A Barbaric Proposal Chapter 125
- Crystal Zee

- 27 Okt 2025
- 7 menit membaca
Diperbarui: 30 Okt 2025
Tidak Sinkron
Kwaang!
[Raja] "Apa yang kalian lakukan sampai tak bisa menangkap mereka!"
Raja kehilangan kendali. Amarahnya memuncak hingga akal sehat tak punya celah untuk menyusup.
Raja sudah dipermalukan dua kali berturut-turut. Tiwakan memasuki istana seolah tidak ada gerbang dan pergi setelah membuat kekacauan sesuka hati.
Mayat Garda Kerajaan menumpuk di halaman belakang, tetapi tidak ada satu pun mayat musuh.
Terlebih lagi, pinggang Raja terluka. Saat jatuh di Istana Terpisah tadi, seseorang berani menginjaknya. Sudah jelas pasti ulah Garda Kerajaan, bahkan ada bekas tumit sepatu bot yang jelas di wajahnya.
Raja yang mengamuk juga melampiaskan amarahnya kepada Garda Kerajaan.
[Garda] "Kami telah memblokir semua jalan menuju perbatasan, bahkan jalur yang tidak biasa dilalui. Kami akan segera menemukan jejak mereka. Jangan terlalu murka, Yang Mulia."
[Raja] "Apa katamu? Kau tidak tahu siapa yang membuatku marah sampai kau berbicara seperti itu!"
Kwaang! Kwaang!
Raja mengentakkan kaki seperti orang gila. Lalu ia menggertakkan gigi karena pinggangnya terasa sakit.
[Garda] "Dan... personel kami terlalu sedikit, Yang Mulia. Meskipun kami sudah berusaha maksimal, Garda Kerajaan saja tidak cukup untuk memblokir seluruh perbatasan. Kami butuh pasukan militer."
[Raja] "Dasar tidak berguna!"
Raja, yang tidak bisa mengentakkan kaki karena sakit pinggang, memukul sandaran lengan takhta. Alhasil, telapak tangannya juga menjadi sakit.
[Garda] "Kami butuh pasukan militer, Yang Mulia."
Ksatria Garda Kerajaan berulang kali menundukkan kepala.
[Garda] "Mohon segera kumpulkan pasukan secepatnya."
[Raja] "Diam! Keluar!"
Raja berteriak marah dan berdiri dari tempatnya.
Memang benar bahwa pasukan militer diperlukan karena musuh dikabarkan berkumpul di perbatasan selatan. Namun, reaksi para bangsawan juga hangat-hangat kuku. Mau tak mau, Raja memanggil kedelapan keluarga bangsawan yang memiliki jumlah tentara pribadi yang cukup banyak ke istana. Namun, sayangnya, Ratu Dileras bertindak lebih cepat.
Ratu Dileras, sesuai janjinya kepada Putri Liene, mengirim surat satu per satu kepada keluarga bangsawan yang memiliki hubungan baik dengannya.
[Ajudan Ratu] "Keluarga Lill dan keluarga Hen memutuskan untuk mengirim ksatria ke perbatasan selatan."
Ratu Dileras, dengan wajah sangat lelah, menyambut ajudan yang berasal dari keluarganya sendiri. Semua orang begadang dari tadi malam karena Raja yang menjadikan Istana Terpisah sebagai tempat pengungsian dan terus-menerus bersikap histeris.
Melihat tingkah Raja, sisa kasih sayang yang mungkin masih ada pun hilang seutuhnya. Ratu khawatir tidak ada setetes air mata pun yang akan menetes, bahkan jika Raja dipenggal di medan perang saat ini juga.
[Ratu Dileras] "Begitu? Berapa banyak?"
[Ajudan Ratu] "Jumlahnya tidak banyak. Masing-masing keluarga menyumbang sekitar dua puluh orang."
[Ratu Dileras] "Apakah Raja menerima jumlah itu?"
[Ajudan Ratu] "Tentu saja Raja marah besar. Meskipun mereka ksatria dan kualitasnya berbeda dari infanteri, jumlahnya terlalu sedikit untuk memuaskan Raja. Para keluarga yang menyumbang ksatria justru hanya menimbulkan kemarahan Raja."
[Ratu Dileras] "Memang dia orang seperti itu. Bagaimana dengan keluarga yang lain? Kudengar ada delapan yang dipanggil."
[Ajudan Ratu] "Sepertinya mereka bersembunyi di balik berbagai alasan. Banyak keluarga yang mengatakan akan mengirim pasukan ketika perang sudah benar-benar dimulai. Karena perbatasan selatan belum diserang atau alasan lain."
[Ratu Dileras] "Mereka pasti sedang mengamati situasi, karena para Pangeran belum mengambil tindakan."
[Ajudan Ratu] "Benar. Pangeran Kelima tidak akan pernah membela Raja lebih dulu, mengingat masalah pembebasan putranya. Pangeran-pangeran lain tampaknya khawatir jika tergesa-gesa menyerahkan tentara pribadi, hubungan kekuasaan akan berubah."
[Ratu Dileras] "Tepat sekali. Memang benar, siapa yang maju duluan, dialah yang mati duluan."
Ratu Dileras puas dengan apa yang telah ia lakukan. Ia memastikan bahwa pengaruh keluarga Ren masih hidup dan cukup kuat untuk mengimbangi Raja. Raja akan membayar mahal atas perbuatannya yang menutup mata terhadap kematian putra Ratu dan mengasingkan Ratu ke Istana Terpisah.
[Ajudan Ratu] "Tapi Yang Mulia Ratu, apa yang akan terjadi jika perbatasan dibuka dalam situasi seperti ini?"
Bukan berarti Ratu Dileras tidak memikirkan kemungkinan pengkhianatan. Putri Liene mungkin saja membatasi upaya Ratu mengumpulkan pasukan dengan kata-kata manis tentang menyelesaikan masalah bersama, lalu memaksa perbatasan dibuka.
[Ratu Dileras] "Pertama-tama, Raja harus bertanggung jawab. Meskipun jumlah Garda Kerajaan berkurang karena kejadian kemarin, bukankah Garda Kerajaan masih merupakan pasukan terbesar di Sharka."
Tapi itu pun tidak masalah. Raja yang memulai perang, jadi Raja pula yang harus menanggung akibatnya. Seperti yang Ratu katakan, Raja harus membayar mahal atas apa yang ia lakukan pada Ratu dan putranya.
[Ratu Dileras] "Kerja bagus. Cari tahu juga apa yang dipikirkan oleh para keluarga yang belum dipanggil Raja."
[Ajudan Ratu] "Baik, Yang Mulia Ratu."
Berkat usaha Ratu, upaya Raja mengumpulkan pasukan terus terhambat.
[Blini] "Di sana, katamu...?"
Blini mengerutkan kening melihat kastil yang terletak di pintu masuk ngarai. Kastil yang begitu biasa-biasa saja hingga kata 'kastil' terasa tak pantas. Katanya kastil itu sering digunakan untuk berburu, tapi tidak ada tanda-tanda yang menunjukkannya. Lumut dan rumput tumbuh di tembok kastil, begitu juga dengan satu-satunya menara.
[Blini] "Ternyata dia punya selera yang bersahaja."
Blini menutup jendela kereta kuda, seolah tak ada lagi yang perlu dilihat.
Tak!
Ia sengaja menggerakkan sepatu yang dilepas di ujung kakinya. Ia merasa tidak nyaman.
[Blini] "...... Benar."
Ia setuju dengan gagasan untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu. Namun, ia tidak bisa mengerti pilihan Raja yang memilih tempat terpencil.
[Blini] "Ini bukan pengungsian, tapi pengasingan, kurasa."
Blini bergumam dengan kesal. Para pelayan, takut tertular masalah, buru-buru menundukkan kepala. Blini secara kebiasaan hendak mengusap cincin di jarinya, tetapi menyadari cincin sudah tidak ada dan mengernyitkan alis.
