top of page

Bastian Chapter 146

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 2 Jun
  • 6 menit membaca

Pintu yang Terbuka

Saat Odette selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi, para pelayan sudah beres merapikan kamar. Seprai ranjang telah diganti baru, namun pasien yang seharusnya berbaring di sana sama sekali tak kelihatan batang hidungnya. Dasar pria keras kepala; Bastian mengabaikan begitu saja nasihat dokter agar beristirahat total.

Tatapan Odette kemudian terpaku pada meja. Setangkai buket bunga Iris tergeletak di sana, bersanding manis dengan sebuah kotak beledu.

"Ini kado ulang tahun untuk Anda, Nyonya," lapor seorang pelayan yang baru saja mengusung tumpukan hadiah dan rangkaian bunga ke dalam ruangan.

Odette mengamati kartu ucapan yang terselip pada buket Iris. Kiriman tersebut rupanya datang dari salah satu keluarga militer yang memiliki hubungan dekat dengan Bastian.

Sejak menikah, setiap kali hari ulang tahun Odette tiba, berbagai hadiah selalu mengalir deras dari orang-orang yang bahkan belum pernah dia temui. Dia sama sekali tidak menyangka orang-orang masih akan menunjukkan antusiasme sebesar ini pada ulang tahunnya sekarang, mengingat reputasinya sudah telanjur hancur lebur akibat rentetan skandal.

Setidaknya, hatinya kini terasa lega karena luka infeksi Bastian tidak berujung pada maut. Mereka sudah cukup saling menyakiti, dan Odette tidak ingin terpuruk kian dalam ke jurang kesengsaraan. Dia sudah lelah terus menimbun utang budi.

Odette menyibukkan diri menata semua kartu ucapan dan merangkai bunga-bunga itu ke dalam vas. Walau seluruh kiriman ditujukan atas namanya, dia tahu semuanya dilakukan semata-mata demi menjilat Bastian. Dia harus membuat daftar nama para pengirim agar suaminya bisa memeriksanya nanti.

Di antara tumpukan, Odette menemukan sebuah kado tanpa nama pengirim. Urusannya tentu akan jadi mudah jika dia memanggil pelayan untuk mencari tahu siapa pengirimnya, namun dia memilih mengurungkan niat tersebut.

Setelah memasukkan sisa bunga ke vas kosong, dia melangkah ke kamar mandi untuk mengisinya dengan air. Pikirannya melayang jauh saat menatap hiasan berbentuk angsa pada keran, hingga tak menyadari airnya telah meluap. Detik berikutnya, Odette terkesiap panik. Dia buru-buru memutar keran hingga bunga-bunga dalam genggamannya terlepas dan berserakan di atas lantai kamar mandi yang basah kuyup.

Tanpa sadar, jemarinya menghitung jumlah kuntum bunga satu per satu saat memungutnya. Dua puluh empat kuntum—persis seperti usianya sekarang.

Sembari memandanginya penuh kehangatan, Odette membawa bunga-bunga itu kembali ke kamar tidur dan meletakkannya di samping kotak beledu merah. Ketika dia membuka tutup kotak dengan hati-hati, tampak jajaran cokelat yang dikemas cantik dalam sekat-sekat kecil.

Salah satu cokelat berbentuk menyerupai koin, seketika mengingatkannya pada cokelat yang pernah dia beli dulu sebagai perayaan karena berhasil mendapatkan pekerjaan baru. Hatinya seketika mencelos saat mengenang bagaimana cokelat itu terjatuh dan hancur sewaktu dia mencoba melarikan diri dari Bastian.

Odette menggenggam cokelat itu erat, sepasang matanya menyiratkan kebingungan sekaligus ketidakberdayaan. Tepat ketika dia sedang mengamati dua puluh empat kuntum bunga Iris, sayup-sayup terdengar gonggongan Margrethe yang sibuk menggaruk pintu kaca menuju balkon.

Odette mendongak bingung, lalu mendapati Bastian tengah berdiri di luar balkon, menatap hamparan laut lepas dengan sebatang rokok yang terselip di antara jemarinya.

Dokter Kramer sebelumnya sempat mengatakan bahwa mereka beruntung karena Bastian memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Meski perkembangannya masih harus terus dipantau, selama demamnya tidak kambuh, kondisinya akan baik-baik saja. Namun, Odette sangat yakin merokok di tengah kepungan udara sedingin ini sama sekali tidak akan membantu proses pemulihan.

Dia terpaku di ambang pintu selama beberapa saat, mengamati siluet suaminya yang sedang menyesap rokok. Begitu Bastian selesai dan berbalik ke arah pintu, Odette tersentak lalu bergegas memutar tubuh, berpura-pura sibuk merapikan kamar.

Embusan angin dingin seketika menusuk kulit saat Bastian membuka pintu untuk membiarkan Margrethe masuk, namun pria itu membiarkan pintu tetap terbuka dan kembali bersandar pada pagar pembatas balkon.

Odette memantapkan hati, lalu melangkah keluar menuju balkon. Dunia di luar sana tampak begitu benderang, dibasuh oleh hamparan salju semalam yang menyelimuti segalanya dalam kesucian warna putih murni.

"Kurasa sudah waktunya kau masuk ke dalam," ujar Odette seraya mengalihkan pandangan dari taman musim dingin yang kini dipenuhi hamparan salju putih. "Kondisimu belum pulih benar, dan udara sedingin ini bisa memperburuk kesehatanmu."

Bastian meliriknya dari sudut mata. Teguran Odette seketika membuat hatinya berdesir aneh. Rasanya menggelikan, tetapi mendapati dirinya dikasihani oleh wanita itu ternyata tidak seburuk yang dibayangkan.

Angin berembus lembut seolah mengusung kristal-kristal salju yang berdansa anggun di antara mereka. Begitu menyadari tubuh Odette mulai menggigil akibat sengatan udara dingin, Bastian melepas mantel yang tersampir di bahunya lalu menyelimutkannya ke tubuh sang istri. Odette sempat menolak halus seolah dia tidak membutuhkannya, namun Bastian tidak menerima bantahan.

Dengan tenang, Bastian mengancingkan mantel besar itu, lalu menegakkan kerah tingginya demi membungkus leher Odette. Dia bisa menangkap semburat rona canggung di wajah istrinya; barangkali Odette merasa enggan menerima pakaian dari seorang prajurit yang sedang terluka. Bastian tidak terlalu ambil pusing. Dia kembali mengarahkan tatapannya ke laut lepas, mendengarkan deburan ombak yang menghantam air yang membeku.

"Terima kasih karena sudah membereskan masalah skandal dan kecelakaan," ucap Odette, mengurungkan niatnya untuk berbalik. Dia akhirnya menyuarakan kalimat yang telah dia persiapkan matang-matang sepanjang malam.

Bastian menatap balik wanita yang kini tampak tenggelam di balik mantel besarnya yang kedodoran. Odette terlihat terlalu canggung untuk membalas tatapannya dengan benar. Sementara itu, sepasang manik mata Bastian tampak begitu dalam dan tenang, bagai hamparan laut teduh di bawah langit musim dingin yang jernih.

"Aku tahu kau harus melewati banyak hal sulit dan bahkan terluka karenaku. Aku minta maaf atas semua kekacauan yang kutimbulkan. Sekarang, setelah kesehatanku membaik, aku akan pergi segera setelah masa liburan ini usai."

Hanya itu.

Saat menghadapi Bastian dengan hati yang lapang, Odette akhirnya menyadari satu hal: rasa benci dan dendam yang selama ini mencengkeram dadanya terhadap pria ini perlahan telah menguap tanpa sisa.

"Aku tidak akan melarikan diri begitu saja seperti waktu itu. Aku ingin kita tetap menjaga komunikasi, agar kau bisa tetap mempertahankan hakmu sebagai ayah dari anak kita... tentu saja, jika Lady Laviere tidak keberatan..."

"Tidak, aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Sandrine," potong Bastian lugas. "Aku tidak pernah sudi bertunangan dengannya, Odette. Jika kau memang ingin menjadi ibu dari anak ini, maka tetaplah menikah denganku."

Bastian menyampaikan keputusan yang telah dia tetapkan dengan nada suara yang teramat tenang. Dia tahu keputusannya tidak akan bisa ditarik kembali, tetapi dia sama sekali tidak sudi melepaskan Odette pergi. Pria itu tidak akan pernah mampu melakukannya.

"Jangan, Bastian. Jangan lakukan," pinta Odette memelas. "Jika kau melakukan ini hanya karena didera rasa bersalah atas skandal itu, kau tidak perlu memaksakan diri. Yang kuinginkan hanyalah kebebasan dan kedamaian, bukan tanggung jawab yang lahir dari rasa iba."

Rasa bersalah.

Rasa iba.

Tanggung jawab.

Kilasan memori tentang pertemuan pertama mereka seketika berputar di benak Bastian, kian memperdalam jurang keputusasaan di dalam dadanya.

"Apa aku benar-benar terlihat seperti pria yang sudi berkorban dan mengabdi demi kepura-puraan yang picik?"

Pertanyaan itu terlontar dari bibir Bastian, terdengar seperti ejekan pahit bagi dirinya sendiri.

Sang Kaisar sebelumnya memerintahkan pernikahan ini demi kepentingannya sendiri. Kini, beliau pula yang menitahkan perceraian demi menyelamatkan kehormatan istana. Seolah-olah beliau Kaisar saja menyadari pria macam apa seorang Bastian Klauswitz sebenarnya.

Countess Trier telah mengajukan diri untuk menjadi pelindung Odette, dan Kaisar pun menyetujuinya. Jika perceraian mereka resmi terjadi, Odette akan langsung berada di bawah perlindungan sang Countess yang telah berjanji akan menyokong wanita itu dengan segenap kemampuannya. Artinya Odette tidak akan lagi hidup terasing dan sebatang kara.

Bastian sadar betul posisinya sebagai sosok penyelamat bagi hidup Odette kini sepenuhnya runtuh. Jika dia patuh pada titah Kaisar, Odette bisa memulai lembaran hidup baru—hidup merdeka yang selama ini teramat didambakannya.

"Aku menginginkanmu, Odette," aku Bastian, akhirnya.

Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata pirus istrinya yang berkilau indah bak riak laut yang diterpa cahaya. Wanita itu teramat jelita. Begitu memesona hingga membuat Bastian ingin merengkuhnya erat dan tidak akan pernah melepaskannya lagi, bahkan jika berarti dia harus membelenggu wanita ini di atas puing-puing kehancuran hidup yang telah Bastian ciptakan untuknya.

Bastian tidak ingin lagi menepis hasratnya yang telah terdistorsi. Odette adalah miliknya, dan tidak akan ada satu orang pun yang boleh merebut wanita itu darinya—bahkan sang Kaisar sekalipun.

Bastian bertekad untuk memilikinya, bahkan jika dia harus mengelabui dan menghancurkan wanita itu kembali. Biarpun dia harus membuat Odette buta dan tuli dari dunia luar, dia akan tetap menjadikan wanita itu miliknya, dan Odette akan mengandung serta melahirkan darah dagingnya.

"Nyonya, ini saya, Dora." Suara salah satu pelayan terdengar memanggil dari dalam kamar tidur.

"Ya, masuklah," sahut Odette seraya bergegas melangkah meninggalkan balkon, seolah-olah sedang melarikan diri dari jerat tatapan Bastian. Bastian membuang sisa rokoknya dan melangkah lebar mengikuti langkah sang istri.

"Karena kondisi Tuan dan Nyonya sedang kurang sehat, saya pikir akan lebih baik jika jamuan makan malam ulang tahun Nyonya disajikan di kamar ini saja," usul Dora begitu masuk.

Odette menggeleng pelan. "Tidak perlu, Dora. Tidak usah repot-repot."

"Tapi ini hari ulang tahun pertama yang Nyonya dan Tuan lalui bersama sejak menikah. Bukankah akan lebih indah jika dilewatkan berdua saja?" Dora menatap Odette dengan pandangan memohon, lalu beralih kepada Bastian yang berdiri di sisinya. "Bagaimana kalau kita merayakannya secara sederhana saja? Sesuai saran Dokter Kramer, saya akan menyiapkan hidangan yang tidak akan menguras energi Tuan maupun Nyonya."

Dora rupanya masih sama keras kepalanya seperti biasa.

Hanya keheningan yang menyahuti usulan sang pelayan. Bastian kemudian menjatuhkan diri di atas kursi di depan perapian, mengarahkan pandangannya lurus ke arah laut di balik jendela yang kini mulai berselimut rona merah keemasan di penghujung tahun yang kian meredup.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page