top of page

Bastian Chapter 135

  • Gambar penulis: Crystal Zee
    Crystal Zee
  • 31 Des 2025
  • 6 menit membaca

Hanya Odette

"Mengakui rumor itu benar akan memberimu alasan untuk meninggalkanku dan keluar dari kekacauan ini. Franz akan terjebak, dan aku akan dicap buruk sebagai pezina yang berselingkuh dengan saudara tirimu. Ini akan menguntungkanmu dalam banyak hal."

Odette merasa di atas angin saat memaparkan rencananya.

Bastian hanya membisu, bayangan Odette jatuh menimpa meja. Saat wanita itu mendekat, aroma khasnya terendus, membuat tangan Bastian mencengkeram alat makan lebih erat.

Ia menghela napas seraya menuang segelas lagi anggur merah yang pekat. Cahaya api yang berkelip membuat bayangan di wajahnya tampak lebih dalam dan letih.

"Kumohon, terimalah perceraian ini dan biarkan aku pergi. Aku akan menanggung semua beban dan cercaan ini sendiri," ujar Odette dengan nada datar.

Bastian menyesap anggurnya. Mungkin karena kelelahan yang menumpuk, sakit kepalanya kian menyiksa. Sambil menghela napas berat, ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Perjuangan berhari-hari melawan badai di dalam batinnya membuat hatinya terasa hampa.

"Maksudku," ia memulai lagi, suaranya kian tenggelam dalam dingin yang membeku, "aku ingin membuat kesepakatan denganmu."

Akhirnya, wanita itu akan dicampakkan.

Begitu Odette mendengar tentang skandal tersebut, sebuah ide muncul untuk memanfaatkannya.

Bastian Klauswitz, lebih dari siapa pun, seharusnya paling paham dampak berada di samping wanita bereputasi buruk. Tetap bersamanya hanya akan mencoreng nama baik Bastian tanpa bisa diperbaiki.

Tak peduli seberapa penting balas dendam baginya, apakah ia masih bersedia menanggung kerugian telak seperti itu?

"Penjelasan atau bukti apa pun tidak akan bisa menggoyahkan opini publik, jadi bukankah lebih baik menggunakannya untuk mendapatkan keuntungan praktis?"

"Terdengar seperti kesepakatan yang bagus bagiku," sahut Bastian, langsung menyetujui peluang untuk menjatuhkan ayahnya sekaligus menghancurkan Odette. Peluang emas untuk mengakhiri keduanya sekaligus.

Namun, di sana ada Odette. Layaknya duri dalam daging, nama wanita itu terus mengaburkan penilaian Bastian.

"Aku akan menjaga rahasia kita tetap aman dan tidak akan menuntut hak apa pun atas anak ini." Secercah harapan memercik di hati Odette.

Bastian sulit memercayai bahwa wanita itu memaksa untuk mengusirnya di tengah musim dingin, tanpa sepeser pun uang, dan dengan seorang anak di dalam kandungan.

Balas dendam terbaik... tiba-tiba Bastian berpikir, adalah dengan mengabulkan keinginan wanita itu. Anaknya tidak akan memiliki hubungan dengan keluarga Kekaisaran; pamannya, sang kaisar, tidak akan menerima anak yang lahir di tengah skandal terburuk ini.

Jika ia bisa memanfaatkannya untuk keuntungannya sendiri, keluar dari rawa berlumpur ini dan menjauh dari anak yang kini tak lebih dari belenggu skandal, ia bisa menghempaskan Odette ke jurang yang tak akan pernah bisa ia daki lagi. Sebuah hukuman yang jauh lebih berat daripada kehilangan seorang anak.

"Tidak akan ada yang berubah, Odette," ujar Bastian seraya kembali meraih alat makannya.

Bastian tidak tahu mengapa.

Segala hal tentang Odette menentang logika yang tidak bisa ia kalkulasi.

Menolak perintah Kaisar untuk menikah adalah tugas mudah baginya. Sang Kaisar tidak bisa memaksanya. Namun, ia tidak mencoba melawan sedikit pun, malah memilih untuk menjadi bidak sang kaisar.

