top of page

Bastian Chapter 148

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 2 Jun
  • 6 menit membaca

Trill

Odette sempat berniat mendorong pria itu menjauh. Terusik dari tidur nyenyak oleh hadirnya tamu tak diundang, sementara buah hatinya masih terlelap tenang di dalam kandungan, sama sekali bukan pengalaman yang menyenangkan.

Mengapa?

Berani-beraninya kau menyentuhnya?

Odette didera gusar mendapati Bastian begitu lancang menyentuhnya tanpa izin, hingga secara impulsif dia mencengkeram tangan sang suami. Sebagai seorang ibu, dia bersumpah tidak akan membiarkan anaknya kelak belajar tunduk dalam kepasrahan. Namun, meski tekadnya membaja, dia tetap tak kuasa di bawah kungkungan tangan Bastian.

Bastian sanggup menundukkannya hanya dengan satu tangan, namun pria itu memilih memberinya pilihan—sebuah isyarat bisu bahwa dia akan mundur jika Odette menolak.

Odette menatap hampa ke dalam kegelapan kamar. Telapak tangan kokoh Bastian masih tertambat di atas perutnya. Dari balik dada bidang yang merapat, dia bisa merasakan detak jantung suaminya berkobar—yang entah bagaimana berdenyut selaras dengan irama jantungnya sendiri. Sensasi ganjil yang anehnya terasa begitu menenangkan.

Odette tahu betul harus segera berbalik dan menjauh. Dia tidak semestinya tidur di sisi pria yang telah menorehkan luka sedemikian dalam, walau dia pun sadar telah membalasnya dengan kegetiran yang tak kalah hebat. Permusuhan di antara mereka sudah melangkah terlalu jauh; bagaimana mungkin mereka bisa merajut bahagia bersama? Itu hanyalah mimpi bodoh yang harus segera dia tepis.

Namun, segalanya kini terasa bagai gema nada yang terus berdenging bahkan setelah permainan piano berakhir. Nada itu terus terngiang di telinganya, dan tidak seperti resonansi instrumen musik, getaran emosi ini seolah tak akan pernah memudar.

Kenyamanan yang mengalir dari kehangatan tangan pria itu terasa meneduhkan. Bukannya Odette tidak punya kekuatan untuk menepis atau menolak sentuhan tersebut, melainkan batinnya sendiri yang enggan meronta; dia terlanjur mendamba kedamaian.

Sembari memejamkan mata, Odette perlahan menuntun telapak tangan Bastian bergeser ke sisi kanan perutnya, tempat sang janin sedang meringkuk tenang. Tekadnya untuk menganggap pria ini sebagai orang asing bagi sang anak memang tidak pernah goyah. Namun, sekeras apa pun Odette mencoba menyangkal, kenyataan tetap tak terbantahkan: pria ini adalah ayah dari darah dagingnya.

Bagaikan istilah Da Capo, mereka kembali ke titik awal. Odette menerima batasan itu dan membiarkan hatinya terbuai dalam ilusi. Dan sekali lagi, melodi bergetar dalam teknik trill. Sedikit lagi saja, dan momen ini pasti akan terbukti sia-sia. Keindahan sesaat ini akan menguap, menyeretnya kembali ke dalam labirin mimpi buruk tempatnya hidup selama ini.

Sang buah hati mendadak menggeliat halus, seolah bisa merasakan kehadiran sang ayah. Pada saat yang sama, seulas getaran halus merayapi jemari Bastian. Odette menuntun telapak tangan itu kian merapat pada posisi anaknya.

Meski tak ada satu pun hal di antara mereka yang berjalan dengan semestinya, hari ini tetaplah sebuah ulang tahun yang akan selalu dikenang Odette. Salju pertama di musim dingin, dua puluh empat kuntum bunga Iris, serta manisnya cokelat yang membuat anak mereka menari riang di dalam kandungan.

Kelak, jika sang buah hati bertanya tentang sosok ayahnya, Odette akan menceritakan hari ini kepadanya. Walau mereka berdua jarang sepemikiran, setidaknya pernah ada hari-hari indah seperti sekarang. kau dilahirkan di bawah limpahan cahaya.Ā Dia bertekad untuk melindungi hati anaknya, bahkan jika itu berarti dia harus menjadi seorang ibu yang penuh dengan dusta.

Bersamaan dengan gerakan sang bayi yang kembali tenang dan dentang lonceng pertama Tahun Baru yang mulai bergema, kembang api tampak menari-nari di atas laut lepas yang jauh, menerangi kemegahan perayaan di sebuah rumah besar.

Sebagai penutup dari babak ini, Odette yang pasrah menerima akhir kisahnya perlahan melonggarkan cengkeraman pada tangan Bastian. Tepat saat jemarinya terlepas, letupan kembang api kedua mekar, membasuh pekatnya kanvas malam di Ardennes dengan pendar cahaya warna-warni yang memukau.

Di bawah pesona tarian cahaya yang memukau, sepasang mata Odette berkaca-kaca oleh kegetiran air mata yang luruh dalam keheningan. Namun, kehangatan tangan Bastian segera merengkuh jemarinya, menuntun kembali tangan wanita itu ke atas perut tempat buah hati mereka sedang terlelap.

Di tengah kilauan kembang api yang menerangi langit, jemari mereka saling bertautan erat dalam keintiman yang sunyi, mendekap erat anak mereka yang tengah tertidur sampai dentang lonceng kedua belas berakhir dengan puitis.

*****

"Hei, Mayor Klauswitz," sebuah suara yang ramah memanggil.

Bastian menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, mendapati Erich Faber yang tengah melangkah lebar menyusuri koridor untuk menyusulnya. Tatapan para perwira lain seketika beralih, mencari tahu siapa yang berani mengusik ketenangan koridor markas di pagi hari itu.

"Bagaimana kalau kita jalan bersama? Sudah lama sekali kita tidak melakukannya," ujar Erich.

Bastian menunggu dengan sabar hingga Erich menyejajarkan langkah. Jam kerja baru akan dimulai tiga puluh menit lagi, jadi dia merasa tidak ada alasan untuk menolak ajakan perwira muda tersebut.

Mereka berjalan beriringan melintasi bangunan utama markas Angkatan Laut menuju taman air yang berselimut salju. Jalur pejalan kaki sebenarnya sudah dibersihkan seluruhnya, walau di beberapa titik permukaannya masih agak licin.

"Asal kau tahu, aku berhasil menemukan mereka," Erich memulai percakapan begitu mereka tiba di tengah taman. "Tuan dan Nyonya Becker. Menelusuri jejak mereka ternyata cukup mudah karena mereka pindah ke kota besar. Tapi ada satu hal ganjil: mereka berencana membuka bisnis penggergajian kayu. Apa menurutmu itu kebiasaan keluarga Becker?"

"Ya, tentu saja," sahut Bastian tenang.

Erich Faber memiliki jaringan keluarga besar dan kerabat jauh yang bermigrasi ke luar negeri, menjadikannya sumber informasi terbaik. Ditambah lagi dengan koneksinya di jajaran pemerintah daerah, kemampuannya melacak seseorang jauh lebih andal daripada menyewa detektif swasta mana pun.

Seorang wanita yang menikammu dari belakang demi melindungi adik perempuannya.

Bastian teringat kembali pada teriakan lantang Franz di tengah perkelahian mereka waktu itu. Sungguh tidak masuk akal jika Odette rela memikul dosa adiknya dan mengorbankan segalanya demi menjaga rahasia tersebut. Bastian tahu betul bahwa Odette adalah tipe wanita yang kerap bertindak nekat.

Pasti ada sesuatu yang lain di balik semua ini. Bastian memilih memercayai nalurinya dan segera menghubungi Erich saat itu juga.

Dan dugaannya sama sekali tidak keliru. Alamat yang diberikan Tira kepada Odette ternyata tidak cocok dengan tempat tinggalnya sekarang. Bisa jadi mereka sengaja berpindah-pindah demi mencari lokasi yang tepat untuk menetap, namun Bastian meyakini ada motif yang lebih besar dari sekadar mencari rumah idaman.

"Terima kasih, Erich," ucap Bastian sembari mengeluarkan tempat rokoknya.

Erich mengambil sebatang rokok untuk dirinya sendiri. "Kau bilang pelacakan ini demi adik iparmu, bukan?"

"Tepat," sahut Bastian sembari menyalut rokoknya santai.

Bagaimana jika Odette hanyalah kambing hitam?

Bastian menatap kosong ke arah lanskap markas angkatan laut yang tertutup salju, sembari mengais kembali sisa-sisa ingatannya.

Keinginan Odette sebenarnya sederhana: dia hanya ingin melindungi uang pensiunnya yang tidak seberapa, yang dia peroleh sebagai imbalan karena telah bertindak sebagai perisai bagi sang putri kekaisaran.

Odette mungkin tidak akan pernah menerima lamaran pernikahan dari Bastian jika bukan karena kecelakaan yang menimpa Duke Dyssen. Bastian berhasil mengikat wanita itu dalam pernikahan dengan memanfaatkan kelemahannya—dan kenyataan itu dia pahami lebih baik dari siapa pun.

Bagaimana jika Tira yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan itu?

Menjerumuskan Odette ke dalam pernikahan paksa yang bertentangan dengan keinginannya. Jika Tira mengkhianati Odette sedemikian rupa lalu melarikan diri ke belahan dunia lain, lalu apa yang akan tersisa dari kehidupan malang istrinya?

Tepat saat dia mulai berharap bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman Franz semata, lonceng menara jam berdentang, menandakan lima belas menit menjelang pergantian jam. Bastian mendongak menatap jam besar itu lalu mengembuskan asap rokok ke udara. Jemarinya tampak sedikit gemetar ketika dia kembali menyisipkan rokok ke sela bibirnya.

Anak yang semula dianggapnya tak lebih dari sekadar alat untuk mencapai tujuannya, kini akan terlahir sebagai manusia seutuhnya. Bastian akan segera menjadi seorang ayah.

Mencari arti kehamilan Odette, mendatangkan rasa tidak berdaya yang ganjil di dalam dadanya. Bastian bertekad untuk segera menepis segala gejolak perasaan yang berkecamuk, takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Bastian menjentikkan sisa rokoknya menjauh, lalu berbalik melangkah menuju ruang kerja Laksamana Demel untuk menyampaikan salam tahun baru. Setelah itu, dia harus menghadiri upacara perayaan Tahun Baru.

Dibalut seragam militernya yang sempurna serta langkah kakinya yang tegap, tidak ada satu pun tanda yang memperlihatkan bahwa dia baru saja didera luka-luka yang parah.

*****

"Halo, saya ke sini untuk melamar posisi sebagai pelayan."

Seorang gadis muda melangkah mendekati gerbang dengan hati-hati lalu mengetuk kaca pos penjagaan. Mengenakan pakaian usang serta syal rajut yang mulai koyak dimakan ngengat, penampilannya tampak memprihatinkan layaknya orang-orangan sawah.

"Tunggu sebentar," sahut penjaga gerbang sembari menahan kantuk dengan menguap lebar. Dia mengambil sebuah papan dada dari bawah meja lalu memeriksanya dengan mata setengah terpejam. "Kau di sini untuk melamar lowongan di dapur, kan?"

"Ya, benar, Tuan."

"Wawancaranya baru dimulai siang nanti. Kau datang terlalu cepat." Si penjaga menyipitkan mata, menatap jam dinding di ruangan itu.

"Saya tahu, Tuan. Saya pikir jika saya berjalan kaki, saya akan tiba tepat waktu, tetapi ternyata langkah saya lebih cepat dari perkiraan. Maaf jika kedatangan saya merepotkan." Gadis muda itu menundukkan kepala, dirundung rasa canggung.

Si penjaga berdecak seraya melangkah keluar dari posnya. Gadis itu mendekap tubuhnya sendiri demi menghalau sengatan dingin, sembari mencengkeram tas jinjingnya seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang dia miliki.

Penampilannya tampak persis seperti gadis desa kebanyakan yang merantau ke ibu kota demi mengejar impian hidup yang lebih baik. Besar kemungkinan kepala pelayan mansion akan langsung menolaknya tanpa berpikir dua kali.

"Sudahlah, jangan buat masalah. Masuklah langsung ke ruang wawancara, kau hanya perlu menunggu satu jam lagi," ujar penjaga sembari membukakan pintu gerbang.

"Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih banyak." Gadis itu membungkuk dalam-dalam lalu melangkah lebar menuju mansion besar tersebut.

Si penjaga kembali menguap lebar seraya menutup pintu gerbang rapat-rapat.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page