A Barbaric Proposal Chapter 124
- Crystal Zee

- 26 Okt 2025
- 7 menit membaca
Diperbarui: 30 Okt 2025
Alasan Sepele
[Liene] "Ah......"
Rasanya memang agak sakit. Kakinya lecet parah karena memakai sepatu yang tidak pas.
[Liene] "Aku tidak sadar terasa sakit. Lagipula ini bukan apa-apa. Semua orang terluka karena pedang, sedangkan aku, hanya tumitku yang lecet."
[Black] "Jangan membiasakan diri dengan luka ringan. Itu tak pantas kau alami, Putri."
Black melepaskan sepatu yang satunya lagi.
[Liene] "Apa maksudmu 'tak pantas'? Dan kau juga terluka. Di sini."
Liene menyentuh kaki Black, di mana darah samar-samar terlihat. Darah menodai celana gelapnya. Lukanya berada di atas lutut, sedikit ke arah paha bagian dalam. Seandainya lukanya sedikit lebih dalam atau posisinya berbeda, itu bisa menjadi cedera serius.
[Liene] "Pasti bukan hanya di sini."
Ada sayatan dan memar di lengan dan bahu Black di mana-mana.
[Black] "Jangan sembarangan menyentuh."
Black memegang tangan Liene dan menjauhkannya dari lukanya.
[Liene] "Ah, maaf. Apa sakit sekali?"
[Black] "Tak sakit, jadi tak boleh."
[Liene] "Apa maksud ucapanmu?"
[Black] "Aku merasa sudah sangat lama tak melihat Putri."
Ia menyisir rambut Liene yang basah oleh keringat dari dahinya.
[Black] "Aku jadi ingin memastikan. Sampai lupa tempat kita berada."
[Liene] "Itu..."
Tidak perlu menanyakan maknanya. Liene bisa tahu hanya dari ekspresi Black.
[Black] "Air mungkin akan terasa perih saat menyentuh lukamu. Jika sakit, katakan padaku."
Black mengalihkan pembicaraan dan dengan hati-hati menuangkan air ke kaki Liene. Airnya dingin, dan tangan yang memegang kakinya terasa panas. Tiba-tiba tubuhnya menjadi tegang karena sensasi yang kontradiktif itu.
Meskipun mereka sudah menjadi suami istri dan tidur di ranjang yang sama, Black selalu membuatnya tegang secara mendadak. Ketegangan yang terasa tajam di lidah seperti ini yang membuat Black begitu memikat.
[Black] "Sudah selesai."
Karena tidak ada handuk, Black membungkus kaki Liene dengan pakaiannya sendiri.
[Black] "Aku ingin melarangmu mandi... Maukah kau bersabar sedikit lagi?"
Liene menoleh ke belakang bahu Black. Tidak ada seorang pun yang tidak terluka. Mereka semua sedang merawat luka yang sudah biasa mereka dapatkan, dan berganti pakaian. Semua orang, kecuali dirinya, tampak siap untuk segera bergerak.
[Liene] "Aku bisa bersabar, tapi bagaimana denganmu?"
Liene dengan sengaja mengusap rambutnya yang basah oleh keringat ke bahu Black, seolah sedang bercanda.
[Liene] "Apa kau akan tahan jika aku bertingkah seperti ini?"
[Black] "Jangan lakukan itu. Kau terlalu menggemaskan. Aku tak mau terlihat canggung di depan anak buahku."
[Liene] "Ah, sungguh... Justru kau yang jangan mengatakan hal-hal seperti itu kapan saja. Kalau begitu, aku juga tidak bisa menahan diri."
Mendengarnya, Black mendekatkan wajah dan bertanya:
[Black] "Apa yang tidak bisa kau tahan?"
[Liene] "Mengapa kau bertanya jika sudah tahu?"
[Black] "Aku tidak tahu."
Black mendekatkan hidung mereka dan menggesek-gesekkan ujung hidungnya.
[Black] "Aku tidak tahu, jadi beritahu aku. Aku akan mempertimbangkannya."
[Liene] "Wah... Kau menyebalkan sekali sekarang."
Liene tertawa dan mendorong bahu Black. Randall, yang memegang pakaian tebal di tangan, mendekat sambil mengamati keadaan.
[Randall] "Tuanku. Kami sudah selesai bersiap. Matahari akan segera terbit, jadi sebaiknya kita bergerak sekarang. Jika kita ingin ke perbatasan selatan, kita harus melewati gunung. Akan merepotkan jika matahari terbit sebelum kita melewati punggung bukit."
[Black] "Ah, benar. Putri, bisakah kau memakai sepatu?"
Liene bisa saja memakai sepatu kapan pun. Tapi ia ingin Black mempertimbangkan kembali rencana pergi ke perbatasan.
[Liene] "Soal itu."
[Black] "Ada yang ingin kau sampaikan?"
Black memberi isyarat kepada Randall untuk mundur. Namun, Liene menahannya.
[Liene] "Tidak, aku ingin Sir Randall ikut bicara. Kau sudah dengar apa yang dikatakan Ratu Dileras, kan?"
[Randall] "Ah, maksud Anda itu? Ya. Saya juga ada di sana. Tapi kenapa...?"
[Liene] "Ratu Dileras bilang, jika Putri Blini tidak ada di istana utama, dia pasti ada di kastil dekat Ngarai Gereum. Raja sepertinya mengirimnya ke sana. Mungkinkah Raja sudah menyelamatkan Putri Blini terlebih dahulu, sebagai antisipasi kegagalan sebelum mengirim Garda Kerajaan kepada kita?"
[Randall] "Ratu Dileras bilang itu hanya tebakan. Bisa saja Putri Blini bersembunyi di suatu tempat di istana utama. Dan seandainya benar sekalipun... Hmm..."
Randall, yang hendak mengatakan sesuatu, menggaruk dagunya dengan ekspresi serius.
[Randall] "...... Putri sepertinya mengusulkan kita pergi ke Ngarai Gereum, benarkah?"
[Liene] "Ya. Bagaimana menurutmu?"
Alis Black menyempit.
[Black] "Tidak mungkin Ratu Dileras mengatakannya secara cuma-cuma... Meskipun hubungannya dengan Raja tidak baik, ia tidak akan bersekutu dengan negara musuh."
[Liene] "Tidak. Ada alasannya. Aku bilang Nauk hanya menginginkan satu hal, yaitu Putri Blini. Aku bilang kita tidak akan meminta lebih jika Putri Blini bisa dihukum di Nauk. Kita tidak perlu memperbesar perang."
[Black] "...... Putri."
Suara yang memanggil Liene menjadi lebih berat.
[Black] "Waktu untuk mencegahnya sudah lewat. Sejak Raja menolak menyerahkan Putri Blini, perang sudah dimulai."
Bukan berarti perkataan Black salah. Raja Sharka mengirim Garda Kerajaan alih-alih menepati janji. Berarti mereka siapa menerima konsekuensi yang tidak dapat ditarik kembali antara kedua negara. Itulah sebabnya Liene harus menemui Ratu Dileras.
[Liene] "Mungkin saja. Tapi Ratu Dileras berjanji. Dia bilang akan berusaha mencegah Raja mengumpulkan pasukan."
Setelah sampai pada pembicaraan itu, Black sudah menduga apa yang dilakukan Liene.
[Black] "...... Lanjutkan."
[Liene] "Kau sendiri yang bilang. Bahkan jika hanya keluarga Ratu yang menentang wajib militer, Raja akan kesulitan mengumpulkan pasukan. Ratu Dileras ingin Putri Blini membayar dosanya. Dia bilang akan memberi tahu semua keluarga bangsawan yang dapat dipengaruhinya, alasan mengapa Raja ingin berperang."
[Black] "Waktu untuk mengumpulkan pasukan akan tertunda."
[Liene] "Ya. Seperti yang kau katakan."
Randall menggaruk pipinya dengan tangan yang tadi mengusap dagu.
[Randall] "Kalau begitu, bukankah kita yang lebih diuntungkan? Jika pasukan tidak terkumpul akan jauh lebih mudah untuk dihadapi. Kita bisa membuat mereka menyerahkan diri dalam dua bulan."
[Liene] "Kalau begitu, banyak orang akan mati selama dua bulan itu."
Liene menambahkan dengan tenang.
[Liene] "Aku tidak mengatakan bahwa kita harus menghindari perang sepenuhnya. Aku tahu meskipun kita mendapatkan cincin dan memutuskan untuk mengakhirinya, Sharka mungkin tidak mau. Pada saat itu, perang pasti akan berlanjut. Tapi kita bisa mencoba menghindarinya, kan?"
[Black] "Raja Sharka tidak akan berpikir sepertimu."
[Liene] "Aku tahu. Tapi Raja ingin berperang karena tidak mau menyerahkan Putri Blini kepada Nauk, kan? Sedangkan kita hanya ingin cincin yang kembali, bukan Putri Blini."
[Black] "Apa maksudmu, kita menyerahkan Putri Blini? Dia mengirim pembunuh bayaran padamu. Selama dia hidup, dia orang yang bisa melakukan hal yang sama kapan saja."
[Liene] "Hmm... Putri Blini juga harus menerima hukuman yang setimpal, tidak harus dilakukan di Nauk. Tapi menurutku, Putri Blini tidak akan bisa hidup aman di Kerajaan Sharka di masa depan. Ratu Dileras masih punya saksi, Klinefelter, kan?"
[Black] "...... Hmm."
Black menghela napas singkat. Ekspresinya tidak menunjukkan persetujuan.
[Liene] "Dan aku mendapatkan surat perjanjian dari Ratu Dileras untuk menyerahkan hukuman Putri Blini kepada Nauk. Meskipun yang menandatangani adalah Ratu, bukan Raja, surat itu tetap memiliki kekuatan. Ratu secara tegas berada di atas Putri Blini dalam hierarki kerajaan."
[Randall] "Meskipun mereka terang-terangan mengirim pembunuh bayaran, saya rasa selembar surat perjanjian tidak terlalu berarti..."
[Liene] "Ada atau tidaknya surat perjanjian akan membuat perbedaan. Surat itu juga menjadi dasar bagi para bangsawan Sharka untuk menentang perang."
Black, yang tadinya mengerutkan kening, tiba-tiba bertanya:
[Black] "Jika kau adalah Raja Sharka, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
[Randall] "Ya? Anda bertanya padaku?"
Biasanya, Fermos yang ditanya pertanyaan seperti ini. Randall sedikit bingung, lalu menjawab sebisanya. Bagaimanapun, Black tidak akan berharap dia menggantikan peran Fermos.
[Randall] "Hmm... Pertama, dia pasti akan mencoba menangkap kita. Dia pasti marah besar. Mungkinkah dia sedang mendesak Garda Kerajaan?"
[Black] "Lalu Garda Kerajaan. Apa yang harus mereka lakukan untuk menangkap kita?"
[Randall] "Tentu saja... kecuali mereka bodoh, mereka harus memprediksi pergerakan kita. Mereka akan memikirkan ke mana kita akan pergi selanjutnya. Karena kita kalah jumlah, kita harus pergi ke perbatasan dan bergabung dengan rombongan... Hmm, mereka akan memblokir jalan menuju perbatasan selatan. Tentu saja, kita tidak menggunakan jalan itu, tapi mendaki gunung."
[Black] "Ya. Garda Kerajaan akan fokus di selatan."
[Randall] "Benar."
Liene berkata dengan wajah berseri-seri.
[Liene] "Kalau begitu, jalan menuju Ngarai Gereum tidak akan ada halangan. Mereka tidak akan tahu kita pergi ke sana. Tidak ada yang tahu Ratu Dileras memberitahu kita tentang Ngarai Gereum."
Black mengangguk.
[Black] "Jika kita meningkatkan kecepatan, kita bisa sampai sebelum tengah hari. Setelah mendapatkan cincin dan menyandera Putri Blini, kita bisa kembali ke Nauk melalui Blue Warren City dengan melewati perbatasan utara."
[Liene] "Kalau begitu, kita juga tidak perlu berhadapan dengan pasukan Sharka."
Randall bergumam dengan wajah enggan karena rencana yang tak terduga.
[Randall] "Ugh... Kalau begitu, ini seperti memukul bagian belakang kepala mereka sambil bermain. Rasanya akan agak membosankan. Hmm...? Tapi tidak terlalu buruk juga..."
[Black] "Sebagai gantinya, kita harus cepat. Kita harus melewati perbatasan utara sebelum matahari terbenam. Blue Warren tidak membuka perbatasan di malam hari."
[Randall] "Daripada dikejar, kita akan kehabisan napas karena buru-buru, ya."
[Black] "Suruh semua orang bersiap."
[Randall] "Baik, Tuanku."
Randall berbalik dan berlari menuju rombongan.
[Liene] "Kalau begitu... berarti sudah diputuskan? Untuk pergi ke Gereum?"
[Black] "Ya."
Jawaban yang singkat dan lugas justru membuat Liene tercengang.
[Liene] "Aku kira kau akan lebih... um, maksudku, aku kira kau akan lebih banyak berpikir..."
[Black] "Tidak pernah ada saat aku tidak menuruti keinginan Putri, kan?"
[Liene] "Ah, benar, tapi... ini bukan masalah sepele dan mungkin saja aku salah."
[Black] "Sama saja bagiku, apakah itu masalah sepele atau bukan. Dan pikiran Putri tidak salah."
[Liene] "Benarkah? Kau juga berpikir begitu?"
[Black] "Ya."
Black menundukkan kepala sejenak dan menyatukan dahinya dengan dahi Liene.

[Black] "Bagiku, perang selalu terjadi karena alasan pribadi."
[Black] "Sekarang pun begitu. Aku sangat marah karena Putri Blini berusaha menyentuhmu."
[Liene] "Aku juga marah..."
[Black] "Alasanmu ingin berperang berbeda denganku. Jadi, aku bisa menerima alasanmu untuk mencoba menghindari perang. Kau mungkin memikirkan apa yang terbaik untuk Nauk."
[Liene] "Kau benar, tapi... ada alasan pribadi juga. Jika kita berperang selama dua bulan, aku harus berpisah denganmu selama dua bulan, kan? Dan aku akan cemas setiap hari."
Dahi mereka yang bersentuhan tiba-tiba menjauh.
[Black] "Jika itu alasannya, mengapa tidak mengatakannya sejak awal."
[Liene] "Tidak. Alasanku terlalu sepele dan pribadi,"
[Black] "Tapi itu yang paling kusukai."
Black menciumnya. Ciuman yang luar biasa singkat, yang jarang terjadi, terasa begitu intens sehingga tidak akan terlupakan untuk waktu yang lama.
[Black] "...... Sisanya di Blue Warren."
Black melepaskan bibirnya. Meskipun sudah sering berciuman, entah mengapa Liene merasa malu menatapnya. Mungkin karena ciumannya terlalu panas dan tidak sesuai tempat.
[Liene] "...... Ya. Di Blue Warren."
Liene memalingkan wajah sambil mengipas-ngipas dirinya.
[Black] "Duduklah. Aku akan mengambil sepatumu."
Black mengambil sepatu dan memakaikannya. Setiap kali Liene melihat Black dengan hati-hati merawat kakinya yang lecet dan merah, jantungnya terus berdebar.
Rombongan mereka meninggalkan gunung dan mencari kuda di dekat sana. Di sana ada desa peziarah, tempat pasar selalu dibuka bahkan saat fajar karena para peziarah yang datang dari utara. Setelah mendapatkan jubah tebal yang dikenakan para peziarah dan melilitkannya ke tubuh, rombongan mereka pun menjadi barisan peziarah.
Perjalanan ke Ngarai Gereum ternyata lebih mudah dari yang mereka duga.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar