top of page

Bastian Chapter 149

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 2 Jun
  • 6 menit membaca

Waktu Minum Teh

"Silakan pilih dengan santai, Nyonya. Begitu Anda sudah menentukan pilihan, mereka akan kembali menghubungi kediaman Ardenne."

Usai menyampaikan laporan, Lovis memberi isyarat dan para pelayan yang menunggu di koridor segera melangkah mendekat. Mereka membawa tumpukan brosur yang luar biasa banyak, memamerkan beraneka rupa barang, mulai dari furnitur dan dekorasi mode terbaru, hingga perabot rumah tangga. Isinya begitu melimpah, bahkan cukup untuk mengisi seisi mansion.

Odette menatap tumpukan brosur itu dengan kebingungan yang tidak dapat disembunyikan. Penata interior baru saja pergi, dan Bastian memercayakan urusan merenovasi vila di Lausanne kepada dirinya.

"Apakah ada pesan dari Countess Trier?" tanya Odette tenang.

"Saya kurang tahu, Nyonya, itu di luar wewenang saya." Lovis berkelit, menghindari menjawab pertanyaan secara langsung.

Odette menghela napas panjang lalu membuang tatapan ke luar jendela. Dia masih dilarang menggunakan telepon dan tidak diperbolehkan mengirim surat sama sekali.

"Saya sudah menyiapkan daftar pelayan yang akan melayani Nyonya di Lausanne. Jika Nyonya berkenan memberikan persetujuan akhir, kami bisa segera memprosesnya."

"Bisa beri aku waktu untuk berpikir?" ujar Odette. Lovis meminta izin dengan anggukan patuh.

Begitu sang kepala pelayan melangkah keluar, kamar tidur kembali tenggelam dalam kesunyian. Margrethe, dengan sisa air yang menetes dari moncongnya, berlari berputar-putar di sekeliling Odette, mengajak bermain. Namun, perhatiannya telanjur terpaku pada satu titik kosong.

Bastian sama sekali tidak mau mengalah dengan keras kepala. Jika tidak berhati-hati, dirinya akan mendapati dirinya terkurung di dalam vila di Lausanne.

Odette teramat mendamba untuk berbicara dengan Countess Trier, tetapi di tengah pengasingannya saat ini, mustahil baginya untuk menghubungi siapa pun.

"Nyonya, ini Lovis. Maaf, saya lupa menyerahkan hal yang paling penting."

Lovis kembali masuk dan menyerahkan sebuah katalog penuh warna. Isinya dipenuhi berbagai tema dan ide untuk mendekorasi kamar bayi. Saat Odette membalik halamannya tanpa minat, nyaris tidak memedulikan desain cerah maupun dekorasi yang mencolok, matanya mendadak tertuju pada gambar sebuah ruangan terang benderang dengan desain bak negeri dongeng.

"Tuan berpesan agar perhatian khusus diberikan saat merancang kamar bayi ini," ujar Lovis lembut.

Sempat tertegun sejenak, Odette membalik halaman berikutnya dengan bimbang. Sorot matanya kian meredup saat menyadari bahwa selama ini dia tidak pernah sekali pun memikirkan untuk menghias kamar bayi.

"Tuan, meski beliau kesulitan mengungkapkannya, saya percaya beliau menyimpan kasih sayang dan perhatian yang mendalam bagi keluarganya. Saya tahu saya tidak berhak ikut campur, tetapi saya sangat berharap Nyonya sudi mempertimbangkan ketulusan Tuan." Lovis memohon sembari membungkuk dalam-dalam.

Kata keluargaĀ seketika menggores ulu hatinya. Odette membisikkan kata itu berulang kali dalam benaknya—sebuah kata yang terasa begitu asing baginya. Kerongkongannya terasa tercekat, menyisakan ganjalan yang menyesakkan dada.

Cahaya mentari berkilau di atas permukaan sampul saat dia menutup katalog yang dipenuhi gambar-gambar perlengkapan bayi yang menggemaskan.

Molly bergegas menyembunyikan kantong berisi pakaian usang di balik gudang taman. Dia tahu di musim dingin seperti ini, tidak akan ada orang yang melangkah ke area itu, sehingga penyamarannya kecil kemungkinan akan terbongkar.

Dia merapikan seragam pelayan dan membenahi rambutnya yang sempat berantakan akibat tertekan topi bonnet. Molly merasa beruntung karena memilih tidak membuang seragam pelayannya dulu. Bordiran huruf K yang mewah pada celemek kaku tersebut merupakan detail krusial yang tidak boleh terlewatkan.

Dengan tatapan sedingin es, Molly mendongak menatap mansion besar di hadapannya. Wanita itu telah menghancurkan segalanya. Molly dulu sempat didera kepuasan membara saat menyaksikan Odette terpuruk dalam duka yang paling kelam. Molly ingin membalas dendam tanpa perlu mengotori tangannya sendiri. Sungguh tak disangka bahwa dewi fortuna kini berpihak padanya.

Apakah Theodora benar-benar berniat membunuhnya?

Molly mengeluarkan botol berisi air teh dari dalam tasnya. Tugasnya sekarang sangat sederhana, cukup menukar teh ini dengan teh yang biasa diminum Odette, dan segalanya selesai. Dia sudah berhasil melewati gerbang utama yang merupakan rintangan terbesar; artinya rencana ini sudah berjalan setengah jalan.

Molly langsung bisa membaca situasi ketika bibinya mendatangi tabib obat; sungguh tak terduga bahwa ramuan itu dimaksudkan sebagai 'hadiah' untuk Odette.

Rasanya menggelikan melihat Theodora Klauswitz melampiaskan kemarahan pada musuhnya, namun itu bukan urusannya. Molly menginginkan pembalasan dendamnya sendiri, dan karena itulah dia rela melakukan pekerjaan ini.

Bukan merupakan strategi buruk jika tujuan mereka adalah menghancurkan Odette. Bastian sudah dibutakan oleh seorang putri pengemis hingga begitu terobsesi pada wanita itu dan mencoba berlagak menjadi pahlawan; padahal pada akhirnya, pria itu tak lebih dari sosok picik yang membosankan.

Molly tidak punya niat untuk menjadi babu Theodora seumur hidupnya seperti sang bibi. Dia hanya menginginkan satu hal: imbalan besar yang dijanjikan jika misinya berhasil.

Sudah jelas siapa yang akan memenangkan pertempuran ini, dan Molly enggan berada di dekat kedua belah pihak saat konfrontasi besar pecah. Mereka akan saling menghancurkan, dan Molly harus mengantongi uangnya sebelum Theodora Klauswitz jatuh bangkrut.

Sembari memeriksa jam tangannya, dia melangkah lebar menuju mansion melintasi jalur yang tertutup salju.

Odette memiliki rutinitas yang teratur setiap hari. Wanita itu bangun tepat waktu untuk mengantar keberangkatan Bastian bekerja, sarapan, lalu mengurus urusan rumah tangga mansion.

Dan setelah itu, tibalah saatnya minum teh.

"Maksudku pelayan yang di sana, yang sedang membawa nampan teh, bukankah dia terlihat mirip Molly?" ujar seorang pelayan sembari mengamati seorang gadis yang berjalan tergesa-gesa menaiki tangga.

Dora menghentikan aktivitasnya memeriksa inventaris dapur dan melayangkan pandangan sembari menyipitkan mata. Dia menangkap bayangan seorang pelayan yang sedang menuju lantai atas. Penampilannya tampak sempurna dan rapi, persis seperti pelayan yang baru direkrut.

"Kurasa kau terlalu banyak minum semalam," tawa Dora renyah. Menjelang siang, dia memeriksa bahan makanan yang baru diantar lalu bergegas pergi untuk mewawancarai pelayan baru.

"Apa ada staf dapur baru yang wajahnya mirip Molly?"

Saat melewati ruang istirahat pelayan, Dora tidak sengaja mendengar gunjingan lain dan langsung menatap tajam ke arah kepala juru masak.

"Aku sedang membicarakan pelayan yang membawa kotak teh tadi. Kudengar perawakannya persis seperti Molly."

"Mungkin tingginya saja yang mirip, tapi tidak ada yang berwajah seperti Molly. Mustahil gadis berhidung pesek itu berani menampakkan diri di sini, kurasa Kau hanya berhalusinasi," sahut juru masak.

Teh disimpan di dalam lemari khusus di area pantri yang selalu terkunci, dan Dora-lah yang memegang kuncinya.