Saat ia membutuhkan istri kontrak selama dua tahun, hanya Odette yang terlintas di pikirannya. Meski ia tahu bahwa keponakan kaisar adalah orang yang paling sulit dimanipulasi, ia tidak peduli.

Odette—Bastian hanya menginginkannya.

Sejak saat pertama Bastian melihatnya hingga sekarang, ia menginginkannya tak peduli rugi atau untung. Tak peduli apa pun harganya, bahkan setelah rasa sayang dan cinta berubah menjadi benci dan dendam, ia menginginkannya dan tidak ada alasan lain.

"Tolong berpikirlah rasional, Bastian, aku mohon padamu."

Odette tenggelam dalam pikirannya dan memohon dengan kian putus asa. Hatinya terasa berat dan mencelos, kerongkongannya tercekat. Pria ini adalah monster yang tidak bisa diajak bicara dengan nalar.

"Jika kau pergi, menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Bastian. "Apa kau akan menghabiskan sisa hidupmu yang malang dengan membawa anak dari pria yang telah menghancurkanmu? Terus-menerus diburu aib perceraian karena kau berselingkuh dengan saudara tiriku? Tinggal di penginapan murah, itukah yang benar-benar kau inginkan, Odette?"

Mengapa?

Odette mencoba menelan gumpalan yang menyesakkan kerongkongannya, kebingungan membuat kepalanya pening.

Apa dia masih berpikir anak ini berguna? Apa dia pikir aku belum cukup membayar pengkhianatanku?

Odette telah menyiapkan diri untuk jawaban apa pun, namun ia tetap tidak menduga jawaban yang diberikan pria itu. Ia berpikir keras, tapi tidak menemukan jawaban.

"Hanya kau satu-satunya yang ingin melihatku menderita," cetus Odette, menatap tepat ke mata Bastian. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, jadi mengapa kau bersikap seperti ini?"

"Cukup, Odette. Menurutmu sampai kapan aku akan menoleransi perilaku seperti ini?"

"Kau tidak perlu melakukan ini lagi, kau bisa membuangku begitu saja, biarkan aku pergi."

"Kau berlagak bagai orang suci, melakukan pengorbanan besar, padahal kau hanyalah bocah egois dan itu membuatku muak. Kau begitu rela menghancurkan hidup anakmu demi harga dirimu."

Wajah Bastian tampak berkerut karena amarah, sementara air mata menggenang di mata Odette, membuat pipinya tampak sembap dan memerah.

"Aku tidak akan membiarkan anakku hidup dalam kemiskinan, Odette," ujar Bastian, suaranya rendah dan parau.

Franz mungkin adalah pelakunya, melukis Odette untuk dilihat seluruh dunia, namun Bastian-lah yang Odette benci; ia mendendam pada Bastian dan ingin melukainya. Sebuah emosi yang asing baginya dan Odette tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu.

"Apakah kau bahagia dengan seorang ayah yang tidak memiliki rasa kasih padamu?" tanya Odette, mencoba menikam hati Bastian, melukainya dalam dan keras.

"Apakah kau bahagia dengan seorang ibu yang hanya memiliki cinta untukmu?" balas Bastian.

Ketukan lembut terdengar dari pintu tepat saat keduanya hendak saling menyayat dengan pisau setajam silet.

Odette memalingkan muka saat air mata membanjiri pipinya. Bastian berdehem sopan dan pintu pun terbuka. Seorang pelayan masuk membawa hidangan penutup.

"Tolong siapkan sesuatu yang lain untuk istriku, dia tidak bisa menyantap makan malam ini," ujar Bastian dingin. "Roti hangat dan sup saja cukup."

"Baik, tentu saja, Tuan," ujar pelayan seraya mengambil piring Bastian yang kosong dan makan malam Odette yang tak tersentuh.

Mengapa?

Mengapa kau melakukannya?

Tepat saat ia ingin berteriak sekencang mungkin, Bastian menoleh. Tatapan mereka yang membeku bertemu pada panel kaca.

Tatapan sunyi itu bertahan lama, hingga sang pelayan—yang diutus untuk membawakan makanan Odette—kembali.

"Apakah berarti saham independen baru yang diborong Franz tidak lebih dari sekadar potongan kertas tak berharga?" tanya Jeff Klauswitz.

Ia menatap ke arah kosong selama beberapa saat. Sang sekretaris berdiri dalam keheningan yang memekakkan telinga, menunggu tanggapannya.

"Untuk saat ini, benar, Tuan. Runtuhnya nilai saham menciptakan sedikit masalah arus kas di seluruh perusahaan. Kami kesulitan membayar sisa cicilan kereta api dan telah berupaya mendapatkan perpanjangan waktu."

"Teruslah mencoba."

"Menteri Keuangan di Felia sangat keras kepala. Dia mengatakan jika Anda gagal bayar, maka dia akan menindak Anda sesuai dengan ketentuan kontrak."

Jeff merogoh mejanya dan mengambil sebatang rokok dari kotaknya.

Menteri keuangan Felia, yang merupakan arsitek dari seluruh bisnis kereta api ini, memutuskan untuk berbalik arah setelah kabar batalnya pertunangan Franz mencuat.

Saat pertama kali mendengar skandal itu, Jeff menganggapnya tak lebih dari pertunjukan sampingan kekanak-kanakan. Ia mengira bisa memperbaikinya dengan penjelasan yang masuk akal. Segalanya mungkin akan baik-baik saja, jika bukan karena campur tangan Count Klein.

Jeff telah jatuh dari keberuntungan dan terperosok ke dalam lubang gelap tanpa dasar, dan ia tidak tahu di mana ia akan berakhir.

"Aku ingin kau memproses semua saham yang bisa menghasilkan uang tunai, secepatnya," perintahnya seraya menyulut ujung rokoknya.

Bastian tidak gagal dalam memborong semua saham, menaikkan harganya sebelum meninggalkan bom kecil ini.

Jeff bersyukur atas darah ningrat yang mengalir dalam tubuh Franz, jika tidak, ia akan terjerat skandal yang lebih besar lagi karena telah memukuli anaknya sendiri hingga sekarat.

"Itu sangat berisiko, bukankah lebih baik meninggalkan proyek kereta api saja?" tanya sang sekretaris.

"Bagaimana kalau kau jalankan saja tugasmu sebagai sekretaris," ujar Jeff tegas.

Ia sudah cukup banyak merugi, ia belum siap melepaskan gelar sebagai Raja Kereta Api juga.

"Tuan, kita punya masalah." Tanpa mengetuk, pintu terbuka lebar dan seorang pria paruh baya berwajah pucat bergegas masuk ke ruangan.

Jeff mengembuskan napas panjang berisi asap rokok dan bangkit dari duduknya.

Pria berwajah pucat itu tadinya pergi untuk memantau pasar saham. Jika ia kembali sekarang dengan berita keruntuhan saham, Jeff sudah siap menghadapinya, namun pada saat itu, si pria pucat membawa berita lain.

"Illis telah meluncurkan penawaran umum perdana saham di bidang baja."

"Baja? Kau yakin? Baja, bukan kereta api?" Kerutan dalam terbentuk di wajah Jeff dan kerongkongannya mendadak kering.

Pria berwajah pucat itu mengangguk antusias. "Benar, Tuan. Mereka tiba-tiba melantai di bursa. Mereka kini memiliki kepemilikan terbesar di industri baja setelah beberapa penggabungan dan akuisisi. Pasar saham sedang gempar dan jika tidak ada bencana mendadak, harga saham baja dipastikan akan melonjak dua kali lipat."

Hukuman itu akhirnya tiba.

Jeff melemparkan asbak ke seberang ruangan, nyaris mengenai si pria pucat.

Jeritan keputusasaan yang bergema di seluruh kantor adalah milik seorang pria yang telah membayar lebih dari dua kali lipat karena telah mengkhianati putranya sendiri.

Si pria pucat dan sang sekretaris berpikir bahwa mencari pekerjaan baru adalah ide yang bagus.

JANGAN REPOST DI MANA PUN!!!


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bottom of page