Bastian Chapter 136
- Crystal Zee

- 31 Des 2025
- 6 menit membaca
Memohonlah Padaku
“Saya mohon maaf, Tuan, tetapi kami tidak bisa menerima tamu saat ini. Silakan datang kembali lain waktu, setelah kondisi kesehatan Nyonya membaik."
Maximin menatap sang kepala pelayan yang berdiri tegak di ambang pintu dengan tatapan datar tak berekspresi.
Kecurigaannya kian menebal. Sangat tidak wajar bagi seorang teman dekat keluarga diperlakukan seburuk ini, meski ia datang tanpa janji temu.
"Aneh sekali. Aku sudah berkirim surat, tapi tak ada balasan. Aku mencoba menelepon, tapi salurannya mati. Sekarang, lewat untuk sekadar menyapa pun aku tidak boleh? Seberapa parah sebenarnya sakit yang dideritanya?"
"Saya tidak berwenang membahas masalah rumah tangga ini. Maafkan saya, Count, tetapi Anda harus segera pergi."
Kepala pelayan itu tetap bergeming layaknya dinding batu.
Menyadari pria itu tak akan bisa dibujuk, Maximin berbalik untuk melangkah pergi.
"Tuan Xanders!" Sebuah suara yang amat dikenalnya memanggil.
Kaki Maximin baru saja mencapai anak tangga terbawah ketika ia menoleh ke arah jendela lantai tiga. Di sana, tampak sesosok figur anggun yang sedang bersandar keluar.
"Astaga, Odette?" Mata Maximin membelalak. "Bicaralah, aku mendengarkan!" Ia melambaikan tangannya dengan liar.
"Kumohon, sampaikan pesanku kepada Countess Trier—"
"Nyonya!" Sebuah suara bisikan terdengar dari dalam kamar Odette. "Nyonya, menjauhlah dari jendela!"
Sosok Odette menghilang seketika, digantikan oleh wajah kaku seorang pelayan tua yang langsung menutup jendela rapat-rapat dan menyentakkan tirai hingga tertutup.
Maximin terpaku dalam kebingungan.
Pintu depan terbuka dan beberapa pelayan berhamburan keluar.
"Mohon pengertiannya, Count Xanders, Anda tidak boleh berada di sini. Kami akan menggunakan kekerasan jika perlu."
"Baiklah, aku pergi. Menyingkir dari jalanku," ujar Maximin sembari berusaha meredam amarah yang mulai mendidih di dadanya.
Ia bergegas pergi, tidak ingin mengambil risiko yang justru akan membahayakan keselamatan Odette. Ia segera naik ke dalam mobilnya.
"Antarkan aku ke tempat Countess Trier," perintahnya kepada sang sopir.
Odette butuh bantuan. Ia memang tidak sempat mendengar apa yang hendak dikatakan wanita itu, namun ia sangat yakin akan hal tersebut.
Kediaman baru Sandrine terletak di sisi barat Taman Ratz. Ia memperoleh rumah itu setelah perceraiannya dan memastikan lokasinya dekat dengan town house milik Bastian.
Sandrine mengamati Bastian yang memarkir mobil di dekat pagar dan melangkah menyeberang jalan untuk menemuinya. Sandrine sendiri yang merancang pertemuan ini dan memilih tempatnya.
Ia tertawa kecil saat sebelumnya bertanya dengan riang apakah Bastian keberatan jika mereka bertemu di tempat publik. Ia tampak tidak terganggu sedikit pun meski sebelumnya tertangkap basah sedang memadu kasih dengan kekasihnya, Noah.
Begitu Bastian menekan bel, pintu terbuka dan Sandrine muncul secara langsung. "Selamat datang, Bastian. Aku sudah menantimu."
"Selamat malam, Lady Laviere."
"Kemarilah, kita tidak butuh formalitas kaku seperti itu. Masuklah, sebelum tehnya keburu dingin." Sandrine mundur selangkah, memberi isyarat agar Bastian masuk.
Bastian tidak membuang waktu dan segera melangkah masuk. "Kau tampak banyak berubah sejak pertemuan terakhir kita, terlihat lebih... santai."
"Aku meliburkan para pelayan hari ini." Sandrine menatap Bastian dengan tatapan penuh arti.
Sudut bibir Bastian berkedut saat melihat senyum tanpa malu di wajah Sandrine. Wanita itu jauh lebih cerdik daripada ayahnya. Bastian merasa sedikit kasihan pada sang Duke yang hanya memanfaatkan putrinya sebagai alat bisnis pernikahan. Duke sebenarnya bisa mencapai jauh lebih banyak jika saja ia menjadikan putrinya sebagai pewaris.
Sandrine membimbing Bastian ke ruang duduk di lantai satu. Segalanya telah diatur sedemikian rupa hingga atmosfer ruangan terasa memabukkan, sebuah upaya rayuan yang terang-terangan.
Musik merdu mengalun dari fonograf, api di perapian sengaja dikecilkan hingga memancarkan pijar amber yang hangat ke seluruh penjuru ruangan. Perangkat minum teh tertata rapi dengan lilin-lilin yang menerangi meja.
"Aku mendengar kabar tentang perusahaan baja. Jadi, aku menunjukkan kebolehanku untuk merayakan kemenanganmu yang luar biasa. Bagaimana menurutmu?" Sandrine duduk dan mulai menuangkan teh. "Kue kering dan bolu sudah siap, silakan dinikmati."
Sandrine sosok yang bersemangat dan terbuka, persis seperti bunga-bunga yang mekar di atas meja. Pesonanya yang kian benderang terasa sangat kontras dengan Odette yang tertutup dan tampak semakin letih setiap harinya.
Bastian menunjukkan kesopanannya dan ikut menikmati teh. Meski ia tidak banyak bicara, ia ragu Sandrine menyadari sikap acuhnya karena wanita itu terus mengoceh tentang gosip terbaru di kalangan sosial mereka. Baru setelah cangkir teh kedua habis, Sandrine mengungkapkan niat yang sebenarnya.
"Kau suka hadiah dariku?" Melodi menggugah dari fonograf berpadu dengan suara Sandrine. "Kuharap kau menyukainya, aku mencurahkan banyak pikiran untuk itu."
"Tentu saja. Sangat perhatian. Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada Noah Hoffman, seniman kelas teri piaraanmu."
"Akan kusampaikan. Noah pasti senang sekali." Sandrine tersenyum.
Jika Bastian sampai tidak menyadari bahwa skandal itu adalah perbuatannya, ia pasti akan sangat kecewa.
"Nah, sekarang kurasa sudah waktunya kau membalas budi kecil." Sandrine bergeser duduk di samping Bastian. Berbeda dengan suasana hati Sandrine yang memanas, tatapan Bastian tetap sedingin es. "Aku ingin mencoba beberapa gaun pengantin, tipe yang cocok untuk pengantin musim semi."
"Tentu, lakukan saja sesukamu," sahut Bastian.
Mata Sandrine membelalak mendengar jawaban yang tak terduga itu. "Kau serius?"
"Tentu saja. Jika kau ingin memesan gaun dari Sabine, beri tahu aku. Reservasi mereka mungkin sudah penuh sepanjang tahun, tapi jika aku meminta bantuan bibiku, ia mungkin bisa menyelipkan namamu." Bastian tersenyum tipis. "Aku tidak tahu kau begitu tulus pada pelukis itu. Meski menurutku kau dan dia tidak cocok, aku ikut bahagia untukmu."
"Apa..."
"Selamat atas pernikahanmu, Lady Laviere."
Terdiam karena terkejut, wajah Sandrine seketika merah padam karena amarah saat ia menyadari bahwa Bastian sedang mengolok-oloknya.
"BASTIAN!" Suara Sandrine menggema di seluruh ruangan.
"Maaf aku harus pergi secepat ini, tapi lalu lintas Sabtu malam biasanya sangat padat dan aku tidak ingin terlambat makan malam dengan istriku. Aku harus segera berangkat."
"Istri? Kau baru saja menyebut wanita itu istrimu?!"
Meski amarah Sandrine meledak, Bastian tetap tidak terusik. Ia jelas sedang sengaja memancing reaksi wanita itu.
"Lalu untuk apa kau repot-repot datang ke sini?"
"Yah, terlepas dari segalanya, kita pernah dijanjikan untuk menikah. Rasanya kurang sopan jika mengakhiri hubungan kita hanya lewat telepon," ujar Bastian datar sembari membenahi letak dasinya. "Aku memanfaatkanmu untuk memanjat tangga sosial, dan kau bekerja sama dengan kekasihmu untuk menusukku dari belakang. Kita sudah cukup saling memukul, sekarang kita impas. Mari anggap semua utang lunas dan jalani hidup masing-masing."
"Tidak, mustahil kau ingin membatalkan pertunangan kita sekarang."
Bastian meringis saat mendengar kata pertunangan.
"Lucu sekali kau menggunakan kata itu; kata yang tidak pernah benar-benar berlaku dalam hubungan kita."
Bastian memperlakukan perasaan Sandrine layaknya angka-angka dalam buku kas.
"Aku akan memberimu satu bantuan kecil. Aku yang akan menanggung seluruh tanggung jawab atas pembatalan kontrak ini. Dan yang terpenting, aku sangat berterima kasih karena kau telah mengubur Franz dalam semalam. Aku mungkin akan mendapat malu, tapi mengingat hubungan kita, aku bersedia menoleransi kerugian itu. Mari anggap hubungan kita selesai sampai di sini."
Sandrine menyadari bahwa inilah yang telah direncanakan Bastian sejak awal. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak menyadarinya lebih cepat; ia merasa seperti orang bodoh.
"Pikirkan baik-baik, Bastian. Jika kau pergi begitu saja, istrimu akan berada dalam masalah besar."
Sandrine selalu merasa ada yang tidak beres, bahwa Bastian tidak sepenuhnya jujur padanya, namun ia selalu menepis intuisinya dan membiarkan dirinya buta oleh apa yang ia kira adalah cinta. Beruntung, ia memiliki firasat bahwa hal seperti ini mungkin terjadi.
Sandrine berdiri saat Bastian melangkah menuju pintu. Ia menarik selembar kertas gulung yang selama ini ia sembunyikan di bawah meja.
"Aku dengar Theodora Klauswitz sudah membereskan semua lukisan di pameran. Dia benar-benar mencintai putranya. Kau bahkan bertindak lebih jauh dengan memusnahkan semua surat kabar dan majalah. Mungkin kau pikir itu sudah cukup, tapi apa yang akan kau lakukan dengan yang satu ini?"
Sandrine melambaikan kertas itu di depan wajah Bastian. Salah satu gambar yang ia ambil dari studio Franz Klauswitz—sebuah sketsa arang yang jauh lebih vulgar daripada lukisan mana pun yang dipajang di pameran.
Langkah Bastian terhenti di depan pintu. Ia berbalik menghadap Sandrine. Suasana hatinya menggelap saat melihat apa yang dipegang wanita itu. Kerutan tipis muncul di keningnya dan bibirnya menipis. Perubahan ekspresi yang sangat samar, namun Sandrine bisa melihatnya dengan jelas. Ia berhasil memancing emosi pria itu.
Sandrine mendekati Bastian dengan tawa penuh kemenangan. Ia memangkas jarak hingga bisa merasakan deru napas Bastian. Tatapan pria itu tetap terpaku pada sketsa arang tersebut.
"Gaya lukisan ini sangat sesuai dengan seleraku." Ia mengulurkan tangan dan mengusap pipi Bastian.
Ia menangkap kilasan ejekan dalam mata biru sedingin es milik Bastian saat ia mulai membuka kancing kemeja pria itu.
"Aku sangat menyukainya, sampai-sampai aku memutuskan untuk mulai mengoleksinya. Aku punya beberapa. Jika aku jadi Odette, aku akan merasa sangat malu karena sudah memamerkan tubuh telanjangku pada pria-pria lain."
Sandrine kian berani dan menyentakkan dasi Bastian hingga lepas. Ia sebenarnya tidak ingin merendahkan diri sejauh ini, tapi apa pedulinya sekarang?
Bastian sudah menolaknya, hubungan mereka sudah hancur, namun ia tidak akan membiarkan pria ini pergi sebelum ia mendapatkan setidaknya sesuatu. Terutama setelah ia tertipu selama bertahun-tahun.
"Jika kau tidak peduli pada istri dan anakmu, silakan pergi. Tapi jika kau peduli, memohonlah padaku."
Sandrine melemparkan dasi itu ke lantai dan selesai membuka kancing kemeja Bastian, menyingkap dada bidang pria itu yang kokoh.
"Kau tahu apa yang kuinginkan. Kau menggunakannya sebagai umpan untuk menjeratku, dan sekarang, aku menginginkannya."
"Apa aku memang semahal itu, atau kau yang memang semurah ini?" ujar Bastian, sudut mulutnya melengkung membentuk seringai sinis.
Sandrine tidak menjawab. Ia tahu Bastian hanya sedang mencoba memancingnya lagi. Alih-alih membalas dengan kata-kata, ia memangkas jarak yang tersisa dan mencium pria itu.
Tak lama kemudian, deru napas yang berat dan memburu memecah keheningan ruangan yang tadinya tenang.
JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!

Komentar