A Barbaric Proposal Chapter 127
- Crystal Zee

- 30 Okt 2025
- 7 menit membaca
Agar Tidak Punya Tempat Lain Untuk Pergi
Black menyentil hidung Liene yang terlihat kebingungan.
[Black] "Tempat ini bukan seperti Nauk yang memiliki makna khusus, melainkan hanya tempat singgah yang kami miliki demi kenyamanan. Kami butuh tempat untuk beristirahat."
[Liene] "Umm... Kau benar-benar sangat kaya, ya."
[Black] "Berkat bawahan yang cakap."
Mansion besar yang cukup menampung dan membuat seluruh Tiwakan beristirahat dengan nyaman, tertata rapi. Pengelola mansion mengatakan akan mengirim pekerja besok pagi.
[Liene] "Kau punya rumah."
Liene menghela napas sambil melihat interior mansion yang terlihat lebih terawat daripada Istana Nauk.
Black menempelkan bibir ke puncak kepala Liene dari belakang.
[Black] "Ini bukan rumah."
[Liene] "Padahal rumah, kenapa kau bilang bukan rumah..."
[Black] "Karena tidak ada dirimu di dalamnya."
Liene mendongakkan kepala ke belakang dan menatap mata Black. Ujung hidungnya yang bulat terlihat terbalik, entah mengapa terasa menggemaskan.
[Liene] "Kau tidak mengatakannya tanpa alasan, kan?"
[Black] "Sepertinya aku tidak pernah bicara tanpa alasan."
[Liene] "Memang. Kau orang seperti itu. Kau tidak pernah berpikir untuk tinggal di Blue Warren? Padahal ada rumah sebagus ini?"
[Black] "Ini tempat yang hidup dan nyaman. Tapi di sini pun aku selalu menjadi orang asing."
[Liene] "Begitu ya... Kadang aku merasa takjub."
[Black] "Soal apa?"
[Liene] "Soal kau yang kembali ke Nauk. Kau pasti sudah mengunjungi berbagai tempat di seluruh benua."
[Black] "Sebenarnya tidak juga."
[Liene] "Meskipun begitu, pasti ada banyak tempat yang lebih baik daripada Nauk. Tapi kau tetap kembali, kan?"
[Black] "Seperti yang aku katakan, di tempat lain tidak ada dirimu."
Liene terkekeh.
[Liene] "Aku tahu itu hanya kata-kata manis untukku. Kau tidak benar-benar tulus padaku sejak awal, kan?
[Black] "Kau pasti sudah tahu. Bahwa pada akhirnya kita akan bersama seperti ini."
[Liene] "Hmm... Itu juga sepertinya hanya ucapan manis."
[Black] "Sejujurnya, aku juga tidak tahu aku akan mengatakan hal seperti ini. Tapi kau..."
Black berhenti sejenak dan mengerutkan alis. Liene mengangkat tangan di atas kepala Black dan membelai alisnya.
[Liene] "Aku kenapa?"
[Black] "Sejak mengetahui dirimu tidak pernah menaruh hati pada Kleinfelter, aku tidak pernah berhenti berpikir bahwa pada akhirnya kita akan bersama, "
[Liene] "Ah...?"
[Black] "Pasti akan berakhir bersama. Cepat atau lambat."
[Liene] "Ah, ya..."
Liene mengangguk kecil, lalu Black memeluk lehernya dan menciumnya. Ciuman dengan posisi bibir yang terbalik terasa baru, tapi mereka tetap lebih suka cara yang biasa.
[Liene] "Setelah kembali, Istana Nauk harus direnovasi. Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal di tempat yang lebih buruk daripada tempat asalmu."
Di depan tangga utama mansion, Black mengangkat Liene.
[Black] "Apakah rumah ini layak di matamu?"
[Liene] "Bagaimana aku bisa bilang tidak."
[Black] "Kalau begitu, ambillah."
Tap tap tap.
Black mulai menaiki tangga sambil menggendong Liene.
[Black] "Selain ini, ada dua atau tiga rumah lagi. Ambil semuanya. Karena sekarang semuanya sudah menjadi rumah yang tidak kubutuhkan lagi."
