A Barbaric Proposal Chapter 130
- Crystal Zee

- 30 Okt 2025
- 7 menit membaca
Kunci
[Liene] "Nyonya!"
[Flambard] "Ya ampun, Putri!"
Sesampainya di kastil, para nyonya menyambutnya dengan sangat antusias.
[Liene] "Apakah kalian berdua baik-baik saja? Rasanya seperti sudah lama sekali aku meninggalkan kastil, padahal baru sebentar."
[Flambard] "Sebentar apanya! Bagi saya rasanya sudah bertahun-tahun!"
Nyonya Flambard menggenggam erat tangan Liene dan tak mau melepaskannya.
[Liene] "Baru sekitar setengah bulan. Aku kembali jauh lebih cepat dari jadwal, lho."
[Flambard] "Sudah setengah bulan, Tuan Putri! Lain kali, saya harus ikut dengan Anda!"
Liene harus menyampaikan kabar sedih kepada Nyonya Henton. Liene menenangkan Nyonya Flambard yang tampak menangis, seraya meraih tangan Nyonya Henton.
[Liene] "Sir Renfel terluka, Nyonya. Untungnya lukanya mulai pulih, tetapi dia pasti sangat kelelahan."
[Henton] "Aduh... bagaimana itu bisa terjadi?"
[Liene] "Ceritanya panjang, tapi dia terluka saat melindungiku. Aku hanya bisa mengatakan maaf dan terima kasih."
[Henton] "......"
Nyonya Henton terdiam dan menahan napas sejenak.
[Henton] "Tampaknya sifat sang Ayah mengalir dalam darahnya. Karena dia melakukannya atas kemauan sendiri, Anda tidak perlu khawatir, Putri."
[Liene] "Aku diselamatkan dua kali berkat Sir Renfel. Mana mungkin aku melupakannya."
[Henton] "Tetapi, setidaknya anak itu lebih beruntung dari ayahnya karena masih ada orang yang menghargai jasanya."
Mendengar perkataan Nyonya Henton, terasa masih menyakitkan. Liene tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memegang tangan sang Nyonya.
[Henton] "Sekarang sudah tidak apa-apa. Karena dia terluka, saya harus menjenguknya. Di mana dia?"
Nyonya Henton menarik tangan Liene lebih dulu, karena sepertinya tangannya akan digenggam semalaman.
[Liene] "Dia ada di barak Ksatria. Ayo kita pergi bersama."
Nyonya Flambard berkedip.
[Flambard] "Astaga, mau ke mana lagi. Anda baru saja bepergian jauh, setidaknya ganti pakaian dulu."
[Liene] "Setelah pulang dari barak , aku ingin melihat keadaan Sir Weroz."
[Flambard] "Ah, Ksatria itu... Jangan berdua saja, ayo kita pergi bersama."
Sama seperti Black yang hanya memberikan ciuman perpisahan yang disayangkan dan langsung kembali tanpa menjejakkan kaki ke kastil setelah mengantar Liene, Liene juga memiliki banyak hal yang harus dilakukan.
[Liene] "Kalau begitu, ayo pergi."
Klima sudah tertidur pulas segera setelah masuk ke barak Ksatria. Nyonya Henton memutuskan untuk tinggal dan merawatnya selama sehari.
Weroz masih berada di penjara bawah tanah, dan untungnya, dia sudah berhenti melakukan mogok makan.
[Liene] "Wajahmu terlihat lebih baik daripada sebelumnya."
Weroz bahkan sempat menyapa, mengatakan sudah lama tidak bertemu.
[Weroz] "Saya dengar Anda pergi ke Sharka. Apakah... perjalanan Anda lancar?"
[Liene] "Ya."
Liene menceritakan secara singkat apa yang terjadi di Sharka. Weroz awalnya tidak percaya tentang penyusupan Tiwakan ke Istana Raja Sharka, dan kemudian penangkapan Putri Blini sebagai sandera di perbatasan utara.
[Weroz] "Garda Kerajaan Sharka memiliki seratus delapan puluh ksatria. Jumlah penjaga setidaknya akan lebih dari dua kali lipat. Tapi bagaimana mungkin dengan dua puluh lima orang..."
[Liene] "Jujur, aku sangat takut. Garda Kerajaan mereka terlalu banyak. Tapi Tiwakan terlihat sangat terbiasa dengan itu."
Liene juga memberitahunya bahwa cincin telah diambil dari Putri Blini. Dan secara kebetulan, rahasia yang tersembunyi di dalam cincin telah ditemukan.
[Liene] "Air akan kembali ke Nauk."
[Weroz] "Putri..."
Air mata tiba-tiba membanjiri mata Weroz.
[Liene] "Memang masih ada sedikit hal yang perlu kita cari tahu, tetapi satu per satu, semuanya kembali. Keturunan Gainers, juga cincin. Keduanya fondasi yang membangun Nauk dan harus ada bersama Nauk."
[Weroz] "Saya..."
[Liene] "Aku yakin kau juga tahu. Jika Gainers tidak kembali, air juga tidak akan kembali."
[Weroz] "......"
Weroz menutupi wajahnya dengan tangannya yang kurus.
[Weroz] "Saya... saya mengerti. Sekarang saya mengerti... Saya, saya salah... salah berpikir. Saya salah..."
[Liene] "Benar. Kau salah."
Dan itu melegakan. Bahwa yang salah bukanlah Liene, melainkan Weroz. Dan bahwa Weroz menyadari kesalahannya.
[Liene] "Kalau begitu, kembalilah sekarang, Sir Weroz, ke tempatmu semula. Nauk juga membutuhkanmu."
Liene meninggalkan penjara setelah mengatakan hal tersebut. Weroz pasti membutuhkan waktu untuk berpikir.
[Flambard] "Putri? Anda belum tidur?"
Liene tetap berada di kantor Raja hingga larut malam.
Klima, yang terbangun sekitar senja, mendatangi Liene sambil memegangi sisi tubuhnya dan mengerang kesakitan. Meskipun disuruh beristirahat, itu tidak berguna. Dia bersikeras harus berada di sisi Liene meskipun jelas tidak akan terjadi apa-apa di dalam istana.
Akhirnya, Liene menaruh bantal di sudut kantor. Klima tertidur lagi dengan bantal sebagai alas kepala, dan ia melihat-lihat buku catatan di samping Klima.
Nyonya Flambard, yang baru menyadari Liene tidak ada di kamar tidur, datang mencarinya.
[Liene] "Ya. Aku punya beberapa pekerjaan. Tapi tolong kecilkan suaramu, Nyonya. Sir Renfel sedang tidur."
[Flambard] "Apa? Astaga, kenapa dia ada di sana. Haruskah saya bangunkan dan menyuruhnya kembali?"
[Liene] "Tidak akan berguna. Dia berpikir bahwa dia harus selalu berada di sisiku jika Lord Tiwakan tidak ada."
[Flambard] "Ck, ck..."
Nyonya Flambard mendecakkan lidah.
[Flambard] "Keras kepala sekali, padahal tubuhnya terluka parah."
[Liene] "Benar. Padahal aku sudah merasa sangat bersalah."
[Flambard] "Jika Anda akan tinggal di sini lebih lama, saya akan membawakan selimut. Dia terlihat menyedihkan karena meringkuk dengan tubuh besarnya."
[Liene] "Ah, aku tidak memikirkannya, akan bagus jika ada selimut."
[Flambard] "Kalau begitu, saya akan segera kembali."
Nyonya Flambard bergegas ke suatu tempat dan membawa selimut. Sang Nyonya, setelah menyelimuti Klima, tidak kembali ke kamarnya, melainkan duduk di samping Liene.
[Liene] "Apakah ada yang ingin Nyonya bicarakan?"
[Flambard] "Tidak... tidak harus, tapi saya rasa akan menyenangkan berada di sisi Anda sebentar."
Nyonya berkata bahwa waktu sekitar setengah bulan Liene meninggalkan kastil terasa terlalu lama. Kekosongan itu membuatnya tidak bisa tidur bahkan hingga kini.
[Flambard] "Anda bilang ada alasan mengapa Anda harus pergi ke Kerajaan Sharka. Apakah sudah terselesaikan dengan baik?"
[Liene] "Hmm... tujuanku tercapai. Tapi belum semuanya terselesaikan."
[Flambard] "Ya ampun... bagaimana ini. Kalau begitu, apakah Anda harus pergi lagi?"
[Liene] "Tidak. Sepertinya tidak. Nyonya pasti sangat terkejut. Tiba-tiba semua orang pergi ke perbatasan."
[Flambard] "Tentu saja. Mula-mula, saya betul-betul cemas, menyangka ada hal genting. Bukankah akan terjadi kekacauan jika Anda pergi saat hal ada genting terjadi di Nauk?"
Tetapi karena beberapa hari berlalu dengan tenang, kekhawatiran mereka pun mereda.
[Flambard] "Apakah semuanya benar-benar baik-baik saja sekarang? Tidak akan ada masalah lagi dengan Kerajaan Sharka?"
[Liene] "Aku tidak bisa mengatakan tidak ada, tetapi aku bisa mengatakan bahwa semuanya akan segera baik-baik saja. Nyonya tidak perlu khawatir."
[Flambard] "Itu... Bolehkah saya tahu apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah Anda tiba-tiba pergi ke Sharka setelah mengunjungi kuil bersama Sir Weroz? Dan Sir Weroz berhenti mogok makan, jadi pasti ada sesuatu yang terjadi di kuil. Saya bahkan sampai pergi ke kuil, lho."
[Liene] "Ah..."
Mengingat Nyonya Flambard, dia bukanlah tipe orang yang akan mengajukan pertanyaan itu dengan sengaja. Liene menyadari bahwa dia terlalu irit bicara pada Nyonya Flambard selama ini. Mungkin Nyonya masih merasa cemas terus-menerus karena penyakit keturunan yang diwarisi oleh garis darah Gainers.
[Liene] "Aku terlalu mengabaikan perasaanmu, Nyonya. Kurasa sudah waktunya aku menceritakan hal-hal yang belum sempat kuceritakan."
Liene meraih tangan Nyonya Flambard dan memulai cerita panjang tentang apa yang telah terjadi.
[Liene] "Aku pergi ke Sharka untuk mencari cincin ini."
Awal ceritanya adalah cincin yang disebut kunci.
[Flambard] "Cincin ini? Jika Anda berhasil menemukannya, apakah cincin ini awalnya ada di Nauk?"
[Liene] "Ya. Cincin ini..."
Cincin yang hilang 21 tahun lalu telah kembali ke Nauk. Bersama dengan nama Gainers. Seiring berjalannya cerita, Nyonya Flambard tidak bisa menutup mulutnya yang menganga.
[Liene] "..."
[Liene] "Apa?"
Liene bertanya balik. Ini sudah kali ketiga.
[Liene] "Apa katamu?"
Saat Liene menaikkan suaranya, Klima, yang tidur nyenyak, terkejut dan langsung terbangun.
[Klima] "Putri..."
Dia mengucek matanya dan mendekati Liene. Tapi Liene tidak menyadarinya. Saat ini, pikirannya sedang kacau.
[Liene] "Benarkah? Sungguh?"
[Flambard] "Saya sangat yakin itu potongan besi yang saya pikirkan. Kalau tidak, mustahil ada benda aneh seperti itu, bukan?"
Nyonya Flambard merasa tahu benda apa yang ada di dalam cincin yang ditunjukkan Liene.
[Flambard] "Jangan begini, ayo kita pergi bersama. Saya akan menunjukkannya kepada Anda."
[Liene] "Ya... ya, benar. Cepat... cepatlah."
Liene bangkit tanpa berpikir panjang. Dia berdiri tanpa menyadari bahwa ada buku catatan di pangkuannya, sehingga ia hampir menjatuhkan buku tebal dan berat ke kakinya. Klima menahan buku tersebut tepat pada waktunya.
[Liene] "Ayo, ayo pergi. Cepat. Cepatlah."
Liene menarik tangan Nyonya Flambard. Tangannya terasa sangat dingin. Melihat tangannya yang dingin dan gemetar, Nyonya Flambard menutupi punggung tangan Liene dengan tangannya.
[Flambard] "Jangan gemetar terlalu hebat, Putri. Bagaimana jika Anda sampai tersandung. Jangan terlalu terburu-buru."
[Liene] "Ya, ya... cepatlah."
Dia berusaha untuk tidak terburu-buru, tetapi langkah kakinya terus saja semakin cepat. Akhirnya, mereka hampir berlari.
[Liene] "Haa, haa..."
Tempat Nyonya Flambard membawa Liene adalah ruang perhiasan.
Sampai beberapa waktu lalu, tempat itu begitu kosong sehingga tidak pantas disebut ruang perhiasan, tetapi kini sudah ada wacana untuk membuat peti baru untuk menyimpan permata.
Dulu, peti yang kosong bahkan tidak perlu dikunci, sehingga kunci-kunci untuk setiap peti hanya digantung di dinding. Kini, semua peti berisi permata dan terkunci dengan aman. Gantungan kunci juga disimpan jauh di dalam kotak kunci. Nyonya Flambard mengambil gantungan kunci itu.
[Flambard] "Ini, Anda lihat?"
Ada banyak sekali kunci. Siapa pun yang tidak mengenal ruang permata ini dengan baik tidak akan tahu kunci mana yang membuka peti yang mana.
[Flambard] "Anda masih ingat, bukan? Anda sering datang ke ruangan ini untuk bermain saat masih kecil. Anda juga mencoba membuka peti dengan kunci-kunci ini. Kunci inilah yang Anda temukan."
Di antara banyaknya kunci, ada satu kunci yang tampak aneh. Kuncinya pendek, seolah-olah ujungnya terpotong, tidak cocok dengan kunci gembok mana pun.
Liene, yang memiliki sifat gigih saat fokus pada satu hal sejak kecil, mencoba mencocokkan kunci itu dengan setiap lubang kunci. Dan dia menyimpulkan bahwa kunci itu tidak berguna.
[Flambard] "Kunci-kunci lain memiliki ujung yang lebih panjang dari ini, bukan? Kunci ini, ukurannya sedikit lebih pendek, hanya sepanjang satu ruas jari."
[Liene] "Ah...!"
Liene tiba-tiba berteriak, dan Nyonya Flambard hampir menjatuhkan kunci buntung tersebut.
[Liene] "Jika kita menempelkan potongan besi ini ke sana, bukankah akan menjadi kunci?"
[Liene] "Mungkin... saja. Ya ampun. Anda jenius!"
Liene memeluk Nyonya Flambard erat dengan tangan gemetar.
[Flambard] "Pujian seperti Anda agak menakutkan, Putri. Bagaimana jika suatu hari saya jatuh sakit?"
[Liene] "Apakah dirimu bisa jatuh sakit atau tidak, Sir Fermos yang akan mendiagnosisnya. Pokoknya, Nyonya sudah memikirkan sesuatu yang sangat, sangat luar biasa."
[Flambard] "Entah bagaimana langsung terpikir oleh saya, karena Anda menyebutnya kunci. Sepertinya Anda sudah benar-benar melupakannya karena kejadiannya saat Anda masih kecil. Nah, ayo kita coba."
[Liene] "Ya, cepatlah..."
Klima, yang melihat dari samping, mengangguk berkali-kali. Semua orang menahan napas dan mengeluarkan kunci buntung itu, lalu mencocokkannya dengan potongan besi yang ada di dalam cincin.
[Flambard] "Ini, sepertinya memang dirancang untuk diselipkan!"
Ujung kunci buntung itu berongga. Ketika potongan besi diselipkan ke dalamnya, terdengar bunyi klik, dan keduanya menyatu seolah-olah memang sedari awal memang satu benda.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar