top of page

Bastian Chapter 138

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 21 Jan
  • 5 menit membaca

Hati yang Hilang

Seekor kucing liar mendadak muncul di taman, memicu kegaduhan bagi Margrethe. Meski tubuhnya mungil, Odette mencengkeram tali kekang anjing itu dengan kuat agar tidak terlepas.

“Jangan, Meg. Jangan mengejar kucing itu.”

Margrethe seolah mengerti perintahnya; ia segera patuh dan duduk tenang di sisi Odette. Baru saat itulah, raut tegas di wajah Odette melunak menjadi senyuman. Ia mengusap belakang telinga Margrethe sembari membisikkan pujian.

Ia melangkah perlahan menyusuri jalan setapak di antara bangunan utama dan deretan hamparan bunga. Di belakangnya, suara langkah kaki Dora senantiasa mengikuti, setia menjaga.

“Dora!” Sebuah seruan terdengar saat mereka mencapai ujung jalan. Seorang pelayan muda berlari melintasi taman menuju arah mereka.

“Pergilah, Dora. Aku akan di sini saja bersama Meg,” ujar Odette sambil menunjuk sebuah bangku di bawah naungan pergola. “Jangan khawatir. Kau tahu sendiri aku tidak akan bisa lari jauh dengan kondisi seperti ini.”

“Tapi, Nyonya... saya mengenal Anda. Anda bisa saja terbang menghilang meski hanya mengenakan pakaian tidur, asalkan bersama Margrethe.”

“Bahkan untuk terbang pun, aku butuh modal, Dora.” Senyum getir tersungging di bibir Odette. “Seperti yang kau lihat, sayapku sudah patah.”

Kepala pelayan itu menatap Odette sejenak, lalu ikut tersenyum tipis. “Saya rasa Anda tidak akan menjawab jika saya bertanya kenapa semua ini harus terjadi, bukan?”

“Maafkan aku, Dora.”

Odette menarik batasan dengan halus. Ia menggendong Margrethe dan melangkah menuju bangku di bawah pergola. Dora mengawasinya sejenak sebelum akhirnya berbalik untuk menjalankan tugasnya.

Senyum miris terukir di wajah Odette saat memikirkan kekhawatiran Dora.

Sejak insiden dengan Count Xanders, penjagaan di kediaman ini meningkat dua kali lipat. Bahkan jika ia berhasil lolos dari mata para penjaga, ia masih harus melewati penjaga gerbang. Tak ada jalan keluar dari tempat ini, kecuali jika ia nekat melompat ke laut.

Odette sungguh berharap Count Xanders memahami pesan tersiratnya saat ia meminta tolong waktu itu. Melarikan diri mungkin mustahil, namun ia berharap Countess Trier bisa membantunya—hanya wanita itu satu-satunya harapan yang tersisa.

Namun, bagaimana jika Countess pun memalingkan diri?

Suasana hatinya kian kelabu sembari menatap langit barat yang ditelan matahari terbenam. Tepat saat itu, perilaku Margrethe mendadak berubah.

Si kucing liar yang tadi bersembunyi di balik semak bunga kembali menampakkan diri. Margrethe langsung beringas dan melompat dari bangku karena bersemangat. Ia mencoba memanggilnya, namun kali ini Margrethe seolah tuli. Anjing itu melesat memburu si kucing hingga masuk ke dalam hutan di seberang jalan setapak.

Odette terpaksa mengejarnya. Hutan itu memang sering menjadi tempat bermain mereka, namun jika sampai bertemu hewan liar, situasinya bisa berubah berbahaya.

“Meg!” panggil Odette. Ia masih mendengar gonggongan Margrethe dan terus mengikuti arah suara itu.

Napas Odette tersengal saat berlari di antara pepohonan. Tak lama kemudian, Margrethe muncul dengan sebuah kerucut pinus di mulutnya. Anjing itu rupanya sudah melupakan si kucing dan membawa "mainan" baru. Ia tertawa kecil saat Meg menjatuhkan pinus itu di depan kakinya.

“Meg sayang, bukan itu. Ayo, kita kembali dan ambil bolamu saja.” Odette menggendong Margrethe dan berbalik untuk kembali ke mansion. Namun, langkahnya mendadak membeku saat mendengar suara dahan patah.

“Odette?”

Odette menoleh dan membelalak. Seorang pria tiba-tiba muncul dari jalan tikus yang sempit. “Franz?”

Darah seolah surut dari wajah Odette saat ia mengenali sosok pria lusuh yang berjalan terhuyung ke arahnya. Margrethe mulai menggeram rendah, memperlihatkan taringnya.

“Ini benar-benar kau?”

Franz meledak dalam tawa. Ia tampak seperti orang gila; pakaiannya berantakan, rambutnya kacau, dan wajahnya penuh memar. Ia terlihat sangat berbeda dari terakhir kali Odette melihatnya. Saat pria itu mendekat, aroma alkohol yang menyengat menusuk indra penciuman Odette.

“Lihat ini... aku sudah tahu akan jadi seperti ini,” racau Franz tidak jelas, namun matanya yang suram mendadak berkilat terang.

Menyadari ada yang tidak beres, Odette melangkah mundur sambil mendekap Margrethe erat-erat. Jelas Franz sedang tidak waras.

Odette berbalik dan lari sekuat tenaga. Ia berteriak meminta tolong, pekikannya membelah keheningan hutan bagai suara banshee. Namun, sebuah tangan dingin mendadak mencengkeram lengannya, sementara tangan lainnya membekap mulutnya, membungkam jeritannya seketika.

Dalam pengaruh alkohol, Franz menyeret Odette lebih dalam ke tengah hutan. Margrethe yang terjatuh ke tanah terus menggonggong di tumit mereka, namun anjing itu langsung terdiam saat Franz memberikan tendangan telak ke lambungnya.

“Nyonya? Di mana Anda? Nyonya!” Suara para pelayan mulai terdengar memanggil dari arah mansion.

Franz menyeret Odette menuju jalan setapak terpencil yang jarang dilalui. Begitu sampai di sana, Odette sudah berhenti melakukan perlawanan yang sia-sia.

“Bersabarlah denganku, Odette,” bisik Franz. Ia dengan cepat mengeluarkan pisau lipat dan menempelkannya ke leher Odette. Ujung pisau tanpa sengaja menggores kulit pucatnya hingga berdarah. Franz tampak ngeri melihat darah itu. “Aku tidak ingin menyakitimu, kau mengerti?”

Mendengarnya, Odette berhenti meronta. Wajah pucatnya terlihat begitu menawan di mata Franz. Penampilan yang berantakan serta perut yang membuncit karena mengandung benih dari "makhluk rendah" pun tak mampu memudarkan kecantikannya.

“Aku mencintaimu, Odette,” ujar Franz sambil menyeringai dan mempercepat langkah. “Aku datang untuk menyelamatkanmu.”

Mobil berwarna krem itu melesat di sepanjang jalan pesisir. Di satu sisi, lautan tampak membara oleh rona jingga matahari terbenam, sementara di sisi lain berderet mansion-mansion megah.

Bastian memindahkan gigi saat melibas tikungan, mengikuti lekuk Laut Ardenne. Pikirannya tertuju pada kehancuran ayahnya. Bahkan saat ia sibuk berjabat tangan dengan orang-orang yang pura-pura peduli, ia tahu kehancuran sang ayah tak terelakkan. Ia berharap segalanya tuntas sebelum musim semi tiba.

Jika rencana berjalan mulus, bayinya akan lahir di musim panas; ia akhirnya akan memiliki keturunan berdarah bangsawan. Meski rencana menikah lagi sudah ia buang jauh-jauh, itu tak jadi masalah. Ia tak lagi tertarik pada permainan pernikahan. Jika kelak sang anak butuh sosok ibu, tidak akan sulit mencari kandidat yang pantas.

Bastian menyulut sebatang rokok sembari terus melaju. Ia mengisapnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan bak sebuah desahan, memenuhi udara malam dengan asap yang pekat.

Namun, sebanyak apa pun ia merokok, rasa dingin yang mengendap di dadanya tak kunjung sirna. Ia menatap cakrawala yang mulai berubah menjadi ungu temaram.

Bayangan tubuh kurus Sandrine masih menghantui pikirannya, begitu pula tatapan matanya yang sarat ketakutan. Sandrine tadi menerjangnya bagai binatang yang sedang berahi. Bastian mengenang adegan itu dengan raut wajah datar.

Ia sempat menyeringai sinis saat tangan wanita itu menyentuh ikat pinggangnya. Cara Sandrine bertindak seolah-olah menjadi cermin bagi dirinya sendiri.

Inikah yang dirasakan Odette? Seperti inikah cara aku memperlakukannya selama ini?

Semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa muak—bukan hanya pada Sandrine, tapi pada dirinya sendiri.

Bastian sempat kehilangan kendali hingga ia tersadar saat mendengar pekikan Sandrine di tengah mansion yang sepi. Ia mendapati dirinya sudah menindih wanita itu di atas sofa, mencengkeram lehernya dengan kuat. Itu reaksi insting.

Ia hanya berniat menundukkan Sandrine yang lepas kendali. Ia sama sekali tidak berniat menyakiti wanita itu, namun ia sadar bahwa ia bisa saja mematahkan lehernya dengan mudah.

Ada niat membunuh yang dingin dan pekat, sesuatu yang bahkan tak pernah ia rasakan di medan perang sekalipun. Sandrine pun menyadarinya; ketakutan di mata wanita itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Saat ia merasakan dorongan untuk membunuh untuk pertama kali dalam hidupnya, bukan wajah Sandrine yang terbayang, melainkan wajahnya sendiri. Sosok monster yang terpantul di mata Odette.

Sudahkah aku berhasil menuntaskan dendamku?

Pertanyaan itu berulang kali muncul, namun ia tak menemukan jawabannya.

Bastian tersentak kembali ke realitas saat ia menjentikkan puntung rokoknya keluar jendela. Tepat saat itu, sebuah mobil meluncur dari arah berlawanan—sebuah mobil hitam. Cahaya yang mulai remang mungkin saja menipunya, namun ia sangat yakin melihat Franz mengemudikan mobil ayahnya, dan...

“Odette?”

Pikiran Bastian mendadak jernih saat melihat penumpang di kursi belakang. Tanpa keraguan sedikit pun, ia tahu itu adalah istrinya.

Franz mengemudi dengan kecepatan gila, dan Bastian nyaris yakin melihat Odette sedang menggedor kaca jendela, berteriak meminta tolong.

Suara decit ban memecah ketenangan malam, disusul raungan mesin yang dipacu hingga batas maksimal.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page