top of page

Bastian Chapter 147

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 2 Jun
  • 6 menit membaca

Manis dan Getir

Malam yang sungguh aneh,Ā batin Odette.

Dia menatap meja makan sederhana yang ditata di dalam kamar serta hidangan yang tersaji di hadapannya. Kue-kue penuh warna yang mengelilingi semangkuk sup untuk orang sakit tampak begitu kontras, membuatnya merasa seolah terjebak dalam mimpi yang teramat nyata.

Begitu para pelayan melangkah pergi, kesunyian segera menyergap seisi ruangan, pekat bagai jubah malam musim dingin. Odette mengais makanannya tanpa selera, merasa seolah tengah dihukum dengan menu rumah sakit. Dia hanya menyuap dan menelannya begitu saja, tanpa benar-benar mengecap rasanya.

Mangkuk sup baru kosong setengahnya ketika Bastian bangkit berdiri. Gerakan tangan Odette terhenti, membiarkan sendoknya terbenam di dalam kuah sup selagi matanya mengikuti langkah sang suami menuju rak. Pria itu menarik keluar sebuah piringan hitam dan memasangnya pada gramofon. Dalam sekejap, alunan musik favorit Odette mengalun memenuhi ruangan.

Bastian kembali ke meja makan. Dia mengenakan sweter biru dongker di atas kemeja tanpa dasi. Luka-lukanya baru mulai mengering, membuat setiap gerakannya tampak lambat dan penuh kehati-hatian, namun perawakannya tetap tegap dan langkahnya tak kehilangan wibawa. Sungguh sulit dipercaya bahwa pria ini adalah sosok yang sama yang mencoba meringkuk dalam dekapannya semalam.

Setelah kembali duduk, Bastian melanjutkan makannya diiringi alunan melodi lembut yang memenuhi udara. Musik seolah mencairkan ketegangan di antara mereka—komposisi fantasi yang sama dengan yang pernah dia dengar di Lounge Rheinfeld.

Odette sebenarnya bukan tipe orang yang melankolis karena musik, tetapi lagu ini telah melekat di benaknya untuk waktu yang lama. Alunannya membawa ingatan pada suatu sore di musim semi ketika pertama kali mendengarnya. Dia membeli piringan hitam itu menggunakan uang tunjangan pertama yang diterimanya setelah menikah, lalu membeli partiturnya begitu diizinkan kembali menyentuh tuts piano.

"Tril," ujar Bastian. Suaranya melebur bersama melodi yang terdengar begitu indah dan magis. "Bukankah begitu?"

Odette mendongak menatapnya, seketika menangkap maksud tersembunyi di balik ucapan pria itu. Dia mengangguk tenang. Letupan api dari perapian memancarkan bayangan gelap di wajah Bastian yang kian tirus selama beberapa hari terakhir, membuatnya tampak sekilas seperti bayangan kelam yang misterius.

Saat sepasang mata mereka saling bertaut, bagian akhir dari simfoni orkestra pun dimulai. Odette segera mengalihkan pandangan, mengedarkan tatapan ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya terpaku pada vas berisi bunga Iris. Momen indah yang sempat menumbuhkan secercah harapan kini menguap, terkikis oleh kepalsuan. Kilas kepedihan yang tak terlupakan membayang sekilas di sepasang manik biru mata Odette, sebelum akhirnya padam tanpa bekas.

Tak apa jika kau tidak bersikap tulus, keyakinanku tetap nyata,Ā batin Odette. Mengapa kita harus saling menyakiti sedalam ini?Ā Itu kesalahan yang tidak ingin dia ulangi lagi.

"Bastian?"

Tepat saat Odette memanggil namanya, Margrethe mendadak menggonggong. Odette terkesiap akibat suara yang tiba-tiba itu, lalu melongok ke bawah meja. Dia tidak menyadari bahwa Margrethe telah menyelinap masuk dan duduk manis di dekat kaki Bastian.

"Jangan, Meg," tegur Odette, namun anjing itu bergeming dan tetap menatap Bastian penuh harap.

Melihat Odette mulai gemas karena peliharaannya enggan patuh, Bastian menyelinapkan sepotong kecil roti ke bawah meja. Meg langsung melahapnya dengan riang, mengibas-ibaskan ekornya penuh kepuasan. Menyadari kegembiraan si anjing, Bastian kembali mencubit sepotong roti lagi dan menyodorkannya.

"Bastian, jangan," larang Odette. "Dia sudah makan. Jangan beri dia makan lagi atau tubuhnya akan gemuk." Dia merasa seolah sedang mendisiplinkan dua ekor anjing sekaligus.

