top of page

Bastian Chapter 145

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 2 Jun
  • 7 menit membaca

Sedikit Lagi Saja

Sepasang mata birunya berjuang untuk fokus. Meski menatap ke arah Odette, sorot mata itu tampak berkabut, seolah sedang menerawang jauh ke dalam kenangan.

Perlahan, manik biru itu menjernih dan memusat. Odette masih menempelkan telapak tangan di dada sang suami, merasakan detak jantungnya yang berirama tenang—sangat kontras dengan beberapa saat lalu saat pria itu didera mimpi buruk, ketika jantungnya bertalu-talu bak genderang.

Sebelum Odette sempat bersuara, kelopak mata Bastian bergetar lalu kembali terpejam. Pria itu berbaring terlentang, tampak jauh lebih tenang dalam tidurnya—atau setidaknya, begitu dugaan Odette, sampai akhirnya Bastian menggeliat dan merapat kian dalam ke arahnya.

Odette hanya bisa mengedipkan mata, didera kebingungan saat Bastian membenamkan wajah di ceruk lehernya. Sepasang lengan kokoh pria melingkar, mendekapnya begitu erat. Seolah sedang dikejar oleh sesuatu, dia mencoba meringkuk di pangkuan Odette, meski tubuh besarnya jelas terlalu mustahil untuk itu.

Bastian mendekapnya teramat erat, membuat Odette tak berdaya untuk melepaskan diri. Alih-alih meronta, Odette justru membalas memeluk, mendekapnya dengan hangat sembari mengusap punggung sang suami perlahan. Kebiasaan yang kerap dia lakukan dulu, saat Tira didera mimpi buruk yang mengerikan. Walau tentu saja, perawakan sang pria jauh berbeda dari adiknya.

Setelah membenahi posisi suaminya yang canggung, Odette menarik selimut dengan hati-hati dan membungkus tubuh mereka. Lewat pelukan, kehangatan tubuh mereka saling bertukar, membasuh sisa demam Bastian yang belum sepenuhnya reda hingga kondisinya kini kian stabil.

Kamar tidur kembali tenggelam dalam kesunyian. Deru napas Bastian yang semula memburu kini melandai menjadi helaan halus yang nyaris tak terdengar.

Odette didera kebimbangan. Saat jemarinya menyisir pelan anak rambut dari wajah Bastian, benaknya seketika dipenuhi badai pertanyaan yang berkecamuk.

Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Akankah mereka sanggup saling memaafkan setelah dendam yang begitu pekat menderu?

Bisakah mereka melangkah maju, ataukah ini hanyalah jeda sesaat sebelum siksaan lain kembali menghantam?

Odette mendekap Bastian kian erat.

Sorot matanya yang meredup menerawang melintasi ranjang yang mereka diami bersama—bagaikan rongsokan kapal yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa bintang, berlayar tanpa arah hingga pendar fajar perlahan menyepuh kaki langit.

"Tega-teganya Ayah melakukan ini kepadaku?!" jerit Theodora Klauswitz.

Air mata mengucur deras membasahi pipinya yang sembab kemerahan, beriringan dengan gema teriakannya yang memantul di dinding-dinding rumah besar itu.

"Tolong, bantu aku sekali lagi. Jika kita tidak menghentikan draf kebijakan itu sebelum akhir pekan, lini perkapalan kita akan hancur total! Dan Ayah tahu pasti siapa bajingan yang sedang menganga siap menelannya bulat-bulat!" Theodora memekik ke corong telepon.

"Keadaan sudah berbalik," sahut suara di ujung telepon. "Bahkan jika kau berhasil menjegal rancangan undang-undang, segalanya tidak akan berubah."

"Tetapi jika Ayah menyerah, bagaimana dengan Franz? Tolong, setidaknya pikirkan nasibnya...!"

"Jangan sebut namanya di hadapanku! Aku tidak sudi mendengarnya lagi. Bocah itu bukan lagi bagian dari keluarga kita!"

"Tapi, Ayah..."

"Cukup. Hubungan kita dengan keluarga Klauswitz selesai di sini. Jika kau menolak menceraikannya, aku tidak punya pilihan selain mendepakmu juga."

Viscount Oswald dulunya adalah sosok ayah yang rela melakukan apa saja demi sang putri. Pria itu bahkan merestui Theodora menikah dengan pria yang telah beristri. Karena itulah, Theodora tahu pasti bahwa jika sang ayah telah memalingkan muka, tak akan ada lagi celah untuk bernegosiasi.

Skandal lukisan Franz pada akhirnya menghantam telak kehormatan seluruh keluarga. Ditambah lagi dengan kerugian masif akibat siasat licik Bastian, kehancuran Jeff Klauswitz—sang taipan kereta api di Berg—kini tak lagi terbendung.

Jeff sebenarnya memiliki kesempatan untuk menyelamatkan sisa bisnisnya dengan melepas perusahaan jalur kereta api. Namun, dia justru melakukan kesalahan fatal akibat gelap mata dan bertindak impulsif.

"Segalanya sudah musnah, Theodora. Sadarlah. Selamatkan dirimu sebelum terlambat."

"Tidak. Aku mencintai Jeff Klauswitz, dan hal itu tidak akan pernah berubah."

Theodora membanting gagang telepon lalu bangkit dari kursi, sepenuhnya dikuasai oleh obsesi yang mengerikan. Kilau cahaya matahari dari langit yang cerah menusuk sepasang matanya yang merah dan lelah. Dia tidak salah.

Cintanya pada Jeff tiada banding. Demi pria itu, dia rela menyerahkan segalanya; bahkan nyawanya sendiri. Jika api neraka harus menelan suaminya, dengan penuh kehormatan dia akan ikut terjun ke dalamnya demi membela cinta mereka.

Ketukan terdengar di pintu. "Nyonya, ini saya."

Theodora mengenali suara Nancy, pelayan yang diutusnya menemui tabib obat.

"Masuklah," sahut Theodora.

Nancy melangkah masuk, lalu memberi isyarat kepada seorang gadis muda untuk mengikutinya dari belakang. Kening Theodora berkerut; dia merasa pernah melihat gadis itu di suatu tempat.

"Selamat siang, Nyonya. Saya Molly, keponakan Bibi Nancy."

Saat itulah Theodora teringat pada mata-mata yang pernah digunakannya beberapa waktu lalu. Dia yakin gadis itu sudah habis masa pakainya dan telah didepak.

"Ada apa ini?" ketus Theodora, gusar. "Kuingat jelas aku menyuruhmu mencari orang yang berguna." Tatapan tajamnya beralih pada Nancy, menuntut penjelasan.

"Saya yang meminta kepada Bibi untuk memberi saya satu kesempatan lagi, Nyonya."

"Kau rupanya terlalu percaya diri sampai berani memotong pembicaraan, terutama setelah kau didepak karena dituduh mencuri oleh majikan terakhirmu." Theodora terkekeh sinis, namun Molly sama sekali tidak bergeming.

"Saya tetap meyakini bahwa sayalah orang yang paling tepat untuk tugas ini. Tidak ada yang mengenali mereka ataupun seluk-beluk kediaman itu sebaik saya."

"Bagus kalau begitu. Tapi tunggu, ada satu kendala kecil. Agar penyamaran mata-mata berhasil, identitas mereka tidak boleh terbongkar bahkan sebelum misi dimulai."

"Saya tahu ini tidak akan mudah, tetapi bukan berarti tidak ada jalan," sahut Molly sembari mengeluarkan selembar surat kabar dan meletakkannya di hadapan Theodora.

Sepasang mata Theodora seketika melebar begitu membaca tajuk utama berita tersebut.

Theodora tahu ayahnya benar—sangat tahu. Namun, dia tidak sudi membiarkan putra mendiang Sophia menguliti Franz hidup-hidup. Ada satu hal lain yang dia yakini: dia masih memegang kartu as dalam permainan ini, dan dia tidak akan menyerah sampai Bastian bertekuk lutut dan hancur di kakinya.

Waktu bagi hasrat yang lama terpendam untuk mekar akhirnya tiba. Saat melihat bagaimana Bastian mendekap Odette di tengah kekacauan hari itu, Theodora langsung menyadarinya.

Bastian telah menemukan anjing pengganti.

Kali ini, seekor anjing ras murni yang cantik, anggun, bahkan sedang mengandung anak-anaknya.

"Kau siap melakukan apa saja demi melancarkan rencana ini?" tanya Theodora pada Molly.

"Ya, apa pun," sahut Molly, sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Tetapi untuk kali ini, saya meminta setengah dari upah dibayarkan di muka."

"Apa? Kau pikir aku sudi bertaruh secara buta seperti ini?"

"Saya tidak tahu, Nyonya. Namun, ini misi yang amat berbahaya. Bukankah wajar jika ada jaminan di awal?" Molly tersenyum polos.

Theodora menatap Molly lurus-lurus, lalu terbahak-bahak. Gadis ini cukup gila—persis tipe bidak yang dibutuhkannya untuk pekerjaan kotor semacam ini.

"Jadi, berapa harga yang kau minta?"

"Saya berharap Nyonya memberikan kompensasi yang sama besar dengan yang Nyonya janjikan terakhir kali," jawab Molly tanpa ragu.

Theodora menatap wajah lancang di hadapannya, lalu perlahan bangkit dan melangkah ke arah jendela.

Hari ini, dunia Bastian di seberang teluk tampak berkilau dengan kemegahan yang benderang.

Bastian pasti masih bermimpi. Tak ada penjelasan lain yang masuk akal. Namun, setiap kali dia memejamkan mata lalu membukanya kembali, sosok Odette tetap ada di sana, berbaring di sisinya sembari mendekapnya dengan hangat.

Istrinya tampak begitu tenang dan damai, dibasuh limpahan cahaya mentari pagi. Pemandangan yang menguapkan seluruh keyakinannya bahwa dia tak akan pernah bisa menyaksikannya lagi.

Bastian ingin meluruskan tangan, menyisir helai rambut dari pipi sang istri, tetapi dia teramat takut akan mengusik tidur wanita itu dan merusak momen berharga ini.

Dia mendamba untuk terus seperti ini selamanya, mendekap Odette dalam pelukan dan berbaring tenang bersama. Sayangnya, ketenangan itu tak bertahan lama saat rasa kantuk perlahan kembali membuainya. Kelopak matanya terasa berat, menyeretnya jatuh terlelap. Dia samar-samar merasakan usapan lembut di punggungnya, walau kesadarannya telanjur tersaput kabut.

Saat terbangun kembali, cahaya di dalam kamar sudah kian terang dan sebuah telapak tangan yang lembut tengah menyentuh keningnya. Sensasi itu teramat nyata untuk disebut sekadar bunga tidur. Gesekan halus rambut di atas ranjang seketika lenyap ditelan benderang cahaya pagi, dan tak lama kemudian, kehangatan yang semula mendekapnya bagai kepompong perlahan menguap pergi.

Bastian membuka mata, menoleh tepat saat Odette menyibak selimut dan hendak beringsut duduk di tepi ranjang.

"Jangan pergi... berbaringlah bersamaku sebentar lagi."

Bastian mengulurkan sepasang lengannya, melingkari tubuh Odette, lalu menariknya kembali ke dalam dekapan hangat. Entah ini mimpi atau kenyataan, dia tak peduli lagi.

Odette tersentak kaget, namun wanita itu tidak meronta; dia hanya bergeming di tempatnya. Bastian merasa lega, setidaknya sang istri tidak mencoba melepaskan diri dari rengkuhannya.

Sembari terus mendekapnya, Bastian menatap hamparan langit di balik jendela. Keheningan yang meneduhkan, mendatangkan kedamaian yang mendalam, seolah membawanya kembali berdansa melintasi kenangan masa lalu.

Dia berusaha merajut kembali ingatannya yang berserakan.

Di ingatannya saat melangkah pulang ke rumah dengan sekujur kulit yang terasa terbakar, tubuhnya justru bersimbah keringat dingin. Dia sama sekali tidak mengeluhkannya kepada siapa pun, mengira tidur semalam saja akan cukup menyembuhkannya.

Dia ingin mempertahankan posisi ini sedikit lebih lama, teramat enggan melepaskan wanita itu dari rengkuhannya.

Aku mencintaimu.

Kalimat itu tertahan di ujung lidah. Pada akhirnya, Bastian tahu pasti jembatan di antara mereka telah hangus menjadi abu.

Dia sebenarnya tidak pernah hanya menginginkan seorang anak dari Odette; sebuah dalih agar tidak kehilangan wanita itu. Bastian merasa seharusnya dia tak lagi mendambakan Odette setelah pengkhianatan yang Odette lakukan, namun Bastian tak mampu membohongi dirinya sendiri. Dan penyangkalan yang terus dia pelihara justru melukai semua orang.

Ketukan di pintu memutus keheningan.

"Dokter Kramer memohon izin untuk menemui Nyonya."

Berbeda dengan Bastian yang tak acuh, Odette kembali tersentak kaget. "Oh, ya, persilakan beliau masuk."

Odette mendorong dada Bastian perlahan. Kali ini, Bastian tidak menahan dan membiarkannya lepas.

Odette beringsut turun dari ranjang; siluet tubuhnya yang pucat dan tanpa sehelai benang pun tampak berkilau disiram cahaya menjelang siang. Tatapan Bastian tak berkedip, mengagumi sekaligus getir menatap tubuh istrinya yang tampak kian kurus. Gerakan matanya terhenti saat tertuju pada perut Odette yang mulai membuncit.

Bastian telah menghancurkan sesuatu yang begitu indah dengan tindakan gegabahnya, namun di sana, benih itu tetap bertahan sebagai lambang harapan yang tersisa.

Odette bergegas menyarungkan gaun tidurnya. Dia sempat melirik sekilas ke arah Bastian dari balik bahu, namun tetap memilih membisu.

Setelah mengenakan gaun tidur beserta jubah luarnya, Odette melangkah menuju meja rias untuk merapikan rambut. Tepat saat dia menyampirkan syal renda di bahunya, ketukan lain kembali terdengar dan Dokter Kramer melangkah masuk ke dalam kamar.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page