Bastian Chapter 144
- Crystal Zee

- 2 Jun
- 7 menit membaca
Peta Luka
Lampu di kamar tidur Odette tak pernah padam. Dokter Kramer berulang kali datang memeriksa kondisi Bastian, sementara para pelayan bergantian membantu menyeka tubuh sang majikan demi meredakan demamnya. Dari kursi di dekat perapian, Odette mengawasi seluruh kesibukan itu dalam diam.
Namun, benaknya tak benar-benar merekam pergerakan orang-orang di sekitarnya. Pikirannya telanjur tersita sepenuhnya oleh untaian kalimat Dokter Kramer. Kisah tragis seorang wanita yang dikhianati oleh cinta sejatinya, serta seorang putra yang ditelantarkan. Begitu mengerikan hingga nyaris mustahil dipercaya, tetapi segalanya adalah kebenaran yang tak terbantahkan. Sang dokter bukanlah tipe pria yang suka membual.
Kenapa? Kenapa kau melakukannya?!
Pekikan murka Bastian terus terngiang di kepalanya, beriringan dengan kilasan sepasang mata yang menatap tajam saat pengkhianatannya terbongkar.
Kini dia bisa memahami apa yang berkecamuk dalam benak Bastian hari itu. Alasan di balik kemarahan yang begitu meluap, kekejaman dalam pembalasan dendamnya, serta ketidakmampuan untuk melepaskan hubungan yang perlahan menghancurkan mereka berdua.
Odette memahami segalanya.
"Demamnya tampaknya mulai turun," ujar Dora sembari menyeka kening Bastian.
Odette bangkit dan mendekati ranjang tepat ketika Dokter Kramer mencabut jarum infus dari lengan Bastian. Sang suami masih tak sadarkan diri. Lembaran seprai yang tersingkap demi menurunkan suhu tubuh memperlihatkan sekujur raga yang dipenuhi guratan luka.
"Apakah Nyonya ingin saya menyiapkan tempat tidur di kamar lain agar Nyonya bisa beristirahat?" tanya Dora.
Odette hanya menggeleng pelan seraya mendudukkan diri di tepi ranjang. Dia menatap Bastian yang tampak rapuh dan tak berdaya. Di dada pria itu, sebaris luka parut yang dalam dan kasar tampak berkerut dan meregang seiring dengan tarikan napasnya. Bahu, lengan, perut, hingga pinggangāke mana pun mata memandang, hanya ada jejak-jejak kepedihan. Namun, Odette tak mampu memalingkan wajah.
Tubuh Bastian tak ubahnya peta luka. Kebenaran yang selama ini tersembunyi tanpa diketahui Odette kini menerjang bak ombak besar yang lembut namun bertenaga, mendekap erat sanubarinya.
Selama ini dia tidak pernah benar-benar memandang sang suami; tidak pernah melihatnya dengan saksama. Dia selalu berpikir bahwa perhatian yang berlebihan hanya akan memperumit hubungan yang sepenuhnya kepalsuan belaka.
Di tengah gurun kehidupannya, Odette menolak menjadi pengembara tanpa arah yang terpikat oleh fatamorgana oase. Dia membentengi diri, memejamkan mata, dan menyumbat telinga. Namun, perlindungan yang dikejarnya ternyata tak lebih dari jantung dari tanah tandus itu sendiriātempat ilusi indahnya lenyap ditelan badai pasir yang berkecamuk.
Penyesalan atas masa lalu merayapinya, masa ketika dia tergesa-gesa melarikan diri dari kenyataan. Dulu, dia hanya merasa dongkol pada Bastian yang selalu menutup diri. Kini, dia membenci kelalaiannya sendiri yang mengambil keputusan gegabah hingga memperburuk keadaan, sekaligus dirundung kesedihan mendalam oleh kenyataan yang baru diketahuinyaābahwa tak ada satu pun yang bisa diulang kembali.
Sementara badai berkecamuk dalam batinnya, menyulut emosi yang membara oleh amarah atau mungkin sesuatu yang lebih dalam, para pelayan mulai menyeka tubuh Bastian. Guratan kepedihan samar tampak pada tatapannya yang tak lepas dari pemandangan itu.
Bastian adalah tipe pria yang menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Ketat, kaku, dan tak mentoleransi cela sekecil apa pun. Kedisiplinan itu memang memperkukuh raga sang mayor, namun jiwanya rupanya rapuh, menyisakan kondisi mengenaskan yang membuat orang lain harus mengurusnya. Bagi Odette, momen ini terasa seolah dia sedang menyaksikan runtuhnya sebuah benteng yang dulunya begitu megah dan perkasa.
"Mundurlah, biar aku yang melanjutkannya," ucap Odette impulsif seraya bangkit berdiri.
"Tetapi, Nyonya... kondisi Tuan masih..."
"Terima kasih atas kerja keras kalian, tapi sekarang serahkan sisanya kepadaku. Pergilah beristirahat." Odette memerintahkan para pelayan untuk meninggalkan kamar. "Aku sendiri yang akan merawat suamiku. Mungkin Bastian bisa beristirahat lebih tenang jika aku yang mengurusnya. Tidak apa-apa, kan, Dokter?"
"Kondisinya tidak lagi kritis dan kurasa tidak akan ada masalah besar, tetapi saya mengkhawatirkan kesehatan Anda sendiri, Nyonya Klauswitz."
"Aku tidak akan memaksakan diri. Jika merasa lelah, aku pasti meminta bantuan, jadi jangan khawatir."
Dokter Kramer, dengan sorot mata penuh simpati, seolah memahami apa yang bergolak di dalam dada wanita itu, menghela napas pasrah lalu mengangguk. "Baiklah. Saya menghargai keputusan Anda."
"Terima kasih atas pengertiannya, Dokter."
Setelah Dokter Kramer pergi usai memberikan instruksi serta obat darurat yang segera disiapkan oleh pelayan, keheningan yang sedalam dasar samudra seketika menyelimuti kamar.
Begitu benar-benar sendirian, Odette mengambil handuk kecil dan mulai menyeka tubuh Bastian dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sepanjang waktu itu, sang pria tetap bergeming dalam tidurnya.
Usai merampungkan tugasnya, Odette menyelimuti tubuh suaminya yang mulai mendingin dengan hati-hati, lalu kembali ke tempat duduk semula. Margrethe yang sedari tadi mondar-mandir gelisah di dekat ranjang, kini meringkuk kembali di atas bantal dekat perapian.
Odette menatap lekat-lekat ke arah Bastian dengan mata yang mulai memerah.
Ini sungguh tidak adil.
Tega-teganya pria itu membuatnya merasa seperti ini. Di saat seperti ini, dengan kondisi yang begitu mengenaskan, dia justru memantik badai emosi yang bertolak belakang dalam diri Odette.
Kenyataan ini membuatnya merasa mustahil untuk membenci sang suami, dan hal itu mengoyak-ngoyak hatinya.
Menahan desakan untuk menjerit, Odette melangkah menuju jendela, menatap pekatnya lautan di luar sebelum kembali menoleh ke arah ranjang Bastian. Malam kian larut sementara siklus itu terus berulang.
Odette telah mencapai batas kemampuannya.
Dia menghela napas panjang sembari menatap handuk basah di dalam baskom. Betapa bodohnya jika dia mendahulukan pria ini... Tubuhnya sendiri belum pulih sepenuhnya, dan sekarang adalah saatnya memikirkan diri sendiri serta janin di dalam kandungannya.
Odette menyeka tangannya yang basah, tetapi saat jemarinya meraih bel pemanggil pelayan, dia merasa tak sanggup menekannya.
Bayang-bayang menari di dalam kamar, bak pusaran kelopak salju. Di balik jendela, butiran putih berguguran perlahan dari langit.
Salju menyelimuti bumi, turun dalam keheningan di atas laut yang sunyi, seolah membungkam riuh rendah dunia. Tangannya, yang kini terlepas dari tali bel, bergerak mendekap perutnya yang mulai membuncit.
Seringan kepakan salju, Odette melangkah kembali ke sisi Bastian yang demamnya kian membubung dan napasnya kian tersengal. Tanpa suara, alih-alih membasahi handuk, dia justru menanggalkan syalnya. Ikat pinggang, disusul gaunnya, turut luruh ke lantai mengikuti jejak selendang tersebut.
Menyisakan sedikit keraguan, Odette melonggarkan kerah gaun tidurnya perlahan. Gesekan lembut kain sutra yang menyusuri kulit mulusnya berpadu mesra dengan kesunyian salju yang turun di luarāmenciptakan simfoni ketenangan di malam yang sunyi ini.
Rasa sakit dari bekas lukanya lah yang merenggut kesadarannya kembali. Sensasi membakar di bahu. Bastian terjaga lalu terkekeh pelan; rasa sakit itu hanyalah ilusi, sebuah anomali sensorik. Bahkan dalam kondisi setengah sadar, dia mampu meyakinkan diri sendiri bahwa kepedihan itu dusta belaka, lalu mengabaikannya.
Dia mengatur napas seraya merapalkan kalimatĀ 'rasa sakit ini bohong'Ā berulang kali layaknya mantra. Kejadian ini persis seperti malam-malam lain saat dia terbangun oleh rasa perih, meski kali ini terasa jauh lebih berat, seakan dia sedang berjuang merangkak keluar dari rawa yang mengisapnya.
Sakit sekali.
Bastian bangkit bersandar sembari terengah-engah bak seekor anjing yang terluka. Kilasan memori membawanya kembali ke hutan yang membeku pada suatu sore selepas berburu, tempat dia kemudian ditemukan oleh sang mentor. Pria itu menatapnya dengan sepasang mata hitam yang dalamāsebuah pertanda bahwa kekejaman baru saja dimulai.
Sorot mata hitam yang pekat kemudian beralih pada seekor anjing, hewan yang diperintahkan untuk dia tembak, namun dia menolak. Menembaknya tak ada bedanya dengan memburu kelinci atau rusa, tetapi entah mengapa, tangannya mendadak kaku untuk menarik pelatuk.
"Tidak. Aku tidak mau."
Sesaat setelah penolakan itu, gagang senapan menghantam wajahnya telak, mengempaskannya dari atas kuda. Baru setelah tubuhnya terjerembap ke tanah, dia menyadari apa yang baru saja menimpanya.
Darah mengucur dari hidung dan bibirnya, mengotori wajah. Sang mentor, seorang pensiunan perwira militer, mengagungkan hukuman fisik sebagai bentuk disiplin tertinggi. Hanya karena tatapan yang dianggap kurang ajar atau kelancangan untuk menjawab, setiap hari pria itu selalu menemukan alasan tak masuk akal untuk menyiksa Bastian. Jika anjing itu tidak muncul pun, dalih lain pasti akan menggantikannya.
Bastian menyeka darah di wajahnya dengan ujung lengan baju secara perlahan, berdiri tegak menyambut hukuman berikutnya. Sang mentor turun dari kuda, melangkah lebar ke arahnya bak banteng murka.
Bastian masih bisa merasakan perihnya tamparan pertama, disusul tamparan kedua, ketiga, dan seterusnya. Dia menahan gempuran kejam itu tanpa meloloskan satu jeritan pun. Sang mentor menghajarnya tanpa ampun, tetapi Bastian justru merasa lega karena luapan amarah yang mendadak berhasil menakuti si anjing, membuatnya kabur ke dalam semak-semak hingga luput dari pandangan. Hingga akhirnya, sebuah hantaman sepatu lars militer mendarat telak di perutnya, menandai akhir yang brutal.
Saat terbangun, Bastian sudah berada di ranjangnya dengan luka-luka yang telah diobati seperti biasa. Malam itu juga, ketika rasa sakit membuatnya terjaga, dia mengambil keputusan: jika dia bertemu anjing itu lagi, dia akan menarik pelatuknya.
Namun, bahkan ketika hutan yang membeku mulai mencair seiring datangnya musim semi, memunculkan kuncup daun dan bunga-bunga yang mekar, anjing itu tetap hadir dalam dunia Bastian. Akibatnya, dia berulang kali melanggar perintah sang mentor dan harus menerima siksaan fisik berkedok latihan disiplin. Lambat laun, dia mulai jengah dengan kehadiran hewan itu di sekitarnya.
Hari itu, dia bertekad bahwa esok hari dia akan menyingkirkan anjing itu selamanya.
Kelelahan akibat tumpukan tugas yang luar biasa, Bastian jatuh tertidur, hanya untuk terbangun di jalan setapak hutan yang mandi cahaya bulan. Bisikan lembut dedaunan musim semi yang melambai ditiup angin membangkitkan ritual ingatan yang biasa dia lakukan.
Dia lupa mengikat pergelangan tangannya.
Melirik ke arah pakaian tidur yang kotor dan sepasang kaki telanjang, dia menyadari kelalaiannya. Saat dia menghukum diri sendiri atas kecerobohan tersebut, sebuah gonggongan yang tak asing menggema dari kejauhanāgonggongan anjing yang rencananya akan dia tembak mati begitu fajar menyingsing.
Saat dia menatap sepasang mata si anjing dan melihat bayangan dirinya terpantul di sana, dia mengerti. Anjing itu menemaninya menyusuri jalan setapak hutan di keheningan tengah malam.
Di saat kesadaran Bastian tenggelam dalam lamunan, hewan itu mendekat. Tatapannya yang penuh kasih berbinar di bawah siraman cahaya bulan. Meski tahu dia harus kembali, Bastian tak kuasa menolak pesona dari sorot mata yang begitu lembut itu.
Si anjing dengan lembut menjilati kaki Bastian yang terluka, lalu meringkuk menyandarkan tubuh pada tangannya yang gemetar. Kehangatan bulu halusnya meruntuhkan seluruh pertahanan batin sang bocah, dan saat mendekapnya erat-erat, dia menyadari betapa dirinya teramat kesepian.
Dia membenci anjing itu karena telah menyadarkannya akan kesendirian yang mendalam; sebuah ironi, karena alasan itulah dia juga mencintainya.
Satu-satunya hal yang tersisa untuk dilakukan adalah membunuhnya.Ā Suara Franz terngiang di dalam kepala Bastian yang pening. Itu caramu, kan? Kau mencintai sesuatu, jadi kau menghancurkannya.
Di suatu tempat, jauh di dalam sudut tergelap pikirannya yang berkecamuk oleh demam, sebutir peluru menyalak, beriringan dengan tawa histeris yang menggila.
Suara tawa itu samar-samar menyerupai namanya sendiri, membawanya kembali ke alam sadar yang penuh dengan rasa perih. Namun, bersamaan dengan itu, sayup-sayup terdengar sebuah suaraāsuara lembut bagai malaikat.
"Bastian."
Suara itu memanggilnya.
"Bastian."
Sesuatu menyentuh bagian tubuhnya yang paling sakit. Dia terengah-engah mencari udara sembari membuka mata. Dia menyadari bahwa dia mengenali pemilik suara itu.
Sang istri.
Odette.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!
Komentar