top of page

Bastian Chapter 139

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 21 Jan
  • 5 menit membaca

Salah Perhitungan

Mobil Bastian melesat lewat tanpa keraguan sedikit pun. Odette membiarkan tangannya yang lemas jatuh dari kaca jendela; harapan yang tadi sempat membumbung kini luruh tak bersisa.

Odette nyaris tak percaya pada keberuntungannya saat melihat mobil Bastian datang dari arah berlawanan, tepat ketika ia sedang berjuang melepaskan ikatan di tangannya. Lelaki itu adalah harapan terakhirnya, namun seperti yang sudah-sudah, Bastian selalu berada di luar jangkauan.

“Kita harus pergi ke luar negeri, ke tempat di mana tak ada seorang pun mengenal kita,” racau Franz. Ia tak henti bicara, seolah-olah masa depan indah yang ia bayangkan benar-benar bisa terwujud.

Rasa ngeri merayap di sekujur tubuhnya saat menatap Franz. Racauannya semakin beringas dan matanya menyiratkan kegilaan yang nyata. Saat itulah, sesuatu menangkap perhatian Odette—sebuah kilatan logam di kursi belakang, terselip di antara tumpukan barang yang dikemas terburu-buru. Sebuah pistol.

Ia mengamati Franz dengan saksama. Pria itu tampaknya belum menyadari bahwa Odette telah melihat senjata itu; ia terlalu sibuk memuntahkan khayalan tentang masa depan yang mustahil.

Dengan hati-hati, Odette merayap mendekati pistol. Jika ia ingin keluar dari kemelut ini, ia harus melakukannya sendiri. Selalu begitu. Ia selalu sendirian, maka sia-sia saja berharap akan ada pahlawan yang datang menyelamatkannya.

“Aku akan mengumumkan bahwa anak di dalam kandunganmu adalah anakku. Bukan salahmu jika kau dilemparkan ke tengah kawanan serigala tanpa ampun. Tapi sekarang semua akan baik-baik saja, aku mengerti.”

Delusi Franz kini meluas hingga ke bayangan tentang keluarga bahagia—sebuah ironi yang menyakitkan bagi seorang pria yang menculik istri saudara tirinya sendiri.

Ia terus berusaha menggapai pistol, berpacu dengan kegilaan Franz yang kian menjadi. Kondisi Franz yang mabuk membuat mobil melaju tak terkendali. Ia harus menghentikan pria ini sebelum kecelakaan maut menjemput mereka.

“Kau akan belajar mencintaiku, Odette,” ujar Franz sambil tertawa.

Saat tawanya pecah, Odette menyentakkan tas yang menghalangi jalannya dan menyambar pistol. Bastian pernah mengajarinya cara menembak, dan kenangan yang ia pikir telah terkubur mendadak bangkit dalam serangkaian sensasi yang hidup.

Terus awasi sasarannya.’

Ia seolah bisa merasakan kehadiran Bastian di punggungnya, mengatur posisinya, menunjukkan cara menggenggam senjata yang benar. Ia ingat hangat napas Bastian di tengkuknya, panas matahari yang keemasan, dan angin yang berembus di antara langit dan laut.

Odette mengikuti instruksi Bastian; ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran, meski tangannya sulit untuk tetap tenang. Ia memastikan bidikannya lurus ke arah kursi pengemudi. Cara bernapas adalah sesuatu yang berulang kali dikoreksi oleh Bastian.

“Hentikan mobilnya sekarang!” teriak Odette. Baru saat itulah Franz tersentak kembali ke realitas.

“Kau tidak marah soal yang tadi, kan?” Franz melirik Odette melalui spion tengah dan terkekeh. “Kau tahu aku melakukannya hanya untuk menyelamatkanmu, bukan?”

“Berhenti mencari alasan dan hentikan mobilnya!” Odette mengarahkan moncong pistol tepat ke kepala Franz agar pria itu bisa melihatnya dengan jelas. “Kau hanya pria menjijikkan dengan nafsu kriminal. Kau menghinaku dengan pikiran kotormu dan bahkan menculikku.” Jari Odette bergerak ke pelatuk.

Bastian pasti datang.

Ia yakin itu. Saat ini Bastian pasti sudah sampai di mansion dan menyadari kehilangannya. Jika ia melihat Margrethe yang terluka, Bastian akan langsung paham. Pria itu akan melakukan apa saja demi anaknya, ia pasti datang menyelamatkan mereka. Odette hanya perlu menghentikan mobil ini untuk mengulur waktu.

“Kau sebaiknya berpikir dua kali, Odette. Kau hanya punya aku sekarang. Begitu aku tiada, tak akan ada lagi yang bisa menyelamatkanmu.” Meski mulutnya sesumbar, Franz mulai melambatkan mobilnya. Bahkan dalam kondisi mabuk berat sekalipun, ia tampaknya cukup waras untuk takut kehilangan nyawanya.

“Ini peringatan terakhirku. Hentikan mobilnya dan biarkan aku pergi, atau aku akan menembakmu.”

Saat itulah, kilatan cahaya dari kejauhan menyiagakan Odette. Sebuah mobil di jalan pesisir sedang mengejar mereka; sepasang lampu depan yang dengan cepat memangkas jarak.

Franz juga menyadarinya dan kembali menginjak gas. Keraguan di mata Odette seketika lenyap; ia telah membulatkan tekad dan tahu tak boleh menyia-nyiakan kesempatan terakhir ini.

Suara instruksi Bastian bergema di kepalanya.

Lihat ke depan, tegakkan kepalamu, perbaiki posturmu, dan jangan pejamkan mata.

Meski rasa takut menghimpit, ia tetap fokus pada sasarannya, persis seperti nasihat Bastian yang terpatri dalam ingatannya.

Mengingat hari itu, Odette menarik pelatuknya.

Tepat saat Bastian berhasil mengejar lampu belakang mobil di depannya, sebuah kilatan cahaya muncul disusul dentum yang menyerupai guntur.

Suara tembakan. Mobil di depannya oleng, menghantam pagar pengaman, terpelanting ke sisi lain jalan, dan akhirnya berhenti setelah menghantam sebatang pohon.

Bastian bernapas tersengal saat ia menepikan mobilnya di samping bangkai kendaraan itu. Pikirannya kosong, namun emosinya bergejolak hebat.

Kumohon. Tuhan... kumohon...

Bastian berdoa dalam hati saat keluar dari mobil. Ia tidak yakin dengan apa yang akan ia temukan; ia hanya bisa berharap setidaknya Odette selamat.

Kerusakannya tidak terlalu parah karena mobil itu tidak melaju terlalu kencang, namun suara tembakan tadi tak salah lagi.

Bastian berlari menyeberangi jalan. Tepat saat itu, pintu belakang terbuka dan seorang wanita keluar dengan langkah terhuyung.

Hembusan napas lega lolos dari bibirnya saat mengenali rambut gelap wanita yang berkibar ditiup angin laut. Sebelum ia sempat menjangkaunya, pintu pengemudi terbuka dan Franz merangkak keluar sambil mencengkeram lengannya yang bersimbah darah.

Odette bereaksi seketika. “Diam di sana! Jangan mendekat!” teriaknya sambil mengacungkan pistol dengan kedua tangan.

Franz terpaku di tempat, satu tangannya meraba lengan yang terluka. Ia memekik panik saat menyadari kehadiran Bastian.

Dia selamat.

Bastian mengusap wajahnya yang kaku dengan tangan gemetar.

Sebelum salah satu dari kedua pria sempat bicara, sebuah dentuman memulikan telinga kembali membelah keheningan malam. Odette melepaskan tembakan peringatan ke udara, lalu kembali membidik Franz.

Bastian mendekati Odette dengan hati-hati, seolah ia sedang mendekati induk beruang yang tengah murka.

Odette sedang ketakutan dan dia memegang senjata; apa pun bisa terjadi, maka Bastian harus mengendalikan situasi.

“Odette?” panggil Bastian dengan suara tenang dan lembut.

Wanita itu menoleh. Wajahnya basah oleh air mata, matanya memerah dan pipinya sembap, namun ia mengenali siluet pria yang berdiri di belakangnya.

Dia datang.

Melihat Bastian, seluruh kekuatan Odette seolah menguap. Bastian dengan sigap melucuti senjatanya dan melemparkan pistol itu ke samping. “Bagus sekali. Semua sudah aman sekarang,” bisik Bastian sambil mendekap Odette erat.

Wanita itu luruh dalam pelukannya, bak istana pasir yang runtuh diterjang pasang. Mereka diterangi oleh lampu depan mobil lain yang mendekat. Odette menelan tangisnya dan mencoba mengatur napas, menyerahkan seluruh dirinya dalam pelukan Bastian. Di luar dugaan, Dora keluar dari mobil tersebut.

“Ya Tuhan! Nyonya!” Dora bergegas menghampiri Odette, diikuti barisan pengawal bersenjata di belakangnya.

“Bawa istriku kembali ke mansion,” perintah Bastian.

Setelah Odette diamankan, Bastian berbalik menghadap Franz yang kini menyeringai seperti orang gila. Darah dan air mata menodai wajahnya yang berkerut.

Pewaris bangsawan yang begitu didambakan ayahnya kini telah terperosok ke dalam jurang yang tak lagi bisa diperbaiki.

Mata Bastian mencerminkan kedalaman laut musim dingin yang gelap saat menyaksikan pemandangan di depannya.

Memanfaatkan Odette untuk menghancurkan Franz adalah bagian dari rencananya. Itulah sebabnya selama ini ia bungkam soal hasrat gila Franz; ia ingin menjadikannya alasan perceraian dengan menuduh Odette berselingkuh dengan saudara tiri suaminya. Sungguh konyol jika sekarang ia menyalahkan Sandrine dan Franz. Seharusnya ia berterima kasih, karena mereka telah membantunya mencapai tujuan.

“Bajingan,” ludah Franz, memecah kesunyian di antara mereka. “Dia mengkhianatimu, tapi kau datang bak ksatria berbaju zirah yang mulia. Apa kau benar-benar mencintainya?”

Bastian tetap bungkam.

“Kau pikir kau menang, bukan? Kau pikir kau telah mengambil segalanya darinya. Tapi asal kau tahu, Bastian... pada akhirnya kau sama saja denganku. Apa pun yang kau lakukan, kau tidak akan pernah memilikinya. Tidak. Kau bahkan lebih pecundang dariku, karena kau menjadikannya istrimu, memberinya anak, tapi kau tetap tak bisa memenangkan hatinya.”

Bastian masih tidak menjawab dan hanya berbalik meninggalkan Franz. Para pengawal mulai mengepung pria itu.

Ini salah perhitungan.

Bastian mengakui kegagalannya dalam hati sembari melangkah tenang menuju mobilnya. Franz terus berteriak dan meracau, namun Bastian mengabaikannya. Ia hanya fokus pada satu hal: wanita yang menjadi awal dari segala kekacauan ini.

Jika Bastian tidak bisa mencintai, maka ia akan membenci dan melihat semuanya berakhir di sana. Namun kini, ia mulai mengerti. Kebencian hanyalah bayangan dari cinta, dan pada akhirnya...

... Ia mencintainya.

Dari yang semula mandi dalam cahaya benderang, kini ia terjebak di bawah bayang-bayang yang dihasilkannya.

Tepat saat ia menyadari kebenaran yang hampa ini, Bastian merasakan perih yang menusuk di bahunya. Ia berbalik dan mendapati Franz berdiri di hadapannya dengan pisau bersimbah darah di tangan...

... itu darahnya sendiri.

“BASTIAN!”

Tepat saat Odette menjerit, suara hantaman yang lebih keras berdentum membelah malam.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page