top of page

Bastian Chapter 137

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 21 Jan
  • 6 menit membaca

Rekan dalam Kehancuran

“Terima kasih banyak, Dora,” bisik Odette.

Margrethe melompat girang ke dalam kamar. Ekornya mengibas liar ke sana kemari sebelum ia mulai menjilati wajah Odette dengan antusias.

“Hanya satu jam,” peringat Dora. Gurat cemas membayangi wajahnya karena telah berani melanggar perintah sang tuan rumah. Ia sempat mengira hukuman memisahkan Odette dari anjingnya hanyalah amarah sesaat, namun nyatanya, ini sudah berlangsung selama lima belas hari.

Bastian menyita Margrethe dan menyerahkannya pada Dora dengan instruksi tegas: Odette dilarang keras menemuinya. Dora terpaksa memainkan peran antagonis hanya karena ia seorang pelayan, meski hatinya mencelos setiap kali mendengar lengkingan sedih Margrethe yang mirip anak kecil kehilangan ibunya.

“Anda sangat menyayangi Meg, ya?” Dora menghela napas melihat reuni itu. Kedekatan mereka begitu tulus hingga Dora tak sanggup menahan tawa saat melihat mereka bermain. Rasa bersalah karena telah membangkang pada Bastian seketika luntur. “Saya akan membiarkanmu menghabiskan satu jam bersamanya setiap hari. Tapi, tolong rahasiakan ini dari Tuan.”

“Tentu saja. Aku akan memastikan kau tidak terlibat masalah, Dora.”

Mereka saling berjanji sementara Odette merapikan pita di bulu Margrethe. Ia mengecup ujung hidung anjing itu dan memeluknya erat. Parasnya berubah drastis dibanding beberapa minggu terakhir—ia tampak benar-benar bahagia.

Kenapa Tuan begitu kejam sampai hati melarang istrinya menemui anjing yang menjadi sumber kebahagiaannya?

Dora mendesah pelan. Seandainya Odette memperlakukan suaminya semanis ia memperlakukan Margrethe, ia pasti bisa menikmati segala kemewahan dan emas yang ia inginkan. Dora merasa gemas sekaligus frustrasi padanya; wanita itu seolah terlalu naif untuk menyadari betapa mudah hidupnya jika ia sedikit saja menyerah pada Bastian.

“Anda mau jalan-jalan ke taman? Tentu saja mau. Ayo, ikut saya,” ujar Dora sembari menatap taman yang bermandikan cahaya matahari.

Wajah Odette berbinar, matanya membelalak lucu seperti kelinci yang terkejut.

Pada akhirnya, Dora memilih untuk melanggar perintah tuannya dua kali. Anggap saja ini hukuman bagi dirinya sendiri karena telah merawat Odette dengan begitu telaten selama ini.

Satu demi satu kancing dipasang, menyembunyikan bekas cakaran di balik kain kemeja. Bastian bergerak hati-hati agar tidak mengiritasi luka yang ditinggalkan Sandrine di dadanya.

Ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya kembali dengan saksama hingga tampak rapi dan berwibawa. Terakhir, setelah mengencangkan simpul dasi, ia mengambil saputangan untuk menyeka bekas lipstik di pipinya, lalu melemparkan kain itu ke dalam perapian. Dalam sekejap, Bastian kembali terlihat sempurna, seolah ia baru saja melangkah masuk ke ruangan itu.

“Kau gila,” desis Sandrine, bangkit dari sofa. Rambut merahnya yang acak-adakan membuatnya tampak kehilangan akal.

Bastian nyaris tidak meliriknya. Ia memungut secarik kertas kumal berisi sketsa kasar wajah istrinya. Kertas itu segera menyusul saputangan ke dalam api. Bastian bergeming, menatap lidah api hingga memastikan kertas itu tak bersisa selain abu.

“Kurasa transaksi kita selesai. Seluruh utang telah lunas, Lady Laviere,” ucap Bastian dengan tatapan sedingin es. “Aku tidak akan mencampuri urusan lukisan lain yang kau miliki. Terserah kau mau memajangnya di pameran lain atau menyerahkannya ke media massa. Namun ingat, jika kau melakukannya, respons yang kuberikan tak akan selembut tadi. Saat kita bertemu lagi, kau yang akan memohon ampun padaku.”

“Oh, sekarang kau mengancamku?” Sandrine menyeringai. Lipstik yang berantakan di wajahnya mempertegas kesan wanita yang sedang di ambang kegilaan.

Bastian menggeleng pelan sambil mengenakan sarung tangannya. “Aku hanya memberimu saran, demi hubungan kita di masa lalu. Jika kau kooperatif, aku tidak perlu bersusah payah memberimu 'pelajaran'.”

“Kau pikir segalanya akan berjalan sesuai maumu hanya karena aku menyerah?” Sandrine berdiri, melangkah terhuyung di dalam ruangan dengan gurat kemenangan yang dipaksakan. “Wanita yang kau lindungi dengan cara gila ini... dia membencimu. Sama seperti kau membenciku karena ingin memilikimu dengan cara seperti ini. Lucu sekali, kau mendapatkan balasan atas apa yang kau lakukan padaku. Jika tahu akan begini, aku akan lebih lembut pada Odette. Belum pernah kulihat orang yang begitu menggebu-gebu membalas kehinaannya sendiri.” Sandrine menatapnya dengan binar ketakutan sekaligus kepuasan.

Bastian bungkam. Ia terus menatap Sandrine dengan mata biru dinginnya sembari merapikan sarung tangan.

Sandrine menggigit bibir begitu keras hingga berdarah. Rasa perih itu mengundang air mata ke pelupuk matanya.

“Kurasa aku tahu kenapa Odette lari darimu. Dia pasti menyadari bahwa kau adalah monster yang sesungguhnya.”

Bastian tetap tak bergeming. Wajahnya yang hampa emosi tampak seperti patung marmer.

Rasa malu mendadak menyapu Sandrine. Ia merasa begitu menyedihkan dan melangkah menjauh. Kenapa ia begitu terobsesi menyenangkan monster ini? Pikirnya, ia telah menjadi korban dari pria sinting ini, bahkan setelah segala penderitaan dengan mantan suaminya. Tanpa sadar, terselip rasa syukur sekaligus simpati bagi Odette yang kini menggantikan posisinya.

“Aku akan bicara dengan ayahmu untuk menyelesaikan detail kontrak di antara kita. Sampai saat itu tiba, selamat siang, Lady Laviere.” Bastian mengangguk puas, lalu berbalik pergi. Langkahnya begitu anggun, seolah 'pergumulan' mereka di sofa tadi tak pernah terjadi. “Yah, mari berharap tidak ada kejadian malang yang memaksa kita bertemu lagi.”

Sandrine berusaha tetap tegak, namun detik setelah Bastian keluar, ia luruh ke lantai dan terisak hebat.

Ia murka pada dirinya sendiri, merasa terhina hingga ke tulang. Ia hanya bisa menghibur diri dengan satu pikiran: suatu hari nanti, Bastian akan dipaksa merasakan kehancuran yang sama. Atau mungkin, itu sudah terjadi.

“Ingat hari ini, Bastian!” jerit Sandrine penuh kebencian, suaranya menggema di bawah cahaya sore. “Cintamu pun akan berakhir tragis, persis seperti cintaku!”

Bastian sempat berhenti sejenak, lalu kembali melangkah tanpa menoleh. Seiring ia menjauh, teriakan Sandrine kian nyaring, melebur dengan irama langkah kakinya yang kian memudar.

Cinta yang begitu ia dambakan luruh bak pasir di sela jemari. Sebuah akhir yang picisan, hanya pantas untuk opera kelas tiga.

Franz terbangun saat sinar matahari sore menusuk matanya. Ia mabuk berat semalam dan nyaris tak ingat apa pun. Ia terbangun telentang di ranjang; mungkin ibunya sempat datang tadi.

Perlahan, ia bangkit sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Ia ingat telah mengobrak-abrik kamar ini, melempar botol dan furnitur, tapi sekarang semuanya sudah rapi kembali.

Meski ia telah jatuh begitu dalam hingga menjadi bahan tertawaan, ibunya tetap setia di sisinya. Hal itu justru membuatnya mual. Ia lebih memilih menghadapi amarah ayahnya daripada obsesi sakit sang ibu yang terus menuntutnya untuk lebih hebat dari Bastian.

Ia terhuyung menuju kamar mandi. Di depan wastafel, ia menatap sosok hancur di cermin. Luka di wajahnya mulai membaik berkat perawatan ibunya, namun memar masih terlihat jelas dan mengerikan.

Usai membasuh muka, Franz kembali ke kamar dan berniat menenggak wiski, namun botol itu kosong. Ia melempar botol itu keluar jendela. Pemandangan kediaman Bastian di kejauhan mengingatkannya kembali pada Odette.

Ia melangkah ke balkon seolah kerasukan. Lautan tenang berkilauan di bawah mentari musim dingin; mengingatkannya pada binar mata Odette saat tersenyum. Amarah mendidih dalam dadanya.

Ia ingin memiliki wanita itu dalam kanvasnya. Lukisan minyak yang dicuri adalah karya kesayangannya. Terkadang, saat kesepian, lukisan itu terasa lebih nyata daripada kehadiran Odette yang asli.

Odette, wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati, kini diinjak-injak tanpa ampun oleh seorang monster.

Saat lukisannya terbakar, Franz merasa sebagian dirinya ikut musnah. Setelahnya, segala hal terasa hampa, seolah terjadi pada orang lain. Perpisahan dengan Ella adalah sebuah kelegaan.

Ia tertawa lama sekali saat kehilangan seluruh uangnya dalam kesepakatan kereta api. Bahkan saat ayahnya memukulinya, ia tak merasakan apa pun. Semua karena muslihat Bastian.

Menjadi pewaris keluarga ini adalah hukuman mati. Fakta itu membuat ayahnya gila, namun bagi Franz, ia merasa pintu sangkar yang mengurungnya sekian lama akhirnya jebol. Kini setelah bebas, ia ingin jatuh lebih dalam ke jurang asimetris, ke tempat di mana harapan kosong ibunya tak akan bisa mencapainya.

Saat memikirkan Odette yang pasti sedang melewati nerakanya sendiri, ia ingin menyertainya dalam kehancuran itu. Mungkin sekarang Odette akan mengerti bahwa mereka memang ditakdirkan bersama.

Odette. Odette-ku.

Saat merapal nama itu, setitik kehidupan kembali muncul di matanya. Ia tahu Odette dikurung dan sedang mengandung anak Bastian. Pikiran bahwa Odette menderita lebih parah darinya memberikan kepuasan aneh—seolah dengan begitu, Odette akhirnya akan menyadari bahwa hanya dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkannya.

Wajah Franz memerah saat membayangkan Odette dalam benaknya. Odette yang tak lagi menolaknya, Odette yang menatapnya penuh cinta dan gairah, Odette yang ada di dalam lukisannya yang telah musnah.

Franz kembali ke kamar. Ia mengumpulkan seluruh uang dan perhiasan yang bisa ia temukan. Ia harus melepaskan beban utang budi pada ibunya; bukan salahnya jika ia tidak terlahir sebagai Bastian Klauswitz.

Lonceng berdentang saat Franz meninggalkan kamar dan menyusuri lorong yang sepi. Rumah itu sunyi senyap, sesunyi bangkai tikus. Setelah semua kekacauan ini, ayahnya tak sudi berada di dekat keluarga dan kabur ke pelukan salah satu selingkuhannya di ibu kota. Ibunya terbaring di ranjang, syok mengetahui pengkhianatan suaminya. Benar-benar keluarga bangsawan yang bermartabat.

Franz menyelinap ke ruang kerja ayahnya untuk mengambil kunci mobil. Ia menemukan lebih banyak uang dan perhiasan berharga. Tepat saat ia hendak berbalik, matanya tertuju pada senapan yang tergantung di dinding. Bastian pasti akan mencoba menghalanginya.

Keluar melalui pintu belakang, Franz berlari menuju garasi. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam melesat menuju hutan yang menghubungkan kedua kediaman tersebut.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page