Dora seketika dirundung rasa cemas, dan hatinya diliputi kebimbangan. Dia memeriksa dengan teliti untaian kunci yang tergantung di ikat pinggangnya dan mendapati kunci lemari masih berada di tempatnya. Lagipula, dia tidak ingat pernah melihat pelayan yang menyerupai Molly di sekitar pantri.

Lalu, dari mana pelayan itu mendapatkan tehnya?

Dora menimbang-nimbang pertanyaan sembari menatap ke arah tangga yang dinaiki pelayan misterius tadi. Hidangan untuk Tuan dan Nyonya biasanya disiapkan di lantai tiga, jadi besar kemungkinan ke sanalah tujuan pelayan itu. Tanpa ragu sedikit pun, Dora segera berlari menaiki anak tangga.

Molly bersembunyi di dalam lemari sapu, mengintip dari celah pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Tak lama kemudian, muncul seorang pelayan yang tidak dikenali sedang menyiapkan teh. Gadis itu pasti pelayan baru yang dipekerjakan setelah dirinya dipecat.

Molly menunggu dengan sabar dalam persembunyian sampai pelayan itu keluar dari dapur kecil dengan membawa nampan berisi teh dan kue-kue segar. Begitu pelayan tersebut melangkah menyusuri koridor, Molly segera menyelinap keluar dari lemari sapu. Dia sudah berhasil menukar daun tehnya, jadi yang tersisa kini hanyalah menyelinap keluar dari mansion tanpa ketahuan.

Kembali melalui jalur kedatangannya terdengar terlalu berisiko karena peluang untuk berpapasan dengan wajah-wajah yang dia kenal di lorong samping sangat besar. Karena itu, Molly memutuskan untuk langsung menuju tangga utama. Namun, tepat ketika dia berbelok di sudut lorong, seorang pelayan melangkah tepat ke arahnya.

Gadis itu teman sekamarnya dulu. Molly buru-buru memutar tubuh dan kembali bersembunyi di balik sudut dinding. Beruntung, pelayan tersebut belum menyadari keberadaannya.

Molly bergegas melangkah kembali menyusuri koridor dan menuju ke lemari sapu tadi. Dia berniat bersembunyi di sana sampai situasi aman, namun belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, sebuah salakan anjing mendadak memecah keheningan.

Molly menunduk tepat ketika nyaris tersandung oleh anjing bodoh milik Odette. Hewan itu menengadah menatapnya dengan sebuah buah pinus menyembul di moncongnya, sembari mengibaskan ekor dengan sangat bersemangat.

Molly mencoba mengusir anjing itu, namun Margrethe justru terus membuntutinya saat dia bergegas menyusuri lorong. Mustahil baginya untuk bersembunyi di dalam lemari sapu sekarang.

Molly merebut buah pinus dari mulut si anjing lalu melemparkannya jauh ke ujung koridor. Margrethe langsung melesat mengejarnya dengan riang. Tepat ketika dia bersiap memutar tubuh untuk kabur—

"Molly?" Suara familier sang kepala pelayan mendadak memanggil namanya.

Dia mengabaikan panggilan Dora dan terus melangkah lebar menyusuri koridor dengan kepala tertunduk. Namun, anjing bodoh yang mengacaukan pelariannya justru melompat kembali ke hadapannya, lengkap dengan buah pinus di moncongnya lagi.

"Astaga, Molly."

Molly memutuskan bahwa dia tidak bisa bersembunyi lagi dan langsung melesat lari menuju pintu keluar. Gema teriakan seketika pecah menjadi kegaduhan yang riuh, dan tepat saat Molly berhasil menerobos pintu luar, lonceng darurat telah berdentang dengan nyaring dan bertalu-talu.

Ketenangan mansion seketika runtuh oleh pekikan histeris para pelayan yang memanggil-manggil Nyonya mereka dengan napas yang terengah-engah.

Molly bergegas menuruni anak tangga dengan panik hingga nyaris terjungkal dan berhasil meloloskan diri dari mansion, namun lonceng tanda bahaya telanjur bergaung pekat.

Akan sulit baginya untuk kembali mengenakan pakaian usang tadi dan berbaur dengan warga biasa, itu pun jika para penjaga masih mengizinkan orang luar keluar melewati gerbang utama.

Maka, dia memutuskan berbelok menuju arah hutan, berlari sekencang mungkin dengan seekor anjing putih yang terus menyalak galak mengejar di belakangnya.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page