Margrethe tetap bergeming di sisi Bastian, menanti remah makanan berikutnya, namun pria itu kini mengabaikannya dan menggeser piring roti ke tengah meja.

Odette mendadak tersadar bahwa perayaan ulang tahunnya kali ini dilewatkan bersama dua orang sakit dan seekor anjing yang terluka. Dia tidak mampu menahan senyum hingga sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Meski kondisi mereka semua tampak begitu mengenaskan, dia tetap menikmati jamuan ulang tahunnya malam ini.

"Ada vila di Lausanne, Odette. Kurasa akan lebih baik jika kau tinggal di sana sampai bayinya lahir," ujar Bastian dengan nada sewajar pria yang sedang membicarakan cuaca.

Setelah merenungkannya berhari-hari, Bastian menyadari ini adalah pilihan terbaik bagi istrinya. Yang terpenting saat ini adalah fokus pada langkah terakhir untuk menuntaskan tanggung jawabnya: melindungi Odette dan anak mereka dari neraka ini, sampai mereka bisa menyambut fajar kehidupan yang baru. Kehidupannya yang telanjur kotor tidak boleh lagi menodai wanita itu.

"Jika kau bersedia pergi, kau bisa mendiskusikan persiapannya dengan Lovis. Dia yang akan mengurus segala keperluanmu."

Kediaman yang nyaman, menghadap ke selatan dengan pemandangan hamparan laut yang berkilau. Tempat seperti itulah yang didambakan Odette untuk ditinggali sepanjang tahun. Di antara seluruh deretan aset mewah Bastian, vila di Lausanne adalah tempat yang paling memikat hati Odette. Jika dia tidak sudi tinggal di sana, Bastian rela mencari tempat lain yang sesuai dengan keinginannya, tak peduli berapa kali harus mencarinya.

"Bastian, aku..."

"Hidangan penutupnya sudah siap, Tuan," sela seorang pelayan dari ambang pintu.

"Bawa masuk," sahut Bastian tanpa ragu.

Odette sedang mondar-mandir di dekat jendela ketika mendengar lonceng jam berdentang sebelas kali. Dia menghentikan langkah lalu menghampiri ranjang tempat Bastian berbaring. Dengan cemas, jemarinya menyentuh kening sang suami, mengira sisa-sisa demamnya masih ada. Namun, suhu tubuh pria itu terasa normal. Hal yang paling melegakan adalah Bastian tampak tertidur pulas, tanpa ada tanda-tanda didera mimpi buruk seperti sebelumnya.

Setelah memastikan keadaannya, Odette duduk di kursi sebelah ranjang sambil memandangi suaminya yang terlelap. Jamuan makan malam kecil untuk ulang tahunnya tadi berlangsung hingga larut malam. Mempertimbangkan kondisi tubuh Bastian, Odette memutuskan untuk membiarkan pria itu menempati ranjangnya malam ini.

Odette menatap wajah suaminya yang basah oleh keringat. Dia beranjak untuk mengambil semangkuk air dingin dan selembar kain lap untuk menyeka tubuh pria itu. Dia baru menyadari betapa lelahnya Bastian setelah pria itu terlelap akibat pengaruh obat yang diresepkan oleh Dokter Kramer.

Kuharap anak ini tidak mewarisi sifat keras kepala dan ketidaksabarannya, batinnya, selagi menyeka lembut wajah Bastian.

Mangkuk air diletakkan di atas meja yang sejam lalu dipenuhi tumpukan kado. Kini, di atas permukaan meja hanya tersisa buket bunga Iris dan sekotak cokelat—satu-satunya hadiah yang sengaja Odette biarkan tetap berada di kamarnya.

Setelah kembali memastikan Bastian benar-benar tidur nyenyak, Odette melangkah tanpa suara menghampiri meja di dekat perapian. Jemarinya menyentuh lembut kelopak bunga sebelum akhirnya meraih kotak beledu di sana.

Hadiah dari Bastian.

Sebenarnya, dia sudah langsung mengenali kado itu sejak pertama kali melihatnya.

Odette menyadari dia telah menatap kotak cokelat itu terlalu lama. Walau hatinya berniat menahan hasrat impulsif untuk melahap habis seluruh isi kotak tersebut, rasa mengidam ini jelas-jelas adalah keinginan bayinya. Dengan gerakan perlahan layaknya seorang pencuri, dia membuka tutup kotak lalu mengambil sebutir cokelat.

Dia mengeluarkan cokelat berbentuk koin dari wadahnya. Bunyi gemerisik kertas emas yang terkoyak terdengar memecah keheningan malam yang pekat. Odette mencecap rasa manis yang lezat dari cokelat lembut yang langsung lumer di lidahnya—dan dalam sekejap, cokelat itu sudah lenyap. Dia menghela napas lalu memasukkan sebutir lagi ke dalam mulutnya. Sekali lagi, cokelat lembut itu meleleh, mengalir turun ke perutnya dan mendatangkan sensasi hangat yang menenangkan.

Mendadak, ada sesuatu yang berdesir lembut di dalam perutnya. Sensasi asing yang teramat berbeda dari rasa mulas atau nyeri apa pun yang pernah dia rasakan selama ini.

Kenangan saat kelahiran Tira, bagai sebuah gerakan tarian misterius di dalam rahimnya, seketika membayang kembali dengan sangat jelas.

"Halo, Sayang..." Dengan suara bergetar seolah tengah memohon ampunan, Odette mengusap lembut perutnya, tempat sang buah hati yang belum lahir tengah bertumbuh.

Rasa bersalah seketika menusuk benaknya saat teringat momen-momen kelam sebelum ini, ketika dia sempat berniat mencelakai janinnya dan menolak kehadirannya.

Seakan memahami kegundahan hati sang ibu, sang anak membalas dengan gerakan lembut yang indah. Kenangan yang semula terasa menyakitkan kini menjelma menjadi limpahan kebahagiaan yang meluap-luap.

Odette melahap sisa cokelat di dalam kotak tanpa menyadari bahwa sepasang mata Bastian tengah mengamatinya dalam diam, melebur bersama keheningan malam.

Odette mengusap perutnya sembari membisikkan sesuatu pada dirinya sendiri, mempercepat kunyahannya untuk menghabiskan kudapan manis tersebut. Kertas emas berserakan di atas meja dan beberapa helai jatuh ke lantai. Begitu selesai memuaskan seleranya, rasa kenyang dan puas yang mendalam menyelimuti dirinya, membuatnya hanya bisa bersandar pasrah di kursi.

Bastian mengurungkan niat untuk bangkit. Dia sebenarnya sudah terjaga sejak detik pertama handuk dingin menyentuh keningnya, namun dia enggan membuka mata dan memilih terus berpura-pura tidur. Barangkali ketenangan yang sunyi ini menahannya—sebuah penyesalan yang terasa kian getir dan menyayat hati.

Monolog singkat istrinya, yang bermula dari sekadar sapaan sederhana, kini terdengar kian panjang.

Bayi.

Bastian mengenali bisikan itu. Sebuah senyuman menawan menghiasi wajah Odette—dengan jemari yang menyentuh serpihan kertas emas dan tangan yang mengusap perutnya yang kian membuncit, wanita itu tampak berseri-seri bagai bunga musim semi yang sedang mekar. Satu kata yang berhasil ditangkap Bastian dari pemandangan itu seketika menyapu bersih seluruh isi kepalanya.

Odette ternyata sedang berbicara dengan anak di dalam rahimnya sepanjang waktu. Meski Bastian tidak dapat mendengar dengan jelas rangkaian katanya, pemandangan itu terasa teramat manis di matanya.

Tak lama setelah tengah malam berlalu, Odette akhirnya bangkit dari kursi tempatnya melepas lelah dan bersiap untuk tidur. Usai kembali dari kamar mandi, dia menanggalkan syal dan jubah luarnya, lalu merebahkan diri di sisi Bastian.

Kamar kembali diliputi kesunyian untuk waktu yang lama, menyisakan derak kayu yang terbakar di perapian dan tik-tok jam dinding yang menghipnotis.

Odette berbaring memunggunginya. Bastian tersenyum tipis, menunggu dengan sabar. Namun, rasa sesal yang tak tergoyahkan tetap membayang, sewangi dan segetir aroma cokelat yang menguar dari tubuh istrinya.

Akhirnya, Bastian memiringkan tubuhnya, mendekap Odette erat dari belakang hingga punggung wanita itu merapat ke dadanya dengan kaki yang saling bertautan. Lengan kokohnya melingkar lembut, berusaha tidak mengusik tidur sang istri selagi jemarinya meraba perlahan, mencari tanda-tanda keberadaan buah hati mereka.

Bastian tidak merasakan apa pun selain kehangatan dan kelembutan di perut Odette. Tepat ketika nyaris menyerah, dia merasakan sebuah tangan mungil yang halus membalas dengan menggenggam punggung tangannya yang sedang mencari-cari.

Odette menghela napas pelan selagi mendekap erat tangan suaminya.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page