top of page

A Barbaric Proposal Chapter 129

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 30 Okt 2025
  • 8 menit membaca

Rahasia (2)

Black menyapu pandangannya ke cincin yang ada di tangan Liene.

Mekanisme cincin itu rumit dan sulit terlihat. Seandainya Liene tidak menggigit cincin sehingga sambungan antara gigi dan hiasan cincin tidak sengaja berbenturan, Black pasti tidak akan menyadari keberadaan mekanisme tersebut.

[Black] "Jika ini mekanisme yang dibuat untuk menggunakan cincin sebagai kunci, seharusnya dibuat lebih mudah untuk digunakan."

[Liene] "Eum... mungkinkah tidak begitu? Ini perangkat untuk menarik air. Aku rasa mekanismenya tidak dibuka-tutup setiap hari."

Pikiran Liene menjadi serius. Perut yang tadinya mual mengikuti guncangan kereta kuda kini terlupakan.

[Liene] "Kalau aku Raja yang mengetahui mekanisme ini, aku pasti ingin menutupnya sesekali ketika hal-hal menjengkelkan seperti Kleinfelter menggangguku."

Liene pasti tidak akan benar-benar menutup mekanisme tersebut, meskipun dia berkata begitu. Sebab, jika air berkurang, yang menderita kerugian bukanlah para bangsawan menyebalkan, melainkan sebagian besar rakyat yang tak bersalah.

[Black] "Apakah maksudmu ini bukanlah mekanisme yang digunakan setiap hari?"

[Liene] "Benar. Jadi, cincin ini, menurutku, lebih merupakan petunjuk daripada mekanisme. Mungkin mengisyaratkan cara mengakses mekanismenya, atau semacamnya. Para Raja Gainers sangatlah cerdas, bukan? Mustahil mereka tidak menyadari bahwa rahasia yang diwariskan hanya dari mulut ke mulut suatu saat bisa terputus."

[Black] "Hmm."

[Liene] "Yah, bisa juga tidak. Lagipula, aku hanya menduga bahwa cincin ini adalah kunci untuk menggerakkan mekanisme."

Liene menatap goresan tak terhitung jumlahnya pada cincin. Dia sama sekali tidak ingin membayangkan apa yang dipikirkan Putri Blini saat membuat goresan-goresan tersebut.

[Liene] "Dalam catatan, dikatakan bahwa Raja marah karena permata pada cincin ini jatuh, sehingga bentuk cincinnya diubah."

[Black] "Begitu?"

[Liene] "Ya. Karena itu cincinnya menjadi memanjang seperti ini, menyerupai bentuk kunci. Konon cincin ini dinamai dengan 'Kunci' juga karena itu."

Liene mengangkat cincin yang lebih besar dan lebih berat daripada cincin biasa, lalu membolak-balikkannya.

[Liene] "Mengapa sejak awal hiasan yang diletakkan lebih besar dari lingkarannya? Itu agak aneh, bukan? Sampai permata hiasannya bisa jatuh, biasanya tidak dibuat seperti itu."

[Black] "Mungkin ada alasan mengapa hiasannya harus lebih besar."

[Liene] "Itu yang kumaksud."

Liene menutup satu mata dan menatap Black melalui lingkaran cincin yang bundar.

[Liene] "Kalau begitu, berarti hiasannya istimewa, ya? Apakah mereka mengambil pola ini dari suatu tempat? Atau mungkin hiasannya melambangkan sesuatu?"

[Black] "Bisa saja, tapi jika pola rahasia, orang luar seperti Putri Blini tidak akan bisa mengetahuinya."

[Liene] "Ah, benar. Dia tidak mengetahui latar belakang cincin ini. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi pada cincin, sehingga dia bisa mengetahui ada rasahia dibaliknya... Hmm, kalau begitu, apa aku juga harus menggigitnya?"

Black menunjukkan ekspresi serius.

[Black] "Jangan. Cincinnya tidak bersih."

[Liene] "Aku sudah mencuci mulutku pagi ini."

[Black] "Meskipun begitu..."

[Liene] "Bersih."

(T/N: Liene tahu maksud Black mengatakan cincin itu kotor karena takut Liene akan sakit. Namun, dengan bercanda, Liene memutar argumen Black seolah-olah Black meragukan kebersihan mulut Liene yang akan menyentuh cincin.)

Liene benar-benar menggigit cincin. Black dengan cepat memegang tangannya untuk mencegah, dan tepat pada saat itu, kereta kuda berguncang hebat.

Brak! 

Tubuh mereka terlonjak dan terdengar suara dari cincin.

[Liene] "Aduh, sakit..."

Liene tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ada darah di antara jari yang menutupi mulutnya.

[Black] "Singkirkan tanganmu."

Black, yang wajahnya berubah pucat, menarik Liene dan mendudukkannya di atas pahanya.

Setelah Liene menyingkirkan tangannya, terlihat bagian dalam bibirnya robek dan berdarah.

[Liene] "Uh... melihat darah membuatku semakin sakit."

Black mengeluarkan suara kasar. Dia menggenggam wajah Liene dan menempelkan bibirnya ke luka tersebut. Karena terasa seperti ciuman yang sedikit menyakitkan, Liene tersenyum sambil mengernyitkan dahi.

[Liene] "Sakit."

[Black] "Darahnya belum berhenti."

Sensasi saat bibir atasnya dijilat dengan lembut tidak mungkin Liene benci. Rasa sakit karena kulit yang robek ditambah dengan kelembutan yang menggelitik membuatnya menjadi sensasi yang tak bisa dijelaskan. Berkat itu, rasa sakitnya mereda.

Liene, yang bersandar nyaman pada Black, merasa ada sesuatu yang hilang di tangannya dan meraba-raba sekeliling.

[Liene] "Ah, tunggu... cincinnya hilang. Sepertinya terjatuh."

[Black] "Cari nanti saja."

[Liene] "Apa maksudmu? Tolong lepaskan aku."

Black membuat ekspresi enggan, lalu menurunkan Liene ke tempat duduk di sampingnya.

[Black] "Duduk saja. Aku yang akan mencarinya."

[Liene] "Ayo kita cari bersama."

[Black] "Terlalu sempit bagi kita berdua untuk bergerak."

Black membungkuk dan menyapu pandangannya ke kursi seberang dan di bawahnya. Dia menemukan cincin itu tersangkut di antara pijakan kereta kuda dan pintu.

[Black] "......"

Saat dia mengangkat cincin, pandangannya terpaku.

[Liene] "Ada apa? Ah."

Liene, yang mengikuti pandangan Black dan menundukkan kepalanya, tanpa sadar membuka mulut.

[Liene] "Astaga..."

Bagian hiasannya setengah terlepas dari lingkarannya. Namun, bukan hanya itu. Di bawah hiasan permata yang besar, tersimpan benda aneh.

[Liene] "Ini... apa?"

[Black] "Aku tidak tahu."

Black mengangkat cincin dan menaruhnya di bawah sinar matahari yang masuk dari jendela. Bahkan sebutir debu yang melayang di sekitar cincin pun terlihat jelas.


A Barbaric Proposal Ch 129: Rahasia (2). Liene menyadari cincin itu adalah petunjuk, bukan kunci yang digunakan setiap hari. Setelah bibirnya terluka oleh cincin akibat guncangan, Black menemukan potongan besi yang tersembunyi di dalamnya. Mereka tiba di perbatasan dan disambut Fermos. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

Liene meletakkan dagunya di bahu Black dan meneliti cincin lekat-lekat. Benda yang tidak diketahui itu adalah sepotong besi. Panjangnya sepanjang satu ruas jari kelingking, dan tebalnya seukuran alang-alang. Selain itu, tidak ada yang istimewa.

Liene, yang sudah lama menatap potongan besi dan cincin, berkata:

[Liene] "Aku tahu mengapa hiasan cincin berbentuk seperti ini. Untuk mengikuti bentuk potongan besi ini."

[Black] "Pasti dibuat untuk menyembunyikan potongan besi ini."

[Liene] "Sepertinya begitu. Kalau begitu, cincin ini rupanya dibuat agar hiasannya bisa dilepas sejak awal."

[Black] "Sepertinya iya."

[Liene] "Sebenarnya, apa ini? Aku sama sekali tidak tahu harus menggunakannya di mana."

Black meletakkan potongan besi itu di telapak tangannya. Ukurannya tidak lazim. Bisa dianggap kecil, tetapi juga cukup besar.

[Liene] "Ah, di sini. Ada goresan."

Liene menemukan goresan yang tidak terlihat karena berada di bagian bawah.

[Liene] "Apakah Putri Blini juga menggigit ini?"

[Black] "Mustahil."

Black menggelengkan kepalanya sambil menyinari sisi yang tergores di bawah sinar matahari.

[Black] "Lebih kecil daripada bekas gigitan manusia."

[Liene] "Begitu, ya. Kalau begitu, apakah itu hanya goresan biasa?"

[Black] "Tidak. tidak terlihat seperti goresan yang terjadi secara acak. Justru terlihat seperti sengaja dibuat..."

[Liene] "Ada hal lain yang harus kita cari tahu."

Dua orang yang berdiri sangat dekat di dekat jendela, bahu-membahu, saling menatap mata satu sama lain.

[Liene] "Rasanya seperti terus memecahkan teka-teki satu per satu."

[Black] "Ya. Dan setiap saat, yang menemukan petunjuk adalah dirimu."

[Liene] "Hmm. Lebih tepatnya Fermos daripada aku... Ah, benar. Kali ini berkat diriku. Aku mendapatkannya dengan mengorbankan bibirku yang terluka."

Black tidak tertawa, padahal ucapan Liene adalah lelucon.

[Black] "Bibirmu bengkak."

[Liene] "Ya. Agak sakit."

[Black] "Sepertinya kita tidak bisa berciuman untuk sementara waktu."

Wajah Black begitu serius saat mengatakan hal itu sehingga membuat Liene justru tertawa.

[Liene] "Karena kau memasang ekspresi serius, seolah-olah aku telah melakukan pengorbanan besar."

[Black] "Memang pengorbanan besar."

Black mengulurkan tangannya dan menggenggam dagu Liene. Seolah tidak tega menyentuh bibirnya yang bengkak, dia hanya mengusap dagunya dengan ibu jari.

[Black] "Seharusnya aku yang menggigitnya."

Liene menunjukkan ekspresi serius.

[Liene] "Tidak, itu tidak benar. Tidak mungkin aku ingin melihatmu melakukannya."

Memikirkan Black melakukan hal yang sama pada cincin yang pernah digigit Putri Blini membuatnya langsung marah.

Liene mengambil potongan besi itu dan memasukkannya kembali dengan hati-hati ke dalam cincin. Namun, masalah lain muncul. Sambungan kecil yang memungkinkan hiasan cincin dibuka dan ditutup sepertinya rusak karena guncangan barusan. Hiasan itu berputar-putar tanpa terpasang.

[Liene] "Ah, sial... Cincin ini tidak bisa lagi menjadi tempat penyimpanan. Ukurannya kecil, jadi mudah hilang."

Potongan besi itu petunjuk yang terlalu berharga untuk sekadar dimasukkan ke dalam saku.

Keduanya berpikiran bersama, lalu memutuskan untuk membungkusnya dengan sapu tangan Liene dan menyimpannya di saku yang ada di bagian dalam doublet milik Black.

Kereta kuda masih melaju cepat menuju Nauk.

Mereka tiba di area perbatasan dua hari kemudian, saat fajar menyingsing.

[Fermos] "Astaga, Tuanku!"

Fermos sangat bersemangat sampai mengentakkan kakinya.

[Fermos] "Mengapa! Mengapa! Anda pulang lewat jalan lain tanpa memberi tahu kami! Mengapa! Dan dengan menaiki kereta kuda Sharka! Saya hampir saja menggulingkan batu besar!"

Melihat wajah Fermos yang pucat pasi, dia bersungguh-sungguh.

[Black] "Randall pasti sudah mengirimkan sinyal tangan."

[Fermos] "Justru itu! Apa yang akan terjadi jika saya melihatnya sedikit terlambat, Anda tahu apa akibatnya!"

Area perbatasan yang hanya saling waspada hingga tiga hari lalu, kemarin mengalami bentrokan pertama.

Melihat pihak Sharka mencoba menggabungkan sekitar dua ratus pasukan, campuran ksatria dan infantri, Fermos melancarkan serangan lebih dulu.

Berdasarkan perhitungan bahwa tidak akan baik jika jumlah musuh bertambah dalam situasi kebuntuan di mana tidak ada kontak dengan Black dan musuh pun tidak mengendurkan kewaspadaannya.

Selain itu, tubuh Fermos sakit karena hanya menunggu.

Bagaimanapun juga, pertempuran pertama adalah kemenangan Tiwakan. Lebih dari separuh pasukan Sharka yang baru tiba di perbatasan hancur bahkan tanpa sempat bergabung. Sisanya berhasil bergabung, tetapi dikatakan bahwa ada lebih banyak korban yang terluka daripada yang tidak.

[Fermos] "Bagaimanapun! Saya sudah membuka jalan sehingga Tuanku bisa datang dengan nyaman!"

Setiap kata yang diucapkannya mengandung perasaan tidak adil. Black menepuk bahu Fermos dengan wajah yang seperti biasa tanpa ekspresi.

[Black] "Baguslah."

[Fermos] "Ya! Tentu saja bagus!"

Setelah turun dari kereta kuda, Black tanpa membuang waktu memeriksa kamp Sharka di seberang perbatasan. Kelompok yang terluka telah bergabung, sehingga jumlah personel lebih banyak dari biasanya. Namun, tidak ada tanda-tanda sedikit pun mereka akan memulai pertempuran.

[Black] "Dua ratus. Sepertinya itu batas jumlah personel yang bisa ditarik Raja Sharka."

[Fermos] "Saya tidak tahu apa alasannya, tapi sepertinya mereka sama sekali tidak berniat berperang. Dengan jumlah segitu, mereka bahkan tidak bisa mempertahankan perbatasan, apalagi berperang melawan Tiwakan."

[Black] "Pihak Raja kesulitan dalam perekrutan. Sepertinya keretakan hubungan antara Raja dan Ratu Dileras masih membuahkan hasil."

[Fermos] "Apakah Tuanku yang turun tangan?"

[Black] "Liene."

[Fermos] "Aha. Taktik yang sangat efisien."

[Black] "Benar."

Fermos tidak melewatkan perubahan samar dalam ekspresi Black saat mengatakan 'benar'.

Black terus-menerus tanpa ekspresi kepada Fermos yang sendirian menderita di perbatasan selama beberapa hari, tetapi wajah Black tampak bangga ketika membicarakan Liene.

Tuanku benar-benar keterlaluan.

Fermos mengatupkan bibir dan menepuk dagunya.

Mereka bilang orang berubah setelah menikah. Tuanku persis seperti itu.

[Fermos] "Lalu, bagaimana dengan perang ini? Mungkinkah mereka akan mencoba melanjutkan dalam keadaan seperti itu? Kecuali mereka sudah gila..."

[Black] "Mereka akan menyerah sebentar lagi."

[Fermos] "Ha, benarkah? Apa yang Anda lakukan di Sharka?"

[Black] "Aku membawa sandera."

[Fermos] "Sandera? ... Jangan-jangan Anda membawa Putri Blini sebagai sandera?"

Black mengangguk.

[Black] "Itu juga Liene yang menyuruhku melakukannya."

[Fermos] "Aha... begitu. Apakah cincinnya sudah Anda ambil?"

[Black] "Hmm. Aku juga tahu bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di dalam cincin. Itu juga Liene yang mencari tahunya."

[Fermos] "... Begitu, ya."

Fermos memutuskan untuk melupakan amarahnya. Melihat ekspresi Black, sepertinya apa pun yang Fermos katakan, tidak akan didengarkan.

[Fermos] "Kalau begitu, sekarang kita harus mengumumkan bahwa kita memiliki sandera. Bagaimana dengan syaratnya?"

[Black] "Entahlah... Aku butuh pendapatmu. Menurutmu, seberapa banyak yang bisa kita dapatkan dari Sharka?"

Setidaknya, peran dan nilai Fermos sebagai penasihat tetap tak bisa digantikan oleh Liene. Meskipun dirinya sempat kesal karena merasa diabaikan, ia berusaha berpikir positif. Karena bekerja di bawah penguasa yang cerdas seperti Black merupakan keberuntungan.

[Fermos] "Kita harus memperkirakan seberapa besar keputusasaan mereka. Berapa nilai Putri Blini sebagai sandera?"

[Black] "Nol."

[Fermos] "Kalau begitu, saya akan mulai membuat daftar. Apakah Anda akan tinggal di sini?"

[Black] "Sampai perang selesai."

[Fermos] "Bagaimana dengan Putri?"

Fermos tidak melewatkan perubahan ekspresi Black saat menanyakannya. Mustahil untuk dilewatkan. Black memasang wajah masam secara terang-terangan.

[Black] "... Dia harus pergi ke kastil."

Ya. Berarti Tuanku tidak mau berpisah darinya. Begitu, ya.

[Fermos] "Apakah Putri harus segera berangkat? Saya akan menyuruh seseorang mengantarnya ke kastil."

Black ragu sejenak lalu menggelengkan kepalanya.

[Black] "Pilih dua orang saja. Aku yang akan mengantarnya."

[Fermos] "Anda sendiri?"

[Black] "Jangan tanya alasannya."

[Fermos] "... Baiklah."

Rupanya, Tuanku sadar tindakannya agak kelewatan. Begitu, ya.

[Black] "Buatlah daftar untuk negosiasi. Aku akan mengantarnya dan segera kembali."

[Fermos] "Jangan begitu, silakan Anda beristirahat saja. Saya rasa daftarnya akan sangat panjang."

Fermos berkata dengan nada pasrah.

Otot pipi Black sedikit berkedut. Jelas, karena dia berusaha menahan senyum.

[Black] "Tidak perlu. Menyelesaikan perang lebih utama."

Ya. Syukurlah Tuanku tahu mana yang lebih utama. Kalau begitu, tidak masalah.

[Fermos] "Silakan berangkat, Tuanku."

Black kembali naik ke kereta kuda kurang dari lima menit setelah tiba di perbatasan, untuk mengantar Liene ke Kastil Nauk.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page