top of page

A Barbaric Proposal Chapter 128

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 30 Okt 2025
  • 8 menit membaca

Rahasia (1)

Setelah mencuci wajah dan tangannya yang penuh krim serta berbagai hal lainnya, ketika Liene menemukan Blini yang terkurung di gudang bawah tanah, waktu sudah mendekati tengah hari.

[Blini] "…… Kudengar kau sedang sarapan."

Blini mengeluarkan nada jengkel saat melihat Liene memasuki gudang yang remang-remang.

Kaki dan tangan Blini terikat dengan aman. Liene datang sendiri, sementara Black menunggu di luar pintu.

[Blini] "Ini masih pagi menurutmu?"

[Liene] "Sarapanku memakan waktu yang lama. Mau bicara apa?"

[Blini] "Pria itu suka menyuapimu. Entah dengan tangan, atau dengan bibir."

[Liene] "Apa maksud..."

Alis Liene berkerut.

[Blini] "Dia suka bermalas-malasan sampai larut di tempat tidur, tidak seperti penampilannya. Dia tidak membiarkanmu tidur di malam hari, hingga membuatmu bangun kesiangan."

[Liene] "......"

Liene memang merasa kesal.

Karena semua perkataan Blini memang benar.

[Liene] "Lalu?"

Liene tidak menyembunyikan kejengkelan yang terdengar dalam suaranya.

[Blini] "Saat dia merasa dekat, dia jadi rileks. Seperti anak kecil, dia tidak lagi bersikap waspada."

…… Apa-apaan ini, semuanya benar.

Semua perkataannya tepat sasaran.

[Blini] "Dia bersikap seolah-olah tidak ada orang lain di dunia ini selain dirimu."

[Liene] "…… Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, aku akan pergi. Tidak ada alasan bagiku untuk mendengar hal-hal yang sudah kuketahui, dari mulutmu."

Liene baru saja hendak berbalik ketika Blini bertanya.

[Blini] "Apakah dia bersikap seperti itu padamu?"

[Liene] "Ya. Dia bersikap persis sama padaku juga. Kalau kau ingin mengatakan bahwa kau lebih mengenal suamiku daripada aku, kau gagal."

[Blini] "Kenapa ……?"

[Liene] "......Apa?"

Liene sedikit terkejut karena Blini menunjukkan ekspresi yang tidak terduga.

[Liene] "Kenapa katamu. Ya karena dia memang pria seperti itu.”

[Blini] "Pria seperti itu……."

[Liene] "Aku tidak akan membicarakan hal ini lebih lanjut. Karena tidak ada artinya selain membuat diriku tidak nyaman. Jadi, tidak ada lagi yang ingin kau katakan?"

[Blini] "Kenapa……."

[Liene] "Istirahatlah. Meskipun tidak mudah dengan posisimu yang menyedihkan."

Liene berbalik.

Saat tangannya menarik gagang pintu, Blini membuka mulutnya.

[Blini] "Cincin itu, bukan cincin biasa."

[Liene] "......?"

Liene berbalik lagi.

[Blini] "Ada rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Bebaskan aku. Maka aku akan memberitahumu."

[Liene] "Apa itu benar?"

[Blini] "Bawa cincinnya kemari, akan kutunjukkan padamu."

[Liene] "......"

Sebagus apa pun seseorang dalam berbohong, perkataan Blini barusan tidak terdengar seperti kebohongan.

Liene menatapnya. Liene berpikir akan lebih baik jika perkataan Blini barusan adalah sungguhan.

Karena artinya Blini masih memiliki sedikit hati nurani.

[Liene] "Membebaskanmu, maksudmu mengirimmu kembali ke Sharka? Jangan khawatir. Kau akan pergi ke Sharka. Meskipun melalui Nauk terlebih dahulu."

[Blini] "…… Aku tidak ingin lagi bersama kalian. Kalau masih ada urusan, selesaikan dengan cepat. Dan jangan pernah bertemu lagi."

Dari jawabannya, Liene membaca bahwa dia tidak ingin kembali ke Sharka.

[Liene] "Tidak. Kau sekarang adalah tawanan perang. Sampai kami menerima penyerahan diri Sharka, kau harus berada di bawah kekuasaan Nauk."

[Blini] "Kau tidak penasaran dengan rahasia cincin? Katakan, maka aku akan memberitahumu!"

[Liene] "Aku akan mencari tahu sendiri."

[Blini] "Bagaimana caranya?"

[Liene] "Aku belum tahu. Tapi kalau kau bisa mengetahuinya, aku juga pasti bisa."

Blini menggertakkan giginya.

[Blini] "…… Apakah pria itu tahu bahwa kau orang seperti ini? Bahwa kau orang munafik yang hanya berpura-pura baik dengan wajah polos?"

[Liene] "Lucu sekali kau menyebutku munafik. Untuk apa aku perlu bersikap munafik? Tidak ada musuh yang lebih jelas dari pada dirimu."

[Blini] "......"

[Liene] "Seperti yang kukatakan, aku tidak melupakan satu pun hal yang telah kau lakukan. Kalau kau berniat menawarkan kesepakatan yang tidak masuk akal, jangan buka mulutmu lagi untuk depannya. Berhadapan denganmu adalah hal yang tidak menyenangkan bagiku."

Klik.

Liene menarik pintunya.

Dari belakangnya, terdengar suara keputusasaan yang untuk pertama kalinya keluar dari mulut Blini.

Ketika Liene membuka pintu dan keluar, Black sudah menunggu di sana.

[Black] "Tidak ada masalah, kan?"

[Liene] "......Kenapa harus ada masalah."

Kalau ada masalah, Black pasti sudah mengetahuinya dari tadi.

Alis Liene sedikit berkerut.

Perasaan ini mirip dengan ketika dia dulu menemukan gunting kuku itu. Black tidak melakukan kesalahan, tapi hati Liene merasa kesal.

[Liene] "Aku akan kembali ke kamar. Kapan kita berangkat ke Nauk?"

[Black] "Kapan pun kau mau."

[Liene] "Bagus. Apakah kita akan naik kereta kuda?"

[Black] "Ya."

[Liene] "Kalau begitu aku tidak perlu ganti pakaian. Aku juga sudah siap."

[Black] "Aku akan menyiapkan kereta kudanya. Tapi……."

[Liene] "Apa?"

Black berdiri di hadapan Liene dengan wajah tersenyum.

Tiba-tiba langkah Liene terhalang, dia terhuyung dan mencoba berjalan ke samping.

Black mengejarnya lagi.

[Black] "Melihat kau tidak mau menatap mataku, sepertinya ada sesuatu yang membuatmu kesal."

…… Bukankah kau sudah tahu apa yang terjadi? Jaraknya tidak cukup jauh untuk tidak mendengar pembicaraan kami.

[Liene] "Kalau sudah tahu, bisakah kau menyingkir? Aku ingin melihat wajahmu nanti saja."

[Black] "Tapi aku ingin dilihat sekarang."

Black menundukkan kepalanya sehingga mata mereka bertemu sebentar.

Liene mendorong pipi Black menjauh.

[Liene] "Ah, sungguh. Nanti saja."

[Black] "Sekarang."

[Liene] "Sekarang tidak bisa."

Sambil memegang pergelangan tangan Liene yang dengan keras berusaha menghindari tatapannya, Black menahan tawa.

[Black] "Kau sudah pernah mengalaminya. Aku bukan tipe orang yang membiarkan Putri sendirian mengatasi perasaannya."

Black mengacu pada kejadian gunting kuku waktu itu.

…… Sekarang setelah dipiki-dipikir, alasan perasaanku buruk juga sama persis.

Tidak, tidak. Ini berbeda. Waktu itu aku yang salah paham, tapi sekarang tidak begitu.

[Liene] "Ini berbeda dengan waktu itu."

Bibir Liene tanpa sadar maju ke depan. Liene mendorong Black sekali lagi.

[Liene] "Menyingkirlah."

Black tidak terdorong.

Seperti yang dia katakan, dia bukan tipe orang yang membiarkan Liene sendirian.

[Black] "Kalau kau mau melihat wajahku, aku akan membuat perasaanmu membaik sepenuhnya. Percayalah padaku."

[Liene] "…… Ini tidak seserius itu. Ini bukan salahmu dan bukan salahku juga, jadi perasaanku akan membaik dengan sendirinya. Sekarang aku hanya, perasaanku sedang tidak enak saja. Kau tidak perlu melakukan ini."

[Black] "Liene."

Black dengan keras kepala menangkap wajah Liene yang berpaling ke samping dan menempelkan dahi mereka.

Black tidak bisa menahan tawanya lagi.

[Black] "Kenapa Putri selalu seperti ini."

[Liene] "…… Apa maksudmu. Bagaimanapun, lepaskan aku. Kalau kau seperti ini, rasanya malah tidak akan terselesaikan dan aku tidak suka."

[Black] "Setiap kali Putri bilang tidak suka, artinya dirimu sebenarnya suka."

[Liene] "Kali ini aku sungguh-sungguh tidak suka."

[Black] "Sebentar saja sudah cukup. Lihatlah aku sebentar."

[Liene] "Untuk apa melihatmu?"

[Black] "Perasaanmu akan membaik."

[Liene] "Tidak, perasaanku memang akan membaik dengan sendirinya. Aku juga tidak suka marah. …… Ini bahkan bukan marah, hanya perasaanku saja yang sedang tidak enak.”

[Black] "Putri."

[Liene] "Jangan terus memanggilku. Kau membuatku luluh."

[Black] "Putri. …… Liene."

......Ah, sungguh.

Pria ini pandai dalam segala hal, tapi kebiasaannya harus diperbaiki. Jika aku terlihat kesal, biarkan aku sendiri. Jika aku sudah bilang akan menyelesaikannya sendiri, biarkan saja. Sungguh.

[Liene] "…… Baiklah. Aku akan melihatmu jadi lepaskan aku."

Liene menatapnya dengan enggan, dengan tekad untuk melepaskan Black.

Black tersenyum lebar hingga membuat Liene marah.

Kenapa dia tertawa? Perasaanku sangat……

[Black] "Itu bohong."

[Liene] "…… Apa yang bohong?"

[Black] "Perkataan Putri Blini."

[Liene] "……? Yang mana?"

[Black] "Semuanya. Kecuali perkataan bahwa cincin memiliki rahasia. Karena aku juga tidak tahu tentang itu."

[Liene] "Semua …… nya?"

Liene berkedip. Ia sulit memercayainya. Namun, bahkan setelah memikirkannya lagi, tidak ada bagian yang Liene yakini sebagai kebohongan.

[Liene] "Kau bohong. Semua perkataannya memang hal yang kau lakukan."

Liene menambah kekuatan pada tangannya yang mendorong Black.

[Liene] "Lepaskan aku, sungguh. Sekarang aku mulai marah. Aku tahu kau tidak akan berbohong padaku, tapi bagaimana dia bisa tahu semuanya?"

[Black] "Aku tidak pernah melakukan hal-hal itu dengannya."

[Liene] "Tapi bagaimana kau bisa begitu yakin? Apa kau ingat semua interaksimu dengannya dulu?"

[Black] "Aku juga tidak tahu. Yang pasti adalah aku tidak pernah seperti itu."

[Liene] "……? Bukankah itu terlalu …… aneh?"

[Black] "Memang aneh."

[Liene] "......"

Liene berhenti mendorong dan sebaliknya berjinjit untuk memegang wajah Black. Liene memeriksanya dari sudut ke sudut seolah-olah mencari jejak kebohongan yang tersisa di suatu tempat di wajahnya.

Melihat gerakan Liene yang tidak bermakna, Black menekuk lututnya untuk menyamakan tinggi mereka.

[Liene] "Bagaimana dia bisa tahu tentang kebiasaanmu saat bersamaku? Kalau memang bukan kau yang memberitahunya?"

[Black] "Kembali dan tanyakan padanya. Atau aku yang akan bertanya."

[Liene] "Tidak, kenapa kau bicara omong kosong. Jangan berpikir untuk berhadapan dengan Putri Blini untuk hal yang tidak terlalu penting. Mengerti?"

[Black] "Apakah kau yakin ini tidak terlalu penting? Bagiku, menghilangkan kecurigaan Putri sekarang adalah hal yang sangat penting."

[Liene] "Mm......."

Kekuatan pada tangan Liene yang memegang wajah Black melemah dan berubah menjadi usapan lembut.

[Liene] "Postur tubuhmu saat ini pasti tidak nyaman, jadi bangunlah."

[Black] "Aku akan berdiri kalau kau memberitahuku: apakah kau percaya padaku atau tidak?"

[Liene] "Aku masih memikirkannya. Tapi……"

Saat menatap wajahnya dengan tenang, Liene merasa sedikit mengerti.

Mungkinkah aku yang menginginkan pria ini bersikap manja hanya padaku?"

Karena aku menyukai semua hal yang dia lakukan karena dia mencintaiku.

Karena kadang-kadang sulit dipercaya bahwa dia melepaskan kewaspadaannya dan menjadi santai, tertawa tanpa henti, dan mencurahkan kasih sayangnya seolah-olah hanya ada aku di dunia ini.

Karena rasanya tidak ada orang sepertinya di dunia.

Karena aku sangat menyukainya sampai masih terasa seperti mimpi.

Mungkin aku berharap Black juga mengalami perasaan yang sama seperti yang aku rasakan.

[Liene] "Aku percaya."

[Black] "Syukurlah."

Black akhirnya bangkit berdiri.

Liene mengikuti pandangan mata Black yang tiba-tiba menjadi lebih tinggi, lalu secara impulsif memeluknya.

[Liene] "Pada orang lain, kau tidak boleh bersikap manja."

[Black] "…… Kenapa kau bicara omong kosong.”

Black meminjam kata-kata yang Liene ucapkan sebelumnya.

[Liene] “Jangan berpikir untuk bersikap manja dengan orang lain. Mengerti?"

[Black] "Ya."

Liene menggosokkan pipinya ke dada Black.

[Liene] "Maaf karena marah."

[Black] "Jangan minta maaf. Aku sangat senang sampai tidak bisa berpikir jernih setiap kali kau seperti ini."

[Liene] "Kau senang karena aku salah paham dan marah?"

[Black] "Bukankah hal tersebut berarti kau sangat menyukaiku? Sampai bahkan masa lalu pun terasa berharga."

…… Memang benar. Benar. Aku menganggap masa lalunya pun berharga.

[Liene] "Aku juga begitu. Bahkan hal-hal yang sudah berlalu, semuanya berharga bagiku."

[Black] "Bagaimana kau bisa selalu mengatakan hal-hal manis seperti itu?"

Blini pasti dulu berharap hal seperti ini dari Black. Dia pasti juga menginginkan hal yang sama denganku

Tapi pria ini milikku……

[Liene] "Kau milikku."

Black tertawa mendengar ucapan Liene yang tiba-tiba meluncur keluar.

[Black] "Ya. Aku milik Putri."

[Liene] "Jangan pernah lupa."

Setelah saling berbisik dengan penuh kasih sayang untuk beberapa saat, mereka berdua meninggalkan ruang bawah tanah.

Meskipun tidak disengaja, percakapan mereka berdua didengar oleh Blini.

Blini ingin menutup telinganya, tapi tangannya terikat sehingga tidak bisa. Sebagai gantinya, kuku-kukunya yang menggaruk lantai akhirnya patah.

Keputusasaan dan kedengkiannya ikut patah bersama kukunya.


A Barbaric Proposal Ch 128: Rahasia (1). Blini mengungkap Black adalah pria yang manja, membuat Liene kesal. Blini juga mengklaim cincin itu memiliki rahasia. Black meyakinkan Liene bahwa semua perkataan Blini bohong. Mereka meninggalkan Blue Warren, tapi Liene mengalami mabuk perjalanan. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

Waktu tempuh dari Blue Warren ke Nauk sekitar lima hari.

Tiwakan memutuskan untuk mempercepat perjalanan menjadi tiga hari. Karenanya, kereta kuda melaju dengan kencang sampai rodanya hampir rusak, dan selama perjalanan dengan kereta kuda, pantat mereka terasa nyeri.

[Liene] "Uh…… Aku menyesal meninggalkan kereta kuda yang satu itu. Yang kita tinggalkan di Sharka. Sepertinya kereta kuda tersebut tidak seburuk ini meskipun melaju cepat."

Black mengangguk. Menyesalkan suatu barang bukanlah hal yang biasa baginya, tapi malah semakin menunjukkan betapa berguncangnya kereta kuda ini.

[Black] "Aku harus memesan beberapa lagi."

[Liene] "Beberapa?"

[Black] "Untuk berjaga-jaga kalau kita harus meninggalkannya lagi karena keadaan yang tidak terhindarkan seperti sekarang."

[Liene] "Mm…… Meskipun terdengar mewah, entah kenapa aku ingin setuju sekarang."

Liene terlihat kurang bertenaga dibanding pagi tadi. Pipinya pucat.

Black mengulurkan tangannya.

[Black] "Kemari dan peluk aku. Kalau aku memelukmu, kondisimu akan sedikit lebih baik."

[Liene] "Meskipun menggoda, aku menolak. Aku tidak ingin membuatmu kesulitan hanya karena pantatku sedikit sakit."

[Black] "Kalau itu alasannya, aku juga menolak. Kemari."

[Liene] "Aku serius."

…… Sebenarnya perutku tidak enak.

Sepertinya Liene mabuk perjalanan. Mungkin karena naik kereta kuda yang berguncang hebat untuk waktu yang lama segera setelah sarapan.

Haruskah aku meminta untuk melaju lebih pelan…… Tidak, aku tidak bisa egois hanya untuk kenyamananku sendiri.

Mari bertahan selama aku masih bisa bertahan.

Liene menghembuskan napas perlahan sambil memainkan cincin yang dikenakan di jempol kanannya.

Kalau Blini tahu sesuatu yang bahkan Black tidak tahu, pasti dia menemukannya secara kebetulan. Liene memutuskan untuk terus mengenakan cincin tersebut di tangannya seperti yang dilakukan Blini. Liene percaya bahwa kalau dia terus memainkannya, kebetulan yang sama akan datang padanya.

[Black] "Jangan terlalu khawatir. Mungkin saja perkataannya bohong."

Black salah mengartikan wajah Liene yang pucat dan fokus pada cincin tersebut.

Black mengira Liene merasa gelisah karena rahasia cincin tidak segera terungkap.

[Liene] "Aku tahu. Tapi kalau cincin ini adalah kuncinya, sepertinya harus ada semacam mekanisme yang tersembunyi kan? Sepertinya memang ada rahasia di dalamnya."

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page