Karena Raja akan marah jika melihat cincin itu, ia tidak bisa memakainya lagi. Tenggorokannya sampai berdarah karena memuntahkannya. Setelah bersusah payah, kini ia tidak bisa memakainya karena harus menjaga perasaan orang lain.
[Blini] "...... Menyebalkan."
Jika dipikir-pikir, mulai dari pembunuhan suaminya hingga semua yang ia lakukan sampai sekarang adalah demi menarik perhatian Black. Apa pun yang ia lakukan, hasilnya selalu di luar dugaan. Sekarang ia bahkan harus memilih pakaian setiap pagi demi menyenangkan Raja yang sudah tua.
[Blini] "Haruskah aku pergi ke Alito?"
Memikirkan untuk tinggal di kastil kecil dan kumuh bagaikan mayat membuatnya pusing. Ia ingin kembali ke Alito, tetapi Garda Kerajaan sepertinya tidak akan mudah mendengarkan perintahnya.
Semuanya terasa tidak menyenangkan. Blini menekan kepalanya yang berdenyut dengan jari dan diam.
Ia berharap perang segera pecah, agar Raja mati, Kerajaan Sharka terkoyak-koyak, dan Putri Nauk yang dikabarkan hampir mati pun segera meninggal.
Kiiiik, tak.
Sambil berpikir bahwa semua yang ada di dunia seharusnya mati dan lenyap, kereta kuda pun memasuki kastil.
[Pelayan] "Kita sudah tiba..."
Kata-kata yang seharusnya dilanjutkan dengan perintah untuk turun terhenti di tengah jalan. Tidak ada isyarat untuk membuka pintu kereta kuda dengan hormat.
[Blini] "......?"
Blini memberi isyarat dengan dagunya kepada pelayan untuk membuka pintu. Tapi sebelum pelayan sempat berdiri, pintunya terbuka sendiri.
Kwaang!
Orang yang membuka pintu bukanlah Garda Kerajaan. Dia mengenakan jubah peziarah yang kasar.
[Pria] "Selamat datang di Kastil Gereum. Kami sudah menunggu lama. Bukankah Anda terlalu lambat?"
[Blini] "......? Kau..."
Blini ingat suara serak dan kasar yang bercampur dengan berbagai aksen dari seluruh benua. Pria itu menyingkapkan tudung besar yang menutupi kepalanya.
Mata yang dipenuhi perpaduan rasa kesal, penghinaan, dan kenakalan, melemparkan senyuman ke arahnya.
[Randall] "Rupanya Anda mengingat saya, sungguh sebuah kehormatan. ...Yang Mulia Putri Gila."
Wajah Blini seketika mengeras. Randall. Nama pria itu adalah Randall.
Sepuluh Garda Kerajaan tewas dalam sekejap mata.
Blini menatap mayat-mayat yang berjatuhan seperti lelucon, tubuhnya membeku. Ia tidak bisa memercayai apa yang terjadi di depan matanya. Bahwa hal ini menimpa dirinya, bukan orang lain.
Di halaman depan kastil kecil yang sejak awal tidak ia sukai, mayat Garda Kerajaan menumpuk. Di belakang mayat-mayat, berdiri manusia-manusia yang mengenakan jubah peziarah yang tampak buruk, mereka mengelilingi Blini dan para pelayannya.
Salah satu di antara mereka adalah pria yang mengusik mimpinya sampai tadi malam. Pria yang mencari Blini dengan penampilan seperti itu.
Meskipun ia sudah membayangkan saat-saat bertemu Black ribuan kali, tidak pernah dengan cara seperti ini. Tidak dalam posisi ia harus terduduk lemas di tanah, dikelilingi mayat, seolah ia adalah seorang penjahat. Semuanya tidak ia sukai.
[Liene] "Kita bertemu lagi. ...Blini Vasheyd."
[Blini] "......"
Wanita yang menyapanya adalah wanita yang paling ia benci di antara semua orang. Rambut pirang gelap menarik perhatian Blini. Rambutnya kusut dan kotor. Liene sepertinya bahkan belum mencuci muka. Jubah peziarah yang dikenakannya berbau apek. Wanita yang menyapanya sekarang pasti Putri Nauk.
Blini menatap Liene seperti melihat makhluk hidup yang baru pertama kali dilihatnya.
Aneh, Putri Nauk berdiri di depannya dengan pakaian yang sama persis dengan pria itu.
[Blini] "...... Kau seharusnya sudah mati."
Blini menggerakkan bibirnya.
[Blini] "Ternyata bohong?"
Sebelum Liene sempat menjawab, Black merangkul bahu Liene dari belakang, menjauhkannya.
[Black] "Jangan mendekat. Kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan."
[Blini] "......"
Bibir Blini berkerut. Setelah beberapa saat, ia menyadari ada tawa aneh, kering, dan terdistorsi keluar dari bibirnya.
[Blini] "Kau bilang dia sudah mati. Dia sekarat."
Tawa bercampur dalam ucapannya.
[Blini] "Jika dia sudah mati, bukankah kau akan mendapatkan kembali masa lalumu?"
Ketika Blini mendengar bahwa pria yang menolaknya telah melamar Putri Nauk, ada satu hal yang ia percayai: Black harus mendapatkan kembali masa lalunya, dan orang yang merebut masa lalu itu adalah Putri Nauk.
Lamaran itu hanyalah alat, seharusnya begitu. Black tidak pernah jatuh hati pada siapa pun. Dia pria yang tidak tahu bagaimana melakukannya. Sama seperti dia tidak mencintai Blini, dia pun sama terhadap orang lain. Tidak ada alasan sedikit pun bagi Putri Nauk untuk menjadi istimewa. Dia seharusnya tidak istimewa.
[Blini] "Kau menikahinya untuk membunuhnya, kan? Kalau tidak, kau tidak akan pernah menikah."
[Black] "Cincin itu."
Black tidak mendengarkan apa yang dikatakannya. Seolah tidak ada alasan untuk mendengarkan.
[Black] "Aku tahu kau membawanya. Kembalikan, dan aku tidak akan membunuhmu."
Mata Blini tampak berkedut saat melihat Black.
[Blini] "Bunuh dia. Maka aku akan mengembalikannya."
[Black] "...... Kau tidak waras. Kau sedang..."
[Liene] "Tunggu sebentar."
Putri Nauk menarik lengan Black. Tubuh Black dengan mudahnya ditarik, padahal tubuhnya-lah yang paling kokoh dan paling berat yang Blini ketahui.
[Liene] "Kau sudah berjanji. Untuk menyerahkan urusan ini padaku."
Black tersenyum ke arah wajah Putri Nauk yang mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
[Black] "Aku sedang menyerahkannya."
[Liene] "Tidak! Kau terus berbicara dengannya. Aku bilang aku tidak suka."
Mengapa Black tersenyum ketika Liene mengatakan hal seperti itu?
[Black] "Aku tidak bisa membiarkan Putri mendengar omong kosong darinya"
[Liene] "Tetap saja, jangan bicara. Aku merasa tidak nyaman bahkan hanya dengan berada di dekatnya. Kau tahu, kan, kalau wajahku belum dicuci?"
[Black] "Tahu. Apa hubungannya?"
[Liene] "Pakaianku juga berantakan, dan bahkan pakaian ini berbau."
[Black] "Pakaianku juga berbau."
[Liene] "Tidak, maksudku, ini tidak adil. Dia sangat... rapi, berbeda denganku."
Black dengan lembut mengusap rambut pirang Liene yang kotor.
[Black] "Benar. Tidak adil. Karena Putri adalah orang yang tiba-tiba menjadi sangat menggemaskan ketika mengenakan jubah peziarah yang bau."
[Liene] "Tidak! Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu!"
Putri Nauk menoleh ke arah Blini dan menutup mulut Black dengan tangannya. Meskipun Liene jauh lebih pendek, mulut Black tertutup dengan baik.

[Liene] "Kita harus mendapatkan cincin itu kembali... kau diam saja."
[Black] "......"
Black diam dan mengangguk.
Di mata Blini, semuanya tampak seperti pertunjukan boneka yang sama sekali tidak sinkron.
Tidak masuk akal. Semuanya.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar