A Barbaric Proposal Chapter 132
- Crystal Zee

- 5 Nov 2025
- 6 menit membaca
Saat Mulai Mengalir (2)
[Liene] "Di sini."
[Black] "Tepat di sini."
Keduanya mengucapkan kata-kata yang hampir sama.
Liene, yang telah berjalan jauh melewati kastil untuk menyambut Black, menyeretnya tanpa memberikan waktu untuk berciuman.
Awalnya, Black sedikit tidak senang, tetapi setelah mengetahui alasan kegembiraan Liene, dia melupakan semua kekesalannya.
Kunci telah ditemukan. Pintu yang tersembunyi sudah terbuka. Rahasia Gainers menampakkan tangganya di hadapan mereka.
[Black] "Apakah kau belum mencoba turun?"
Black baru sekarang bisa melakukan ciuman yang sempat tertunda. Liene memejamkan mata seolah menikmati sentuhan bibir di dahinya.
[Liene] "Aku takut."
[Black] "Takut kenapa?"
[Liene] "Bisa jadi... bisa jadi tebakan kita salah."
[Fermos] "Mustahil salah."
Fermos menyela dari belakang.
[Fermos] "Jika mekanisme ini tidak ada hubungannya dengan air, lalu untuk tujuan apa Gainers bersusah payah membangunnya? Ini pasti sudah direncanakan sejak awal kastil dibangun."
Black menggenggam tangan Liene dengan lembut.
[Black] "Jangan khawatir. Jika bukan ini mekanismenya, pasti ada di tempat lain. Kita bisa mencarinya bersama."
[Liene] "Ya, aku tahu. Aku rasa aku bisa turun setelah mendengar ucapanmu barusan."
Liene menarik napas dalam-dalam.
[Liene] "Kalau begitu, mari kita turun sekarang?"
[Black] "Dengan senang hati."
Tangga itu sempit dan curam. Black, yang memegang lentera, memimpin di depan. Di belakangnya ada Liene, lalu Fermos, dan kemudian Klima.
Kedua Nyonya juga sangat ingin ikut, tetapi jumlah orang akan menjadi terlalu banyak. Weroz hanya bisa menelan ludah, tidak berani meminta untuk ikut.
[Liene] "Hati-hati."
Liene tersenyum ke arah Black, yang berjalan selangkah di depannya, mengarahkan lentera ke tempat yang akan dipijak.
Sekarang, apa pun hasilnya, Liene tidak takut, karena ia bisa mencari jalan lain bersama Black.
Tuk, dug.
Jantungnya berdebar saat melangkah maju. Liene menggenggam tangan Black erat-erat dan melangkah maju, selangkah demi selangkah.
[Flambard] "Ya Tuhan..."
Doa Nyonya Flambard terdengar cukup jauh. Mungkin ia tidak akan berhenti berdoa sampai mereka kembali.
Seminggu telah berlalu sejak mereka menemukan pintu rahasia Keluarga Kerajaan Gainers.
Keesokan harinya, Kerajaan Sharka menyerah, dan sehari setelahnya, Black kembali ke kastil.
Malam itu, mereka masuk ke pintu rahasia bersama-sama, dan mereka baru kembali pada malam hari. Berarti sudah lima hari sejak mereka menggerakkan mekanisme itu.
Mekanisme yang tersembunyi di balik sembilan air terjun sangat besar dan rumit. Menurut Fermos, ia hampir pingsan berkali-kali karena terlalu gembira di tempat yang tanpa udara itu.
Setelah menuruni tangga dari pintu rahasia, di ujungnya terdapat semacam undakan melingkar yang tersusun seperti sumur. Tetapi, bagian dalamnya kosong. Ketika pegangan di tengah undakan diputar, terdengar bunyi klak, dan undakan itu turun sangat dalam.
Pada saat yang sama, sebuah pintu yang tertutup oleh undakan tersingkap. Setelah membuka pintu itu, mereka sampai pada jalan yang sudah dikenal: terowongan rahasia yang terhubung ke perapian di kamar Liene.
Alasan jalan masuk dan keluarnya dibedakan adalah karena itu mekanisme untuk mengendalikan air. Jika terjadi masalah dan hanya ada satu jalan, mereka tidak akan bisa berbuat apa pun.
Sambil menjelaskannya, Fermos terus-menerus mengungkapkan kegembiraan, mengatakan ia tidak tahu seberapa jenius keturunan Gainers. Bagaimanapun, mereka mencoba menggerakkan mekanisme itu. Mereka melakukan semua yang bisa dilakukan.
Sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu.
[Liene] "Tunggu, tunggu sebentar. Tidakkah kau mendengarnya?"
Liene terus mengatakan hal yang sama selama lima hari. Setiap ada kesempatan, ia menempelkan telinganya ke dinding atau lantai, mengatakan ia mendengar suara air mengalir.

Black merasa tingka laku Liene lucu, tetapi juga menyedihkan.
[Black] "Jika ada suara, pasti akan ada tanda yang terlihat juga. Sudahlah, ayo ke tempat tidur."
[Liene] "Meskipun ucapanmu benar..."
Liene dengan enggan melepaskan telinganya dari lantai di depan perapian dan berjalan menuju tempat tidur. Bibirnya yang cemberut tampak menggemaskan. Black tidak bisa menahan diri dan menarik lengan Liene dan langsung menciumnya.
[Liene] "Eum... tunggu sebentar. Aku tahu kau mencoba menghiburku yang sedang kecewa, tapi tolong lakukan nanti saja."
Black menyisir rambut Liene dari dahinya dan menatap matanya.
[Black] "Justru sebaliknya."
[Liene] "Apanya?"
[Black] "Aku tidak mencoba menghiburmu, tetapi menghibur diriku sendiri. Karena akhir-akhir ini kau sama sekali tidak memberikan perhatian kepadaku."
[Liene] "Oh, benarkah... Tidak, aku tidak merasa begitu?"
[Black] "Sudah lima hari. Apakah kau tahu sudah berapa lama kita tidak berciuman?"
[Liene] "Bukankah... kita melakukannya setiap saat?"
[Black] "Ciuman yang aku berikan tidak dihitung. Karena kau tidak pernah membalasnya."
[Liene] "Aneh. Tidak mungkin..."
Liene mengirimkan tatapan seolah tidak percaya, tetapi Black tidak mengindahkannya. Akhirnya, Liene menyusup ke pelukan Black dan duduk di atas pahanya.
[Liene] "Itu karena aku khawatir. Aku takut ternyata kita melakukan kesalahan. Jika tidak melakukan kesalahan, sekarang air pasti sudah kembali, bukan?"
[Black] "Sejak awal, tidak ada yang salah."
[Liene] "Memang begitu, tapi..."
Mekanismenya sangat sederhana. Setelah membuka pintu dan masuk, satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah memutar pegangan. Fermos mengatakan bahwa pasti ada lebih banyak mekanisme yang tidak terlihat, yang dirancang untuk secara otomatis menyesuaikan volume air dengan menghitung perbedaan ketinggian.
Tapi sudah lima hari yang lalu. Selama lima hari itu, jantungnya berdebar terlalu kencang hingga terasa sakit.
[Liene] "Karena sudah lama... Mungkinkah mekanismenya rusak?"
[Black] "Fermos sedang berusaha mencari tahu yang terbaik, bukan?"
[Liene] "Benar..."
[Black] "Jika Fermos tidak tahu, tidak ada seorang pun di sini yang akan tahu."
[Liene] "Itu benar juga."
Liene menghela napas dan menarik ujung pakaian Black tanpa alasan.
[Black] "Meskipun air tidak kembali, bukan berarti tidak ada cara lain. Karena kita sudah memperluas perbatasan, ada cara untuk membangun kastil baru di sana dan pindah bersama-sama."
[Liene] "...Benar juga."
Membangun kastil baru akan menjadi beban besar, tetapi sepertinya Black akan menyelesaikannya tanpa kesulitan.
Liene memeluk leher Black. Saat ia meletakkan dagunya di bahu Black, Black membelai punggungnya perlahan.
[Liene] "Aku tahu. Aku tahu kau benar. Kita tidak akan kesulitan lagi seperti dulu, dan kita tidak akan kekurangan. Tapi tetap saja..."
[Black] "Aku mengerti apa yang kau sesali. Tapi jangan terlalu bersedih. Wajah dirimu terlihat sedikit kurus."
[Liene] "Aku memang sedikit kehilangan nafsu makan akhir-akhir ini. Pencernaan juga terasa kurang baik."
[Black] "Itu karena kau terlalu memikirkannya. Kalau begitu, aku akan merasa tersiksa."
Sentuhan Black yang terus membelai punggungnya terasa sangat lembut. Liene mengangguk sambil memeluk lehernya.
[Liene] "Benar. Aku tidak berpikir sampai ke sana. Jika aku seperti ini, kau juga akan merasa kesulitan."
[Black] "Kalau begitu, semangatlah."
[Liene] "Akan kucoba."
Liene sedikit mengangkat kepala dan mengusapkan pipinya, lalu Black memegang dagunya dan menyentuhkan bibir mereka.
[Black] "Kau terlihat lelah, jadi aku tidak akan memintamu untuk menghiburku. Tidurlah."
Liene tersenyum, menggigit ringan bibir Black yang bersentuhan dengannya.
[Liene] "Eum..., itu terdengar seperti rayuan."
[Black] "Tidak. Aku serius, kau terlihat kurus."
[Liene] "Ah... Benarkah? Apakah aku terlihat buruk?"
[Black] "Tentu saja tidak."
Black mengangkat tubuh Liene dan membaringkannya di tempat tidur. Tangan yang merapikan rambut yang menutupi garis wajahnya hanya menunjukkan kelembutan.
[Black] "Aku mengkhawatirkanmu. Aku takut kalau kau sakit."
[Liene] "..."
Aku terus mengatakan apakah mekanismenya rusak atau tidak. Sedangkan pria ini, sepanjang waktu selau mengkhawatirkan diriku.
Liene mengulurkan tangannya ke arah Black.
[Liene] "Peluk aku."
[Black] "Baiklah."
Black masuk ke dalam pelukan yang terbuka dan menepuk punggung Liene dengan lembut.
[Liene] "...Bukan seperti ini."
Liene mendekatkan kepala dan menggigit cuping telinga Black dengan bibirnya.
[Liene] "Peluk aku dengan cara lain."
Dia bisa merasakan otot bahu Black berkedut di bawah jubah tidurnya.
[Black] "...Tidak bisa."
[Liene] "Kenapa?"
[Black] "Seperti yang kukatakan, kau sedang tidak dalam kondisi yang terlalu baik saat ini."
[Liene] "Aku tidak sakit di mana pun."
[Black] "Kau akan sakit. Tidurlah."
[Liene] "Bagaimana kau tahu aku akan sakit?"
[Black] "Aku tahu lebih baik darimu."
[Liene] "Mengapa?"
[Black] "Karena kau tidak peduli pada diri sendiri, dan aku, sebaliknya, sangat sensitif terhadap kondisimu."
[Liene] "Artinya kau seorang peramal. Tidakkah kau berpikir ini bukan saatnya untuk berdebat?"
Liene menurunkan tangannya. Jubah yang dikenakan Black hanya memiliki satu tali. Liene memain-mainkan tali yang terikat erat itu dan sedikit tersenyum dengan matanya.
[Liene] "Sungguh, aku tidak sakit di mana pun."
[Black] "Putri..."
Black menutupi punggung tangan Liene, yang mencoba menarik tali jubahnya.
[Black] "...Aku tipe orang yang berpendapat bahwa sakit parah atau ringan tidak masalah, asalkan akhirnya aku bisa sembuh."
[Liene] "Memang... benar."
[Black] “Apakah aku sakit parah atau sakit ringan, selama tidak berakhir dengan kematian, maka penderitaanku sama sekali tak berarti.”
[Liene] "Mendengarmu berkata begitu, terdengar asing bagiku..."
[Black] "Aku ingin menjadikan dirimu pengecualian. Jadi, jangan lakukan hal berbahaya seperti ini."
Black akhirnya melepaskan tangan Liene dari tali jubahnya.
[Black] "Segera tidur dan pejamkan matamu."
[Liene] "...Kejam sekali."
Liene merengek pelan dan menjatuhkan diri di tempat tidur. Black menatap bagian belakang kepalanya yang bulat dengan mata penuh cinta, lalu menunduk dan mencium bahunya.
[Black] "Aku akan menunggu sampai kau membaik setelah hari ini."
[Liene] "Kau yang terlalu berlebihan terhadap diriku."
[Black] "Biasakan, karena akan selamanya seperti ini."
[Liene] "Kadang-kadang kau lebih parah dari Nyonya Flambard."
Sambil mengatakan itu, Liene tiba-tiba berbalik. Mata mereka bertemu, dan tanpa memberinya kesempatan untuk menghindar, Liene mencium bibir bawah Black.
[Black] "...Ha."
Black menghela napas rendah. Liene menyeringai dan menarik leher Black.
[Black] "Kau tidak tahu apa-apa, seberapa besar efek rayuanmu."
[Liene] "Apa yang tidak aku ketahui, aku memang tidak mengetahuinya."
[Black] "...Kalau begitu, aku akan pura-pura tidak tahu mengenai kondisimu."
Black membuka mulutnya dan memulai ciuman yang terasa seperti akan melahap Liene. Napas Liene sudah mulai terengah-engah. Dia merasakan sentuhan rambut Black yang menggelitik di antara jari-jarinya. Semua suara yang keluar dari mulutnya terdengar aneh.
Saat bibir mereka terpisah sebentar, Liene berbisik.
[Liene] "Hei, sebentar, matikan lilinya..."
[Black] "Aku tidak tahu caranya."
[Liene] "Tidak, kenapa..."
[Black] "Fokus hanya pada aku. Bukan pada hal lain."
[Liene] "..."
Mana mungkin dia tidak tahu cara mematikan lilin.
Namun, ciuman mereka menjadi begitu manis sehingga hal-hal lain benar-benar terasa tidak penting.
Rambut yang menutupi tengkuk Liene menjadi acak-acakan. Black, yang menyingkirkan rambutnya, menggigit lehernya.
Tuk.
Meskipun tidak ditarik, tali jubah Black terlepas dengan sendirinya karena gesekan. Saat itulah terjadi:
Bang! Bang!
Suara ketukan keras mengguncang keduanya yang sedang lengah.
[Randall] "Tuanku! Putri!"
[Liene] "...?"
Ternyata Randal. Ia jarang sekali berlari ke kamar tidur mereka pada jam seperti ini. Sulit untuk mengabaikannya karena kegembiraan yang tercampur dalam suara Randall terlalu besar.
[Randall] "Meskipun Anda sedang tidur, tolong bangun! Air... Air mengalir!"
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar