Bastian Chapter 143
- Crystal Zee

- 2 Jun
- 6 menit membaca
Serpihan Porselen yang Hancur
Odette merasakan kehadiran pria itu di belakangnya. Meski gerakan sang pria nyaris tanpa suara, dia tahu Bastian ada di sana. Ada getaran sensorik yang terlalu nyata untuk sekadar disebut bunga tidur.
Bastian telah kembali.
Helaan napas yang tak tertahankan lolos begitu saja dari bibirnya. Tenggelam dalam lautan pikiran. Odette mendekap Margrethe lebih erat, berharap kantuk kembali datang menjemputnya.
Dia mendekap erat ingatan akan suara dan kehangatan Bastian—seberkas rasa yang sempat mengusir ketakutan dalam kesendiriannya. Ada rasa terkejut saat menyadari dirinya menyambut hangat kehadiran pria itu. Namun di sisi lain, dia membenci diri sendiri karena merasa bahagia atas eksistensi sang suami di sisinya. Perasaannya pada Bastian telah menjelma menjadi sebuah paradoks, ibarat bayang-bayang yang justru kian pekat saat terpapar cahaya yang lebih benderang.
Sejak pertama kali bertemu, pada sore hari ketika bunga-bunga bermekaran dan hatinya terpikat, Odette selalu menganggap Bastian bak matahari yang bersinar terik. Pria itu memancar dengan kekuatannya sendiri, lebih kemilau dibandingkan dengan siapa pun. Namun di dekatnya, Odette justru merasakan kegelapan membayangi hidup—sebuah nestapa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Perasaan asing itu perlahan mengikis harga diri yang selama ini dia agungkan.
Odette selalu berjanji pada diri sendiri, apa pun yang terjadi, bahkan jika harus hancur menjadi serpihan porselen, dia akan tetap melindungi hatinya. Agar kelak dia bisa memancarkan kemilau yang setara dengan pesona sang pria.
Impiannya—yang mungkin sia-sia—adalah dikenang sebagai menara suar, sama seperti Bastian. Dia hanya ingin keberadaannya diakui setara dengan pria itu. Meski merasa malu karena mendamba menjadi cahayanya sendiri, Odette tak mampu menepis keinginan tersebut, bahkan di tengah kemalangan yang menderanya.
Kantuknya menguap, kalah oleh pikiran yang berkecamuk. Odette membuka mata, menatap ke sekeliling kamar yang temaram disinari cahaya bulan. Margrethe yang menangkap kegelisahan sang majikan mendongak, lalu merintih pelan.
Odette berusaha menenangkan Margrethe, tetapi anjing itu meloloskan diri dari pelukan dan mulai menggonggong—memecah keheningan malam yang damai.
Dengan tergesa, Odette turun dari ranjang untuk menangkap Margrethe sebelum kegaduhan kian menjadi. Anjing itu rupanya telah melangkah ke sisi ranjang Bastian. Beruntung, pria itu masih terlelap. Sungguh mengagumkan betapa nyenyaknya tidur seorang tentara, seolah kebal terhadap kebisingan apa pun.
Saat itulah Odette menyadari ada sesuatu yang janggal. Di bawah temaram cahaya bulan, dia melihat Bastian terlentang di ranjang dengan pakaian yang masih lengkap. Odette melangkah mendekat, mengira suaminya mabuk, namun tak tercium sedikit pun aroma alkohol.
"....Bastian?"
Odette memanggil namanya lembut sembari menyalakan lampu tidur. Begitu sosok Bastian terlihat jelas, jantungnya mencelos. Wajah pria itu pucat pasi, bermandikan keringat, dengan napas yang memburu dan berat.
"Bastian," panggil Odette, kini lebih keras.
Odette mengguncang tubuhnya. Saat tak ada reaksi, dia berbalik untuk mencari bantuan. Namun, baru saja melangkah, tangan Bastian menyambar dan mencengkeram pergelangan tangannya.
Odette tersentak balik. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan saat melihat Bastian menatapnya. Sorot mata pria itu kosong dan menjauh, seperti seorang pemimpi yang telah terjaga namun jiwanya masih tertinggal di alam mimpi.
Odette pernah melihat kondisi ini sebelumnya. Dia tahu dia hanya perlu tenang dan membiarkan Bastian mengumpulkan kesadarannya. Bastian memejamkan mata, ketegangan di wajahnya perlahan luruh, dan cengkeraman di pergelangan tangan Odette melonggar.
Sembari menarik pergelangan tangannya dengan hati-hati, Odette menyentuh kening Bastian. Kulitnya terasa terbakar. Dia tak habis pikir bagaimana seseorang bisa bertahan dengan suhu tubuh setinggi ini. Tak ingin mengusik tidur pria itu lagi, Odette segera menekan bel pemanggil pelayan.
Denting bel yang bertalu-talu segera memecah ketenangan rumah besar itu di jam-jam menjelang fajar.
"Maaf, tetapi tidak ada ruang untuk negosiasi," ujar Maximin, tetap mempertahankan sikapnya yang sopan dan tenang.
"Namun, Count Xanders, dipecat hanya karena satu kesalahan rasanya agak berlebihan, bukan begitu?" sahut suara di ujung telepon.
Maximin bangkit dari kursi kerja dan melangkah menuju jendela. Di luar, awan kelabu bergulung-gulung, pertanda badai salju akan segera menerjang.
"Menghina seorang wanita bangsawan yang merupakan korban kejahatan dengan sengaja, lalu menyebutnya sebagai 'satu kesalahan', bukankah pemecatan justru terlalu lunak?" Maximin membalas ucapan pria di telepon dengan tajam.
Salah satu anggota komunitas seni sempat menyombongkan diri karena berhasil mengubek-ubek pasar gelap demi mendapatkan salinan majalah yang memuat lukisan kontroversial Odette. Pria itu kemudian mengolok-olok cucu tukang rongsokan yang telah menggelontorkan uang dalam jumlah besar demi menghentikan peredaran majalah tersebut, lalu mengejek Odette sebagai "putri pengemis".
Begitu mendengar kabar ini, Maximin tidak ragu untuk bertindak. Dia mencari pemuda itu, merebut paksa majalah tersebut, lalu melemparkannya ke dalam perapian—membuat komplotan seniman muda itu meradang.
"Saya mengambil keputusan ini sesuai dengan peraturan yang berlaku," tegas Maximin.
Saat komite mengadakan rapat, mereka sepakat untuk mengeluarkan pemuda bermasalah tersebut. Saat kabar itu tersebar, Maximin langsung dibombardir panggilan telepon yang mendesaknya untuk memberikan keringanan. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak panggilan yang masuk.
"Bagaimana bisa Anda begitu kaku? Apa Anda sengaja ingin mengucilkan diri dari lingkaran sosial?" protes si penelepon.
"Bukankah Mayor Klauswitz, yang juga korban dari skandal ini, sudah dikucilkan? Jika komite menutup mata, kita hanya akan dinilai berat sebelah."
"Sebenarnya Anda berada di pihak siapa?"
"Saya tidak memihak siapa pun. Saya hanya ingin melindungi privasi dan kehormatan para korban yang tidak bersalah."
"Dengar dulu, Count Xanders…"
"Saya harus pergi, saya bisa terlambat untuk janji temu berikutnya. Sampai jumpa di perkumpulan nanti," potong Maximin, langsung mengakhiri percakapan.
Ia berbalik saat mendengar langkah-langkah kaki kecil di ambang pintu ruang kerjanya. Benar saja, Alma sudah berdiri di sana, menunggunya dengan sabar.
"Masuklah, Putriku," sambut Maximin.
Wajah Alma berbinar gembira saat melangkah masuk. Bocah itu berputar kecil, memamerkan gaun baru yang berkilauan kepada sang ayah.
"Jadi, kita berangkat ke pesta sekarang, Ayah?"
"Ya, benar. Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama."
"Menurut Ayah, orang-orang di pesta akan menganggapku cantik tidak?" tanya Alma, ekspresinya mendadak serius.
Maximin mengangguk mantap. "Tentu saja. Semua orang pasti akan terkesima melihat betapa cantiknya putri Ayah sekarang."
"Secantik Lady Klauswitz?"
"Ah... kalau itu, sepertinya Lady Klauswitz tidak akan hadir di sana."
"Kenapa? Apa beliau sakit?"
"Apa kau ingin bertemu dengannya?"
"Iya, mau sekali. Apa Lady Klauswitz tidak mau bertemu dengan kita lagi?" tanya Alma, mendongak menatap Maximin dengan wajah muram.
Sebelum Maximin sempat menjawab, telepon kembali berdering. Dia menatap gagang telepon sejenak dengan dahi berkerut sebelum akhirnya mengangkatnya.
"Ini saya, Count Xanders," suara Countess Trier terdengar dari ujung sana. "Ada hal mengenai situasi Odette yang perlu kita diskusikan. Apa Anda punya waktu luang?"
Nama yang begitu dirindukan Odette—Countess Trier—kini menggema dari balik corong telepon.
Masa kritis berhasil dilewati. Obat yang diberikan Dokter Kramer tampaknya bekerja dengan baik. Meski demam Bastian belum sepenuhnya turun, sang dokter yakin badai besar telah berlalu.
"Mari kita amati perkembangannya sedikit lagi. Namun, untuk saat ini, kondisi yang mengancam nyawa tampaknya sudah teratasi."
"Terima kasih, Dokter," ucap Odette.
Letih mendera tubuhnya setelah terjaga sepanjang siang dan malam. Di luar, langit merona kemerahan menyambut senja. Sejak menemukan Bastian terkapar menjelang fajar, baru saat inilah beban kenyataan benar-benar menghimpitnya, seiring sang waktu yang membisikkan kebenaran.
"Saya sudah memperingatkannya agar tidak memaksakan diri. Kelelahan yang berpadu dengan kehilangan banyak darah akibat luka tusuk memperburuk kondisinya. Tapi untungnya, tidak ada pembusukan jaringan, jadi kita aman. Malam ini adalah penentunya; jika demamnya tidak naik lagi, dia akan mulai pulih," jelas Dokter Kramer mengenai kondisi Bastian sembari merapikan peralatan medisnya.
"Dia pasti sangat kesakitan, tapi sama sekali tidak memperlihatkannya," gumam Odette.
"Dulu dia memang anak yang tidak bisa mengurus diri sendiri, tapi tidak sebodoh ini. Sepertinya dia dikuasai rasa tidak sabar." Mata Dokter Kramer memerah saat menatap Bastian yang masih tak sadarkan diri. Sang dokter berusaha keras menyembunyikan emosinya, namun gagal. "Putra dari wanita yang merenggut nyawa ibu dan adik perempuannya, kini mencoba mencelakai istri dan anaknya sendiri. Pasti sangat sulit baginya untuk tetap tenang. Dia begitu putus asa ingin menuntaskan balas dendamnya hingga nekat melampaui batas kemampuan tubuhnya. Karena hanya itulah satu-satunya cara untuk melindungi keluarganya."
"Apa maksud Anda, Dokter?" tanya Odette bingung.
"Yah, mungkin itu yang dia rasakan..."
"Bukan, Dokter. Bukan itu maksud saya." Odette menatap Dokter Kramer dengan kerutan yang kian dalam di dahinya. "Apakah maksud Anda... Theodora Klauswitz yang membunuh ibu dan adik Bastian?"
"Oh, Nak... kukira kau sudah tahu." Kini giliran Dokter Kramer yang tampak terkejut sekaligus bingung. "Maafkan saya, Nyonya Klauswitz, saya sudah bicara terlalu banyak." Dokter Kramer menyambar tas medisnya dan bergegas menuju pintu.
"Tolong tunggu, Dokter," panggil Odette seraya bangkit dari duduknya.
Saat senja mulai menyelimuti langit dan hamparan laut di balik jendela, tatapan Dokter Kramer yang tertuju pada Odette terasa sedalam pemandangan yang perlahan meredup itu.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!
Komentar