Bastian Chapter 150
- Crystal Zee

- 2 Jun
- 5 menit membaca
Wajah Sang Monster
Sebuah mobil berhenti mendadak dengan derit ban tajam di depan rumah sakit. Belum sempat kendaraan berhenti sempurna, Bastian sudah melesat keluar.
Lovis sudah bersiap menyambutnya. Seragam kepala pelayan yang biasanya kaku tanpa cela kini tampak kusut, masai, dan bersimbah noda darah.
"Mohon maaf, Tuan, ini salah saya, saya telah lalai..."
"Di mana istriku?" gertak Bastian dengan wajah pias.
Kabar darurat menerpanya di tengah perayaan Tahun Baru di markas Angkatan Laut. Prajurit yang menyampaikan berita tampak begitu panik. Setelah menerima telepon mengenai tumbangnya Odette, benak Bastian lumpuh dari hal lain; dia hanya memacu kendaraan menuju rumah sakit secepat mungkin.
"Kutanya, di mana istriku?!" gertak Bastian sekali lagi. Ketidaksabaran membakar rongga dadanya.
"Maaf, Tuan, beliau di lantai tiga, bangsal timur."
Bastian melesat menyusuri koridor, nyaris menabrak perawat muda yang tengah melintas. Pikirannya buntu; fokusnya hanya tertuju pada Odette, memastikan wanita itu selamat.
Tak butuh waktu lama baginya untuk mencapai sayap timur di lantai tiga. Dia langsung tahu kamar tempat Odette dirawat begitu melihat dua pelayan, Jean dan Dora, berjalan mondar-mandir dengan cemas di lorong.
Saat melihat Bastian, Dora langsung menangkupkan tangan bagai tengah berdoa, lalu tangisnya pecah. Celemeknya yang biasa rapi kini ternoda darah.
Tanpa mengerling sedikit pun, Bastian melewati sang pelayan dan langsung menyentak pintu kamar. Ruangan itu menguar dengan bau pekat antiseptik dan cairan disinfektan.
Dokter Kramer berdiri di sisi ranjang Odette, dikelilingi tim perawat yang bergerak cekatan. Odette terbaring di sana, lunglai tak sadarkan diri. Kulitnya pias bak mayat, sementara ujung gaunnya basah kuyup oleh warna merah yang pekat.
"Bastian," sapa Dokter Kramer begitu melihatnya masuk. "Jangan panik, segalanya terkendali. Dia menelan racun. Dosisnya tidak mematikan. Jenis racun sudah teridentifikasi dan penawarnya sudah diberikan."
Bastian mendengarkan dalam kesunyian, hanya merespons dengan anggukan samar. Sikap tenangnya sama sekali tidak mencerminkan badai ketakutan dan kebencian yang membuat jemarinya gemetar hebat.
Racun?
Dia mengepalkan tangan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan kukunya nyaris menembus kulit telapak tangan. Sorot matanya kosong, sementara bibirnya mengatup rapat menahan geram.
Dokter Kramer kembali mengalihkan perhatian pada Odette sewaktu tim medis sibuk melakukan tindakan. Detik berikutnya, sayup-sayup Bastian mendengar sang dokter menggumamkan sesuatu—kalimat yang berdengung hebat di kepalanya. Butuh beberapa saat bagi Bastian untuk mencerna maknanya.
"Kurasa kita harus merelakannya. Tidak ada harapan untuk menyelamatkan anak ini." Begitu berat bagi Dokter Kramer menyampaikan kabar duka secara langsung. "Kami akan memastikan keselamatan Nyonya Klauswitz. Kami akan mengerahkan segalanya."
Seprai di sekitar pinggang Odette tampak basah kuyup oleh darah selagi para dokter dan perawat bekerja dalam kepanikan. Ketubannya sudah lama pecah, dan detak jantung sang bayi sudah sepenuhnya berhenti.
Bagaikan terperangkap dalam mimpi buruk, Bastian melangkah gontai mendekati ranjang istrinya. Di matanya, Odette tampak begitu tenang, seolah hanya tengah terlelap.
Bastian mencoba memanggil namanya, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Dia ingin meraih jemari wanita itu yang berlumur darah, namun menggerakkan satu jari pun dia tak mampu. Detik itu, dia merasa kembali menjadi bocah kecil yang tak berdaya saat dihadapkan pada jasad ibunya.
Sekarang yang tersisa hanyalah membunuhnya. Gema tawa Franz mendadak terngiang-ngiang di kepala Bastian. Itulah caramu mencintai, bukan?
Kenyataan itu menjelma menjadi jerat mencekik. Saat napasnya kian memburu dan terasa sesak, Bastian mendongak dan seolah melihat wajah sang ayah tengah menyeringai ke arahnya. Wajah tenang sang monster, yang tetap bergeming bahkan setelah merenggut nyawa anak dan istrinya. Namun, begitu menyadari bahwa paras mengerikan yang terpantul adalah wajahnya sendiri, Bastian tetap menatap bayangan suram itu dengan kebencian yang membara.
Semburat jingga dan kuning keemasan dari mentari senja menyepuh permukaan laut. Molly merangkak keluar dengan hati-hati dari celah bebatuan lalu mengedarkan pandangan. Sudah lama sejak rombongan pencari melintasi area itu, dan sepertinya kini dia akhirnya bisa meloloskan diri.
Semuanya sudah berakhir. Dia bisa bernapas lega sekarang. Setelah dikejar-kejar menembus hutan dengan harapan jalan setapak akan menuntunnya keluar, jalurnya ternyata sudah diblokir oleh pelayan mansion. Molly tidak punya pilihan selain nekat menuju tebing curam. Satu salah langkah saja, tubuhnya pasti sudah hancur menghantam bebatuan di dasar jurang.
Dia sudah hampir mencapai dasar tebing ketika mendengar salakan anjing. Anjing jahanam itu terus saja memburunya sepanjang waktu. Kehilangan fokus, kaki Molly terpeleset dari bibir tebing hingga tubuhnya terhempas ke udara. Beruntung, posisinya sudah dekat dengan tanah sehingga dia hanya menderita luka ringan.
Molly menyeka peluh dan sisa air laut di wajahnya menggunakan celemek kaku yang dikenakannya, lalu melangkah pincang menyusuri garis pantai. Kini tiba waktunya untuk menagih imbalan.
Sembari meringis menahan sakit yang menyengat, dia menyusuri jalan berpasir di bawah tebing pantai. Jalur ini akan membawanya ke pantai umum, tempat dia dijadwalkan bertemu kembali dengan Theodora Klauswitz.
Diliputi secercah harapan, Molly mengabaikan rasa ngilu di kakinya yang cedera dan mempercepat langkah. Beruntung, anjing gila itu sudah tidak kelihatan lagi. Tampaknya Dewi Fortuna telah mencampakkan sang putri pengemis dan kini berbalik berpihak kepadanya.
Menjelang senja, Bastian menerima kepastian bahwa sang bayi telah dikeluarkan dari rahim ibunya dalam kondisi tak bernyawa. Kalimat yang diucapkan perawat nyaris tak terdengar di telinganya. Meski tahu benar akhir apa yang menanti, saat kejadian itu menjelma menjadi kenyataan, dia tetap merasa sulit mencernanya.
Bastian, yang sedari tadi menatap bayangannya sendiri di lantai, mendongak untuk menatap sang perawat. Ruang tunggu VIP yang sepi kini berselimut pendar merah keemasan.
"Saya turut berdukacita yang sedalam-dalamnya, Tuan," ucap perawat sembari menundukkan kepala dengan rasa bersalah.
"Terima kasih atas kerja kerasmu," sahut Bastian lirih.
Sekitar sepuluh menit berselang, perawat itu menyampaikan pesan agar Bastian segera menuju kamar rawat, sebelum akhirnya melangkah pergi setenang bayangan.
Bastian bangkit berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan seragam serta meluruskan deretan medali yang berkilau di dadanya. Gemetar halus di jemarinya perlahan mereda. Setelah meneguk sedikit air untuk membasahi bibirnya yang kering, dia melangkah keluar dari ruang tunggu.
Gema langkah kakinya yang teratur terdengar memantul di koridor rumah sakit yang sunyi, hingga akhirnya dia berdiri tepat di depan pintu kamar Odette. Begitu melangkah masuk, para staf medis yang masih berjaga di sana serentak menyampaikan belasungkawa.
Bastian membalas mereka dengan anggukan formal lalu melangkah mendekati ranjang istrinya. Setidaknya, Odette selamat. Racun yang masuk ke tubuhnya hanya dalam dosis kecil, dan berkat kesigapan tim medis, efeknya bisa segera dilumpuhkan.
Bastian menyibak anak rambut yang menutupi wajah Odette agar bisa memandangnya dengan jelas. Dia menatap paras pias itu dalam keheningan yang panjang.
Menurut penuturan pelayan, Odette hampir tidak menyentuh tehnya karena terlalu asyik memeriksa tumpukan katalog yang ditinggalkan penata interior. Bastian tahu betul apa yang sedang dicari istrinya dan apa alasannya. Katalog itu dimaksudkan untuk memilih hadiah pertama bagi buah hati mereka. Namun, sang anak kini tak akan pernah menerima hadiahnya. Setidaknya Odette selamat, dan bagi Bastian, hanya itu yang terpenting sekarang.
Dokter Kramer melangkah masuk, menjabarkan kondisi pasien, diagnosis medis, rencana penanganan lanjutan, hingga program pemulihan pascatrauma. Bastian menyimak seluruh penjelasan sembari mengangguk keliru, merespons setiap anjuran dokter kandungan dengan kepala dingin yang mengejutkan.
Dokter Kramer yang semula dirundung kecemasan mendalam seketika merasa lega; Bastian yang sempat terguncang hebat, kini kembali tegap dan terkendali seperti biasanya.
"Di mana anakku?" tanya Bastian. Dia sendiri bahkan tidak menyadari bahwa ucapan itu akan lolos dari bibirnya.
"Tuan tidak perlu melihatnya," potong Dokter Kramer, langsung menebak niat di balik pertanyaan itu. "Kami yang akan mengurus jasadnya."
"Aku ayahnya. Aku punya hak," sahut Bastian dengan nada suara yang terlampau tenang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, yang justru membuat keteguhannya terasa kian mutlak dan tak terbantahkan.
Dokter Kramer kehilangan kata-kata dan tampak bimbang. Bastian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, hingga matanya tertambat pada sebuah keranjang medis yang ukurannya pas untuk menampung tubuh bayi yang teramat mungil.
"Saya mohon jangan melakukannya, Mayor Klauswitz," pinta Dokter Kramer seraya melangkah cepat guna menghalangi jalan Bastian.
Dengan sopan namun tegas, Bastian menepis tangan Dokter Kramer dari pundaknya dan melangkah mantap menuju keranjang yang tertutup selembar kain putih. Bastian menatap lurus ke dalam keranjang, lalu perlahan menyibak kain yang menyelubunginya.
Keheningan itu—berselimut kepasrahan bagai helaan napas samudra pasca-badai—bertahan hingga sisa semburat senja terakhir sepenuhnya menyerah, tenggelam ke dalam pelukan malam yang gulita.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!
semangat kakkkk💗