top of page

A Barbaric Proposal Chapter 126

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 28 Okt 2025
  • 7 menit membaca

Diperbarui: 30 Okt 2025

Ancaman Tak Menakutkan

[Liene] "Ehem."

Putri Nauk berdeham, lalu berbalik.

Black sepertinya buta. Putri Nauk yang berambut kusut dan berwajah kotor sama sekali tidak menggemaskan. Blini membencinya, meskipun baru hari ini melihat wajahnya.

[Liene] "Aku dengar kau menelan cincin itu."

Blini membenci mata hijau Liene.

[Liene] "Jika dihitung-hitung, cincin tidak mungkin masih ada di perutmu sampai sekarang. Aku ingin cincin dikembalikan. Itu milik suamiku, dan milik Nauk. Tidak ada alasan cincin berada di tanganmu. Aku berencana mengembalikan ke tempat asalnya. Kembalikanlah."

Blini membenci bibir Liene yang berwarna aprikot.

[Blini] "Milikku."

[Liene] "Kalau begitu, aku akan bicara dengan cara lain. Jika kau mengembalikan cincin, Nauk tidak akan memulai perang yang tidak perlu dengan Sharka. Putra Grand Duke Alito yang dipenjara di Nauk akan kembali ke Alito dengan selamat. Hanya dengan mengembalikan cincin yang tidak lagi berarti bagimu, banyak orang akan merasa lega."

Blini membenci suara Liene yang lembut dan menenangkan.

[Blini] "Milikku."

[Liene] "Kau tidak peduli pada orang lain? Kau seorang bangsawan, Putra Grand Duke adalah saudaramu."

[Blini] "Sepertinya kau tuli. Sungguh menyedihkan."

[Liene] "Kalau begitu, aku akan mengancammu. Kau sekarang adalah tawanan Tiwakan tanpa senjata untuk melindungi diri. Raja Sharka, satu-satunya orang yang akan membelamu, berada jauh dari tempat ini. Grand Duke Alito telah mengirim surat perjanjian bahwa dia tidak akan campur tangan dalam urusanmu agar putranya dapat dibebaskan. Aku bisa saja memerintahkan kesatriaku untuk melucuti pakaianmu dan mengambil cincinnya. Apakah cara itu lebih baik?"

[Blini] "Kau sebut itu ancaman?"

Blini memiringkan kepala dan tertawa.

[Blini] "Jika itu ancaman, seharusnya menakutkan. Apa aku akan takut hanya karena kulitku sedikit terbuka?"

[Liene] "Kau akan takut. Mustahil tidak takut."

[Blini] "Kau yang sepertinya takut?"

[Liene] "Benar. Aku takut. Jika aku membayangkan pria itu sedang melihatku dalam kondisi seperti ini."

[Blini] "Kondisi seperti apa?"

[Liene] "Aku takut jika aku membayangkan pria itu hanya akan berdiri diam dan melihat orang lain melucuti pakaianku tanpa melakukan apa-apa. Itu akan menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir seumur hidup. Aku merinding memikirkan dia akan melihatku jatuh ke titik terendah, menjadi lemah dan jahat."

[Blini] "Hanya kau yang......."

[Liene] "Aku sama sekali tidak mau menunjukkan wajah seperti itu. Dan aku juga tidak mau melihatnya."

Blini mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Yang menakutkan bukanlah pakaiannya dilucuti secara paksa. Bukan pula cincinnya direbut. Yang menakutkan adalah Black, yang akan melihat kejadian itu. Seolah Blini adalah sesuatu yang tidak berarti, seperti yang sudah lama Black buang.

Satu-satunya hal yang dianggapnya berharga dalam hidupnya akan hancur berkeping-keping. Blini tahu Black tidak lagi menginginkannya. Itu bisa ia terima. Karena keinginan manusia selalu memiliki batas waktu. Keinginan akan mati seperti halnya manusia juga akan mati.

Hanya hasratnya terhadap Black yang terus hidup. Itu tidak masalah. Tapi Blini tidak bisa menjadi lebih tidak berarti daripada hasrat yang sudah mati.

[Liene] "Jika hal itu tidak menakutkan, bukankah kau juga tidak punya alasan untuk menyimpan cincin?"

[Blini] "......"

Pada akhirnya, Blini tidak mengatakan bahwa Liene benar.

[Liene] "Baiklah. Pilihan ada di tanganmu. Sir Randall."

[Randall] "...... Ya, Putri."

Randall, yang namanya tiba-tiba dipanggil, terkejut dan segera maju ke depan.

[Liene] "Maaf sudah menyuruhmu melakukan ini, tapi lucuti pakaiannya dan ambil cincinnya."

[Randall] "Sesuai keinginan Anda."

Liene mundur selangkah. Wajah Liene yang baik—yang sangat Blini benci—hanya menatapnya tanpa sedikit pun rasa kasihan.

[Randall] "Kalau sendirian, akan terlihat kasar. Ada yang mau bantu?"

Randall pun sama. Tiwakan yang menawarkan bantuan juga sama. Blini merasa seperti patung yang menyembunyikan cincin, bukan Putri Negara Musuh atau Putri Grand Duke Alito.

"……Hmm."

Desahan aneh keluar dari mulutnya. Blini menyadari desahannya keluar karena ia bertatapan dengan Black. Black menatapnya dengan mata yang melihat sesuatu tidak berarti. Liene benar. Tatapan Black adalah mimpi buruk yang tak terlupakan seumur hidup.

[Blini] "Enyahkan tanganmu."

Blini berkata sambil menatap Black tanpa berkedip.

[Blini] "Aku akan memberikannya."

[Black] "......"

Sambil mengatakan itu, giginya gemeretak. Rahangnya terasa kaku.

[Randall] "Cepat berikan, Yang Mulia Putri."

Randall mengulurkan tangan ke arahnya. Blini menggertakkan gigi dan memasukkan tangan ke bagian dada. Cincin yang diselipkan di lubang kancing gaun dalamnya pun keluar.

Bruk!

Blini melemparkan cincin itu.

[Randall] "...... Dasar keras kepala."

Randall mendecakkan lidah. Ia mengejar dan mengambil cincin yang menggelinding.

[Randall] "Ini, terimalah."

Orang yang disodorkan cincin adalah Liene. Ia menerimanya dan menatap Black. Black mengangguk, menandakan bahwa cincin itu benar.

Ada banyak bekas di sana. Meskipun tidak bisa disebut dihargai, terlihat bahwa Blini memegangnya setiap hari. Mungkin itulah cara Blini menghargai sesuatu.

Liene menggenggam cincin itu erat-erat.

[Liene] "Kita sudah mencapai tujuan. Sekarang ayo pergi. Ikat dia."

[Blini] "Apa? Ikat katamu?"

[Liene] "Kau tidak akan ikut dengan patuh."

[Blini] "Kenapa... Ke mana kau akan membawaku! Kau bilang hanya perlu memberikan cincin!"

[Liene] "Tidak. Aku tidak mengatakan hal seperti itu. Kau salah dengar."

[Blini] "Banyak orang akan merasa lega..."

[Liene] "Kau tidak termasuk yang akan merasa lega."

Liene memotong perkataannya dengan dingin.

[Liene] "Aku tidak melupakan Sir Renfel yang terluka dan juga memanfaatkan Sir Weroz. Aku yakin kau tahu betul tentang itu tanpa perlu aku mengatakannya. Sir Randall, ikat dia."

[Randall] "Tentu saja."

Randall mengikat Blini dengan cepat, wajahnya entah mengapa terlihat gembira.

Mereka memutuskan untuk melepaskan para pelayan. Tidak, bukan dilepaskan begitu saja, tapi dimanfaatkan sedikit.

[Pelayan] "Sekarang kita akan pergi ke perbatasan selatan untuk bergabung dengan pasukan Tiwakan, kan?"

Para pelayan akan mendengar informasi yang salah dan memberitahukannya kepada pasukan Vasheyd yang akan datang terlambat.

Black mengangguk, menahan tawanya.

[Black] "Ya."

[Liene] "Jalan kita masih panjang. Kita harus bergegas."

Mereka harus melewati perbatasan utara sebelum matahari terbenam. Rombongan dengan senang hati memutuskan untuk menggunakan kereta kuda dan kuda yang dibawa Blini.

Blini, yang tangan, kaki, dan mulutnya diikat, dimuat ke dalam bagasi yang berisi barang-barangnya sendiri.

Kali ini, Tiwakan menjadi rombongan keluarga bangsawan yang sedang bepergian ke Blue Warren.

Liene, yang telah melepas jubah peziarah, mengenakan gaun milik Blini. Bertolak belakang dengan perkiraannya bahwa ia akan merasa canggung, Liene justru merasa senang setelah mengenakan pakaian itu.

Tak tak!

Kereta kuda melaju kencang di jalanan yang sepi.

Hanya fakta bahwa mereka bisa naik kereta kuda setelah kemarin susah payah seharian, membuat mereka senang.

[Liene] "Melihat betapa senangnya aku hanya karena merebut hal kecil seperti ini, sepertinya aku orang yang cukup kekanak-kanakan."

Black sempat tertegun melihat Liene mengenakan gaun mewah yang biasanya tidak pernah ia kenakan.

[Black] "Sepertinya aku sudah bersikap lalai selama ini."

[Liene] "Mengapa?"

[Black] "Karena baru sekarang aku sadar bahwa pakaian berwarna cerah sangat cocok untukmu."

[Liene] "Hmm..., kau suka pakaian seperti ini?"

[Black] "Aku rasa tidak ada alasan untuk tidak suka."

[Liene] "Kalau begitu, aku juga sudah bersikap lalai. Aku akan mencoba mengenakan pakaian cerah mulai sekarang."

Di dalam kereta kuda yang empuk, Black mengangkat Liene dan mendudukkannya di pangkuan.

[Black] "Aku?"

[Liene] "Apa?"

[Black] "Warna apa yang sebaiknya aku kenakan?"

Liene, yang berpikir dengan cukup serius, mendekatkan bibirnya ke telinga Black dan berbisik.

[Liene] "Sebaiknya tidak mengenakan apa-apa."

[Black] "...... Itu akan merepotkan."

[Liene] "Itu penampilan yang hanya boleh dilihat olehku."

[Black] "Ucapan seperti itu yang merepotkan."

Black menghapus senyumnya dan menggigit cuping telinga Liene dengan lembut. Sentuhan yang sedikit perih kini menjadi sensasi yang sulit bagi Liene juga.


A Barbaric Proposal Ch 126: Ancaman yang Tak Menakutkan. Liene mengancam Blini, tetapi ancamannya terdengar "tidak menakutkan" di telinga Blini, kecuali ancaman Black akan melihatnya tanpa daya. Cincin dikembalikan. Setelah mengikat Blini, rombongan Black tiba di Blue Warren City. Baca terjemahan novel korea, ligh novel dan web novel.

[Liene] "Kau..., jangan terlalu genit hanya karena aku sedikit bercanda."

Liene menarik sedikit rambut Black dan melepaskan bibirnya.

[Liene] "Bercandalah dengan melihat situasi."

Candaan di mana satu orang berusaha mencium dan yang lain menghindar sambil tertawa terbahak-bahak berlanjut untuk beberapa saat.

Mereka berdua memiliki pikiran yang sama: berharap segera kembali ke rumah.

Kereta kuda yang sudah dilepas benderanya untuk menyembunyikan identitas kepemilikan kerajaan, tiba di perbatasan sebelum matahari terbenam.

 Setelah melewati perbatasan, mereka akan tiba di Blue Warren.

[Fermos] "Hmm?"

Seekor elang komunikasi datang.

Sejak beberapa waktu lalu, kontak dengan informan terputus. Karena pembicaraan tentang perang dan situasi yang memburuk, informan yang cerdik memilih untuk mundur. Itu sudah diperkirakan, tetapi ketidaknyamanan seperti mata ditutup tidak bisa dihindari.

Terlebih lagi, jika pesan dari Black hanya berbunyi, "Penundaan untuk  bergabung. Tunggu," rasa frustrasinya berlipat ganda. Benar-benar aneh.

Fermos menyerahkan elang itu kepada orang di sebelahnya dan mengamati penjaga perbatasan selatan Sharka yang terlihat di bawah. Anehnya, tidak ada penambahan personel yang signifikan.

Dengan jumlah segitu, semuanya akan selesai dalam dua jam. Mereka bisa menembus perbatasan dan memasuki Kerajaan Sharka dalam dua jam.

[Fermos] "Apakah bajingan-bajingan itu tidak punya nyali, atau mereka bodoh? Kenapa mereka hanya diam saja?"

Sebagian besar Tiwakan berpendapat sama. Mereka memang terlihat rajin berjaga sejak kemarin, tetapi personel mereka terlalu sedikit.

[Tiwakan] "Mungkinkah ini jebakan? Mereka ingin kita turun duluan?"

[Fermos] "Bukankah kita sudah memeriksa semuanya? Harusnya ada sesuatu yang terlihat."

[Tiwakan] "Kalau jebakan mereka disiapkan dengan sangat baik..."

[Fermos] "Ada orang yang lebih pintar dariku di pasukan Sharka? Apa kau benar-benar berpikir begitu? Hah?"

Tiwakan itu menggaruk dagunya.

[Tiwakan] "Tidak, itu mungkin saja, kan. ...... Atau, ya, mereka memang bodoh."

[Fermos] "Karena mereka berjaga, berarti mereka tahu kita ada di sini."

Mereka harus bersikap tenang. Entah ada jebakan, atau ada masalah dengan pasukan Tiwakan yang akan bergabung.

[Fermos] "Apa ada masalah besar?"

Fermos mendengar bahwa Black yang ada di Kerajaan Sharka sudah membuat kekacauan di istana utama. Sayangnya, tidak ada kabar Raja meninggal atau tertangkap, tetapi juga tidak ada kabar Tiwakan terluka. Secara akal sehat, seluruh Kerajaan Sharka seharusnya sibuk mempersiapkan perang.

[Fermos] "...... Aku bisa gila, sungguh. Tidak bisa begini. Siapkan elang. Aku harus bertanya pada Tuanku."

[Tiwakan] "Mengirim elang ke Sharka? Bukankah berbahaya bagi kita untuk mengirimnya?"

[Fermos] "Mau bagaimana lagi. Lagipula, berapa banyak orang di Sharka yang bisa menangkap elang kita?"

[Tiwakan] "Ah, meskipun itu benar."

[Fermos] "Diam. Kirim saja. Jika dikejar, elang itu akan kembali dengan sendirinya."

[Tiwakan] "Jika Tuanku marah, saya tidak tahu-menahu."

Wuiik!

Sesaat kemudian, elang terbang dari barisan Tiwakan. Elang itu terbang tinggi ke langit dalam sekejap mata dan menjadi titik hitam.

[Liene] "Ini di mana?"

Liene bertanya lagi. Saat mereka melewati tembok kota Blue Warren, waktu sudah larut malam. Semua orang kelelahan, jadi disepakati bahwa mereka akan tidur semalam, lalu pindah ke Nauk.

Kereta kuda melaju di jalanan lebar dan tiba di sebuah mansion dekat area ramai. Mansion yang menghadap alun-alun utama Blue Warren memiliki pagar merah tinggi yang mencolok. Awalnya, Liene mengira pagar itu hanyalah dinding karena bagian dalam mansion sama sekali tidak terlihat.

Setelah melewati gerbang utama, ketenangan yang sama sekali berbeda dari hiruk pikuk kota terhampar. Air mancur besar mengucurkan air di taman yang luas, dan tanaman-tanaman yang indah—yang belum pernah dilihat di Nauk—memancarkan aroma asing.

[Black] "Ini tempat kami menginap saat datang ke Blue Warren."

Black menjawab sambil menempatkan tangan Liene di lengannya, melangkah masuk ke koridor yang dipenuhi tiang putih.

[Liene] "Jadi, ini rumahmu?"

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page