[Liene] "Wah... Oh, terlalu banyak. Tapi aku juga tidak butuh... Tidak, tidak. Berikan semuanya."
Liene menyusup ke leher Black.
[Liene] "Karena kau tidak boleh punya tempat lain untuk pergi. Berikan semuanya. Jangan sisakan satu pun."
[Black] "Baiklah. Sebagai gantinya, kau juga harus melakukan sesuatu untukku."
[Liene] "Baiklah. Jika itu sesuatu yang bisa kuberikan, akan aku berikan."
[Black] "Bukan barang."
[Liene] "Lalu apa?"
Black berhenti sejenak dan mendekatkan bibir ke telinga Liene. Ketika Black membisikkan sesuatu, pipi Liene memerah.
[Liene] "Permintaanmu agak terlalu..."
[Black] "Tidak boleh?"
[Liene] "Jika aku bilang tidak boleh, kau tidak akan memberikan rumah padaku?"
[Black] "Ya."
Black mengatakannya dengan tegas sehingga Liene tertawa terbahak-bahak.
[Liene] "Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Baiklah, akan kulakukan."
[Black] "Kau sudah berjanji."
Tiba-tiba langkah menaiki tangga dipercepat. Black membawa Liene ke kamar mandi dengan bak mandi besar.
Sesaat kemudian, terdengar tawa yang terengah-engah dari kamar mandi.
Dari balkon kamar Black di lantai tiga, Liene bisa melihat sungai yang mengalir di belakang mansion. Liene yang bangun pada dini hari mengenakan jubah tidur yang sama persis dengan yang dikenakan Black dan membuka pintu balkon.
Saat itu cahaya fajar yang samar menyentuh permukaan air, menciptakan kabut yang dingin dan membuat kantuk.
[Black] "...... Kenapa sudah bangun?"
Liene sudah berusaha bergerak diam-diam, tapi Black segera bangun dan mengikutinya.
[Liene] "Karena aku mendengar suara air."
[Black] "Apakah berisik?"
[Liene] "Tidak. Bukan berisik, tapi... Oh, karena suaranya tidak biasa aku dengar di Nauk, jadi terasa asing."
Maksud Liene, suara air mengalir membuatnya bangun lebih awal.
Ketika Liene duduk di pagar balkon, Black menopang pinggangnya.
[Liene] "Karena di tepi sungai, udaranya tidak kering."
[Black] "Pada jam seperti ini, pasti lebih terasa."
Sambil melihat sungai yang mengalir tenang, namun tanpa henti.
[Liene] "Akankah Nauk juga akan menjadi seperti ini?"
Di leher Liene yang bertanya, tergantung liontin bertahtakan cincin yang direbut dari Blini. Black mengulurkan tangan dan mengangkat cincin itu.

Cincin yang kebesaran untuk Blini juga kebesaran untuk Liene. Liene memutuskan menggantungnya di leher karena merasa akan terus memainkannya seperti Blini jika memakainya di ibu jari.
[Black] "Jika cincin ini benar-benar berfungsi sebagai kunci, maka Nauk akan menjadi seperti ini."
[Liene] "...... Aku tidak bisa bernapas."
Liene mengusapkan pipinya ke tangan Black yang memegang cincin.
[Liene] "Saking senangnya... Saking terasa bagaikan mimpi."
Black meletakkan cincin dan menangkup pipi Liene.
[Black] "Tunggu sebentar. Semuanya akan segera menjadi kenyataan."
[Liene] "Aku harap kita segera kembali."
Black tertawa terbahak-bahak.
[Black] "Padahal saat kita bersama di kamar mandi kemarin, kau bilang ingin tinggal beberapa hari lagi."
[Liene] "Hmm... Oh, aku bersungguh-sungguh pada saat itu. Maaf. Pikiranku berubah."
[Black] "Sedikit merasa bersalah, ya. Karena aku senang memikirkan untuk tinggal di sini beberapa hari lagi."
[Liene] "Aku tahu. Aku juga begitu. Sampai kemarin."
[Black] "Sekarang tidak?"
[Liene] "Ya. Setelah mendengar suara air, aku tidak bisa memikirkan hal lain sama sekali. Dadaku terlalu... terus berdebar."
Black berlutut di lantai balkon, menyamakan tinggi matanya.
[Black] "Putri."
[Liene] "Ya?"
[Black] "Kalau begitu, apakah pikiran yang mengganjal saat meninggalkan Nauk sudah diselesaikan?"
Liene pernah mengatakan bahwa ia harus memikirkan sesuatu saat mengatakan akan pergi ke Kerajaan Sharka bersama Black.
"Aku ingin melihat dari luar Nauk apakah aku benar-benar ingin memakai mahkota ini, apakah aku sudah siap, dan apakah aku orang yang pantas."
[Liene] "...... Sebenarnya aku tidak tahu. Apakah aku sudah siap atau belum. Masih ada sudut hatiku yang mengatakan bahwa Raja Nauk seharusnya adalah dirimu. Karena mahkotaku diberikan tanpa kelayakan."
[Black] "Selama ini, kaulah yang mengenakan mahkota dan menjaga Nauk."
[Liene] "Karena aku pikir itu memang tugas yang harus kulakukan. Tapi sekarang..."
[Black] "Sekarang?"
[Liene] "Entahlah, aku rasa jawabannya tidak lagi penting. Apa pentingnya hal itu, padahal air akan kembali ke Nauk."
Black menghela napas, terdengar seperti tawa yang aneh.
[Black] “Terdengar seperti kau memang layak mengenakan mahkota."
[Liene] "Jika ada satu hal yang aku lakukan dengan baik sebagai pemimpin Nauk, itu adalah menerima lamaranmu. Karenanya kau kembali ke Nauk, dan air akan kembali."
[Black] "Ya. Itulah yang kupikirkan."
Meskipun Liene tidak memikirkannya dengan sadar, dia mungkin merasakannya samar-samar di dalam hati. Bahwa kelayakan untuk mengenakan mahkota tidak hanya didapat dari darah bangsawan.
Raja Sharka maupun Putri Blini adalah orang-orang yang tidak pantas mengenakan mahkota. Setelah melihat orang-orang seperti itu dengan mata kepala sendiri, Liene pasti telah mencapai kesimpulan.
Liene mengangkat cincin.
[Liene] "Tapi ini cincin keluarga Gainers. Bukankah seharusnya kau yang menyimpannya?"
[Black] "Cincin ini milikmu."
[Liene] "...... Semua milikmu adalah milikku? Tidak boleh, lho."
[Black] "Kenapa tidak boleh?"
[Liene] "Karena aku merasa seperti orang serakah. Aku mengambil semua rumahmu dan aku sama sekali tidak merasa bersalah, aku malah merasa senang. Aku ingin mengambil semua yang kau berikan, dengan begitu kau tidak punya tempat lain untuk pergi selain Nauk."
Black bangkit. Ia memutar Liene yang sedang duduk dengan kaki di pagar, lalu ia menarik tali jubah tidur Liene sedikit.
[Black] "Berarti aku tidak akan pernah meninggalkanmu... Apakah tidak menakutkan?"
[Liene] "Kenapa menakutkan? Bukankah sebaliknya yang menakutkan?"
[Black] "Jika kau mengambil semua milikku, aku tidak akan punya apa pun lagi yang bisa hilang, kecuali kehilangan dirimu."
Black percaya bahwa Liene mengerti apa maksud ucapannya.
[Liene] "Aku berharap kau hanya memiliki diriku sehingga tidak punya apa-apa lagi yang bisa hilang."
[Liene] "Kalau begitu, aku akan mengambil semuanya.”
[Black] "Jangan menarik kata-katamu nanti."
[Liene] "Kau juga."
Karena Liene memberikan jawaban yang ingin Black dengar, maka keduanya saling berpelukan tanpa ada yang memulai lebih dulu.
Bibir merka yang beraroma udara fajar terasa manis. Setelah lama berciuman, jubah tidur mereka pun menjadi longgar.
[Black] "Aku ingin tidur lagi sebentar... Bagaimana denganmu?"
[Liene] "Aku juga."
[Black] "Kalau begitu, ayo masuk."
Black menggendong Liene dan meninggalkan balkon. Mereka berbaring berdampingan di tempat tidur, tetapi niat untuk tidur hanyalah kebohongan.
Dua jubah tidur yang terlepas jatuh ke lantai, dan napas yang memanas memenuhi kamar tidur.
Akhirnya, mereka sarapan di kamar tidur pada waktu yang agak siang.
[Liene] "...... Putri Blini?"
[Randall] "Benar."
Randall membawa pesan dari Blini. Ia bilang ada yang ingin ia katakan pada Liene.
[Randall] "Hmm..."
[Randall] "Ini pendapat pribadi saya, tetapi saya rasa Anda tidak perlu mendengarkannya. Pasti hanya omong kosong. Langkah Anda untuk turun ke sana akan sia-sia."
Randall menggelengkan kepalanya.
[Liene] "Bagaimana menurutmu?"
Black menundukkan kepala dan menggigit roti yang dipegang Liene, yang sudah dimakan satu gigitan, lalu menjawab.
[Black] "...... Bukan pembicaraan penting. Abaikan saja jika kau tidak ingin bertatap muka dengannya."
[Liene] "Aku lebih khawatir mengapa kau makan roti yang aku pegang, padahal kau punya roti sendiri. Meskipun begitu, aku akan menemuinya."
[Black] "Jika begini, rasanya seperti disuapi. Apa kau benar-benar harus menemuinya?"
[Liene] "Kau tinggal minta disuapi dan, ya. Aku penasaran apa yang ingin ia katakan."
[Black] "Aku ingin kau melakukannya sebelum kuminta. Kalau begitu, kita akan pergi setelah selesai makan. Aku juga akan ikut."
[Liene] "Kadang aku tidak mengerti apa yang kau inginkan dariku. Tapi karena kau mau, aku ingin melakukannya. Selain roti, apa yang ingin kau makan?"
[Black] "Anggur akan lebih baik."
[Liene] "Ini."
Black menggigit anggur yang disuapkan ke mulutnya, lalu ia juga menghisap lembut jari Liene.
Randall menggaruk pipinya dengan canggung.
[Randall] "Sepertinya Putri Blini harus melihat pemandangan ini. Dengan begitu dia tidak akan mengganggu dengan meminta untuk bicara."
[Black] "...... Aku tidak tahu kenapa kau masih di sana."
Black berbicara setelah jeda singkat karena mengunyah anggur, dan Randall dengan cepat menegakkan punggung.
[Randall] "Saya akan segera keluar. Selamat menikmati sarapan Anda."
Setelah Randall pergi, jarak mereka menjadi lebih dekat. Ia tertawa melihat Black menarik kursi yang Liene duduki mendekat.
[Liene] "Kali ini apa?"
[Black] "Anggur."
[Liene] "Jujur saja. Kau sengaja, kan. Ingin menggigit jariku lagi."
[Black] "Aku tidak menggigit."
Rasanya seperti dimakan, bukan digigit.
[Black] "Jika kau menyuapi dengan tangan, apa pun selain anggur tidak masalah."
[Liene] "Kalau begitu, ini."
Liene mengambil daging babi panggang yang diolesi krim kayu manis lengket, seolah sedang bercanda.
[Liene] "Apa kau akan memakannya meskipun seperti ini?"
[Black] "Berikan."
Black menggigit daging panggang itu. Krimnya meleleh dan mengalir di pergelangan tangan Liene. Lalu bibir Black bergerak mengikuti jejak krim.
[Liene] "Ah... keterlaluan."
Liene mengoleskan krim di jarinya ke pipi Black.
[Liene] "Rasakan juga. Jika ada yang menempel seperti ini, aku merasa seperti makanan."
[Black] "Makan aku."
Black menyodorkan pipinya. Liene tertawa getir, lalu menjilat pipi Black.
Rasanya tidak lebih enak, tetapi pada saat yang sama, jelas terasa lebih enak. Tidak bisa dipahami, tetapi juga bukan hal yang sepenuhnya tidak bisa dipahami.
Sarapan mereka berlangsung cukup lama karena saling bercanda.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar