnya, terlihat bahagia.
Dibandingkan dengan beberapa hari terakhir ketika ia menderita sendirian, Black harusnya bersyukur.
[Black] "Tidak ada lagi yang kau pikirkan selain pai?"
[Liene] "Untuk saat ini belum. ...... Ah, sepertinya aku juga ingin puding kacang merah."
[Black] "Yang lain?"
[Liene] "Nanti saja kupikirkan. Anehnya, aku sangat lapar."
[Black] "Karena kau tidak makan dengan benar selama beberapa hari."
Black mengikat kembali ikatan kemejanya yang sudah setengah terlepas. Liene yang sibuk makan persik bahkan tidak menyadari Black sudah memakai pakaiannya lagi.
Setelah selesai berpakaian, Black mendekati Liene dan dengan cepat mencium pelipisnya.
[Black] "Aku akan pergi dan kembali."
[Liene] "Ah, tunggu sebentar."
Liene memasukkan sepotong persik yang dipegangnya ke dalam mulut Black.
Tanpa mempedulikan perasaan Black, buah persik itu terasa manis dan renyah.
[Liene] "Enak, kan?"
[Black] "......Ya."
Liene yang tersenyum hingga matanya melengkung terlihat seperti buah persik.
Black tidak bisa menahan diri dan menjilat sari yang menempel di bibir Liene.
[Black] "Sisakan sedikit untukku."
[Liene] "Persiknya banyak."
[Black] "Bukan."
Dirimu.
[Liene] "......"
Mungkin Liene mengerti kata-kata yang tidak Black suarakan, pipinya sedikit memerah.
Black dengan susah payah menjauhkan bibirnya.
Bagaimanapun, ia akan senggang selama seminggu. Waktunya masih banyak.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar